
Pandanganku yang mulai nanar, perlahan meredup serta rasa sakit yang bersarang di hulu perut. Ku rasakan sakit itu dengan menahan darah yang mulai mengalir ditelapak tanganku. Darah segar yang perlahan mengucur keluar dari tubuhku membuat aku kehilangan kesadaran diri. Kontrol tubuhku sudah mulai tak brfungsi. Aku terhuyung jatuh menghampar tanah.
Kulihat sekilas william berlari kesisi ku, teriakan nya masuk ke liang telinga ku. Mamanggil namaku dengan suara yang penuh kecemasan. Suara terakhir seblum kesadaranku benar-benar hilang.
***
Kelopak mataku perlahan-lahan mengembang, cahaya yang terang membuat mataku sedikit silau. Ketika aku terbangun, aroma rumah sakit yang sangat khas merasuk ke hidungku. Tangan ku merasakan selang infus mengalirkan ciran ke tubuhku. Sedikit menyadarkan ku bahwa aku pastinya adalah salah-satu pasien. Sekelebatan ingatan mulai terlintas di benak ku. Seseorang menusukkan pisau padaku yang membuat tubuhku kehilangan banyak darah.
Tubuh ku terasa sedikit lemas. Ku pandangi keadaan sekitar memastikan bahwa aku benar-benar terbaring lemah sebagai pasien. Seorang perawat datang menghampiriku, sambil memegang papan ceklis informasi.
Perawat itu menyapa dengan sangat ramah. Senyumannya tipis. Nada suara yang bersahabat.
“Nona sudah sadar?” tanya si perawat.
“Sejauh ini, kondisi nona sudah mulai membaik. Tak ada tanda-tanda kerusakan Vital yang membahayakan.” Ia menjelaskan sambil mengatur kontrol caian infus.
“terima kasih sus.” Aku menjawab sedikit pelan.
“baik saya tinggal dulu, akan saya panggilkan keluarga nona sebelum dipindahkan ke ruangan perawatan!” jelas si perawat.
Tak berapa lama sang perawat keluar, william menghampiriku dengan kondisi tergesa-gesa. Dengan pakaian yang lusuh, lengan kemeja hitam nya yang ia lipat setengah. Rambut yang acak-acakan serta wajahnya yang memar karena pulukan terlihat jelas.
Aku tersenyum menatapnya. Tanpa sadar, tanganku mengelus lembut wajah tampannya. Wajah yang penuh memar dan memerah. Hidung mancungnya yang tergores. Ujung bibirnya yang membiru. Aku tau rasanya melihat orang yang ku sayangi terluka lebih menyesakkan dada daripada pisau yang menyakiti tubuhku.
“Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyaku dengan suara lirih pada william.
“Semua sudah baik-baik saja, Hana juga sudah selamat. Sekarang dia sudah ada di bangsal perawatan!” jawab william dengan terseyum lembut padaku.
__ADS_1
“lalu wajah tampan mu, apakah tidak apa-apa?” tanyaku pada william sambil tersenyum ejek.
William tertawa mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutku .
“hahahaha, kau lebih peduli pada wajah tampanku? Bukan bertanya apakah aku yang baik-baik saja, malah bertanya wajahku!” william terkekeh sambil megelus lembut pipiku.
“aku kadang berfikir, kenapa setiap Hana terluka kamu juga ikut terluka aya? Apa kalian berdua saudara kemmbar di kehidupan seblumnya?” canda william yang sdikit boring.
“ hahaha, aku tak tau. Bisa saja!” jawabku sambil berusaha tertawa denngan menahan rasa sakit yang masih ada di perutku.
Jika difikirkan, memang benar apa yang dikatakan william. Ini adalah kali kedua aku dan Hana terluka secara bersamaan. Entah takdir yang membuatnya jadi seperti itu atau memang di kehidupan sebelumnya kami adalah saudara kembar, hingga kami bisa terluka secara bersamaan.
William yang sudah terlihat kusut dan lelah mencoba untuk tetap kuat dihadapanku. Seingatku, pria ini tak pernah suka dilihat remeh oleh orang lain. Seorang pria perfectionis yang merasa bisa mengatasi semua masalah tanpa bantuan dari orang lain.
Walau memang semua nya benar sukses dilakukan william sendirian, bukan berarti dia tak pernah lelah dengan semua hal bukan. Aku tau, lelah yang ia rasakan tak pernah benar-benar ia rasakan. Karna apa, karna semua hal –menurutnya- adalah hal dan tanggung jawab jika berurusan dengan orang-orang nya.
Asisten pribadi william yang bernama pak An, tak pernah jauh dari sisinya. Orang kepercayaan sekaligus kaki dan tangannya william selalu ada bersama nya dalam keadaan apapun. Selalu tersenyum saat melihat william bersamaku. Secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa aku diterima.
“Halo nona Aya,!” sapa nya dengan sangat ramah.
“hallo pak An,!” jawabku dengan senyuman.
William menyela sapaan kami.
“kali ini, biar pak An bersamamu dulu. Menjaga dan sekaligus mengurusmu. Bukan aku tak mau, aku harus mendampingi Hana dulu.” Ucap william.
“tak apa. Aku tau kondisi mu. Hana lebih mmbutuhkan mu!” jawabku dengan tersenyum. Walaupun sebenanrnya aku berharap willliam selalu bersama ku mendampingiku.
__ADS_1
“Nona, tak apa kan jika saya yang menjaga?” tanya pak An.
“Tentu saja boleh pak, aku senang ada yang merawatku dan brsamaku!” jawabku sambil manaruh senyum.
William menncium keningku sembari berpamitan karena ia harus mengurus hana. Hana masih belum sadar, namun kondisi nya sudah mulai membaik.
“kali ini, tuan william benar-benar lelah. Fikiran dan tubuhnya harus trbagi dua. Karena nona muda dan nona aya dalam bahaya.” Jelas pak An mulai mendekatkan obrolan padaku.
“aku tau pak, tak mudah menjadi sorang william!” kubantu membenarkan.
“sudah dari lama saya bersama tuan william, sepertinya baru kali ini saya melihat dia seperti orang tak berdya. Saya yakin, tuan sangat mengkhawatirkan nona aya!” tambahnya lagi.
“Ah pak An bisa saja,!” selaku bercanda.
Suasana sudah mulai cair antara aku dan pak An yang awalnya dingin. Sebenarnya pak An bukanlah laki-laki tua yang sudah putih kepalanya. Pak an Hanya berbeda 1 tahun dengan william. Ya walaupun william yang lebih muda. Tapi mereka tumbuh bersama sedari kecil. Karena itulah william sangat dekat dan prcaya dengan pak An.
Ayah pak An dulu nya adalah orang keprcayaan ayah nya william. Sehingga william bisa bertemu dengan pak An sedari kecil. Mereka tumbuh bersama, bahkan sekolah di sekolah yang sama. Mereka sudah seperti teman dekat. Namun pak An tetap merasa william adalah orang yang harus ia hormati dan patuhi.
“Nona aya tak perlu selalu memanggil saya pak. Saya merasa semakin tua jika begitu. Panggil An saja.” Pinta pak An padaku.
“saya tidak enak pak An. Saya sungkan!” jawabku
“Tak apa nona aya!” jawabnya dengan tersenyum. Senyuman dengan bibir tipis tanpa kumis.
Pak An sebenarnya juga tampan, ya walapun masih tampanan wiliam. Namun Pak an selalu bersikap formal shingga jarang para gadis mau dekat dengan nya. Badannya yang tegap, selalu menggunakan jas kemanapun. Bahkan melibihi keformalan seorang william.
Aku mulai banyak bercerita dengan pak An, salah satu nya adalah saat prtama kali pak An diangkat menjadi asisten pribadinya william.
__ADS_1
Pak An brcerita padaku , semuanya bermula saat mereka kelas 2 smp. William yang dulu nya cupu pernah hampir dibuli oleh teman teman sekolahnya yang nakal. Saat itu, pak An lah yang membantu william. Dan semnjak Hari itu, ayah william meminta kepada ayahnya pak An agar menjadi orang yang bisa mmelindungi william saat disekolah.
Pak an adalah orang yang baik. Ia senantiasa mnemani ku dan membantuku selama aku dirawat. Saat aku pindah ke bangsal prawatan, dia juga yang mmbantuku. Aku sangat berterima kasih padanya, meski kadang aku brharap william yang senantiasa ada di sisiku.