Keberuntungan Cinta

Keberuntungan Cinta
Japan (3)


__ADS_3

*Tapi aku tetap ingin menyatakan nya


Aku seharusnya menjadi orang yang kau coba


Ada banyak yang ingin aku ajarkan padamu


Jangan menghentikan rasa ingin tahu mu


Mungkinkah......


Cinta ini hal yang nyata


entah bagaimana itu berubah menjadi cinta yang serius


Biarkan ku melihat masa depan mu


Bila aku lebih dekat Dengan mu lebih dari siapapun


aku akan slalu, slalu mencintaimu.


-Moshikashitara, end*-


Jepang saat ini adalah musim semi, harusnya tak berapa lama lagi sakura akan mekar. Aku sangat berharap bisa melihat bunga sakura, meskipun aku tak bisa liburan sepenuhnya.


Harusnya hari ini perban kaki ku di buka, sudah 3 hari aku tak keluar dari villa. aku merasakan kebosanan sudah sampai ubun ubun.


Janji temu ku dengan dokter jam 10, dan sekarang masih jam 9. berarti masih ada 1 jam lagi waktu yang harus ku buang sia sia.


"Aya, aku boleh masuk?" william mengetok pintu kamarku.


aku memang selalu gugup jika harus bertemu william. Namun apa daya, aku tak bisa menghindarinya.


William masuk membawa sebuah brosur, dia mendekati ku dan duduk di sampingku.

__ADS_1


"hari ini perban kaki mu dibuka, dan nanti mau tidak aku ajak melihat bunga sakura?" tanya nya.


Astaga, ujarku dalam hati. apakah dia mendengar kan pikiranku, omel ku. Aku tersenyum malu malu pada nya.


"Kau ingin pergi denganku?" tanya ku denga malu malu.


"Tidak, aku akan pergi dengan gorila." mata nya melirik padaku dengan sewot.


" tentu saja denganmu" ucapnya lgi.


"Baiklah, aku akan ikut." ujarku padanya. padahal di dalam hari, aku berteriak kegirangan.


tepat jam 10 dokter datang. setelah mengecek kondisi kaki ku sekali lagi, akhirnya perban kaki ku perlahan dibuka.


Beberapa menit berlalu, perban sudah tak lagi melilit kaki ku. sesuai rencana, william dan aku akan pergi melihat sakura mekar.


Dari Villa, kami menempuh waktu 30 menit menuju sebuah taman di pinggir kota. Tempat dimana banyak orang sudah menanti mekarnya bunga sakura tahun ini.


Ada muda mudi yang berpasangan, ada juga keluarga lengkap dengan kotak kotak bekal makanannya. Biasanya saat sakura mekar, orang orang sengaja untuk libur dari semua kegiatan hanya untuk menikmati mekarnya bunga ikonik ini.


Hawa dingin dan kharismatik william memang selalu menarik perhatian, banyak mata yang memandangnya seakan akan ia selebriti atau orang terkenal. Aku seolah menjadi ciut dengan tekanan yang diciptakan kharisma william.


Langkah kaki ku mulai melambat beberapa saat karna memandangi pepohonan yang mulai mekar. benar benar indah pemandangan yang ku saksikan ini. tak kan pernah bisa ku lupakan walau ini semua hanya sebentar.


seyum tak lepas dari bibirku, hatiku berdebar senang. memandangi sakura yang bermekaran. memandangi pepohonan dengan saksama membuatku melupakan william sejenak.


tanpa sadar, william menatapku dengan seyuman tersembunyi dari bibirnya. tak begitu jelas terlihat karna hanya membayang dari sudut mataku. akupun tak begitu yakin dengan apa yang baru saja ku saksikan. mungkin saja hanya halusinasi, ketusku dalam hati.


setelah berjalan sedikit ke dalam, kami mendapati benches yang kosong. william menarik ku untuk beristirahat sejenak. jantungku berdebar kencang tanpa sadar saat william menggenggam tanganku.


Aku rasa, dia pun tak sadar dengan perilakunya.


Kami duduk sedikit berjarak, membuat ruang kosong ditengah benches putih yang kami duduki ini. Aku mengerti, ini bukanlah hal yang seorang william suka lakukan. Dengan karakternya yang dingin ini, alu yakin dia tak berani main perempuan. aku meledek di dalam hati.

__ADS_1


senyumanku sedikit tersungging dari bibirku, william menyadari itu.


"kenapa tersenyum?" tanya nya.


"hmm, tak ada" jawabku.


"apa kau senang?" tanya nya lagi.


"tentu," jawabku lagi.


ya, hanya seperti itulah komunikasi ku dengan william. sangat sangat canggung. mungkin karna aku merasa william adalah pamannya hana, dan itu menciptakan jarak diantara kami.


namun kenyataannya, william tak setua itu. jika diperkirakan dia hanya beda beberapa tahun dari umurku. hanya saja, mungkin tuntutan hidup seorang pria dari keluarga kaya memang akan menciptakan sebuah kharismatik.


"Apa kau punya kekasih?" William bertanya saat suasana benar benar hening.


aku terpana dengan pertanyaannya. aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya.


"baguslah," william berketus tanpa ingin didengar olehku.


"memangnya kenapa?" tanya ku sedikit mencairkan suasana.


" tak ada" jawabnya simple. namun dibalik itu, dia menyembunyikan senyuman.


obrolan demi obrolan mulai mengalir, aku bahkan bercerita tentang keluarga ku pada william. dia benar benar seorang pendengar yang baik.


"besok kita akan kembali, bersiap siaplah. nanti malam temani aku berendam di onsen yang ada di villa. badanku lelah". william mulai mengajak ku kembali ke villa.


"haruskah?" tanya ku pada nya sedikit ragu.


"Aku yakin kamu juga lelah, tak usah khawatir. kau akan baik baik saja." william menjawab dengan sedikit meledek.


"yasudah" aku mengerucutkan sedikit bibirku.

__ADS_1


william tertawa melihat ekspresi ku. william mencubit pipiku hingga membuat wajahku memerah karna malu.


"kau sungguh lucu". ucap william sambil menggandeng tanganku untuk kembali ke mobil.


__ADS_2