
Matahari pagi menanjak tinggi tanpa hambatan, awan yang putih bersih dengan langit yang cerah menemaniku seperti hari biasanya, rumah sakit yang tak kalah sibuk setiap harinya sudah menjadi rutinitasku beberapa waktu belakangan.
Setiap mataku terbangun, wangi segar ruangan sudah menenangkanku. Bunga dikamarku setiap harinya sudah terganti saat mataku terbangun. Harumnya yang semerbak memenuhi seisi ruangan dan melegakan pernapasanku.
Kadang terfikir olehku, kenapa semua orang yang kaya rela merogoh kocek yang dalam hanya untuk mendapatkan pelayanan kamar VIP ataupun VVIP. Namun dengan semua kenyamanan yang kurasakan didalam ruangan ini telah menjawab pertanyaan konyolku itu dengan sendirinya.
Seorang perawat mengetuk pintu dengan sopan. Ia berjalan melangkah kearah ranjangku yang memang sedikit jauh dari pintu masuk.
“Selamat pagi ibu, hari ini kita akan lepas infus dan mlakukan scrining fisik ya bu!” ucap sang perawat.
“Iya baik sus!” jawabku.
“Nanti ibu akan dibantu oleh beberapa Asdos ya bu, sebentar lagi mereka datang!” terang si perawat.
Mendengar sebuah kata Asdos, fikiranku kembali teringat akan ucapan dokter utama kemarin. Terbayang wajah sesorang yang membuat dadaku terasa sesak, Ringga Arbian.
Tak selang lama, pria dengan jas putih dan stetoskop dilehernya mengetuk masuk. Ringga datang sendirian, wangi pria itu masih sama seperti yang dulu.
Senyumannya, tatapannya, dan semua hal yang ada pada dirinya membuatku terasa sakit. Seperti inikah sakitnya jika sesorang yang benar-benar kau cintai lalu menyakitimu dan kini datang kembali kehadapanmu.
“Selamat pagi ibu, saya Ringga Asdos yang akan menggantikan dokter utama Antosa!” Suara Ringga terdengar sedikit berubah. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.
“Pagi!” jawabku datar tanpa menoleh.
Aku sedikit kesal dengan sikap Ringga yang sok-sokan sopan dan berpura-pura tidak mengenalku.
“Hari ini kita lepas infus ya ibu, setelah itu kita akan melakukan scrinning fisik. Saya akan bantu!” Jelas Ringga si Asisten Dokter.
“Iya!” Jawabku makin pendek.
Aku melihat wajah Ringga sedikit berubah, ia memang terlihat seperti orang yang memendam sesuatu. Wajahnya yang tampak ramah di awal tadi sekarang sedikit berubah datar.
Beberapa saat kemudian, saat Ringga tengah melakukan pengecekan padaku William tiba-tiba datang masuk sendirian. Membawa sebucket bunga yang sangat besar.
Wajahnya hari ini berseri, tak seperti kemarin yang terlihat lusuh dan lelah.
Respon tubuhku sangat berlebihan saat melihat William masuk. Tanganku langsung menepis tangan Ringga yang
sedang melakukan pelepasan infus. Dengan sedikit gelapan, aku menyapa William dan memberikan senyuman manis.
“Hai, kamu datang!” aku menyapanya duluan.
__ADS_1
William hanya tersenyum sembari membiarkan perawat dan asdos yang ada diruangan bersamaku menyelesaikan pekerjaannya.
Namun persoalannya adalah William tak tahu jika Asdos yang ada dihadapannya, yang sedang merawat kekasihnya adalah mantan dari kekasih yang sedang ia jenguk itu.
Aku memang sedikit merasa gugup, terlebih saat Ringga menatapku lama. Terlihat jelas dari sorot matanya, banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Bahkan mungkin banyak hal juga yang ingin ia tahu.
Namun sepertinya Ringga sudah mahir menggunakan topeng ekspresi. Wajahnya langsung berubah ramah saat melihat William. Namun dari sudut matanya, ia menusuk banyak pertanyaan padaku.
Beberapa saat setelah Ringga dan perawat menyelesaikan pekerjaannya, William meminta mereka untuk segera meninggalkan kami berdua dan memberikan kami ruang untuk berbincang.
Saat Ringga akan beranjak pergi, sekali lagi ia melakukan check pada tanganku yang sudah terlepas dari selang infus. Namun satu hal yang mengejutkanku, ia menyelipkan selembar kertas ke tanganku tanpa sepengetahuan William. Karena tak ingin sesuatu hal yang serius terjadi aku terpaksa menggenggam kertas itu dengan sangat erat.
William duduk tepat disamping ranjangku, wajahnya sangat berseri. Dengan setelah kemeja putih dengan lengan baju yang setengah digulung. Wibawa pria tampan ini memang selalu memukau, bahkan rambutnya yang tampak klimis pun sudah membuat jantung berdebar.
Senyuman manis yang selalu ia sembunyikan kali ini tampak terlukis indah dari bibirnya. Tangannya yang besar meraih wajah mungilku, sembari ia mengelus lembut pipiku William mulai membuka perbincangan.
“Hei gadis kecilku yang manis, aku ingin kau tau betapa besar rasa yang selama ini sudah kutahankan untukmu. Apa aku boleh menciummu?” Tanya William padaku dengan lembutnya.
“Huh?” aku sangat terkejut oleh pertanyaan yang diucapkan William. Mataku terbelalak dengan wajah yang kebingungan.
“Bolehkah?” tanya william sekali lagi sambil sesekali mengelus pipiku.
Fikiranku yang sudah mulai tak karuan karena peertanyaan kecil itu, serta jantung yang tak hentinya berdebar, membuatku berinisiatif untuk memulainya lebih dulu. Aku mengarahkan wajahku mendekati wajah William.
Ku kecup lembut bibir manis William, kulirik dari sudut mata sepertinya William tersenyum melihat jawaban yang kuberikan untuk pertanyaan yang ia berikan.
Wiliam mengambil alih kecupan lembut yang kuberikan. Ia rengkuh lembut wajahku sembari mengatur ritme permainan. Bibir tipisnya terasa halus bagai gulali kapas. Membuat hasratku menggila ingin menggigit habis tanpa
tersisa.
Permainan asmara yang membuat jiwa manusia jadi menggila. William sangat lembut menuntun bibirku, bergantian kiri dan kanan ia mainkan lembut dengan bibir halusnya. Sesekali ia gigit-gigit kecil tepian bibirku hingga aku sedikit tersentak dan berdesah halus.
Pria ini benar-benar ahli dalam membuai nasfuku menjadi kegilaan. Kurengkuh tengkuk lehernya dengan pangkuan, Fikiranku melayang jauh tak karuan hingga aku benar-benar gila dibuat olehnya.
Setiap detik yang kami lalui dengan sangat panas hingga membuat kami tak ingin saling melepaskan satu sama lain. William mulai menjelajahi setiap sudut bibirku tanpa ampun, ia memeluk pinggangku dengan erat hingga tak ada ruang diantara kami.
Salivaku dan miliknya mulai saling bersatu, nafsu yang semakin menggila dan akal yang sudah tak bisa diajak bekerja sama. William mulai kehilangan kendali, lidahnya mulai menerobos masuk menjelajahi setiap ruang yang ada di dalam mulutku.
Lidahnya yang lihai menuntun lidahku untuk saling menggila didalam sana. William benar-benar semakin menggila, permaianannya semakin cepat dan aku sangat terengah-engah dibuat olehnya. Tangan kanannya memapah leherku untuk terus mengikuti irama permainan gilanya.
Aku mulai tak mampu mengikuti kegilaan william, nafasku mulai sesak karna tak diberikan kesempatan untuk sedikit bernafas dengan bnar. Hingga aku mendorong sedikit dada william agar ia sadar aku sudah mulai kehilangan udara segar.
__ADS_1
William tersentak dengan menatap wajahku penuh kebingungan, dan seketika ia mulai tersadarkan.
“Maaf, aku lepas kendali!” ucapnya dengan wajah yang sedikit panik sembari mengambil sedikit ruang diantara kami.
“Aku kehabisan nafas!” ucapku sambil terengah-engah dan mencoba menghirup udara segar.
Aku dan William saling bertatap-tatapan, mata kami bertemu dengan memberikan tatapan penuh kasih sayang. Dengan semua keheningan setelah adegan panas, membuat kami saling menertawakan kegilaan masing-masing.
Tawa kami terlepas dengan rasa sedikit malu-malu karena mengingat-ingat hal apa yang baru saja terjadi. William memelukku dengan erat, ia membelai rambutku. Kubalas pelukannya dengan rangkulan tanganku yang melilit penuh tubuhnya.
Dengan masih memelukkum William berbisik padaku.
“Aya, jangan kamu anggap ini sebagai hal yang buruk. Aku hanya bisa menunjukan apa yang kurasakan dengan seperti ini. Aku sangat menyayangimu!” Bisiknya halus.
“hmm, iya aku tahu. Aku paham!” sambil menganggukkan kepalaku.
William melepaskan pelukannya dan memberi ruang diantara kami. Ia membenarkan posisi badanku yang sedari tadi sudah tak karuan karena dirinya, ia menempatkan bantal dibelakang punggungku agar aku bisa bersandar dengan nyaman.
Tangan besarnya menggenggam tanganku seolah memberikan sebuah rasa kepercayaan. Tatapannya yang sangat tulus telah meluluh lantakkan semua isi yang ada didalam hati dan fikiranku. William benar-benar sebuah keberuntungan yang sangat hebat untuk hidupku.
“Lalu Aya, apakah ada suatu hal yang terjadi? Yang tidak aku ketahui hingga membuat kamu pergi dari rumah sakit?” William mulai bertamya padaku.
Aku terpaku diam sesaat, pandanganku tertunduk malu menghindari tatapan William. Lidahku terasa kelu untuk menjawab pertanyaan yang padahal di dalam hatiku sudah meronta-ronta untuk dikeluarkan.
William kembali meyakinkanku untuk membuka tabir permasalahan yang membuat kami beselisih.
“Tak apa Aya, kamu boleh cerita. Apapun itu akan aku dengarkan tanpa mempermasalahkannya!” terang William.
Kutarik nafas perlahan untuk menguatkan hatiku yang sudah berrgetar hebat.
“Sebenarnya, waktu itu aku melihatmu bersama dengan seorang wanita cantik ditaman rumah sakit. Bahkan ada pak An juga disana. Aku melihat wanita itu memelukmu dari belakang namun kamu hanya diam saja. Bahkan pak An juga biasa saja menyaksikannya, seolah dia sudah tahu wanita itu!” aku menceritakan permasalahan yang ada dengan wajah cemberut.
William tertawa mendengar ceritaku, wajahnya memerah karena ia menahan tawanya agar tak terdengar terlalu keras.
“Jadi permasalahannya adalah, kamu cemburu Aya?” ledek William.
“Aku tidak cemburu, hanya kesal saja!” balasku dengan cemberut.
“Yasudah sudah, aku paham apa permasalahannya sekarang. Aya.. Aya.., berarti benar kamu begitu sangat menyayangiku?” Ledek William lagi.
“Ah, sudahlah aku tak ingin membahas lagi jika kamu terus meledekku!” ketusku kesal.
__ADS_1
Aku memalingkan Wajahku dari William, berpangku tangan menunjukan kekesalanku karena William seperti tidak serius menganggap ceritaku.