
Sore itu jalan raya diJakarta basah oleh hujan yang tidak kunjung berhenti. Jalan yang hari hari memang sudah parah macetnya bertambah tambah macet karena semua orang mengendarakan mobil dan motor mereka ekstra hati hati.
Dani baru saja selesai meeting dengan Dahlan teman bisnisnya, mereka tadi membicarakan peluang untuk membuka gerai rumah makan didaerah Bintaro Jaya, Jakarta Selatan.
Ini merupakan langkah yang istimewa namun penuh tantangan buat Dani. Salah satu sebabnya, selain Dani belum pernah membuka bisnis kuliner namun dengan bakat memasak ia yakin usaha ini akan lancar ditambah juga dengan pengalamannya yang luas dalam bidang bisnis management. Memang ini tantangan yang hebat bagi dirinya.
Sudah banyak temannya dan bahkan mamanya mengatakan makanan makanan yang dibuat Dani rasanya spesial dan enak sekali. Dani memang mempunyai bakat masak memasak, sebab dulu semasa ia kuliah diAustralia Dani bekerja sambilan disebuah rumah makan Indonesia di Sydney. Disanalah ia banyak belajar memasak. Kini setelah ia kembali ketanah air justru masakannya sering dipuji orang. Dan ia pikir keahliannya ini harus dimanfaatkan.
"Gila macetnya..mana ujan lagi.." gerutunya didalam mobil.
Tiba tiba dari sebelah kiri kendaraannya berbenturan dengan sesuatu. Dani kaget sekali dan secepat kilat ia menginjak pedal rem..untung saja karena macet, kendaraannya berjalan dalam keadaan sangat pelan.
Langsung ia memasang lampu hazard, menarik handel rem tangan dan ditengah hujan deras ia keluar memeriksa ada apa dengan kendaraannya. Ternyata tidak ada motor atau mobil yang menabrak dan body mobilnya biasa saja tidak ada yang lecet.
Dani bingung..apa yang menabraknya barusan. Tidak jauh ia melihat seorang wanita yang jalannya terhuyung huyung dan sesekali dirinya terbentur kendaraan. Ooh dia sepertinya tadi..aah sudah biarin saja..mabok kali dia.
"Ayok pak! jalan lagi!!" terdengar suara dari mobil yang tertunda jalannya gara gara Dani berhenti ditengah jalan.
Dani cepat memutar tubuhnya dan masuk kedalam mobil sambil minta maaf kepada mobil dibelakangnya.
"Maaf pak..maaf!" teriaknya dan ia masuk kedalam langsung melepaskan rem tangan dan matikan lampu hazard, mobilpun bergerak pelan lagi kedepan.
Nampaknya keadaan macet makin menggila..ahh darpada macet dan buang buang bensin mending aku parkir dulu dikedai warung kopi. Ia memberikan lampu sen dan mencoba untuk merapat kearah kiri jalan.
Lima menit sudah, ahirnya ia berhasil berada disebelah kiri jalan dan tidak jauh dari situ iapun masuk kesebuah jalan kecil.
Nah..warung kopi ada disitu, mending ngopi dulu siapa tau ada ubi atau kentang rebus kesukaannya. Setelah ia parkirkan dengan aman Dani keluar dan berlari kearah warung. Sukur banget didalam hanya ada seorang bapak bapak yang sedang makan Indomi.
"Buk kopi hitam ya.."
"Oh ya pak..pake gula?" kata sang pemilik warung.
"Satu aja buk makasih!"
Doni membersihkan bangku kayu yang agak basah sedikit, ia menoleh kekiri dan tersenyum kepada bapak yang sedang menyantap Indomi panas.
"Mari pak..makan mi panas paling enak udara begini" ucap bapak itu sambil tersenyum.
""Iya pak silahkan..saya ngopi aja"
Diluar warung orang berlarian menghindar dari hujan, namun disudut jalan Dani melihat seseorang sedang berjalan terhuyung, rambutnya terlepas panjang sepundak.
__ADS_1
Doni perhatikan dari jauh, ternyata itu wanita yang tadi menabrak sisi kendaraannya. Apakah ia mabuk atau memang gelandangan?
Dani memutar tubuhnya dan mengintip dari balik kayu jendela. Kenapa orang itu..sakitkah atau kenapa..
Tidak lama orang itu dengan perlahan lahan menyebrang jalan menghampiri warung.
Dani berdiri dan memperhatikan sosok itu. Kini ia makin mendekat ke warung. Ia mengenakan kaus hitam yang basah kuyub dan celana jeans yang kotor dan lusuh. Rambutnya menutupi wajahnya. Ternyata ia seorang perempuan muda.
Didepan warung orang itu berhenti dan berdiri mencoba menghindar dari hujan. Doni melihat tubuhnya menggigil kedinginan.
Doni melihat ke etalase tempat makanan disana ada pisang goreng, ubi Rebus dan Tempe tahu goreng.
"Buk saya minta ubi Rebus dan pisang goreng dipiring kecil dan teh panas jangan terlalu manis"
Doni terus memperhatikan gerak gerik orang yang berdiri diluar itu. Ternyata ia hanya mengenakan sebuah sendal jepit. Kedua kakinya terlihat kotor.
"Ini pak..maaf"
"Oh ya terima kasih buk"
Diambilnya gelas teh panas dan Doni membawanya keluar, ia mendekat kearah wanita yang menggigil disana.
Wanita itu menoleh, Doni sempat melihat salah satu matanya. Loh ko masih muda..wanita itu ragu untuk menerimanya..tapi tubuhnya terasa dingin sekali dan ia menggigil terus.
Dengan satu tangannya pelan pelan ia mengambil gelas panas itu.
"Aduuh!" ucapnya, merasa kepanasan.
"Oh maaf gelasnya panas ya" ujar Doni.
Doni mengambil lagi gelas itu dan dibungkusnya dengan sapu tangan dari saku celananya.
"Nih minum ya..aku juga ada ubi Rebus, nanti aku bawakan..ayok diminum dulu" Doni berikan gelas itu dengan sapu tangan sebagai penutupnya.
Doni memperhatikan dengan cermat bagaimana bentuk wajah wanita itu. Ketika wanita itu menyibakkan rambutnya yang basah ia melihat sebuah wajah yang kusut dengan kedua mata yang redup.
Nampaknya ia haus sekali tapi teh digelas itu panas. Ia meminumnya pelan pelan. Doni tersenyum lega hatinya bisa menolong.
"Terima kasih kaka" katanya dengan suara pelan.
"Masuk dan duduk didalam yuk..ayo ga apa apa" ujar Doni.
__ADS_1
"Tidak kaka..saya..disini saja" ujarnya pelan.
"Kamu laper?..aku ambilkan ubi rebus mau?"
Ia tidak menjawab tapi menganggukan kepalanya. Doni langsung masuk kewarung dan mengambil piring kecil tadi.
"Ini..ada pisang goreng dan ubi Rebus untuk kamu..ambil..silahkan" ucap Doni sambil mendekatkan kewajah wanita itu.
"Berikan gelasnya..kamu pegang piring ini"
Ternyata wanita itu sangat lapar, 2 pisang goreng langsung dilahapnya.
"Terima kasih kaka..cukup, terima kasih" ia menyerahkan piring itu ke Dani.
"Kamu tinggal dimana? kenapa hujan hujan begini ada dijalan?" tanya Dani.
"Tidak apa apa..terima kasih kaka"
"Oke..ini tehnya kamu minum sampai habis ya"
Dani masuk kedalam dan menaruhnya dimeja.
"Bapak baik amat..itu pengemis ya pak?" ujar bapak tua yang sedang makan Indomi itu.
"Hehe..ga apa apa pak..kita saling berbagi saja.
Dani langsung keluar lagi untuk menyapa wanita tadi. Namun ia sudah pergi, gelas teh ditaruh ditanah, hanya setengah yang ia minum.
Dani melihat kekiri dan kekanan namun ia telah pergi.
"Hmm kemana dia? kasian hujan hujan begini"
Dani mengambil gelas dan membawanya masuk.
Sambil minim kopi panasnya Dani berpikir kemanakah wanita itu..Ya Allah, semoga ia selamat..
Tidak lama ketika hujan sudah mulai reda Dani bangkit dan membayarkan semua minuman dan makanan. Iapun beranjak kemobilnya.
Pelan pelan ia keluar dari jalan kecil itu..ternyata jalan raya masih saja macet total.
...☆■○■○■○☆...
__ADS_1