Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Mimpi menjadi awal pertanda.


__ADS_3

Waktu baru saja memasuki pukul 1.30 pagi tiba tiba Rizal terbangun dari tidurnya..letih sekali rasa tubuh ini, seingetnya ia baru bisa tidur jam 12 tadi. Namun mimpi yang membuat ia terbangun.


Dalam mimpi Rizal berlari kesana kemari mencari Andini..ia tadi sekilas melihat Andini menangis meratapi kepergian seseorang..namun ia tidak melihat siapa yang ia pegang dalam pelukannya. Rizal berlari menuju Andini dipojok sebuah kamar. Rizal melihat Andini berdiri dan menyambutnya mereka saling berpelukan..Namun kini dirinya juga secara perlahan menghilang..Andini hanya terduduk lemas memegangi tangan seorang anak kecil.


Rizal terbangun..mimpi kenapa sedih begitu ya? pikirnya. Ia melirik kekanan menatap kearah jam didinding..samar samar ia melihat jarum jam berada di 1.35.


Ia mencoba untuk menutup matanya..namun, sia sia mimpi itu terus mengganggu dirinya..berulang ulang kali muncul dibenaknya tak kala Andini memeluk dirinya dimana hanya untuk beberapa saat dan kemudian dirinya menghilang..


Rizal ahirnya bangkit dan menuju kekamar mandi..ia menyalakan keran air dan mengambil air wudhu.


Diantara tumpukan Baju ia menarik sajadah dan sarung. Setelah semua siap Rizal mulai melakukan shalat sunnah 2 rakaat. Entah kenapa pada bacaan surat Al Fatihah ia menangis, namun Rizal terus melanjutkan shalatnya. Tubuhnya gemetar..Ia membiarkan pipinya di basahi cucuran tangisnya.


Pada ahir salam Rizal duduk bersila dan mulai membersihkan pipinya dari derai tangis yang membasahi pipi dan jatuh kebibirnya.


Tiba tiba ia mendengar diluar kamarnya suara air hujan yang turun, pertama tama hanya rintik air yang namun lima menit kemudian hujan turun dengan derasnya. Rizal sempat melirik kearah daun jendela kamarnya.


"Ya Allah semoga mimpi yang kuterima tadi tidak menjadi kenyataan yang buruk" Ucapnya dalam hati.


Rizal mengambil buku Yassin dan mulai membacanya dengan penuh penghayatan...


...♧■○■○■○♧...


Waktu berjalan dan hari saling silih berganti, minggupun menjadi bulan..kini diusia 9 bulan perut Andini sudah sangat besar, kapan saja sang bayi akan lahir kedunia. Rasanya sudah berat bagi Andini untuk bergerak..


Dani sudah melupakan serangan jantung yang dulu pernah menyerangnya..bahkan kini, ia sibuk bersama bu Tuti membuat adonan dan memasak makanan bagi para pelanggan restorannya..meskipun berapa kali Andini berikan wanti wanti agar jangan terlalu cape tapi Dani seakan tenggelam dalam kesibukannya.


Bang Hari sudah tiga kali mengadakan pembicaraan serius dengan Andini bahwa kemungkinan beberapa bulan kedepan akan menikah dengan Ema. Mereka memang sudah saling jatuh cinta bahkan Dani memberikan ijin kepada bang Hari setiap 2 minggu sekali ke Bandung mengunjungi kekasihnya.


Bu Tuti kini sudah menjual warungnya kepada adiknya dan ia sangat bahagia bekerja direstoran Dani..berbagai tipe masakan sudah ia kuasai bahkan kadang kadang sampai larut malam menyiapkan bahan makanan untuk keesokan harinya.


"Pak Dani pulang aja..biar saya selesaikan adonan ini..besok soalnya kata pak Dahlan ada 20 orang dari departemen Perhutani mau makan disini..Udah saya mah gampang pulangnya banyak grab"


"Ya udah bu Tuti saya pulang dulu..besok saya yang datang pagi bu Tuti agak siangan aja"


"Baik pa Dani"

__ADS_1


"Buk..jangan lupa lampu belakang dinyalain ya!"


Setelah mengecek semua kompor gas sudah dimatikan, Dani jalan keluar perlahan lahan menuju kemobilnya..Uuuh cape juga rasanya, namun baru saja ia akan membuka pintu mobil tiba tiba ia merasakan seperti satu hentakan didadanya dan napasnya menjadi pendek pendek..Ia berhenti sebentar dan bersender dibadan mobil sambil menutup kedua matanya.


Hari yang melihat dari sisi pos satpam langsung berlari mendekat.


"Bang..santai bang, tari napas pelan pelan"


Hari memegang telapak tangan kanan Dani, ia merasakan telapak itu dingin.


"Bang..dimana pil yang biasa diminum?" ucap Hari.


"Dikantong celana bang ambilkan" ucap Dani pelan.


Hari langsung merogoh saku celana dan menemukan botol kecil berisikan kapsul kapsul.


Hari keluarkan 1 kapsul dan berikan ke Dani. Hari berlari kearah pos satpam dan mengambil satu botol kecil Aqua baru.


"Ini bang air putih..diminum bang"


"Terima kasih.." Dani meminumnya pelan pelan.


"Lha iyalah..ga bisa bang Dani bawa mobil kondisi begini..bentar saya cek pintu depan dulu" Laki laki tegap itu berlari kearah resto dan dengan cekatan memeriksa semua pintu. Setelah aman ia membantu Dani masuk kedalam mobil dan berangkat pulang.


"Bang..kenapa sih masih sibuk urusin resto? sekarang bang Dani udah punya bu Tuti..banyak lho pelanggan yang bilang masakan resto enak sekali..berarti bu Tuti sudah bisa ikutin gaya masak bang Dani" ujar Hari didalam perjalanan pulang.


"Kasian bu manis bang..sebentar lagi lahiran..dia harus terus didampingin sama bang Dani, kalo bang Dani sakit gimana mau jagain bu manis? iya kan? Saya sih hanya seorang karyawan bang Dani..boleh kan kasih masukan.."


"Dengan menarik napas pelan pelan Dani bicara.


"Iya bang..mulai besok saya serahkan semua ke bu Tuti..bang, kalo sampe ada apa apa sama saya..bang Hari jagain bu manis dan anak saya ya"


"Eeh ga boleh ngomong gitu bang! pamali kata orang sunda! pokonya bang Hari banyak istirahat santai dirumah sama bu manis..apa susahnya sih tinggal terima duit Masya Allah, saya juga sayang banget sama bang Dani..Jangan sakit ah! saya doakan selamat yah"


Dani menengok kearah Hari dan tersenyum.

__ADS_1


"Bang..terima kasih ya, saya tiduran sebentar"


"Siap bang!"


"Oya..ga usah cerita ke bu manis kejadian tadi"


"Siap!"


...♧■○■○■○♧...


Rizal belum tidur juga..setelah shalat sunnah itu ia membuat kopi dan duduk dikamarnya, Namun ketika ia duduk sambil menunggu kopi mendingin ia merasakan sesuatu yang aneh dilambungnya..agak sedikit nyeri dan seperti ada tusukan tusukan kecil disana.


Rizal menyeringai kesakitan..ia memegangi area perutnya...Kenapa ya, ko tiba tiba sakit.


Ia melirik kemeja dan menarik sebatang rokok..dengan santai Rizal menyalakan rokok dan menghisapnya dalam dalam.


Akan aku kontak Andini pagi ini..ko perasaanku ga tenang begini..semoga ga ada apa apa diJakarta. Pikirannya menerawang, mungkin lambungnya sakit karena kurang minum air putih pikirnya..aaah kopi hitam lebih enak rasanya. Iapun mulai nyruput kopi panas dipagi yang dingin itu.


Setelah shalat subuh, Rizal membereskan kamarnya dan masuk kedalam kamar mandi. Memang ini kebiasaan Rizal setelah shalat subuh ia selalu mandi pagi dengan air super dingin..mandi pagi jadi fresh katanya. Padahal daerah Bandung sangat dingin udaranya kala pagi hari.


Jam 8 pagi Rizal telepon Andini.


"Assalamualaikum selamat pagi..maaf ganggu"


"Waalaikumsalam selamat pagi juga! Wah tumben pagi pagi.." balas Andini.


"Din kamu sehat? Apa mas Dani sehat juga"


"Alhamdulillah sehat semua mas Ical..cuma, aku harus siap siap aja..kayanya baby akan lahir sebentar lagi"


"Wow! sukurlah..aku doakan semoga lancar kelahirannya..ya udah kali sehat sih ga apa apa, mau denger aja sehat apa gimana..nanti kali dah lahiran aku dikirimin fotonya"


"Iya mas..pasti, makasih sudah meananyakan tentang kita..nanti aku sampaikan ke mas Dani kalo mas Ical call"


"Oke..salam.ke mas Dani..bye Din"

__ADS_1


"Oke..bye mas!"


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2