Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Dani sudah berangkat pulang.


__ADS_3

Kendaraan ambulan yang membawa Dani telah memasuki pekarangan depan rumah Andini. Disana sudah berdiri pak RT dan beberapa warga setempat.


Pelan pelan keranda Andi diturunkan dan Andini turun dari pintu depan menggendong bayi Rilkmo yang tertidur dengan lelap. Semua warga dirudung kesedihan.


"Tolong kamu jemput Ema dan lainnya, suruh mereka kesini bantu dirumah ini..sekarang bang" ucap pak Darno ke bang Hari. Bang Hari menganggukan kepala dan langsung kearah luar kemobil pak Darno.


"Pak RT boleh bantu kami pak?" ucapnya lagi.


"Bagaimana pak? kalo soal mesjid..kami sudah siapkan dan nanti siang kita bisa laksanakan shalat jenazah disana apabila sudah siap..mungkin jam 12 bisa kita laksanakan"


"Oh terima kasih..karena ini semuanya mendadak pak RT tolong kontak pak Solihin di pemakaman Tanah Kusir..ini no teleponenya..bilang keluarga pak Purwocokro dia pasti sudah tau..bahwa ananda Dani Helmi Purwocokro meninggal dunia minta disiapkan tempatnya"


Pak Darno langsung minta beberapa no ponsel teman untuk bisa dihubungi.


Andini nampaknya sudah tenang, ia duduk disamping kepala Dani. Mama Manda dan bu Tuti yang baru saja hadir membuka tutup kain kafan wajah Dani dan meletakkan kain tipis putih diwajah Dani.


Dahlan sahabat dekat Dani langsung menyiapkan tiker dan menyuruh karyawan restoran membawa berpeti peti air aqua. Restoran hari ini Dahlan tutup untuk 3 hari dalam rangka berkabung.


"Din..Kimo biar mamah yang pegang dulu ya"


"Iya mah..makasih"


Andini menarik ponsel dari saku celananya..ia melihat ada sebuah pesan dari Rizal. Langsung ia menghubunginya.


"Assalamualaikum" ucap Andini dengan suara serak.


"Waalaikumsalam waduh baru aku mau call"


Tiba tiba Andini menangis..


"Din! kenapa?"


"Mas..mas Dani tadi pagi berpulang..jam 3.15 pagi, rencana kita akan makamkan setelah duhur huuuu.." ucap Andini diahiri tangis.


"Ya Allah! itu rupanya pertanda burung tadi..aku berangkat sekarang Din..Insya Allah jam 9 paling kambat jam 10 sudah sampai disana..aku naik bis pagi ini!"


"Mas..aku..kasih alamatnya..gini aja, mas Ical order grab kasihkan alamat itu nanti aku yang bayar disini ya..langsung ya mas"


"Oh gitu? oke oke aku langsung order..sabar dan tabah ya Din!"


"Ya mas..makasih"


Rizal langsung merasakan sakit di lambungnya kumat lagi..ia mencoba tidak ambil pusing dengan perasaan sakit itu..langsung ganti baju dan kontak kang Upin.


"Kang..selamat pagi..mohon maaf, aya pinjam 500ribu punya ga? saya ada 300ribu dikantong saya, saudaraku meninggal diJakarta tadi oagi..aku harus kesana sekarang pake grab"


"Oh ya kebetulan ada nih..tapi kayanya cuma 400ribu aja..gimana?"


"Boleh.."

__ADS_1


"Kang..gini aja kalo cuma ngedrop aja terus pulang mending aku pinjam mobil Avanza kakakku yang tukang bunga..kamu bayar tol dan bensin aku yang bawa..mau ga? kalo mau aku tanya ke akang sekarang"


"Alhamdulillah banget kalo bisa kang Upin"


"Oke bentar ya..aku call 5 menit lagi"


Tidak lama kang Upin mengatakan siap dan ia akan jemput setengah jam lagi.


"Kang Upin! Aku hutang budi kang!"


"Tenang aja..kamu tolongin aku sudah berapa kali..ini giliranku..oke tunggu ya!"


Jam 7 pagi Rizal dan Upin berangkat dengan mobil Avanza menuju Jakarta.


...♧■○■○■○♧...


Jam 8 pagi sudah penuh halaman rumah Andini baik itu warga setempat, teman dan keluarga memenuhi tempat itu.


Andini sempat ganti pakaian dan sambil menyusui Rikmo ia menerima para pelayat. Tidak henti hentinya ia memberikan kata terima kasih sampai ahirnya ia tidak kuat lagi dan minta istirahat dikamar.


"Iya kamu istirahat aja dulu dikamar ditemenin Ema..nanti kalo sudah siap berangkat mama akan bangunkan ya sayang"


Semua sedih melihat Andini menggendong Rikmo menggendong anaknya masuk kekamar.


"Ema..kamu jangan kemana mana ya..oh ya call bang Hari bilang, aku naik Reborn dia yang bawa sama papa mamaku..terus papa Darno dan mama Manda naik Alphardnya. kita dibelakang ambulan"


"Baik buk"


...♧■○■○■○♧...


Jam 11.30 mamanya mengetuk pintu kamar Andini.


"Din..mama masuk ya" ucapnya pelan takut mengganggu Rikmo yang sedang tidur.


"Sudah mau siap siap berangkat?" tanya Dini dengan suara berbisik.


Mamanya mendekat dan membisikan sesuatu.


"Diluar ada Rizal!.kayanya dia datang sendiri..ko tau alamat sini?"


"Oh ya mama..aku yang kasih tau..oke aku bangun..sussh suussh" Dengan gerakan super slow Andini bangkit.


"Ema..jagain Dik Imo..aku jeluar sebentar, kalo nangis cepet panggil aku" bisiknya.


"Din..kamu ga apa apa..?" mamanya bingung.


"Ga apa apa mama..sebetulnya aku dan mas Dani sudah sering ketemu dan sekarang kita jadi sahabat..is okay mama" ucap Dini sambil memegang tangan mamanya yang masih kebingungan.


Baru saja ia keluar kamar, Andini berbenturan dengan papanya yang hendak masuk kamar.

__ADS_1


"Din..Rizal itu?" tanya papa.


"Tidak masalah papa..aku dan mas Dani sudah beberapa kali berjumpa dengan mas Ical..kita sekarang sahabatan..biarkan dia melayat"


Disana disamping wajah Dani, duduk bersila Rizal yang tertunduk khusyu membacakan surat Yassin.


Beberapa teman dekat Andini seperti Nungke dan lainnya yang mengenali sosok Rizal saling berbisik.


"Idih! Ga tau malu dia. berani amat ngelayat" ucap Nungke.


"Kurus banget ya..aku denger dia sekarang jatuh super miskin..semoga Andini 'ga balikan sama dia" ucap Nana teman Andini lainnya.


"Eh jangan ngegosip!..pamali, biarkan dia disana..lagian ko bisa datang kesini hayoo..pasti Dini yang ngasih tau..iya kan? udah biarin aja" kata Riri dulu teman dekat Rizal.


...♧■○■○■○♧...


Andini mendekat dan membuka kain tipis putih diwajah Dani dan mengelus pipinya yang dingin.


Ia membiarkan Rizal menyelesaikan membaca surat Yassin.


Setelah selesai Rizal menutup buku kecil itu dan menoleh kearah Andini serta menganggukkan kepalanya.


"Hai mas..terima kasih sudah datang" ucap Andini.


"Turut berduka atas kepulangan mas Dani..sebentar lagi kita ke mesjid untuk shalat?"


"Iya mas..jam 12 pas kita bawa ke mesjid ga jauh ko dari sini..mas Rizal naik mobil?"


"Tadi diantar kang Upin..dia ga mau pulang katanya..soalnya dia juga pernah kenal mas Dani"


"Oh..titip salam dari saya"


"Aku mau ke papa dan mama sebentar ya"


Rizal memutar tubuhnya dan bergerak jalan jongkok kearah kedua orang tua yang sedang duduk termenung.


"Turut berduka cita Om..maafkan saya" Rizal menundukkan tubuhnya dan memberikan sungkem. Setelah itu ia bergerak kesebelah dan melakukan yang sama.


Bagi mereka..yang sudah ya sudah, apapun yang terjadi kepada Andini dulu sudah mereka ikhlaskan..sedikitpun tidak ada rasa dendam dihati kedua orang tua itu.


Mama menepuk pundak Rizal dan berbisik,


"Semua ada waktunya nak..terima kasih sudah datang"


Pada pukul 11.30 wajah Dani mulai ditutup dan seluruh badannya sekarang terbalut kain kafan.


Jam 12 tepat jenazah diangkat dan mereka membawanya ke mesjid untuk dishalatkan.


Iring iringan kendaraan dikepalai oleh mobil ambulan mulai bergerak membawa Dani ketempatnya yang terahir..

__ADS_1


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2