
"Selamat pagi Din! wah..ko tumben datang cepet katanya lusa ko dah nongol?" sambut Rizal diruangan kantor DAD di daerah Cihampelas Bandung.
"Aku mau anter hasil tes kamu yang ke 2 mas..gimana kabar?"
"Oh ya trima kasih ya..Alhamdulillah baik, Eh ya ampun dek Imo dah tambah besar aja"
"Iya lucu ya..endut"
"Ema..tolong gendong sebentar aku mau ngobrol sama mas Rizal..suruh bang Hari masuk Ema duduk disini..ada AC dingin disini"
Andini menarik kursi dan duduk didepan Rizal, ia menatap tajam kearahnya.
"Mas..hasil tes ke 2 kenapa ko ga bagus ya..ini ginjal kamu kayanya parah..aku heran mas Ical ko tahan sih, kaya yang sehat sehat aja"
"Hmm..sebetulnya Din kalo mau dibilang sakit ya sakit..tapi proyekku ini ga bisa gagal..aku sudah makan terus obat dari dokter..Bismillahirohmanirohim aku kuat"
"Oke oke..jadi proses resto sekarang kita sudah punya tempat, hanya tinggal tanda tangan dinotaris, alat alat semua sudah lengkap, kamu kemarin sudah diapproved sama mas Dahlan dan juga sudah beli..nah,sekarang tinggal staff aja ya kan?"
"Ya betul..dan siang ini aku akan interview tukang masak dan bu Tuti akan tiba jam 10 ini juga mau cek langsung sicalon ini.
"Oke..setelah interview dan beres dengan bu Tuti..kayanya kamu harus istirahat..mungkin 2 hari off mas"
"Gitu ya..baik, aku akan istirahat..trima kasih Din"
"Aku disini ko sampai lusa, kamu aku yang akan masakin ya"
"Bener Din? wah, Alhamdulillah siap"
Belakangan ini memang Andini terlihat dekat, sekilas seperti kembali mesra..ia terus mencoba mencari kesempurnaan dalam hidup ini. Ketika ia terpuruk dan diselamatkan dan ahirnya menemukan cinta dari Dani namun diahiri dengan kematian Dani itu semua menjadi sebuah cambukan pada Andini bahwa semua ini diperlihatkan Allah semata hanya untuk menyadarkan apa arti kehidupan ini.
Kini, hadir kembali Rizal kedalam kehidupannya. Meskipun tidak sebagai kekasih tetapi lebih kepada sahabat. Andini berpikir bahwa ia harus bisa menyelamatkan Rizal. Ia harus bisa mengangkat Rizal seperti dulu.
"Ema..kamu bawa Imo kerumah..aku mau bicarakan sesuatu dengan pak Rizal..jjagain Imo sebentar ya"
"Baik buk"
Siang ini Andini dirumah kontrakan baru Rizal memasak Cap cai dan tahu tempe goreng..simpel aja, sengaja ia tidak masak macem macem yang penting kebersamaannya.
"Mas..aku jemput atau pulang sendiri?"
"Aku naik grab..gampang..15 menit selesai makasih Din!"
__ADS_1
"Oke..dah kusiapkan makanan dirumah"
"Ya ampun..asiik!, oke bentar lagi ya"
Ternyata setelah ditunggu tunggu satu jam Rizal ga pulang juga, padahal makanan sudah dipanaskan 2x di microwave. Andini lau ambil ponsel dari atas drawer.
Loh ada pesan wa dari Rizal, pikirnya.
"Aku terlambat pulangnya..maaf kambuh sakitku"
Ya Allah..semoga dia ga apa apa.
...♧■○■○■○♧...
Ketika itu jam 11, baru saja Rizal selesai dengan pembicaraan masalah menu dan hal lainnya tentang dapur. Tiba tiba seperti sebuah sayatan dan rasanya perih menghujam perutnya. Ia minta maaf sama bu Tuti dan lari kearah toilet.
Rizal menyenderkan dirinya ditembok toilet sambil memegangi perutnya, napasnya naik turun keringet dingin keluar. Tiba tiba kedua matanya gelap! Oh no! katanya dalam hati..
"Ya Tuhan..kuatkan aku, berikan aku waktu sampai hari pembukaan..setelah itu..setelah itu..terserah engkau kaula gustiku.." ucapnya lagi.
selang satu menit, penglihatannya kembali normal, nafasnya berangsur membaik..ia raba wajahnya..ya, ia kini merasakan semuanya kembali..
"Alhamdulillah ya Allah.." ucapnya, iapun membereskan pakaian dan rambutnya, meskipun lemah ia keluar dari toilet dengan langkah pelan ia berjalan.
"Iya bu?"
"Pa Rizal mukanya ko pucet banget.."
"Oh ga apa apa..buk saya jalan dulu ya..maaf"
"Ya pak..ati ati pak!"
...♧■○■○■○♧...
Ahirnya Rizal sampai juga kerumah kontrakan barunya. Andini menyambut keluar ketika mendengar suara mobil diluar.
Ia menggandeng tangan Rizal.
"Mas..kenapa? sakit lagi?"
"Sedikit Din..is okay maaf ya, kasian kamu nungguin aku"
__ADS_1
"Ganti pakaian terus makan ya..ada Cap cai yang kamu suka!"
"Hmm..oke aku ganti baju dan cuci muka"
Malam itu Andini kembali menemani Rizal istirahat. Rizal duduk disofa yang baru kemarin Andini belikan untuk mengisi rumah baru ini.
Andini mengantar teh panas dicampur sedikit madu dan menyerahkan ke Rizal. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Andini duduk didekat Rizal.
"Kenapa mas? ko geleng gelng kepala?" katanya sambil tersenyum.
"Kamu ini aneh..sudah aku campakkan dan setelah itu kamu menjadi gelandangan gara gara aku..tapi kamu masih aja mau ngurusin aku" Rizal mengangkat sebwlah tangannya dan mengusap rambut Andini.
"Mas..siapa lagi kali bukan aku yang ngurus mas Ical? hmm?" Andini menarik tangan Rizal yang mengelus rambutnya..tiba tiba mencium telapak tangan Rizal.
Rizal menaruh gelas berisi teh panas dan menaruhnya dimeja. Ia mendekat kewajah Andini. Hati Andini berdesir ia menutup kedua matanya pelan pelan. Rizal tambah mendekatkan wajahnya..dan ia mengecup kedua mata Andini yang tertutup itu, setelah itu ia mengecup ujung hidung Andini dan ahirnya Rizal mecium bibir Andini yang sedikit terbuka.
Rizal memeluk tubuh Andini dan merebahkannya disofa panjang itu. Rizal melepaskan kerinduannya yang telah lama ia simpan. Rizal memeluk kencang tubuh Andini dan terus menciumi bibir Andini.
Selang beberapa menit kemudian..
"Mas..jangan sekarang ya..dan aku mending pulang dulu, kasian Imo dirumah"
Rizal sadar, ia duduk kembali dan menarik tubuh Andini duduk disampingnya.
"Maafkan Din..ya sebaiknya kamu pulang kasian Imo..bentar aku panggil grab"
"Besok aku disini sama Imo, pagi pagi aku sudah disini ya"
"Heeh..bawa Imo ya..aku kangen sama Imo si endut itu"
Tidak lama kendaraan Grab tiba. Andini digandeng Rizal menuju kemobil.
"Mas..nanti aku dicall, makan obatnya jangan lupa" Andini mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Rizal.
"Baik bu boss! titip salam 'tuk Imo..makasih sayang"
Didalam kendaraan Grab, Andini termanggu akan kejadian yang baru terjadi..Aneh sekali, waktu dan semuanya seperti berputar kembali..bahkan perasaan ke Rizal kini dari sahabat menjadi cinta. Apa yang terjadi dengan diriku?
Rizalpun ketika Andini telah pergi..hatinya berbunga bunga..ia mengepalkan tangan kanannya dan memukul ke udara..Yes! Alhamdulillah ya Allah terima kasih!! katanya dalam hati.
Ia membersihkan piring dan gelas gelas kotor..ia menatap kesekeliling ruangan rumah kecil kontrakannya..Alhamdulillah berkat bantuan Dini ia bisa keluar dari kamar kosnya dan dibantu kang Upin membersihkan rumah kontrakan dan membeli tempat tidur bekas, dengan wang simpanannya ia membeli kasur baru.
__ADS_1
Bismillah, semoga semuanya bisa mengubah kembali hidupku kejalan yang yang lebih baik...
...☆■○■○■○☆...