Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
"Love you endlessly"


__ADS_3

"Selamat malam..saya Bripka Suhendar dari kantor polisi Dago Bandung bisa bicara dengan Ibu Andini?"


"Oh ya saya sendiri..ada apa bapak?" tanya Andini kaget malam hari ditelepon anggota kepolisian.


"Sebentar ya pak, saya taro baby saya dulu"


Andini dengan pelan menurunkan Rikmo ketempat tidurnya.


"Ya bagaimana pak?"


"Sebelumnya maaf malam malam saya telepon..ini kami menemukan seorang priya tergelerak dipinggir jalan..dia menyerahkan kartu nama yang saya pegang sekarang kepada seorang anak pengemis..apa ibu mengenal priya ini?"


Dheg!..jantung Andini seakan tertendang sepatu..tangannya gemetar memegang ponsel.


"Apa bapak ada KTP nya?"


"Ada sebentar ibuk" Bripka Suhendar membuka sebuah dompet dan mengeluarkan KTP.


"Priya ini bernama Rizal Mantovani Subroto"


"Astagfirullah! bagaimana kondisinya pak?"


"Sebaiknya ibuk keBandung apabila mengenal dekat priya ini sekarang juga"


"Ya Allah! akn dibawa kemana Rizal pak?"


"Karena posisi diDago akan kami arahkan ke RS Sari Ningsih Martadinata saja buk"


"Baik saya akan kesana segera!"


Andini memegang tembok, ia menyenderkan tubuhnya. Langsung ia call Lukman wakil Rizal.


"Halo mas Lukman, sekarang juga ke RS Sari Ningsih Martadinata di Citareum..pak Rizal kecelakaan! Saya keBandung sekarang juga"


"Loh buk..tadi pak Rizal bilang mau jalan jalan sebentar?"


"Entahlah..aku ga jelas..tapi barusan ada polisi call saya..yang utama adalah kamu kesana sekarang..serahkan resto kestaff paling senior kalo selesai langsung tutup resto!"


"Baik..baik buk..segera saya kesana!"


Andini langsung memanggil bang Hari dan Ema.


"Bang Hari! kita keBandung sekarang Ema juga"


Andini dengan gugup menyiapkan keperluan Rikmo dan langsung masuk mobil.


"Ema! kunci semua pintu! kita berangkat!"


"Baik buk!"


Langsung mereka berangkat keBandung.


...♧■○■○■○♧...


Dalam perjalanan ia mengontak Dahlan.


"Oke! kabarkan aku secepatnya kamu sampe ya Din..mungkin aku besok pagi sudah disana"


Andini menutup pembicaraan, tubuhnya gemetar. Bibirnya kering, matanya menerawang kosong kedepan.

__ADS_1


"Ya Allah tolong jangan kau berikan aku cobaanmu lagi..aku sudah kehilangan Dani apakah kau akan mengambil Ical juga??" pikiran Andini risau memikirkannya. Ia seakan tidak rela Rizal pergi..baru saja cintanya bersemi indah menyatukan kebersamaan yang hilang dulu..kini, mungkin harapan itu akan sirna.


"Maaf bu manis..kita arahnya keresto atau kemana buk?"


"Kita langsung ke rumah sakit Sari Ningsih didaerah Citareum, sekarang aku buka gps biar abang tau arahnya"


"Ya terima kasih"


...♧■○■○■○♧...


Setelah 3 jam lebih perjalanan ahirnya mereka sampai diBandung dan mengarah kedaerah Citareum.


Lukman yang kebingungan saat itu sudah berada di tumah sakit, kemana ia harus pergi ia sendiri bingung. Ahirnya ia mendatangi resepsionis.


"Mba, saya cari boss saya katanya baru saja dibawa kesini..namanya pak Rizal"


"Oh ya..sebentar saya liat dulu..ada nama belakang?"


"Namanya Rizal Mantovani"


"Ooh yang baru saja masuk..iya ada..sekarang diruang C4 gawat darurat..bisa saya lihat KTP ?"


Lukman tambah panik..kenapa di gawat darurat?"


"Oke..masnya masuk dari pintu itu lurus saja..ruang terahir nyambung kegedung sebelah..disana ruang gawat darurat ya" ucap resepsionis.


"Terima kasih mba"


Setibanya disana, Lukman menjumpai seorang suster yang sedang duduk dibangku resepsionis.


"Selamat malam saya Lukman pegawai pa Rizal yang baru saja dirawat..apa bisa saya jenguk?"


Suster itu berdiri dan dengan wajah serius ia mengatakan bahwa Rizal sudah tidak ada, ketika dibawa kerumah sakit ternyata ia sudah meninggal dunia.


Lukman kaget bukan main..dia tidak bisa bilang apa apa. Ia mencari kursi dan duduk. Ia tidak berani laporkan keadaan pak Rizal secara langsung ditelepon kepada ibu Andini..ia tau bahwa pak Rizal mempunyai hubungan khusus dengan bu Andini.


"Apakah mas mau melihat pak Rizal atau menghubungi keluarganya?"


"Ya mba..saya akan telepon boss saya yang lain"


Pelan pelan ia menarik ponsel dari saku celana dan mengontak pak Dahlan.


"Halo hah?! sudah meninggal? Kamu jangan kabarkan bu Andini dulu nanti kalo sudah ketemu, baru kabarkan.....dan ibu menuju kesana sekarang..saya akan kontak keluarganya juga dari sini..saya keBandung sekarang" Dahlan kaget..tadi kata Andini di UGD sekarang meninggal dunia??


...♧■○■○■○♧...


Sebersit perasaan ga enak dihati Andini ketika kendaraannya memasuki area rumah sakit. Seperti ada yang membisiki ia tidak akan berjumpa lagi dengan Rizal.


"Ema, bantu saya gendong Imo ya..ibu mau jalan cepet..kamu ikuti dari belakang..bang Hari ikut turun yuk"


"Dimana Lukman?" tanya Andini


"Oh ibu sudah sampai ya..ibu masuk lewat pintu kanan jalan lurus ada pintu UGD saya akan ketemu ibu didepan pintu" jawab Lukman, tiba tiba ia merasakan telapak tangannya dingin.


Andini berjalan cepat masuk kedalam diujung sana ia sudah bisa melihat Lukman yang berjalan cepat juga menghampirinya.


"Luk! gimana?" tanya Andini dihadapan Lukman.


"Hei kenapa matamu basah?" tanya Andini lagi.

__ADS_1


"Buk..maafkan saya...barusan dapet info dari suster..hmmm..pak Rizal.."


"Pak Rizal kenapa??"


"Pak Rizal sudah ga ada bu"


"Maksudmu dipindah?"


"Tidak buk..pa Rizal sudah meninggal dunia"


"Haah!?" tubuh Andini bergetar..inilah perasaan yang ia rasakan tadi..Ya Allah..


Ia mencari tempat duduk, badannya lemas. Ema dan bang Hari ikut duduk. Andini mengambil Imo dari gendongan Ema dan memeluknya erat..ia menangis sambil menciumi kepala putranya.


Bang Hari berdiri dan mendekat ke Lukman.


"Luk..dimana pak Rizal berada sekarang?"


"Saya tidak tau dimana bang..aku hanya sedih dan bingung aja mendengar kabar dari suster"


"Ayok ikut aku..kita cari tau sekarang" ucap bang Hari.


"Ema..kamu temenin ibuk disini,aku mau cari tau dimana pak Rizal berada"


"Iya bang"


Bang Hari langsung membuka pintu UGD diikuti Lukman.


"mba maaf dimana lokasi almarhum pak Rizal Mantovani sekarang?


"Tadi sekitar setengah jam yang lalu dibawa kekamar pemandian untuk dibersihkan..apa bapak dari keluarga ingin ikut memandikan?"


"Oh tidak saya hanya salah satu karyawan..tapi setelah dimandikan seterusnya dimana?


"Kami akan posisikan dikamar jenazah sampai mendapat kabar selanjutnya dari keluarga"


Lewat setengah jam datanglah seorang ibu tua, ia berjalan memakai tongkat. Dan ketika melihat sosok Andini ia langsung duduk dan memeluk.


Ema secara sigap mengambil alih Rikmo dari gendongan Andini.


"Oh ibu..sudah lama kita tidak ketemu..huuuu"


"Iya nak..maafkan kami sekeluarga dan maafkan Rizal ya nak.."


"Ibuuu..huuu"


Andini dan ibunya Rizal saling berpelukan dan menangis..tidak disangka setelah beberapa tahun baru kali ini mereka bertemu kembali, didalam pertemuan yang menyedihkan.


"Nak..dengarkan, perpisahan hanya bagi mereka yang mencintai dengan mata, namun..bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa..tidak akan ada perpisahan..itulah kalian, kau dan Rizal selamanya tidak pernah berpisah anakku.."


...♧■○■○■○♧...


Keesokan harinya setelah Rizal dimakamkan, sebelum ia pulang Andini menyempatkan kerumah barunya Rizal.


Dikamar tidurnya Andini menemukan sebuah album foto kecil..didalamnya banyak tersimpan foto foto lama Rizal bersama dirinya. Dihalaman paling belakang ada sehelai kertas bertuliskan..


"Andini, ketahuilah..bahwa aku mencintaimu selamanya. Apabila aku mati, biarkan api cintaku selalu menyala dihatimu, jangan kau padamkan..karena api cintaku, tidak akan pernah kumatikan..Love you endlessly, Rizal Mantovani"


...TAMAT...

__ADS_1


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2