Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Bang Hari dan bu Tuti ikut membantu.


__ADS_3

Bersamaan dengan terdengarnya bunyi gong, tibalah saatnya Dani dan Andini berjalan kearah luar gedung resepsi menuju kendaraan yang khusus didiapkan untuk membawa pengantin pulang ke hotel.


Setelah menukar pakaian Jawa, Dani menggantikan dengan mengenakan celana biru tua dan baju batik dan Andini memakai rok putih dan Baju batik.


Keduanya istirahat sebentar dikamar Hotel, setelah azan magrib mereka turun ke hall sebelah lobi untuk acara pesta malam.


Dani menggandeng Andini mendekati Hari dan bu Tuti.


"Din..ada satu kejutan lagi untukmu"


"Loh apa lagi?" ucap Andini sambil menengok kearah suaminya.


"Mulai senin ini bang Hari aku angkat sebagai penjaga pintu masuk pelanggan, tugasnya..buka tutup pintu dengan gajih bulanan"


"Dan..aku minta bu Tuti membuatkan tempe mendoan tiap hari karena aku pernah coba jual 20 bijo laku semua..jadi aku bikin perjanjian minta dikirimkan setiap hari!" kata sambil tersenyum.


"Ya Allah mas! Alhamdulillah! gimana bang? bu Tuti juga seneng ga?"


"Alhamdulillah kita seneng! Terima kasih pa Dani!" ucap bu Tuti.


"Bang Dani, saya bersukur dapet kerjaan..daripada kepanasan dan keujanan saya dikasih kerjaan!"


Pesta berlangsung sampai jam 9 malam, kelompok tamu terahir adalah Nungke dan semua sahabat Andini dan kelompok Dahlan dan teman teman dekat Dani.


"Dan..selamat ya, aku pamit dulu soalnya besok 'kan ada grup ibu ibu mau dateng"


"Hehe makasih Lan! Sorry, besok kamu pegang sendiri ya"


"Siaaap..oke Din..selamat ya, jagain bossku haha"


"Ya ampun..siap!" ucap Dini sambil ketawa.


Dan ahirnya setelah semua tamu telah pulang kedua mempelaipun meninggalkan aula pesta menuju kekamarnya dengan bahagia.


...♧■○■○■○♧...


"Kang..ko ngelamun aja dari tadi?" tanya seorang pengamen kepada Rizal.


"Oh ga apa apa..lagi memikirkan temanku diJakarta..semenjak dia nikah ko ga pernah kesini lagi"


Memang sudah enam bulan semenjak pernikahan Andini belum sekalipun pulang keBandung. Andini sibuk dengan restorannya, kini Andini yang mengatur semua keuangan resto dan Dahlan mengatur pemasaran dan semua order catering.


"Maas.." ucap Andini suatu malam.


"Ya..ada apa?"


"Mas sibuk ya?"


"Ga juga..lagi nonton berita aja, kenapa?"


"Tadi aku iseng ngecek..kata dokter Parman bahwa aku positip mas"


"Heh positip apa? Covid?"


"Ih ngaco..masa Covid..aku sudah berisi!" kata Andini sambil membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Yang bener? Alhamdulillah!" Dani bangkit berdiri langsung memeluk istrinya.


"Aku call papa mama sekarang..kamu dah call keBandung?"


"Dah..dan aku rencana mau pulang minggu ini mas kalo diijinkan"


"Boleh dong! semenjak nikah kamu belom pernah pulang lho!"


"Mas ikut 'kan?"


"Kalo kamu pulang sabtu ini..aku ga bisa solnya kita mau buat acara makan malam buat grup Mitsubishi, ultah kantor mereka..tapi hari selasa aku nyusul deh"


"Ya boleh..aku dianter bang Hari boleh ga? biar dia yang nyupir"


"Ya ga apa apa..sekalian kasih dia liburan juga..jalan jalan keBandung"


"Alhamdulillah..mas Dani nyusul ya hari selasa"


"Oke sayang..tapi sini dulu aku mau peluk dulu..wah sebentar lagi punya momongan ya"


"Hmmm..sekarang ga boleh sadis sadis sama aku diranjang ya..kasian baby nya" ucap Andini sambil tertawa.


...♧■○■○■○♧...


"Bang Hari..ada kejutan!" ucap Andini ketika masuk restoran.


"Eh kejutan apa..ngagetin aja bu manis..ada apa?" jawab Hari sambil membukakan pintu.


"Bang Dani mau punya momongan sebentar lagi!"


"Hah yang bener? gila! Alhamdulillah! Selamat bu manis!"


"Siap! lha tapi apa bang Dani ga ikut?"


"Bang Dani nyusul hari selasa katanya"


"Oke siap! pake Reborn?"


"Iyalah..besok berangkat subuh jam 5 bang, Reborn dibawa aja pulang sama bang Hari entar malem, jadi bang Hari besok langsung jemput aku ya"


"Baik bu manis!"


"Hihihi..kamu tu dari dulu masih panggil aku dengan nama itu"


"Hehe dah kebiasaan maaf...itu satpam toko samping juga sekarang kalo tanya..mana bu manis? hehe"


"Ya udah hihi lucu aja..besok subuh ya bang!"


"Siap"


...♧■○■○■○♧...


Setelah berjalan hampir 1jam setengah mereka kini memsuki kota Bandung.


"Bang..hari ini aku mau santai sama mama..bang Hari jalan jalan sendiri liat kota Bandung ya..ati ati cewe Bandung ganas lho bang!"

__ADS_1


"Alah..mana ada yang mau deketin buk..tampang serem gini hehe.."


"Loh..cewe Bandung tuh cakep cakep bang..eh, yang kerja dirumahku cakep lho anaknya, mau aku kenalin? .."


"Hehe..boleh, siapa tau jodoh ya"


"Bang..dunia ini aneh ya, ko aku bisa kenalan sama bang Hari ya? padahal kan dulu aku gelandangan mana pernah mandi lagi"


"Aduh bu..saya tuh dulu ya kasian banget..saya selalu pikir ini orang bukan gelandangan"


"Ko..punya perasaan gitu bang?"


"Aku tuh suka liatin kuku kaki ibuk..beda buk sama orang yang gelandangan..kuku kaki ibu tuh gimana ya? kecil kecil dan rapih"


"Ee..bisa aja si abang..sampe ngeliatin kuku kaki segala" ucap Andini tersenyum gembira.


"Lha iya..mana ada sih gelandangan kuku kukunya rapih..hehe"


"Oke bang..kita dah mau sampe..Alhamdulillah..kapan kapan ngobrol lagi yang seru dan lucu lucu"


"Siaap.."


...♧■○■○■○♧...


Rizal sedang duduk dikamar kosnya, hari ini sengaja ia ga ngamen. Rizal membuka kantong plastik dari bawah kasur dan mengeluarkan isinya. Banyak recehan koin tapi ada juga uang kertas.


Satu persatu ia hitung..ternyata lumayanlah jumlahnya, kurang lebih seratus lima puluh ribu. Ia tersenyum..akan aku belikan beberapa tangkai bunga dan akan aku berikan kepada Andini..hadiahku untuk dia sebagai pengantin baru.


Ia menarik sebuah foto dari balik dompet bututnya..Rizal memandang foto itu disana nampak dirinya mendekap Andini mesra. Tidak terasa air matanya jatuh kepipi. Dengan penuh perasaan ia meraba foto lama itu.


"Andaikan dulu aku tidak berhianat padamu..ya Allah..maafkan diriku" ia berkata kata sendirian didalam kamar yang gersang itu.


"Ternyata..semua harta itu hanyalah sebuah ujian darimu ya Allah..aku telah buta oleh kegagahanku dan harta orang tuaku yang banyak itu..ternyata semua hanyalah ujian..maafkan hambamu ini ya Allah"


Setelah lama ia memandang fotonya, ahirnya ia masukan kembali kedompetnya. Ia bangkit dari kasur dan berjalan kearah luar. Rizal melangkah kearah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Kali ini ia dengan khusu shalat Azhar..setelah salam terahir menengadahkan kedua tangannya dan memanjatkan doa agar dosa dosanya diampunkan..


Belum lama ia selesai shalat tiba tiba pintunya diketuk.


"Permisi..kang Ical..permisi kang"


Rizal kenal suara itu, suara kang Upin temannya ngamen.


"Masuk kang masuk.."


Rizal bangkit dari shalatnya membukakan pintu.


"Eh..ayah naon? tumben main kesini"


"Punten ah..tadi aya awewe yang dulu pernah ke warung kayanya..dia ninggalin surat..tolong sampaikan ke kang Ical katanya"


Langsung Rizal tarik surat itu dari tangan kang Upin dan dengan tidak sabar ia menarik secarik kertas dari dalam amplop.


"Mas Ical..maafkan aku ya..kebetulan aku lagi diBandung main kerumah papa mama..ko ga keliatan sih diwarung? Besok..jam 12 ketemuan ya diwarung..aku tunggu, Andini"


"Ya Allah.." Ia langsung memeluk kang Upin.

__ADS_1


"Makasih kang makasih ya"


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2