Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Rizal telah ikhlas


__ADS_3

3 bulan sudah berjalan semenjak Rizal menjadi project manager sekaligus marketing manager resto DAD ahirnya hari yang ditunggu tiba. Disatu malam minggu resto DAD cabang Bandung dibuka dengan meriah. Semua teman dan orang tua datang memeriahkan acara.


Andini bangga dengan kerja Rizal yang berhasil mengetengahkan rumah makan yang keren. Beberapa personal radio fm Bandungpun ikut diundang makan gratis. Hingga larut malam pengunjung mencoba menu menu makanan yang lezat.


Dahlan dengan bangga memperkenalkan Rizal kepada para undangan sebagai pimpinan cabang Bandung itu.


"Wow! ini sebuah kejutan yang luar biasa!" ucap mama dan papanya Andini. Rizal tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


"Ini semua berkat bantuan Andini..siapa lagi?" ucapnya dengan penuh kepercayaan diri.


"Aku bangga kamu bisa merubah Rizal menjadi orang yang sukses Dini!" ucap Nungke sahabat lamanya, ia kini sadar apa yang dilakukan Andini..


Andini ini orang yang super spesial, bagaimana tidak? Dulu ia dicampakan bahkan terlunta lunta tapi kini justru dia yang membantu orang yang pernah menghancurkan dirinya..manusia atau malaikat? pikir Nungke ga abis pikir.


"Din..pembukaan resto yang ke 2 ini kayanya lebih meriah dari yang pertama..aneh ya?,tapi Dani pasti akan bangga melihat perkembangan kita..dia pasti kagum dengan kerjamu Din" Ucap Dahlan ditengah tengah kesibukan pesta.


"Sukurlah mas! Aku juga merasakan itu, apalagi adanya beberapa personil radio fm..kata mereka akan diberitakan setiap sore hari..hebat ya..ini hasil marketing mas Rizal!"


"Bagus! dia cocok sekali Din!"


Lewat jam 10 malam semua pengunjung satu persatu pulang, ahirnya jam 10.15 Bang Hari menutup pintu resto.


Dahlan mengumpulkan semua staff dan ia yang pertama tama memberikan tepuk tangan. Semuanya ahirnya mengikuti Dahlan bertwpuk tangan.


"Sukses kawan kawan! Memang letih tapi aku pikir malam ini sukses! besok bu Tuti akan pulang keJakarta saya ucapkan terima kasih! Dan Cook kita akan meneruskan gaya masak bu Tuti yang tersohor itu! Untuk yang lainnya besok mohon hadir jam 9.30 untuk beres beres..Pak Rizal akan memimpin resto ini mulai besok karena saya dan bu Andini akan balik ke Jakarta..Sekali lagi selamat!!"


"Mas..aku dan Imo masih diBandung sampe lusa ya..mas Dahlan pulang duluan boleh?" ucap Andini.


"Oh boleh..aku besok jam 12 ada pertemuan dengan pimpinan hotel Santika Bintaro..Bu Tuti sudah siap ko besok..salam untuk papa mama ya"


"Ya terima kasih mas..aku mau ngobrol sebentar sama mas Ical..silahkan kalo mau pulang duluan"


"Thanks Din..sampe ketemu diJakarta ya"


...♧■○■○■○♧...


Andini menyilahkan bang Hari pulang dulu..ia berencana akan diantar Rizal pulang.


"Din..kamu aku gonceng naik motor ku mau?"


"Wah seru mas! ayok! boleh.." katanya sambil melepaskan senyuman khasnya.


Rizalpun membonceng Andini, ia merasa sangat bahagia..sang bidadari yang dulu hilang kini memeluk dirinya dari belakang.


"Mas..gimana sakitmu?!"

__ADS_1


"Ya..lumayan Din..Insya Allah sehat ya"


"Kamu harus sehat mas..aku dan Imo mengharapkan itu!" teriak Andini sambil mempererat pelukannya.


"Jangan kawatir bossku yang cantik!"


"Awas! liat jalanan..jangan nabrak ya..!" teriaknya dikuping Rizal.


...♧■○■○■○♧...


"Selamat malam pak Rizal" ucap bang Hari menyambut didepan pintu.


"Hei bang Hari..pa kabar?"


"Alhamdulillah pak..malem buk manis"


Hari mempersilahkan masuk dan ia langsung kebelakang rumah. Namun ditempat gelap ia mengintip mereka..Hari kaget ketika perutnya dicubit dari belakang.


"Eh busyet! ngagetin!" umpatnya.


"Heh ngapain ngintipin boss kita?,.dah sini masuk kamar, aku kelonin"


"Iih kamu mah..bikin uratku ngilu ajah" katanya sambil gantian nyubit perut istrinya. Ema berlari kecil masuk kekamarnya, dikejar Hari yang kegandrungan.


"Mas..pulang aja yah..udah malem"


"Yah..ko cuman dijidat?" ucap Andini manja.


"Muuaach" Rizal mencium bibir Andini.


"Ayo masuk..kasian Imo ditinggal satu hari..selamat malam cantik" bisiknya.


Andini melambaikan tangannya dan masuk kerumahnya.


...♧■○■○■○♧...


Rumah makan DAD cabang Bandung kini menjadi buah bibir masyarakat Bandung..berkat kombinasi kerja sama pengembangan marketing Rizal dan Dahlan masyarakat Bandung kalo keJakarta akan mendapatkan diskon dan apabila masyarakat Jakarta jalan jalan keBandung selanjutnya mampir keDAD cabang Bandung otomatis dapat diskon juga.


Khususnya cabang Bandung kini sudah melewati target penjualan, hampir setiap malam pelanggan datang menyantap hidangan disana..bahkan Rizal memanggil tukang graffiti untuk melukiskan suasana jalan Bandung sebagai latar belakang tembok, menjadikan rumah makan yang Instagramable.


Namun seiring dengan kemajuan restoran, kesehatan Rizal malah menurun drastis, ditengah tengah kesibukan ia sering masuk kekamar toilet staff dan kejang kejang disana karena sakit lambungnya bertambah parah..namun sedikitpun ia tidak melaporkan kepada Andini.


Disatu malam yang agak sepi dari pengunjung resto Rizal meminta Lukman wakilnya untuk mengatur operasional restoran. Rizal ingin berjalan sendirian mencari inspirasi katanya. Namun kenyataan yang sebenarnya bukanlah demikian. Sudah semenjak siang tubuhnya lemas dan pandangannya buram.


Ia berjalan kaki dan terus melangkah dikegelapan malam. Ia turuni jalan Dago dengan berjalan kaki yang ramai lalu lintas, sampai ahirnya sampai diperampatan jalan Purnawarman. Rizal mencari tempat yang sepi dan ahirnya duduk diatas sebuah batu.

__ADS_1


Satu tangannya menekan perutnya yang bertambah sakit. Peluh bercucuran dikeningnya. Tubuhnya gemetar.


Tiba tiba..


"Pak..pak maaf..bapak sakit?" terdengar suara anak kecil mendekat.


Rizal menengok ternyata seorang anak pengemis. Rizal merogoh kantong belakang celananya dengan susah sambil menahan sakitnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama.


"Sini dik..ini ada kartu nama kamu kekantor polisi..serahkan kartu..serahkan kartu ini aah!"


Rizal mengerang..ia memberikan wang 100ribu ketangan anak itu.


"Ini wang untukmu..tolong ya kekantor..polisi"


Rizal sudah ga kuasa, ia tumbang kebelakang. Kepalanya membentur tanah.


Anak kecil pengemis itu kaget melihat wang ditangan dan ia juga kaget menyaksikan tubuh Rizal yang jatuh ditanah.


Anak itu langsung lari menuju pos polisi terdekat, napasnya tersengal sengal.


Diatas tanah itu Rizal masih bisa sadar..ia membuka kedua matanya, air matanya mengalir dari matanya..


"Ya Tuhanku..Gusti Allah..terima kasih kau telah lahirkan diriku..didunia ini..maafkan atas dosa dosaku..kiranya waktu..telah tiba..Ya Allah aku siap.."


Bersamaan dengan ucapan kata terahir, Rizal menarik napas..ia merasakan sebuah hentakkan keras diujung kedua telapak kakinya..tubuhnya bergetar.namun ketika ia merasakan hentakan dikakinya justru ia melepaskan sebuah senyuman..senyuman terahirnya kepada dunia..


...♧■○■○■○♧...


"Pak! pak polisi tolong!" teriak anak pengemis itu kepada petugas jaga dikantor polisi.


"Heh! ada apa kamu?! kenapa lari beitu!?"


"Anu pak..ada orang pingsan! kayanya kondisinya parah! dia kasih kesaya kartu ini..saya ga ngerti! kasian pak..tolong dia!" ucap anak itu.


"Coba liat kartunya" kata pak polisi. Ia mengamatinya.


"Ayo kita kesana..kamu ikut aku..Dirman..yuk ikut..kita cek lokasi" ucapnya sambil mengambil kunci motor.


Tidak berapa lama mereka tiba dan menyaksikan Rizal yang tersungkur ditanah.


Suhendar dan Dirman memeriksa urat nadi dan napas dihidung.


"Dir! aku panggil ambulan..tolong call no ponsel dikartu itu..kamu disini aja dik" ucapnya kepada anak pengemis itu.


Polisi bernama Suhendar mengecek semua kantong baju dan celana..ia menemukan satu kartu nama lagi atas nama Dahlan dengan alamat Jakarta.

__ADS_1


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2