Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Tanda tanda kepulangan sudah mendekat.


__ADS_3

"Hai sayang papa..gimana kabarnya?"


"Hmm..lemes pah..mana mas Dani?"


"Tadi lagi urus surat surat rumah sakit sayang..udah tenang aja, aduh lucunya cucu papah..mah liat nih cucumu"


Mamanya Andini baru saja masuk karena sibuk diajak ngobrol sama para saudaranya.


"Ya ampun lucu amat..siapa ini namanya?"


"Rikmo Adewa mah..Rikmo itu dalam bahasa Jawa artinya "rambut" dan Adewa adalah "dari dewa"..karena mas Dani adalah sang dewa penolong maka anaknya sebagai keturunan mas Dani aku namakan Rikmo Adewa..rambut dari dewa"


"Waduh! ada sejarahnya ya..kalo gitu mama mau panggil Kimo aja..hihi lucu amat namamu"


Andini tersenyum bangga.


"Kemana ya mas Dani ko lama amat" tanya Andini. Mendengar itu papa dan mama seakan akan tidak mendengar..mereka seakan larut dalam kebahagiaan.


...♧■○■○■○♧...


Hari sudah mulai sore Andini tetap tidak didampingi suaminya tercinta..padahal sudah saling silih berganti teman atau saudara yang datang menjenguk Andini.


Andini mulai panik ketika Pak Dahlan dan bahkan bu Tuti menjenguk tapi tanpa dihadiri mas Dani.


"Papa..ceritakan sebenarnya..dimanakah mas Dani? Hari ini menurut dokter jadwalku sudah bisa pulang..ko mas Dani tidak disini?" ucap Andini cemas.


Dengan rasa kawatir ahirnya papa nya Andini menjelaskan semuanya.


"Kami takut kamu akan kaget dan shock..tapi Dani sekarang sedang dirawat dan keadaannya membaik"


"Pah..bawa aku kesana sekarang! Aku sudah bisa jalan ko..ayo aku mau jenguk dia!" Andini dengan suara keras memaksa untuk pergi melihat suaminya.


Dokter jaga ahirnya meluluskan Andini untuk kesana dengan Catalan sebaiknya duduk dikursi roda mengingat baru satu hari melahirkan.


"Pak..biar saya yang dorong bu manis, bapak dan ibuk jalan saja" ujar bang Hari.


Karena Rikmo baru saja lahir..maka hanya Andini saja yang diperbolehkan menengok suaminya. Alhamdulillah jarak gedung bersalin dan ruang perawatan khusus kardiologi tidak terlalu jauh.


Selama perjalanan ketempat kardiologi, Andini terus berdoa dan berzikir.


Ya Allah..sembuhkan suamiku..jangan kau pisahkan aku dengannya..ijinkan aku merawatnya sampai ia sembuh total..


Setelah dua tikungan dan naik lift kelantai dua mereka sampai di ruang perawatan Kardiologi.


"Oh ini istrinya yang baru saja melahirkan ya..dengan bu Andini ya?" kata suster jaga.

__ADS_1


"Iya buk..ini istrinya..apa sudah bisa ditengok?" ucap papahnya.


"Sudah..silahkan masuk..tapi untuk menjaga ketenangan biar istri dan ibunya dulu yang masuk ya"


"Mamah..ayuk masuk sama Dini"


Dini bangun pelan pelan dari kursi roda dan berjalan digandeng mamanya. Papanya Andini dan pak Darno papanya Dani beserta buk Manda mamanya Dani menunggu diluar. Mereka akan gantian menjenguk.


Dani nampak terbaring diatas tempat tidurnya, sebuah kabel infus terlihat ditangan kirinya. Andini menggelengkan kepalanya sedih tapi ia tetap menjaga ketenangannya, ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak turun.


Dengan pelan ia mendekati suaminya, dipegang tangannya dan berbisik..


"Halo sayang.."


Kedua mata Dani terbuka ia menoleh kearah datangnya suara mesra sang istri yang ia cintai..


"Hai.." ucapnya lemah. Dani mencari telapak tangan Andini dan meremasnya.


"Maafkan aku sayang..mana Rikmo?"


"Ada diruang baby.." ucap Andini dengan senyum dikulum dibibirnya.


"Mama, kamu dekatkan wajahmu kesini"


Andini menunduk mendekatkan telinganya..


"Hussh jangan ngomong gitu..kan mas Dani masih dalam perawatan..Aku akan minta tempat tidur ga jauh biar bisa dekat sama mas Dani ya"


"Entahlah Yang..barusan waktu aku tidak sadar aku seperti didatengin kakek ku mbah Suroyo..dia berkata, kalo sudah siap aku yang akan jemput kamu"


Andini tidak bisa berkata apa apa..ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipinya dengan mesra.


"Sayang istirahat ya..ini ada mamaku, juga mau jengeuk mas Dani..abis itu ada papa dan mama juga bang Hari semua diluar nunggu gantian sayang"


"Mama.." ucap Dani.


Mama mendekat dan mengusap rambut Dani.


"Iya nak..mama disini"


"Maafkan Dani ga bisa jagain Dini dan Rikmo..maafkan Dani kalo ada kiranya kesalahan ya ma"


"Iya nak..udah jangan ngomong gitu..sehatkan dulu ya nak" Justru ibunya Andini yang ga kuat, ia mulai menitikkan air matanya. Andini mengusap pundak mamanya.


"Sayang..tolong panggilkan papa dan mama sayang"

__ADS_1


"Biar mama yang panggil..kamu disini aja"


Mamanya Andini gantian menunggu diluar berama suaminya, sekarang pak Darno sang ayah dan mama Manda masuk.


Kini, kedua orang tuanya berdiri didekat Dani disebelah Andini yang masih memegang tangan Dani.


"Papa dan mama..terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Dani..Mungkin tidak lama lagi Dani mau pulang, tadi mbah Royo dah dateng jenguk Dani dan siap mau bawa pulang Dani..tidak usah sedih ikhlaskan Dani apapun yang terjadi..Dani sudah liat keturunanku si Rikmo..Maafkan Dani ya"


Pak Darno mendekat dan mengelus tangan anaknya.


"Baca Al Fatehah dan 3 Qulhu ya nak..Insya Allah kamu sehat nak..sudah, kamu yang sehat saja Dani..papa mama tidak pulang kerumah malam ini..kita semua ada didekatmu ya"


Mama Manda mendekat tapi ga bisa bilang apa apa..ia hanya menangis disamping anaknya yang terbaring lemah.


"Mama tidak boleh nangis mah..Mamah dan Dini besarkan Rikmo ya.."


"Ya Allah.." bisik Andini.


"Ayuk kita tunggu diluar saja..biar Andini disini bersama Dani..kamu kuat badannya Din?" ucap pak Darno.


"Kuat pah..tolong bilang ke papa dan mama diluar..kalau mau ke hotel ga apa apa..Dini biar disini"


"Ga sayang..papa mamamu tidur dirumah kita ko..tapi sebentar lagi kita bilang mereka suruh pulang kerumah duluan aja, kasian cape mereka"


"Oh baiklah terima kasih...aku disini sama mas Dani"


...♧■○■○■○♧...


Perasaan Rizal tiba tiba tidak menentu..ia seperti yang kebingungan..ada apakah?


Ia ambil ponselnya dan kirimkan satu pesan di whatsapp.


"Halo Din..maaf, aku 'ko perasaannya ga enak..kalian baik baik saja disana? Kirim kabar ya"


Rizal mondar mandir dikamarnya. Seharusnya hari ini dia ngamen bersama kang Upin. Tapi perasaan yang ga karuan membuatnya enggan untuk meninggalkan rumah.


Tiba tiba ada seekor burung diatas pohon depan kamar kosnya. Burung ini apabila berkicau mengeluarkan suara yang berbeda dari burung lain. Orang bilang apabila ada burung semacam ini pasti ada orang yang meninggal.


"Tut..Tuut..Turutruutt.." Berulang ulang ia menyanyikan suara yang aneh itu dengan keras.


"Ya Allah..siapakah yang meninggal?" ucap Rizal. Ia keluar dan memperhatikan burung itu.


"Hai! Siapakah yang kau beritakan??!" teriaknya kesal.


Ketika ia mengucap itu..lambungnya kumat lagi, tusukan tusukan kecil terasa diperutnya. Ia meraba raba dan sekali kali menekannya..perasaannya agak mual.

__ADS_1


"Heran..kalau aku lagi cemas pasti dia datang mengganggu"


...☆■○■○■○☆...


__ADS_2