
Setelah azan Isya berkumandang kedua orang tua Andini pamit ijin pulang dulu..diantar bang Hari mereka ketempat kediaman rumah orang tua Dani. Terahir mereka cek,.Keliatannya Dani juga sudah mulai bisa tidur.
Andini rebahan disebuah tempat tidur disamping Dani yang sengaja dipersiapkan dokter dikamar itu. Ia merasa lega Dani ahirnya bisa tidur. Dokter nyatakan kondisi Dani membaik..sukurlah.
Kedua orang tuanya duduk berjaga diluar kamar..sekali kali mamanya masuk kedalam memeriksa dan juga merasa lega putranya sudah mulai membaik.
"Mama..aku mau ketempat Kimo..mau liat cucuku dulu, mama tolong periksa mereka didalam ya" ucap pak Darno kepada istrinya.
Mama sudah dua kali setelah suaminya pergi nengok cucu mereka..ia memeriksa Andini yang tidur ditempat tidur samping Dani. Wanita tua itu memandang keduanya. Wajah mereka hampir mirip, masing masing mempunyai hidung agak mancung dan belahan bibir yang mirip sama.
Alangkah serasinya mereka berdua..
Insya Allah Dani akan sembuh secepatnya agar bisa melihat pertumbuhan Rikmo Adewa anak mereka yang lucu.
Sepulangnya Bu Tuti dari rumah sakit ia mendengar kabar dari Hari bahwa pa Dani sekarang dirawat disana juga..mendadak pa Dani lemas dan kini sedang dirawat secara intensip.
Bu Tuti kini sadar bahwa inilah waktunya untuk menjadi mandiri. Ia ingat pa Dani pernah berucap, Suatu saat ia harus bisa mengelola semua menu makanan restoran sesuai dengan apa yang pak Dani adakan. Bu Tuti tidak takut bahkan ini merupakan tantangan bahwa ia sanggup melakukan semuanya.
Hari malam itu belum bisa istirahat, meskipun disampingnya ada sang kekasih pikirannya melayang kepada kedua majikan yang ia cintai.
"Kasian mereka Ema..bu manis padahal baru saja melahirkan, kondisinya masih lemah..loh tiba tiba bang Dani juga sakit..aku jadi kawatir dengan bang Dani..soalnya ini ke 2 kalinya ia dirawat"
"Abang juga jangan ikut sakit ya bang..jaga kondisi kamu, kalo abang sakit aku gimana.." jawab Ema.
"Ya Ema..sebaiknya kamu tidur sekarang, abang ga mau gangguin kamu..kayanya kita akan sibuk banget besok pagi..biar abang jaga disini sampe pagi"
"Gitu ya bang..ya udah Ema tidur dulu..kalo ada apa apa Ema dibangunin ya"
Baru aja Ema berdiri, Hari tiba tiba memegang tangan kanan Ema.
"Eit..mana ciumannya? ko langsung pergi?" kata Hari sambil tersenyum genit.
"Muuaach.." Ema mendaratkan ciuman dipipi Hari.
"Tuh udah..selamat malam abangku ganteng"
...♧■○■○■○♧...
Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, Andini dibangunkan dengan suara ngorok Dani yang sangat keras. Pelan pelan ia bangkit dari tempat tidur keluar memanggil kedua orang tua Dani.
"Papa Mama! mas Dani ngoroknya keras sekali!"
__ADS_1
kata Andini membangunkan kedua orang tua itu yang sedang tidur dikursi sofa.
Bergegas mereka masuk kedalam kamar.
"Dan..Dani bangun nak.."
Tapi Dani tetap ngorok dengan sangat keras.
"Pah..pencet tombol itu supaya suster kesini!" ucap mama sambil menunjuk kearah tombol.
Sejurus kemudian Dani membuka kedua matanya, keliatannya ia akan mengatakan sesuatu..tangan kanannya memegang tangan Andini.
"Sayangku..saatnya..aku jalan, jaga Rikmo sayang..Dani cinta Dini" Terlihat seakan Dani membusungkan dadanya, pegangan tangannya mengendur..perlahan kedua matanya mulai menutup.
"Mas! maaas! jangan tinggalkan Dini!!" teriak Andini sambil memeluk tubuh suaminya yang mulai melemas.
Mama Manda juga ikut memeluk kedua paha anaknya..papa Darno berdiri didekat wajah Dani sambil mengusap rambut anaknya yang ia sayangi.
Pintu terbuka dan masuklah 2 orang suster jaga.
"Maaf..coba kami periksa dulu ya"
Seorang suster mengecek denyut nadi dan seorang lagi memeriksa mata dan hembusan napas dari depan hidung.
"Panggil dokter segera!"
Selang 2 menit seorang dokter jaga datang dan memeriksa secara detil keadaan Dani.
Tidak berapa lama, ia berpaling..
"Mohon maaf Mas Dani sudah berpulang"
"Maaas!!" Andini menubruk tubuh Dani yang sudah terbujur kaku. Ia menciumi wajah Dani.
"Innalilaihi Wainalillahi Rojiun" ucap sang dokter diikuti papa dan mama.
"Suster siapkan semuanya..jam terahir periksa jam berapa?" ucap dokter jaga.
"3 lewat 10 menit pas Dok" kata seorang suster.
"Baik..laporan pemanggilan dari pihak pasien dan jam kematian disiapkan dan langsung kontak dokter Ana kepala dokter ya. Saya harus ke kamar 4A situasi yang sama" kata dokter.
__ADS_1
"Pak buk..saya serahkan kesuster dulu mohon maaf ada panggilan penting juga dari tempat lain..turut berduka cita bapak ibu" Dan dokter kuar dari kamar Dani.
Beberapa menit mereka masih duduk mengelilingi tubuh Dani.
"Papa mau call papa dan mama dirumah dulu"
Ia keluar dari kamar..tapi sebetulnya ia juga sangat sedih atas kepulangan anaknya..sebentar ia duduk disofa dan menangis disana.
...♧■○■○■○♧...
"Haah! Innalilaihi.." kaget papanya Andini mendapatkan berita. Ia membangunkan istrinya dan Turin mencari Ema.
"Ema! bangun! bilang ke Hari kita kerumah sakit sekarang!" Orang tua itu bergegas masuk kekamar dan bersiap siap.
"Kita ambil jalan pintas biar cepat!" ucap sang papa.
"Maaf bapak..ada apa? mohon maaf.." tanya Hari.
"Dani baru saja meninggal dunia bang Hari" ucap papa dengan suara sedih.
"Ya Allah!! Innalillahi.." tiba tiba ia meneteskan air mata..Kejadian yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya..sekeras apapun hal yang menimpa dirinya, ia bisa tahan tapi perihal Dani ia tidak kuat. Karena dari Danilah kehidupannya membaik bahkan sangat baik, Dani bagaikan seorang dewa yang diutus Allah untuk menyelamatkan dirinya dari jurang kegelapan..kini ia telah tiada.
...♧■○■○■○♧...
Setelah urusan administrasi diselesaikan dan Dani dimandikan dan dibalutkan kain kafan Jenazah Dani kini sudah berada didalam mobil ambulan. Ikut dalam ambulan Andini dan baby Rikmo beserta papa dan mama Manda.
Iring iringan mobil ambulan berjalan pelan menuju rumah Dani. Pagi itu daerah Bintaro Jaya, diguyur hujan rintik yang membasahi seluruh jalan rayanya. Bumi seakan ikut menangis atas kepergian seorang yang baik, jujur dan penuh kasih sayang sesama manusia.
Air mata Andini terus mengalir..kedua matanya bengkak..pandangan matanya kosong.
Ia menyelimuti tubuh Rikmo yang mungil dengan selimut dari rumah sakit.
"Rikmo..kamu yang sehat ya nak..mama akan menjagamu sampai kapanpun..maafkan papa yang ga bisa bersama kita nak" ucapnya dalam hati sambil mengelus pipi kecil Rikmo Adewa.
Bayi itu serasa mengerti isi hati ibunya, ia menggeliat dan bibir kecilnya seakan mengucapkan kata kata..dan iapun membuka mulutnya lebar untuk menguap.
"Yang sabar ya buk..kita semua akan kembali kepadaNya.." ucap supir ambulan disampingnya.
"Terima kasih pak..maafkan kami telah membangunkan istirahat bapak"
...☆■○■○■○☆...
__ADS_1