Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Janji Dani.


__ADS_3

"Halo sayang..tumben pagi pagi sudah kerumah?" kata Rizal menyambut dan merentangkan kedua tanganya hendak memeluk.


Andini berjalan kearah kursi dan duduk, perasaanya agak ga menentu. Rizal kaget melihat perangai Andini berubah..Setelah setahun pacaran Andini selalu tampil manja dan menyayanginya dan tidak sekalipun memperlihatkan kelakuan yang kaku seperti ini.


"Mas..duduk deh..aku mau tanya" ucap Andini datar tanpa senyum.


Rizal kebingungan tapi denyut jantungnya bergerak cepat. Ia duduk dikursi sebelah Andini.


"Mas..tolong jawab yang sejujurnya..Dini ga mau ditutupi..sebab sebelum semuanya terjadi lebih baik kita terbuka" kata Andini sambil menoleh kedepan.


"Loh apa itu?"


"Tadi aku dihubungi seorang temanmu dan kita bertemu di sebuah Cafe. Dia menceritakan sesuatu yang maha dahsyat.." Andini berhenti bicara dan menarik napas panjang. Kini ia menoleh kearah Rizal. Kedua matanya menatap tajam kearah mata Rizal.


"Mas punya pacar lainnya ya? Dan menurut kabar temanmu, Mas akan menikahinya dalam waktu dekat ini! Jawab sejujurnya.."


Wajah Rizal berubah dan tubuhnya gemetar. Bahasa tubuhnya tidak bisa dibohongi, ia gusar. Ia bisu seribu bahasa tidak tau apa yang harus diucapkan.


"Mas! jawab..aku menunggu"


"Ehm..sebetulnya aku akan memberitahukan kepadamu dalam satu dua hari ini..tapi berhubung sibuknya pekerjaan, aku baru mau lakukan sore ini" Ia menarik napas panjang,.telapak tangannya basah dan bibirnya tiba tiba mengering.


"Kenapa mas tega melakukan ini semua? Kenapa tidak dari dulu kamu ceritakan semua?!" Saking marahnya hampir saja ia menangis. Tapi, Andini menahan air matanya..ia ingin memperlihatkan bahwa ia kuat.


"Maafkan aku Andini..aku tidak tau apa yang harus kukatakan lagi"


Andini berdiri dan berlari kemobilnya..ternyata ia tak kuasa menahan kemarahan dan kesedihannya. Ia berlari dan berlari..ia tinggalkan ponsel, kunci mobil dan mobil disana. Pikirannya kacau.


Rizal bangkit dan memanggil Andini. Diambilnya kunci mobil dan ponsel Andini iapun mengejar keluar. Ia menuju kegerbang perumahan dan menanyakan ke Satpam apakah mereka melihat seorang wanita kari kearah gerbang.


"Oh iya pak..tadi saya liat ada seorang wanita berlari kencang..kayanya kearah jalan raya."


Rizal mengejar keluar ia mencari kemana mana namun sosok Andini tidak ditemukan.


Dan disanalah awal mulainya kehidupan yang sengsara bagi Andini. Ia telah muak dan benci akan apa yang terjadi kepada dirinya. Ternyata semua hanya palsu! Ia lari dari semuanya, ia jual sepatunya yang mahal dan membeli sepasang sendal jepit dan jam tangan dan gelang emas yang mahal ia jual juga dipasar loak.


Dengan wang itu ia mengembara, pertama ke Cimahi dan dilanjutkan ke Cianjur tidak lama kemudian ia pindah kekota Jakarta ini. Ia senang dengan Jakarta. Meskipun panas namun semua orang cuek.


Andini bebas berbuat apa saja, yang penting menjauhkan diri dari kota Bandung. Kota yang penuh dengan kejadian dan pengalaman yang pahit.


Ketika malam telah tiba, ia tidur hanya beralasan karton diemperan toko. Ia sering menangis sendirian.


Beberapa kali para preman murahan mencoba mengganggunya tapi ia tegar dan pantang menyerah. Beberapa dari preman itu malah ada yang memberikan nama baru. Ia kini lebih dikenal sebagai siManis gila. Andini cuek saja terhadap apa yang mereka panggil yang penting jangan ganggu dan jamah dirinya.


Dari lorong kelorong Andini berpindah pindah..ia sudah layaknya orang sinting..makan dan tidur seenaknya dan sedapetnya.


Hingga ahirnya ia ditemukan dengan sosok pemuda yang baik hati itu. Entah kenapa pemuda itu memberikan ia minum dan makan bahkan sedikit wang.

__ADS_1


Kini Andini lebih banyak tinggal dijalan kecil dekat warung kopi. Ia betah disana karena preman daerah situ tidak mengganggunya dan kadang kadang malah diberikan es teh.


"Heh manis! nih aku ada teh sosro kesukaanmu!" kata Hari preman daerah situ, sambil menyodorkan teh dingin dalam plastik.


Andini bangun dan mengambil teh dingin dari Hari.


"Makasih Har"


"Eh tunggu dulu..sini duduk disampingku..buru buru amat" kata Hari sambil memperhatikan jalan.


"Ya ada apa" kata Andini sambil duduk disamping Hari ditanah.


"Aku heran lo sama situ..kenapa sih ga pulang kerumahmu..aku tau kamu bukan gelandangan dan orang miskin..pulang sana, ngapain jadi gelandangan hidup ga karuan"


"Aku sudah ga punya rumah dan ga punya siapa siapa..hidup ini lebih enak ga nyusahin orang dan ga disakiti orang" ucap Andini datar sambil minum teh sosro dingin.


"Hmm gitu ya..iya sih betul tapi disini hidupmu terlunta lunta..ga karuan"


"Biarin aja"


"Ya udah..aku jalan dulu, eh mau tempe goreng ga?


"Ga Har..makasih untuk tehnya, ini sudah cukup"


"He Manis..pikirkan..jangan lama lama jadi gembel! pulang, mandi, dan terus cari aku..nanti aku kawinin kamu! Haha!"


Andini jalan lagi, ia ingin mencari tempat sepi agar bisa rebahan.


...♧■○■○■○♧...


Setelah selesai pembicaraan dengan Dahlan, Dani mengepak semua kertas dan pen kedalam tas kulitnya dan ia melangkah keluar dari kantornya.


"Hmm masih jam 4 sore" katanya sambil melirik kearah jam tangannya.


Menuju jalan pulang ia melewati jalan kecil tempat warung kopi yang pernah ia singgah beberapa hari yang lalu.


Pas didekat sebuah pohon tidak jauh dari warung ia kembali melihat gadis yang waktu itu ia berikan bantuan.


Andini yang sedang duduk sempat melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya, ia mengenali siapa yang mengendarainya.


Dani keluar dari mobil dan ikut duduk disampingnya. Ia tidak menghiraukan keadaan yang tidak bersih. Dani duduk disebuah batu.


"Apa kabar? dah beberapa hari ga ketemu ya"


"Baik..tempat dudukmu kotor" ujar Andini sambil meliat kearah batu tempat Dani duduk.


"Ga apa apa..sebab kalo aku ajak kamu kewarung pasti ga mau..ya disini aja sambil ngobrol"

__ADS_1


"Ya udah..baru pulang kantor?"


"Ya..kebetulan pulang aga pagian..aku mau beli kopi diwarung..kamu mau pisang goreng dan teh kesukaanmu ya..aku belikan"


"Terima kasih..asal ga ngrepotin"


"Ga santai aja" Dani bangun dan melangkah kewarung.


Diseberang jalan nampak Hari preman memperhatikan dari sana..ia langsung menyebrang dan mendekati Andini.


"Manis..siapa itu?" katanya


"Ga apa apa dia temanku..aman Har"


"Oh kirain ada yang mau ganggu..ya udah aku jalan dulu"


"Makasih Har"


Selang beberapa menit Dani datang membawa satu baki kecil.


"Ya ampun! anda sudah ga waras ya? pake bawa baki!" ujar Andini kaget. Dani kaget melihat senyum manis dari Andini.


"Alhamdulillah kamu tersenyum..nih teh sama pisang goreng..yuk kita pesta"


"Haha pesta apa ya?"


"Pesta untuk kamu..selamat! kamu telah senyum untuk aku..yuk kita sikat pisang gorengnya..aku juga mau"


"Mas Dani..namanya Mas Dani kan? kenapa sih mau ngobrol sama aku gelandangan kaya gini"


"Kamu bukan gelandangan aku tau..aku kan paranormal.."


"Ya ampun paranormal ko ga ada kerisnya?"


"Ada, aku simpan dimobil" ucap Dani sambil tersenyum.


"Jangan sering sering kesini ah..kasian sama kamu"


"Ya ga apa apalah..siapa tau aku bisa bantu kamu keluar dari sini..kamu mau aku bantu?"


"Ga Mas.. ga apa apa..biarkan aku sendiri" kata Andini sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau sampai aku bisa membawa kamu keluar dari sini dan merubah kamu maka aku berjanji untuk memberi makan 100 anak yatim piatu..itu janjiku kepada Allah"


Andini terkejut dan tiba tiba ia menangis.


...☆■○■○■○☆...

__ADS_1


__ADS_2