Keduanya Telah Hilang

Keduanya Telah Hilang
Sebuah berita buruk datang.


__ADS_3

Ketika mobil hendak keluar kejalan raya didepan sebuah ruko yang tertutup pintunya ia melihat wanita yang tadi ia berikan minum dan makan itu terduduk dengan kepala tertunduk. Cepat cepat Dani kepinggir jalanan dan masuk area deretan ruko.


Setelah mobil ia parkirkan dengan aman Doni keluar dan melangkah kearah wanita itu..entah kenapa, ada satu dorongan untuk membantunya.


"Hai..tadi kenapa pergi?" tanya Dani sambil terus mendekat.


Wanita itu kaget dan menatap Dani dari tempat ia duduk. Ia memalingkan kepalanya dan menatap kejalan raya.


"Terima kasih kaka..maafkan saya pergi tanpa mengucapkan apa apa" katanya pelan, kedua matanya kosong namun sedikit membengkak. Mungkin kebanyakan menangis hingga membengkak gitu. Entahlah..


Dani memperhatikan dengan seksama, kini ia yakin wanita ini bukan gelandangan dan bukan pengemis. Mungkinkah ia lari dari orang tuanya?


Dengan perlahan Dani duduk disampingnya sambil menatap jalanan yang masih penuh sesak dengan kendaraan.


"Mohon maafkan saya..hanya ingin tau..itupun kalo boleh..apakah ada yang bisa saya bantu? Kamu pasti kedinginan..kebetulan aku punya jaket tuh dimobil..lumayan untuk menutupi bajumu yang basah..kamu mau?"


"Terima kasih kaka..aku rasa tidak ada yang bisa membantuku..tapi terima kasih..Jangan kaka, aku tidak perlu jaket kaka..biarkan saya disini saja..kaka jangan bantu saya lagi..tadi sudah lebih dari cukup" katanya dengan suara lirih.


"Baiklah..kaka akan pergi..ini aku punya 50.000 kamu pegang ya..aku ikhlas tapi mohon jangan tersinggung.." Dani menaruh selembar wang 50.000 disamping tempat ia duduk.


Ia berdiri berjalan kearah mobil, ia membuka tas kerjanya untuk mengambil sebuah pen dan secarik kertas. Dengan langkah cepat ia kembali lagi ketempat wanita itu.


"Ini no hp aku.aku sudah tulis dikertas ini..simpan dan kamu call aku kalo ada apa apa..aku akan membantumu..jangan ragu call aku..wang itu kau simpan jangan sampai diambil orang..kamu ati ati ya, oke.. aku jalan dulu"


Dani melangkah pelan kearah mobilnya.


Tiba tiba ia dipanggil.


"Ka!"


Dani menoleh kebelakang.


"Terima kasih ya!" teriak wanita itu.


"Call kalo ada apa apa" Dani melambaikan tangannya dan berjalan kearah mobil..ia menghela napas panjang dan masuk kedalam.


"Ya Allah..entah siapa dia..aku hanya memohon padamu..selamatkan wanita itu"


Mobilpun ia jalankan kejalan raya, kembali berjuang dikemacetan jalan raya Jakarta.


...♧■○■○■○♧...


Andini gemetar, ia mencoba menahan dingin ditubuhnya. Dengan gemetar ia mengambil wang 50.000 itu dan ia masukan kekantong celananya. Pelan pelan ia berjalan kearah jalan kecil dekat warung tadi.


Sambil berjalan ia berdoa kepada Allah.


"Ya Allah terima kasih atas nikmatmu..semoga kau limpahkan rahmat dan rejeki kepada pemuda tadi..ya Allah terima kasih"

__ADS_1


Andini berjalan dan berjalan, entah kemana langkah kakinya membawa. Ia hanya menatap kedepan. Kedua matanya kosong dan hampa. Semuanya telah hancur, mungkin kematian adalah obat yang terbaik untuk menghilangkan semua kesedihan ini.


Kejadian besar telah terjadi pada diri gadis ini yang bernama, Andini. Dikota Bandung tempat ia tinggal. Satu bulan yang lalu, sebiah peristiwa terjadi. Andini tidak menyadari ahirnya ia hidup seperti sekarang ini..berjalan kesana kemari dikota Jakarta nun jauh dari orang tua dan saudara saudaranya. Ia seperti orang sinting. Tidur dimana saja makan apa saja..


Ia telah meninggalkan duniawi dan semua isinya.


Kedua orang tuanya dan semua saudara bahkan teman teman kantornya panik atas hilangnya Andini dari rumah.


Polisi sudah dikerahkan mencari begitu juga paranormal..namun hasilnya nihil..sosok Andini seakan ditelan bumi.


Bulan itu bulan Januari 2017 telah diputuskan dan disetujui oleh kedua orang tua Andini bahwa Rizal Haryanto sang kekasih akan menyunting dan menikahkan dirinya.


Andini memeluk tubuh ibunya dan mencium pipi ayahnya ketika mereka menyetujui keinginannya untuk menikah.


Rizal Haryanto sudah dikenal dikeluarganya sejak 1 tahun yang lalu. Bahkan ayahnya sangat menyukai perangai Rizal yang sopan dan penuh dengan ramah tamah. Rizal memang cocok menjadi pendamping Andini.


"Jadi kapan nak Rizal dan keluarganya akan datang dan melamarmu?" tanya sang ayah.


"Katanya 2 minggu lagi yah..soalnya menurut mas Rizal papanya sedang berada diluar negeri dan baru pulang ahir minggu ini"


"Oke..kita tunggu sayang" ujar ayahnya sambil tersenyum.


"Duuh yang mau nikah, happy banget deh!" kata Nana teman kerjanya terdengar diponselnya.


"Haha..iya dong, eh kamu datang lho jangan sampe tidak diacaraku"


Dan banyak lagi yang memberikan ucapan selamat kepadanya. Ayah dan bunda juga sudah sibuk menghubungi semua saudara bahwa Andini akan melakukan pernikahan dalam waktu dekat.


Tiba tiba diahir hari minggu pagi Andini mendapat telepon untuk datang kesebuah Cafe. Nanda seorang teman Rizal ingin bicara empat mata. Aneh sekali pikir Andini. Padahal ia tidak begitu dekat dengan Nanda. Dan katanya penting sekali untuk hadir di Cafe tersebut.


Ahirnya merekapun bertemu, tanpa basa basi Nanda mulai bercerita.


"Sebelumnya aku mohon maaf sebelumnya..jadi gini aku ikut dapet berita bahwa kamu akan menikah sama Rizal..Mungkin sebaiknya kamu tunda dulu pernikahan itu"


Andini kaget mendengar permintaan Nanda. Lho apa apaan ini?


"Maksudmu gimana? aku ga ngerti, kenapa ditunda?"


"Sekali lagi maaf..aku itu temen deket Rizal..aku tau tentang segala sepak terjangnya. Dan aku kaget waktu terima berita dari Nungke..kamu kenal Nungke kan? Dia yang bilang bahwa Rizal mau menikah dengan Andini..aku kaget dong! Hah ko mau nikah? terus aku minta no hp kamu dari Nungke" kata Nanda sambil meneguk teh manisnya ia melanjutkan.


"Jadi aku kaget dan merasa harus kasih tau kamu..sekali lagi mohon maaf..Rizal itu kan juga sudah punya pacar bahkan menurut dia sebentar lagi dia akan meminang cewe itu..namanya Lusi"


Dhaar!


Pecah rasanya pendengaran Andini. Matanya terbelalak.


"Aku ga percaya! masa bisa mas Ical begitu sama aku!?"

__ADS_1


"Makanya..mending kamu cari tau dulu kebenarannya..ini demi kamu juga, sebelum semuanya terlambat..sorry banget tapi aku harus infokan kepadamu tentang hal ini"


"Pertemuan kita sudah selesai..terima kasih atas infomu yang membingungkan..aku sebaiknya pulang!"


"Andini..yang tenang ya..aku hanya ingin membantumu lain tidak, semoga semuanya salah..tapi aku yakin tentang Rizal dan Lusi"


Andini langsung berdiri mengambil kunci mobil dari meja dan berjalan pergi.


"Andini!" teriak Nanda.


Andini tidak menghiraukan..ia berjalan cepat kearah mobilnya dan tancap gas pergi.


"Halo mas! aku mau ketemu sekarang!"


"Halo sayang..boleh, aku kerumahmu?"


"Jangan! aku akan kerumah orang tuamu! kita ketemu disana"


"Ooh kesini? ada apa Andini?"


Klik


Ia matikan ponselnya. Hatinya gundah dan kesel..kenapa tiba tiba ada berita ini? padahal bulan depan akan berlangsung pernikahan mereka..apakah orang tuanya tidak tau tentang semua ini? Berbagai macam hal bercampur aduk dalam pikirannya.


"Halo Nung! lagi ngapain?" kata Andini singkat


"Eh apa kabar? ga lagi santai aja" Suara Nungke terdengar kaget dicall Andini tapi ia mencoba membuat santai. Dalam jati ia sudah tau apa yang akan dibicarakan Andini.


"Itu bener cerita Nada? Soalnya aku sekarang menuju ketempat mas Ical menanyakan"


"Aduh sebetulnya aku baru mau kasih info kekamu..cuma ya, aku sendiri kan ga yakin kebenaran cerita itu..makanya aku ragu"


"Gila kalo emang itu betul yang terjadi!"


"Tenang Andini..kamu. tanyakan baik baik ke Ical akan cerita itu, mohon jangan emosi"


"Ya aku akan setenang mungkin..tapi kalo berita ini benar adanya, aku akan hancur!"


"Waduh Din! sabar ya sayang..omongkan yang bener dulu"


"Oke deh..sampe nanti, aku udah mau dekat rumahnya..thank you Nung!"


Andini masuk kedalam komplek perumahan "Granville village" dan berbelok kearah kanan. Disederetan rumah bertingkat 2 mobil ia parkirkan tidak jauh dari rumah Rizal.


Rupanya Rizal sudah menunggu, ia nampak sedang duduk dikursi teras rumahnya.


...☆■○■○■○☆...

__ADS_1


__ADS_2