
Selamat membaca!!
❤️❤️🖤🖤🖤❤️❤️
.
.
Tolong lepaskan...” berontak ica
“Lepaskan?? Hahahahaha jangan mimpi sayang..”
“Tidak... jangan...”
Plak
“Diam... dan nikmati saja”
“Tidak bang.. jangan...”
“Ssttt... jadi anak yang nurut sayang... kalo tidak jangan salahkan aku berbuat lebih kejam lagi.”
“Kenapa Abang gini sama ica..? Lepasin ica bg”
“Tidak akan..asal kamu tau sayang... aku mendekati dan menjadikanmu pacar hanya untuk ini. Sekarang nikmatin sayang..”
Ia merobek paksa baju ica, ica terus memberontak dan menangis. Tetapi ia tetap dengan nafsunya. Setelah merobek semua pakaian, tersisa lah ica dengan tubuh yang polos. Dia cium paksa bibir gadis itu, dia remas dengan kasar. Saat bibirnya mendaratkan pada ****** gadis itu, suara papanya merusak kesenangannya.
“Ronal... dimana kamu?” Teriak papanya
“Sial.... tutupi badanmu dan hapus air matamu sekarang”katanya pada ica. “Sebentar pa” sahutnya.
“Buruan sini”
“Iya pa” jawabnya dan melihat ica. “Kamu diam disini jangan kemana-mana. Awas kalo kamu berani kabur” ancamnya.
Ica terus menangis dan menyesali keputusannya menemui Ronal. Tapi semua tak ada gunanya. Ia pungut pakaian yang masih bisa dipakai, hanya baju nya saja yang robek parah. Ia berjalan ke lemari Ronal mencari kaos Ronal, setelah ia temukan langsung ia kenakan.
Saat ica selesai memakai bajunya, ia mencari hpnya untuk menghubungi papa dan kakaknya. Ia terus mencari keberadaan tas dan hpnya.
__ADS_1
“Akhirnya ketemu..”
Buru-buru ica menekan nomor papanya.
“Pa..” ucapnya menangis
“Kamu dimana ca?? Papa cariin kamu dari tadi”
“Pa.. maafin ica.. tolong jemput ica pa, ica takut”
“Kenapa sayang? Kamu kenapa nangis? Kamu dimana sekarang?”
“Ica dirumah Ronal pa, buruan datang pa”
“Papa jalan kesana”
Telfonpun berakhir, ica terus menangis didalam kamar mandi. Pintu kamar terbuka, Ronal mencari gadisnya diseluruh penjuru kamar tetapi tidak ditemukan.
“Kamu dikamar mandi sayang?” Mengetuk pintu kamar mandi. “Buka pintu nya sayang, kita selesaikan yang belum selesai dan jangan ada suara” ucapnya lagi
Ica terus menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, ia mencoba mengulur waktu sampai papanya datang.
Ica masih tetap diam tak mau bicara sedikitpun, tangisnya saja ia tahan agar tak mengeluarkan suara.
“Buruan, jangan pancing emosi ku sayang” ucap Ronal dengan nada yang memulai meninggi.
Tetapi ica tetap memilih diam, hingga terdengar lagi suara papanya Ronal memanggil Ronal.
“Ronal, keluar kamu...” teriak papa Ronal
“Apa lagi sih pa?” Ucap Ronal diambang pintu kamarnya.
Bugh..
“Kamu lepaskan anak om galih sekarang. Sebelum kamu papa masukan ke penjara. Papa tidak menyangka anak papa bakal menyekap anak gadis orang malam-malam gini” emosi papanya Ronal.
Ica yang mendengar itu semua buru-buru keluar dari kamar mandi. Di ambang pintu kamar Ronal, terlihat sudut bibir Ronal berdarah dan muka papa Ronal merah padam. Ketika papa Ronal ica melihat ica diambang pintu dengan rambut yang kusut, muka merah bekas tamparan dan matanya yang bengkak.
“Maafkan om nak, om ga tau anak om kayak gini. Sekarang keluar lah, papa dan kakakmu menunggumu. Ronal biar urusan om, dan bilang sama papamu agar tidak membawa masalah ini ke ranah hukum ya” ucap papa Ronal panjang lebar.
__ADS_1
Ica berlari keluar rumah Ronal tanpa peduli dengan omongan papanya Ronal barusan. Baginya saat ini bertemu dengan papa dan kakaknya. Didepan pintu rumah papanya sudah menunggu dengan raut muka marah, kwatir dan kecewa.
“Hu.. hu.. hu... pa... pulang..” ucap ica memeluk galih dengan sangat kuat. Galih yang mendapat pelukan dadakan itu segera memutuskan untuk pulang tanpa pamit pada tuan rumah.
Selama diperjalanan ica tak pernah melepaskan pelukan galih, ia terus memeluk dan menangis di dada lebar galih. Iyaz yang melihat adiknya seperti itu sungguh sangat marah, tapi untuk saat ini dia harus diam dan fokus mengendarai mobil sampai kerumahnya.
Mobil sudah berhenti di halaman rumah galih. Ica masih betah berada dipelukan galih. Iyaz membukakan pintu untuk mereka berdua, dan mencoba meraih tangan adiknya. Ica merasakan sentuhan iyaz langsung menghadap iyaz dan memeluk iyaz lalu kembali menangis. Iyaz menuntun adiknya masuk kedalam rumah.
“Sudah.. jangan nangis lagi. Matanya tambah bengkak dek” bujuk iyaz. Yang dibujuk tetap tidak berhenti menangis walau sudah berada dirumahnya.
“Sayang... nak.. sudah ya.. sekarang ica tidur ya nak” ujar galih. Gelengan kepala yang galih dapat dari ica.
“Ica mau apa sayang?”
“Ica takut tidur pa.. ica takut”
“Ada papa dan kak iyaz disini. Ga usah takut ya, papa dan kak iyaz akan nungguin kamu sampai tertidur”
“Gak.. ica ga mau.. jangan paksa ica” jawabnya terus menangis dalam pelukan iyaz.
Galih yang tak tega melihat anaknya yang terus menangis, ia memutuskan mengambil obat tidur yang ia punya pas ia sulit untuk tertidur. Ia larutkan obat itu dalam minum dan memberikannya pada ica.
“Ya udah kalo ica ga mau tidur, ica minum aja ya sayang. Jangan nangis papa dan iyaz akan jagain kamu disini” ucap galih.
Ica dibantu iyaz meminum airnya, tak butu waktu lama ica akhirnya tertidur.
“Apa papa kasih obat tidur buat ica?”
“Iya.. papa tidak tega melihatnya begitu, biarkan ica tidur dan istirahat. Antarkan dia kekamarnya yaz”
Iyaz hanya menjawab dengan anggukan, lalu mengendong ica dan membawanya kekamar ica..
***
Penasaran gak dear??
Jangan lupa terus dukung novel ini dengan cara tekan tombol like dan vote ya😘
Terimakasih
__ADS_1