Kehancuran

Kehancuran
-


__ADS_3

🌸🌸Ica🌸🌸


Pagi ini aku terbangun dari mimpi indahku. Ku tegakkan badanku dan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah dua puluh menit aku berada dikamar mandi, aku bersiap-siap keluar dari kamar dan menyapa papa, bunda dan iyaz.


“Pagi semua”


“Pagi sayang” jawab papa


“Mau kemana nak?” Tanya bunda yang baru saja selesai menyiapkan makanan dipiring papa.


“Gak ada bun, dirumah aja. Bunda hari ini kerja juga?”


“Iya. Kenapa ca? Butuh bantuan bunda?”


“Gak kok bun. Kak kok diam aja?”


“Ga ada” jawabnya cuek. Aku heran dengan sikapnya itu karena seingatku tak pernah melakukan kesalahan pada nya kecuali dua bulan yang lalu ketika aku kabur dari vila tanpa menjelaskan alasan padanya.


“Besok kan libur, kakak mau temani aku?” Tanyaku sambil menyuapkan sarapanku dalam mulut.


“Minta tolong sama teman atau pacarmu” ucap kakak jutek “pa.. bun.. iyaz berangkat dulu ya” lanjutnya yang berjalan meninggalkan kami di meja makan.


“Kamu kenapa sama iyaz?”


“Ga tau pa, semenjak pulang dari tempat teman dia udah gitu sama aku. Bahkan sekarang aku ga boleh masuk kamar dia”


“Coba nanti bunda tanyakan ya, kamu ga papa kan?”


Aku hanya mengangguk dan tetap melanjutkan sarapanku dengan perasaan sedih diperlakukan begitu dengan kakak. Aku akui aku salah pergi tanpa menceritakan masalah bahkan menonaktifkan nomorku, tapi ini sudah keterlaluan.


Selesai sarapan papa dan bunda pergi kerja dan meninggalkan aku sendiri. Aku segera mengambil laptop dikamar dan berjalan menuju ruang keluarga. Aku berniat membuat surat lamaran pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku, dikarenakan seminggu lagi aku akan wisuda.


“Bosan banget hanya dirumah saja” hela ku yang baru aja menyelesaikan lamaranku.


Ku raih hpku tak ada pesan dan notif apapun.


“Sudah seminggu gak ada kabar, kemana ya?? Apa aku datang ke kantornya saja membawakan makan siang?”


Aku pergi ke dapur dan membuka kulkas. Ku perhatikan semua bahan yang ada yang sekiranya bisa membuatkan menu spesial untuk Alex siang ini. Setelah memilih semua bahan yang aku butuhkan barulah aku mulai masak memasak.


Semua masakan sudah aku masukan kedalam wadahnya dan kubagi sama banyak. Yap, aku membagi empat sekaligus untuk papa, bunda, iyaz dan juga Alex. Setelah siap, aku bergegas ke kamar untuk mandi dan bersiap mengantar makan siang untuk mereka. Walaupun jam masih menunjukkan sebelas siang.


****


Aku baru saja mengantarkan makanan untuk orang tuaku, dan sekarang aku sedang menuju kantor Alex.

__ADS_1


Sesampainya dikantor Alex, aku segera menuju lift menuju ruangannya. Ketika sampai dilantai 15 tempat beradanya ruangan Alex aku tak melihat sekretarisnya.


“Mungkin ada rapat? Aku lupa bertanya pada resepsionis di bawah tadi. Lebih baik ku tunggu diruangannya saja”


Baru saja sampai didepan pintu ruangannya aku mendengar suara desahan menjijikkan seorang wanita.


“Siapa yang berani mesum di ruangan Alex?”


Ku beranikan diriku membuka pintu dan hal yang menyakitkan berada didepan mataku. Alex sedang kuda-kudaan dengan sekretarisnya di sofa.


“Oh... Alex.”desah wanita itu ketika sudah di puncaknya. “permainanmu masih tetap memuaskan” lanjutnya


“Tentu sayang dan kamu selalu pintar memuaskan aku”


“Apa selama ini kekasihmu tak dapat memuaskan mu?” Ucap wanita itu ketika mereka baru saja menuntaskan hasratnya dan tak sadar didepan pintu sudah ada seseorang yang berdiri yaitu diriku. Aku hanya diam memperhatikan dan mendengar setiap obrolan mereka.


“Hahahaha kekasihku yang mana yang kamu bicarakan sayangku. Kamu tau sendiri aku ini ada pria singel yang bisa memuaskan setiap wanita.”


“Nafisa yang sering kau bawa ke kantor itu. Aaah, setiap melihat dia bermanja bersamamu didepanku ingin rasanya aku menamparnya”


“Dia hanya salah satu wanita polos yang sudah aku perkosa dan dia hanya bonekaku. Hanya kamu yang cepat belajar memuaskan ku setelah aku lecehkan” kekeh Alex


“Tentu karena hanya kamu yang bisa memuaskan ku juga. Apa kamu tak berpikir menikah?”


Aku kembali menutup pintu dan menekan nomor Alex yang langsung diangkatnya


“Oh sayangku, ada apa? Kau rindu aku?” Katanya


“Alex aku bawakan makan siang untukmu, dan sekarang aku berada dikantor mu” kataku menahan tangis.


“Aku tidak di kantor, maafkan aku sayang. Nanti pergilah kerumah ku, aku sudah rindu padamu. Sudah seminggu tidak bertemu”


“Baiklah kalo begitu”


Ku matikan telfon lalu bergegas ke lift meninggalkan kantor ini. Hatiku sakit, ingin rasanya aku berteriak dan menangis tapi aku menahannya.


Segera ku pergi meninggalkan kantor Alex menuju kantor tempat kakakku bekerja. Aku butuh dia saat ini. Beberapa menit aku mengendarai mobilku akhirnya aku sampai di kantor kakak. Ku coba menghubunginya berharap ia mengangkat telfon ku dan syukurnya harapanku terkabul.


“Kak aku di bawah, bisa turun” ucapku dengan suara serak.


“Kamu kenapa?” Tanyanya cemas.


“Aku ga papa, kakak bisa temui aku sekarang?”


“Baik tunggu aku sebentar”

__ADS_1


Dia mematikan telfon, barulah aku keluar dari mobil menuju lobi. Ketika memasuki lobi aku melihat kakak dan seseorang yang sudah lama menghilang berjalan bersama, ya itu dia mas Rangga.


“Kak iyaz” panggilku, kak iyaz segera menghampiri dan diikut mas Rangga.


“Kenapa matanya merah?” Tanya kakak


“Ga ada” jawabku bohong. “Ini untuk makan siang”


“Hai ica, sudah lama ya?” Sapa mas Rangga.


Aku hanya meliriknya saja lalu menatap kak iyaz.


“Rangga sekarang sudah sukses dan dia ingin kakak dan kamu bekerja sama dengannya”jelas kak iyaz


“Aku ga nanya tuh. Pokoknya makan siang sudah ku bawa” ucapku menunjuk bekal yang sudah berada ditangan kakak. Lalu menatap mas Rangga sambil berkata “Oh ya maaf ya temannya Kak iyaz dikarenakan aku gak tau teman lama akan datang aku hanya menyiapkan untuk kak iyaz saja”


Aku pergi meninggalkan mereka dan menuju mobilku. Saat aku akan masuk kedalam mobil langkahku terhenti bukan maksudnya dihentikan dan yang menghentikan mas Rangga.


“Maafin aku ca” ucap mas Rangga memelukku.


“Lepasin” teriakku sambil memukul dadanya


“Gak”


“Lepasin...” ucapku melemah dan menangis dalam pelukannya.


“Kenapa ca?” Tanyanya merenggangkan pelukannya dan menatapku. “Maaf aku kasar ca, jangan nangis”


Aku yang mendengar itu cuman bisa terus menangis. Mas Rangga yang melihatku semakin menangis menarik ku kedalam mobil dan menenangkanku.


“Udah ya ca jangan nangis. Aku panggil iyaz ya” bujuknya. Aku menggelengkan kepalaku.


“Kalo ga mau dipanggil iyaz diam ya jangan nangis lagi. Udah hampir dua tahun gak ketemu masak disambut dengan tangisan”


Aku menghentikan tangisanku lalu menatapnya.


“Kenapa?”tanyanya


“Keluar.. aku ga mau liat mas Rangga lagi, mas Rangga jahat” usirku.


“Ya udah aku pergi ya, kamu ga papa ditinggal sendiri? Apa mau aku antar aku takut kamu kenapa-napa” ujarnya cemas


“Ga usah peduli sama aku lagi, sekarang keluar dari mobilku”


Mas Rangga keluar dari mobilku lalu aku menggas mobilku meninggalkan mas Rangga yang masih menatap kepergianku.

__ADS_1


__ADS_2