
Selamat membaca!!
🖤🖤❤️❤️❤️🖤🖤
.
.
.
🌸🌸Ica🌸🌸
Mentari tetap menyapa diriku dengan cahayanya, perlahan namun pasti ku coba membuka mataku. Terasa panas dan sulit dibuka. Ku edarkan pandanganku diseluruh penjuru ruang ini ternyata adalah kamarku sendiri.
Ketika aku mulai sadar dari tidurku, bayangan Ronal yang hampir melecehkan ku teringat kembali. Hal itu membuatku mengamuk, menangis dan beteriak.
Kehebohan pagi ini, membuat kakak dan papa datang kekamarku. Terlihat jelas dari raut muka mereka kekwatiran yang dalam. Papa menghampiriku dan memelukmu dengan erat.
“Nak, sudah.. semua sudah berlalu.. sudah jangan menangis lagi” ucap papaku sendu.
Aku hanya diam tak bergeming, hanya air mataku terus saja mengalir.
“Kenapa? Kenapa semua terjadi padaku?? Aku mau mati saja”batinku
“Papa akan disini, papa ga akan ninggalin kamu nak. Jadi sekarang jangan menangis begini, okay putriku” ucap papa. “Papa akan jagain kamu, papa akan tutup perusahaan papa agar papa bisa terus disini”
“Tidak.. papa gak bisa gak kerja. Bagaimana nasib karyawan papa? Papa gak bisa begitu saja melepaskan tanggungjawab papa”ucapku ketika mendengar papa akan menutup perusahaannya.
“Aku.. hanya butuh waktu pa..”kataku menunduk “bisakah papa menelefon mama? Saat ini ica butuh pelukan mama”
“Iya akan papa telfon” ucap papa. “Yaz, telfon mama kamu suruh kesini sekarang” katanya lagi.
“Baik pa”
Ku lihat kak iyaz berusaha menelefon mama. Aku tak mendengar pembicaraan mereka, tapi terlihat dari raut wajah kakak kesedihan dan kekecewaan.
“Mama gak mau kak? Ya sudah tak apa. Papa pergi lah bekerja, ada kak iyaz disini”
“Kamu yakin?” Tanya papa menyakinkan ku. Aku hanya menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.
“Ya sudah papa berangkat, tapi ingat kalo ada apa-apa telfon papa terutama kamu iyaz jaga adikmu. Jangan lupa makan sayang, papa berangkat” ucap papa mencium keningku dan pergi dari kamarku.
Sekarang hanya tinggal aku dan kakak. Kakak beranjak dari kamarku, tak berapa lama dia kembali dengan sebuah nampan yang berisi bubur yang sudah pasti untukku.
Kakak hanya diam tak seperti kakak biasanya. Dia berubah. Raut muka sedih terus terliat. Aku tak berani bertanya, aku hanya terus diam dan menatapnya. Hatiku sedih, ketika tatapanku bertemu dengan kakak, ia memalingkan mukanya. Walau begitu, ia tetap menyuapi ku makanan dan memberikan ku obat yang membuatku tertidur.
******
Tak ada kehangatan dan tawa seperti biasa dirumah ini. Semua telah berubah. Ica tak pernah lagi tersenyum, ia hanya mengurung dirinya dikamar. Sekedar makan pun ia enggan keluar. Iyaz tak pernah datang menghibur adiknya, ia hanya masuk kekamar adiknya ketika mengantarkan makan siang itu karena papa tidak dirumah. Hanya galih yang cerewet dirumah itu untuk menghibur putrinya.
__ADS_1
Galih melihat perubahan pada iyaz, seakan menjaga jarak dengan ica mulai bertanya pada anaknya.
“Gak ada pa.” Jawab iyaz tersenyum.
“Jangan bohong. Papa kenal kamu yaz, jadi cerita sama papa ada apa nak?”
Iyaz menangis, dan ini pertama kalinya semenjak orang tuanya berpisah.
“Iyaz sedih, marah dan kesal dengan diri iyaz pa. Iyaz gak bisa jagain ica, iyaz merasa gak becus sebagai kakak. Saat ica dilecehkan bapak dua tahun yang lalu dan saat seminggu yang lalu dengan Ronal itu semua karena iyaz gak bisa jagain ica. Iyaz gak pantas jadi kakaknya ica pa” ucap iyaz menangis
“Kamu pantas... yang sudah terjadi biarlah terjadi. Saat ini, ica butuh kita. Kalo kamu merasa bersalah seharusnya kamu menghiburnya bukan menghindarinya nak. Jangan begini, kasihan ica. Pasti dia merasa kamu jijik dengannya”
“Iyaz gak jijik dengannya pa, iyaz hanya merasa bersalah pada ica atas yang sudah menimpanya. Baiklah pa, hari ini iyaz akan berusaha membuat ica bangkit dari keterpurukan ini”
“Begini baru anak papa”
****
Sudah sebulan ica mengurung dirinya dikamar, hanya mau berbicara ketika diajak bicara. Setiap hari iyaz membawa Oliv untuk membantu menghiburnya, tetapi masih tetap seperti itu. Hingga terpikir oleh iyaz membawa Rangga karena temannya itu dekat dengan ica dan berharap bisa membuat ica tersenyum atau setidaknya keluar dari kamar gelapnya itu.
“Kenapa ga kepikiran dari kemarin? Semoga saja kali ini berhasil. Kasihan ica. Sebentar lagi liburan akan berakhir semester baru akan dimulai. Sebaiknya segera ku telfon dia.” Batin iyaz
Iyaz segera menelefon temannya dan menanyai kesanggupan pria itu untuk datang kerumah membantu ia menghibur adiknya. Sudah pasti ia akan menceritakan keadaan ica pada Rangga.
Tok... tok...
“Masuk ga.. langsung ke kamarnya aja yuk”
Rangga menganggukkan kepalanya dan mengikuti iyaz dari belakang hingga dia berhenti di depan sebuah kamar yang sudah dipastikan itu kamar ica.
“Dek.. kakak bawa tamu spesial” ucap iyaz yang berada didepan kamar ica. “Kakak buka pintunya ya”
Tak ada jawaban dari dalam. Iyaz segera membukakan pintu, gelap sangat gelap tak ada sedikitpun cahaya dan segera masuk dengan Rangga ke kamar tersebut.
🍀🍀Rangga🍀🍀
Saat mendengar cerita iyaz membuatku syok. Bagaimana tidak aku saja tidak tau kapan ica punya pacar dan lebih parahnya hampir dilecehkan.
Aku bergegas pergi kerumahnya untuk melihat wanita yang aku sayang, ica. Dan sekarang disini lah aku, dikamar yang gelap yang baru aku ketahui itu kamar ica. Ku dekati ranjang terlihat sosok yang hanya mematung diatas ranjang tersebut siapa lagi kalo bukan ica.
“Ca” ucapku memulai percakapan, tapi tidak ada respon darinya. Aku mendekatkan tubuhku pada ica dan memeluknya.
“Ini aku mas Rangga ca” ucapku lagi. Masih tidak ada jawaban, tapi kurasakan basah pada dadaku. Ya,, ica menangis dalam diam.
“Jangan nangis lagi.. mas sedih ca, maaf mas baru datang. Mas baru saja mengetahuinya ca”
“Ica mau apa?”
Tidak ada jawaban dari nya, membuatku frustrasi. Ku lirik iyaz ia hanya berdiam diri diambang pintu kamar. Ku beri isyarat untuk meninggalkan kami berdua saja dan ia menutup pintu kamar.
__ADS_1
“Mas hidupin lampu ya” kataku melepaskan pelukanku.
“Mas...”
“Iya ca” jawabku yang terus berjalan mencari saklar lampu.
“Gak jijik sama aku? Gak malu ketemu aku?”
“Gak, kenapa harus jijik dan malu? Kamu ga rusak ca. Untuk apa kamu begini?” Kataku menghampirinya lagi setelah menghidupkan lampu.
“Tapi hampir mas”
“Hampir bukan berarti udah kan? Mas dengar kamu sudah begini sebulan, ga capek? Bosan? Keluar yuk”
Ica menggeleng, tapi aku tak menyerah membujuknya.
“Ca, kamu kayak gini biar apa? Yang ada kamu bikin papa, iyaz, Oliv dan mas kwatir ca. Ga ada untungnya buat Ronal, dia baik-baik aja sekarang. Sedangkan kamu lihat? Tak terawat. Menderita sendiri. Buat apa?”
Dia hanya diam, mungkin mencerna kata-kataku.
“Aku malu mas. Aku berasa gak ada guna nya”
“Siapa bilang? Kamu berguna. Kamu ga perlu malu. Yang harusnya malu itu Ronal bukan kamu”
“Sekarang ayok kita keluar. Mas akan temani kamu kemana aja. Kamu mau ketemu mama mu ayok mas antar.”
“Benaran? Mas gak akan meninggalkan aku? Mas bakal temani aku? Mas gak akan menjauh? Mas akan tetap berada disamping aku?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, terlihat sedikit senyum terukir di bibirnya.
“Sekarang ica mau keluar? Ica mau kemana?”
“Ica mau nonton kita pergi berempat seperti dulu”
“Baiklah, sekarang bersiaplah. Mas akan tunggu ica diluar.”
Dia mengangguk, dibukanya selimut dan berjalan kearah kamar mandi sedangkan aku keluar dari kamarnya. Di depan pintu kamar ada iyaz yang menunggu dan aku yakin dia menguping setiap obrolanku dan ica terlihat dari raut kebahagiaannya.
“Udah dengar kan? Nunggu apa lagi, buruan bersiap dan telfon Oliv suruh kesini.”
“Iya”
Akhirnya aku berhasil menjadi cahaya buatnya.
*****
Jangan lupa like dan vote ya😘
Terimakasih
__ADS_1