
Chapter 19
Ulat api
"Baiklah...." ucap Xiu Lan kemudian membuka tudungnya.
Semua orang yang menonton terpana melihat wajah giok menggemaskan yang dimiliki Xiu Lan.
"Jika yang seperti itu buruk rupa lalu cantik yang sebenarnya seperti apa?" ucap salah satu penonton.
Nona muda didepannya terkejut, "K-kau!" nona muda tersebut marah sekaligus malu. Jadi orang yang mengalahkan pengawalnya adalah seorang gadis kecil?! Benar benar memalukan. Apalagi wajah yang dimilikinya sangat luar biasa. Dan tadi dia menyebutnya buruk rupa?
Nona muda tersebut mengepal tangannya kesal, "Karena kau hanyalah seorang gadis kecil aku tak akan membunuhmu." ucapnya arogan.
Xiu Lan hanya tersenyum lugu.
"Apa Lan'er boleh pergi sekarang?" tanya Xiu Lan.
"Humph, pergi sekarang sebelum nona ini berubah pikiran." nona muda tersebut mengibas ngibas tangannya.
"Kak! Ayo pergi." ucap Xiu Lan.
Xiu Ya mengangguk kemudian mereka berjalan menuju kios roti kukus yang menjadi tujuan mereka dari awal.
"Bibi kami pesan 10 roti kukus." ucap Xiu Lan.
__ADS_1
"Baik gadis kecil...." ucap bibi tersebut tersenyum hangat.
Xiu Ya memikirkan sesuatu sejak tadi, "Nona muda tadi....apa di kehidupan sebelumnya kami saling kenal?" "Aku sepertinya mengenalnya tapi siapa...." Xiu Ya berpikir keras. "Atau hanya perasaanku saja?"
"Kak? Ada apa?" tanya Xiu Lan yang melihat Xiu Ya sedang kebingungan.
"Ah." Xiu Ya mengembalikan kesadarannya. "Tidak apa apa Lan'er.....kakak hanya kepikiran sesuatu." ucap Xiu Ya.
"Baiklah kalau begitu." ucap Xiu Lan.
Setelah menghabiskan roti kukus Xiu Ya dan Xiu Lan kembali ke penginapan. Setelah mengantar Xiu Lan, Xiu Ya segera melesat kearah hutan tempat gurunya berada.
"Kakek!" panggil Xiu Ya yang melihat gurunya sedang merawat tanaman obat.
Xiu Ya menurut dan ikut berjongkok disebelah Kakek Bai. Terlihat seekor ulat berwarna merah dan oranye mengeluarkan asap sedang menggeliat di atas tanah. Setelah diperhatikan sekali lagi Xiu Ya menyadari sesuatu, "Ulat api?!" pekik Xiu Ya
Kakek Bai terkejut, "Kau tau ulat api Xiu Ya?" tanya Kakek Bai.
Xiu Ya mengangguk, "Apa boleh ulat itu untuk Ya'er?" pinta Xiu Ya pada Kakek Bai. Bagaimanapun ulat api itu bisa digunakan untuk menyempurnakan tubuh api nya.
Kakek Bai mengangguk, "Boleh, ambil saja. Tapi untuk apa ulat ini Ya'er?" ucap Kakek Bai.
"Terimakasih Kakek!" ucap Xiu Ya girang. "Alasan Ya'er memintanya ini...." Xiu Ya ragu memberitahu Kakek Bai bahwa sebenarnya ulat api tersebut digunakan untuk ia berkultivasi.
Kakek Bai mengerti keraguan Xiu Ya, "Baiklah kau bisa mengatakannya suatu saat nanti." ucap Kakek Bai.
__ADS_1
"Terimakasih Kakek." ucap Xiu Ya.
Setelahnya Xiu Ya dan Kakek Bai berbincang bincang hangat.
"Ah!" Xiu Ya menyadari sesuatu.
"Ada apa Ya'er?" tanya Kakek Bai.
"Kakek....Xiu Ya harus pergi sekarang. Besok akan ada kontes perburuan dan Xiu Ya harus mendaftar hari ini." jelas Xiu Ya.
"Baiklah kalau begitu." ucap Kakek Bai.
"Apa kakek akan datang besok?" tanya Xiu Ya.
"Kakek diundang oleh mereka namun kakek hendak menolak hadir. Namun karena murid sekaligus cucuku akan hadir besok, maka kakek juga harus hadir." ucap Kakek Bai.
"Baiklah kek.....dan Ya'er ingin kakek menjaga adik Ya'er apa boleh?" pinta Xiu Ya.
"Adikmu? Baik kakek akan menjaganya." ucap Kakek Bai.
"Terimakasih Kakek." Xiu Ya memeluk Kakek Bai.
Kakek Bai membalas pelukan Xiu Ya kemudian mengelus lembut kepalanya, "Baiklah....bukankah kau ada urusan lain? Cepatlah pergi sebelum terlambat." ucapnya.
"Ya! Sampai jumpa kek." Xiu Ya melesat pergi meninggalkan Kakek Bai.
__ADS_1