
Chapter 22
Berbincang dengan Patriak Gong
Tetua yang baru datang sebelumnya mengerutkan keningnya bingung, "Ada apa patriak? Kenapa engkau menjadi pucat?" tanya tetua tersebut sembari memperhatikan wajah patriak Gong.
Patriak Gong tidak mengubris pertanyaan tetua tersebut, dia menatap Xiu Ya serius. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum mengejek.
"Ehem, gadis- ah bukan, nona, apa anda keberatan jika kita berbicara empat mata?" tanya Patriak Gong hati hati.
Xiu Ya menatap Patriak Gong teliti kemudian berkata dengan santai, "Baiklah."
Feng Shu, Xiu Wang, dan Xiu Jie hanya menatap heran Xiu Ya, namun mendengar kata 'guru' dari mulut Xiu Ya membuat mereka sedikit paham situasinya.
"Mari nona." ucap Patriak Gong hormat.
Semua orang di aula terkejut sekaligus kebingungan. Namun saat ini, tak ada yang dapat menjelaskannya.
Xiu Ya berbalik, " Aku akan pergi sebentar, kalian dapat kembali lebih dulu." ucap Xiu Ya kemudian mengikuti Patriak Gong.
Di pintu keluar aula, tetua yang baru datang tadi menghentikan Patriak Gong dan Xiu Ya, "Patriak, ada apa? dan siapa gadis ini? Kenapa anda memperlakukannya dengan hormat? Bukankah gadis ini hanyalah gadis tanpa sopan santun?" tanya tetua tersebut bertubi tubi dengan nada keangkuhan didalamnya.
Patriak Gong menatap tajam tetua didepannya, "Tetua kedua, ada baiknya kalau kau mencerna kata kata mu dulu. Jika tidak, aku tak dapat menjamin nyawamu masih ada." ucap Patriak Gong penuh penekanan dengan sedikit ketakutan . Dia tidak mau menyinggung guru dari gadis dibelakangnya. Jika guru dari gadis dibelakangnya tersinggung, Patriak Gong tak dapat menjamin Sekte Tombak Emasnya masih berdiri.
Tetua kedua menelan ludahnya kasar, "B-baik patriak." ucapnya lemas.
__ADS_1
Patriak Gong hanya menganggukkan kepalanya sedikit, "Tetua kedua, lebih baik kau urus para anak muda tersebut." ucap Patriak Gong sembari menunjuk para anak muda di aula. Setelahnya Patriak Gong meninggalkan aula diikuti Xiu Ya dibelakangnya.
Dalam benak Xiu Ya, dia tertawa terbahak bahak. "Sudah berapa banyak orang yang tertipu? Sungguh bodoh." batin Xiu Ya menyunggingkan senyum iblisnya.
Sesaat, aula menjadi mencekam. Namun segera normal kembali.
Patriak Gong yang berada didepan Xiu Ya merasa punggungnya sedikit dingin, namun segera ia abaikan.
_________________
Di ruangan Patriak Gong.
"Silahkan duduk nona." ucap Patrial Gong hormat.
"Apa anda ingin camilan?" tawar Patriak Gong.
"Tidak perlu, tolong bawakan teh saja." jawab Xiu Ya sedikit haus.
"Baik, tolong tunggu sebentar." Patriak Gong segera pergi mengambil teh.
"Menyenangkan sekali, menipu seorang patriak sekte besar." gumam Xiu Ya licik.
Tak berselang lama, patriak Gong kembali sembari membawa teh. Aroma teh tersebut menyebar memenuhi ruangan.
Xiu Ya menghirup sedikit aroma teh tersebut, "Teh 檀香[ Tàn Xiāng] (Kayu cendana/cendana). Selera anda sangat bagus patriak." puji Xiu Ya datar.
__ADS_1
"Oh! ternyata anda memiliki pengetahuan yang luas tentang teh. Dan terimakasih atas pujiannya nona, saya tersanjung." balas Patriak Gong merendah.
"Hmm." kemudian Xiu Ya menikmati teh cendana tersebut. "Oh ya...langsung saja, apa yang ingin anda bicarakan patriak?" tanya Xiu Ya tanpa basa basi.
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf atas tindakan saya dan tetua kedua tadi." jelas patriak Gong serius.
"Hmm..lalu?" balas Xiu Ya cuek.
"Apa guru anda dari golongan hitam?" tanya Patriak Gong tiba tiba.
Xiu Ya melongo tak percaya, namun sedetik kemudian dia tertawa.
Patriak Gong yang melihat Xiu Ya tertawa semakin resah. Apabila guru dari gadis didepan nya merupakan golongan hitam, maka keberadaannya akan menjadi masalah besar.
Xiu Ya berhenti tertawa, "Sebelumnya, kenapa anda tiba tiba menanyakan hal tersebut?" ucap Xiu Ya.
"Ini...hanya saja, saat gurumu memperingatiku, rasanya seperti melihat kematian walau hanya sebentar." jelas Patriak Gong terang terangan.
Xiu Ya menyesap tehnya, "Itu bukanlah hal yang semua dari golongan hitam memilikinya, apalagi golongan putih. Orang yang memiliki aura kematian adalah orang yang sudah banyak membunuh. Hmm...guruku contohnya." jelas Xiu Ya. "Lebih tepatnya aku, bukan guruku. Namun aku baru tau jika sebenarnya auraku ikut terbawa ke masa lalu. Namun masih 2% nya." batin Xiu Ya.
Patriak Gong sedikit bergidik.
"Yah...guruku tak hanya membunuh golongan hitam, namun golongan putih juga. Mudahnya, guruku akan membunuh siapapun yang mengganggunya." lanjut Xiu Ya. "Lebih tepatnya aku." batin Xiu Ya.
Patriak Gong menghela nafasnya lega, "Dengan begini, selama kami tak mengganggunya, kami akan baik baik saja." batin Patriak Gong.
__ADS_1