Kembalinya Sang Ratu

Kembalinya Sang Ratu
3. Terungkap [Revisi]


__ADS_3

Chapter 3


Terungkap


Xiu Lan dan Xiu Ya meninggalkan kedua laki laki tersebut.


Setelah berjalan sebentar, Xiu Ya dan Xiu Lan berhenti di depan bangun tinggi nan kokoh. Bangunan tersebut adalah aula pertemuan yang terhubung dengan kediaman tetua kedua. Mereka berdua segera masuk ke dalam.


"Sepertinya sedang ada pertemuan....." gumam Xiu Ya.


"Bibi kedua!!!" panggil Xiu Lan keras.


Xiu Ya hendak mengatakan sesuatu namun terlambat.


Di aula, semua tetua menoleh ke arah Xiu Lan dan Xiu Ya.


"Eh?" Xiu Lan yang menyadari kesalahannya segera menutup wajahnya yang sudah berwarna merah tomat.


Xiu Ya hanya menggelengkan kepalanya.


"Lan'er?"


"Kecilkan suaramu." ucap salah satu tetua.


"Ah....maafkan Lan'er tetua." Xiu Lan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Humph, dari kecil tidak ada sopan santun bagaimana besar nanti." cibir seorang tetua.


"Lan'er hanya-" Xiu Lan ingin mengatakan sesuatu namun dipotong oleh Xiu Ya.


"Jangan didengarkan." ucap Xiu Ya acuh.


"Yang satu tidak ada sopan santun, yang satu lagi sampah. Cuih." ejek tetua yang sama.


"Hentikan! Kita disini untuk membahas sesuatu yang penting." ucap pemimpin sekte.


"Lan'er, masuk kedalam. Temui bibi keduamu." ucap tetua kedua.


"Baik pam- tetua." Xiu Lan menarik tangan Xiu Ya.


"Pergilah duluan." ucap Xiu Ya datar.

__ADS_1


"Eh? Baiklah kalau begitu." Xiu Lan meninggalkan Xiu Ya dan para tetua.


Pemimpin sekte menaikkan alisnya, "Kau tidak pergi Xiu Ya?"


"Tidak, aku akan ikut berdiskusi dengan kalian." ucap Xiu Ya tenang.


Semua tetua terkejut.


"Apa maksudmu bocah!" teriak seorang tetua.


Xiu Ya menyeringai mengejek, "Ayahku dulu seorang tetua, kemudian digantikan ibuku, sekarang....aku yang akan menggantikan ibu." Xiu Ya berjalan ke salah satu kursi tetua.


"Xiu Ya! Jangan lancang!" ucap tetua yang lain.


"Kau hanyalah sampah! Tidak dapat berkultivasi! Jangan bermimpi duduk di kursi yang sama dengan kami!" ucap tetua dengan marah.


"Xiu Ya ini-" ucap tetua kedua.


Xiu Ya menutup matanya, "Diam!" aura mendominasi keluar dari tubuh Xiu Ya.


Para tetua merasakan dingin dihatinya.


"Aku tidak melanggar aturan sekte, jadi diam!" aura mendominasi Xiu Ya semakin pekat.


Pemimpin sekte terkejut, kemudian menghela nafasnya, "Cukup Xiu Ya, kau boleh ikut berdiskusi dengan kami."


Xiu Ya menarik auranya kemudian mengangguk.


Para tetua mulai berdiskusi tentang krisis sekte 100 obat akhir akhir ini. Tetua ketiga yang menangani keuangan sekte, melaporkan pendapatan sekte per bulannya semakin menurun. Kemudian dilanjutkan dengan laporan laporan masing masing tetua lainnya. Xiu Ya hanya memperhatikan dan menyimak setiap laporan para tetua.


Pemimpin sekte memijat dahinya, "Bagaimana mungkin masalah ini terjadi bersamaan?" batinnya.


Xiu Ya tertawa kecil, "Bagaimana mungkin aku melupakan kejadian ini, sekte 100 obat hampir hancur karena mata mata sekte kalajengking yang menyusup ke dalam sekte.."


Tetua kelima mendengar tawa Xiu Ya, "Xiu Ya kenapa kau tertawa?" ucapan tetua kelima membuat hening aula.


"Bocah! Apa maksudmu?!" wajah tetua keenam berwarna merah karena marah.


Para tetua menunggu jawaban Xiu Ya.


Xiu Ya menaikkan alisnya, "Bukankah sudah jelas kalau masalah ini disulut oleh seseorang?" Xiu Ya melirik salah seorang tetua.

__ADS_1


Para tetua tertegun. Pemimpin sekte kemudian mengelus dagunya.


"Apa? Kalian tidak percaya padaku? Mengapa tidak meminta penjelasan kepada tetua ke empat?" Xiu Ya menyeringai.


Tetua ke empat bergidik, 'Bagaimana bocah itu tau!' ucapnya dalam hati.


"Tetua keempat?" pemimpin sekte menaikkan alisnya kemudian melihat ke arah tetua keempat.


Para tetua melirik tetua keempat.


"Apa maksudmu bocah?! Kau menuduhku?!" teriak tetua ke empat panik.


"Kalau aku bilang ya? Kau mau apa?" jawab Xiu Ya.


"Kau tak punya bukti!" teriaknya.


Para tetua lain mulai bebisik bisik, para tetua ragu dengan ucapan Xiu Ya.


Xiu Ya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pemimpin sekte.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" teriak tetua keempat dengan wajah berwarna merah.


Pemimpin sekte mengernyit.


Xiu Ya semakin mendekat ke arah pemimpin sekte dan berniat membisikkan sesuatu.


Sialnya, tubuh Xiu Ya terlalu pendek untuk menjangkau telinga pemimpin sekte.


"Sialan." umpat Xiu Ya dalam benaknya. Setelahnya, terlintas ide cemerlang di otak Xiu Ya.


"Pemimpin sekte.....maaf kelancanganku, bisakah kau sedikit menunduk? Ada yang ingin Xiu Ya sampaikan." bujuk Xiu Ya dengan wajah imutnya.


"Hm? Baiklah." pemimpin sekte menunduk.


Setelah beberapa saat, wajah pemimpin sekte berwarna merah.


Bang


Pemimpin sekte mengepal tangannya marah. Wajahnya menjadi buruk.


______________________

__ADS_1


Revisi pada chapter ini juga tak terlalu banyak, hanya perapihan dan pergantian kosa kata yang menurut An kurang pas sebelumnya.


That's All


__ADS_2