
Setelah keputusan yang dibuat oleh Sofia, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pacaran lagi selama masih sekolah. Ia tidak mau melawan apa yang diperintahkan oleh mamanya. Semenjak putus, Wandri kadang kadang Wandri menghubungi Sofia, namun hanya sekedar menanyakan kabar dan kegiatannya saja. Panggilan sayang mereka juga sudah dihapus dari setiap chat mereka.
"permisi... boleh duduk?" sapa Gary
"ohh...iya" sambil mempersilakannya untuk duduk.
Selama beberapa menit, Gary hanya duduk diam sambil memain mainkan buku yang ada di meja.
"Sof, kenapa status kamu di FB berubah?" katanya kemudian.
"status apa?" tanya Sofia berpura pura tidak tau.
"status hubunganmu sama Wandri" jelas Gary
"ohh... iya" jawab Sofia singkat namun tidak jelas.
"iya gimana?" tanya Gary lagi yang memang tidak menemukan jawaban dari perkataan Sofia.
"ya, memang sudah begitu" jawab Sofia masih memberikan jawaban yang belum jelas.
"kalian sudah putus?" kata Gary kemudian.
"emm... ya"
"kapan?"
"kemarin kemarin"
"kenapa?" tanya Gary lagi
"yaa... kenapa kamu tanya?"
__ADS_1
"ya, pengen tau aja" kata Gary lagi, "jadi, kenapa?"
"yaa gak apa apa, yaa seperti itu"
"seperti itu gimana?" tanya Gary lagi. Namun, Sofia sudah tidak menghiraukan perkataannya lagi. Ia lalu melanjutkan kegiatannya membaca dan mengerjakan soal tes IQ dari buku yang ia pinjam di perpustakaan sekolah.
"okelah kalau kamu gak mau cerita" kata Gary yang kemudian menyadari ketidaksukaan Sofia ketika ditanya mengenai hal tersebut.
"lalu, sekarang gimana dengan Yanto?" tanya Gary lagi.
"emangnya kenapa dengan Yanto?" tanya Sofia
"dia kan suka sama kamu, apa kamu mau menerima di jika dia nembak kamu?"
"kok kamu kepo kali sih?" tanya Sofia yang mulai tidak senang.
"oke. Sorry sorry, aku gak akan nanya lagi".
Mereka berdua duduk berdampingan dalam diam. Sofia duduk dengan kegiatannya membaca dan mengerjakan sial tes IQ disertai dengan perasaan kesal, sedangkn Gary duduk dengan diam disertai dengan pikiran mengenai siapa yang disukai Sofia sekarang. Ia hendk menanyakannya tadi, tapi Sofia sudah keburu kesal dan pastinya tidak akan memberikan jawaban yang benar jika ditanya terus.
Sofia pulang sekolah bersama dengan temannya, Oni berhubung arah rumah mereka sama dan mereka juga berteman baik. Oni mulai menceritakan kisah cintanya bersama dengan adek kelas. ya, Oni memang memiliki seorang pacar yang adalah seorang adek kelas, saru tahun lebih muda darinya. Ia memceritakan bahwa pacarnya Panca didekati banyak teman kelasnya. Ia merasa cemburu dan tidak suka terhadap teman teman ceweknya.
"Kalau dia memang benar benar suka sama kamu, dia gak bakal tertarik sama cewek lain. Harusnya kamu beruntung, dari sekian banyak cewek yang dekat samanya, dia malah milih kamu" kata Sofia kepada Oni ketika ia merasa sudah agak capek mendengarkan ceritanya yang itu itu saja.
"iya juga ya..." kata Oni, "oh iya, kamu sama Wandri udah putus?"
"udah"
"kapan"
"minggu lalu"
__ADS_1
"kenapa?"
"aku takut kalau mamaku tau, nanti aku bisa dimarahi dan gak diizinkan pergi ke mana mana lagi"
"ohh...Yanto udah tau?" tanyanya lagi
"kok Yanto?" tanya Sofia heran
"dia kan suka sama kamu dan kemarin juga ia bilang akan menunggumu"
"emm... mungkin"
"lalu, kamu tau gak? sepertinya Gary suka sama kamu deh" kata Oni lagi yang mulai mengeluarkan jiwa gosipnya.
"ha?" respon Sofia
"iyaa, soalnya ya kalau aku perhatikan, dia itu sering melihat kamu di kelas. Dia juga sering ngajak kamu ngobrol kan?"
"iya"
"nah... dan lagi, aku pernah sempat mendengar ia bilang ke teman temannya kalau ada cewek yang sedang ia suka, di kelas kita" mulailah ke luar jiwa wanita Oni.
"lalu, kenapa itu harus aku? cewek di kelas kita kan gak hanya aku"
"iya, tapi Gary itu pandangannya sama kamu beda dari teman teman yang lain" jelas Oni.
"tau dari mana?"
"yaa, aku sering memperhatikannya kalau di kelas"
"lho... jangan jangan kamu lagi yang suka sama Gary, he he"
__ADS_1
"laah, mana ada!"
pembicaraan mereka terus berlanjut mengenai Gary hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Oni. Akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir dan gosip hanyalah gosip, Sofia tidak mempercayai kebenarannya, apalagi ia sudah kenl betul dengan kawannya yang satu itu.