
Bu Suci beranggapan temuannya yang pertama mungkin hanya mainan anak-anak, karena seminggu yang lalu. Beliau hanya menemukan secuil kain putih yang lusuh dengan kembang mawar hitam di dalam lilitan kain, meskipun begitu.
Bu Suci sempat menaruh curiga, karena Wulan tidak menanam kembang mawar hitam. Dan sekarang ini dengan adanya benda mistis yang ditemukan oleh Wulan, seolah memperkuat dugaan. Bahwa perubahan sikap Damar akibat pengaruh guna-guna.
Wulan mengamati wajah Bu Suci yang nampak sedikit tegang, terlihat jelas kerutan di dahi beliau, ia lantas bertanya untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu. "Ada apa Bu?"
Bu Suci tersentak secara refleks melihat wajah Wulan. Namun, beliau hanya terdiam. Bu Suci merasa sangat kasihan jika prasangka nya nanti terbukti benar, bahwa benda yang ditemukan Wulan hari ini berkaitan dengan hal gaib.
"Wulan pernah membaca artikel tentang ilmu perdukunan, apakah kembang, tanah dan kain putih ini salah satu dari ajian itu, Bu?"
Bu Suci kembali menunduk menatap benda yang ditemukan Wulan. Beliau sedang berpikir jawaban apa yang kiranya pas agar Wulan tidak khawatir dengan prasangka yang belum terbukti kebenarannya.
Bu Suci memegangi lengan menantunya. Lalu memaksakan diri untuk tersenyum. "Tidak Wulan, benda ini mungkin saja dimainkan oleh anak-anak sekitar, kamu sebaiknya jangan berpikir seperti itu. Pergilah bersiap, ini sudah siang."
Wulan merasa masih butuh penjelasan, ia ingin tahu pasti. "Tapi Bu, sepertinya barang-barang ini, bukan dimainkan oleh anak-anak sekitar sini. Perasaan Wulan tidak nyaman."
Bu Suci kembali melihat secarik kain putih, secuil tanah liat, kembang mawar hitam, kembang kantil dan boneka sangat kecil. Tiga detik kemudian kembali menatap wajah Wulan yang menampilkan mimik wajah penasaran.
"Ingat anakku, Allah lebih dekat dari pada urat nadi kita. Mintalah petunjuk dan pertolongan hanya kepada-Nya." kata Bu Suci lembut.
Wulan merasa ada yang disembunyikan oleh Bu Suci. Ia lalu memegang tangan Ibu mertuanya. "Bu?" Wulan menatap dalamnya manik mata Bu Suci, Wulan dapat membacanya, bahwa kemungkinan besar Bu Suci juga sedang berpikir dengan apa yang diucapkannya tentang perdukunan.
Meskipun dalam hati gusar, namun Bu Suci tidak ingin Wulan memikirkan hal ini, sikap Damar sudah cukup membuat Wulan menelan kekecewaan.
"Sudah nak, jangan kamu pikirkan soal ini, kamu harus bersiap-siap ke pabrik dan mengantarkan makan siang untuk Damar. Biar ibu yang membuang benda-benda ini."
Wulan tidak ingin mendebat ibu mertuanya. Ia mengangguk kecil, lalu bergegas menuju kamarnya. Meskipun dalam hati masih bertanya-tanya. Tapi, mungkin saja prasangka nya telah salah.
Setelah kepergian Wulan ke kamar. Bu Suci menatap benda-benda yang ditemukan Wulan di halaman rumah.
__ADS_1
"Perasaan saya, jadi tidak enak. Saya harus mencari tahu dengan bertanya pada seseorang yang lebih paham soal ini."
Bu Suci mengambil plastik dan menaruh semua barang temuan Wulan ke dalam kantung plastik hitam. Beliau bukannya tidak ingin memberitahu kekhawatirannya yang belum terbukti benar kepada Wulan. Hanya saja, beliau harus memastikannya terlebih dahulu.
"Benarkah Damar terkena guna-guna, atau hanya sekedar prasangka saya saja. Semoga, Damar dan Wulan di jauhkan dari segala bentuk godaan setan. Amin."
**
Di dalam kamarnya, sebelum mandi Wulan menghubungi seorang driver panggilan. Setelah berbincang sebentar Wulan meletakkan ponsel di meja lalu mengambil handuk dan sangat hati-hati kala memasuki kamar mandi. Meskipun sewaktu subuh ia sudah mandi, tapi agaknya semakin besar kehamilannya maka akan semakin membuatnya berkeringat dan gerah.
Setelah selesai bergulat di dalam kamar mandi, dan merasakan badannya lebih segar. Ketika tatapannya mengedar, ia berhenti di ujung ranjang dan melihat bingkai foto pernikahannya yang terpasang di dinding atas tempat tidur.
Terbayang kembali olehnya, saat Damar tiba-tiba mengadakan surprise untuk meminangnya, terasa sangat manis dan membahagiakan. Tapi jika mengingat perlakuan kasar Damar beberapa hari belakangan ini, Wulan tidak menyangka bahwa pria yang selalu bersikap lembut tiba-tiba berubah dan belum diketahui apa penyebabnya. Bahkan sekarang ini, sang suami sudah mulai tidak menganggap pendapatnya.
Tekad. Iya, Wulan bertekad akan mencari tahu apa yang membuat Damar seperti itu.
Mendadak wajahnya di foto pernikahan berlumuran darah. Wulan membelalakkan matanya dan berteriak kencang.
Wulan melihat darah yang keluar dari fotonya sangat banyak sampai berjatuhan dan membasahi sprei, spontan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Teriakan Wulan sampai mengusik telinga Bu Suci yang masih duduk di kursi meja makan. Beliau tergopoh-gopoh berlari menuju kamar Wulan. Lantas membuka pintu kamar lebar-lebar.
Sorot mata Bu Suci sekilas menangkap bayangan hitam yang keluar dari pintu kamar yang mengarah pada taman samping rumah. "Astaghfirullah!"
Bu Suci merasakan hawa panas menyelimuti kamar ini. Beliau melihat Wulan yang beringsut terduduk di lantai di depan ranjang dengan menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangan.
Bu Suci segera menghampiri menantunya yang hanya memakai handuk. "Wulan."
Wulan tersentak mendengar suara dan sentuhan tangan Bu Suci. Hatinya sedikit lega, kala melihat wajah Ibu mertuanya. Ia segera menghamburkan diri memeluk wanita paruh baya ini.
__ADS_1
"Bu Suci, Wulan takut Bu, itu foto Wulan keluar darah, Wulan takut." kata Wulan bernafas tersengal-sengal. Sembari telunjuk tangannya menunjuk foto pernikahannya.
Bu Suci langsung melihat foto pernikahan Damar Wulan. Tidak ada darah yang dikatakan oleh Wulan, semuanya masih terlihat normal. Beliau merasakan ketakutan yang dialami oleh Wulan dengan adanya menantunya ini bernafas tersengal-sengal serta badannya yang gemetaran.
"Tidak ada apa-apa cah ayu, tidak ada darah yang keluar dari foto mu. Kamu nampak sangat cantik di foto pernikahan itu." kata Bu Suci mencoba untuk memberikan ketenangan pada Wulan.
"Tapi Bu, tadi Wulan melihat jelas, wajah Wulan. Hanya wajah Wulan yang keluar darah, bahkan sangat banyak sampai-sampai berjatuhan di seprei." Wulan masih enggan untuk melihat foto pernikahan maupun ranjangnya.
Berkecamuk hati Bu Suci melihat kondisi Wulan, mencuat tanda tanya besar dalam benaknya. "Ya Allah, jauhkanlah kami dari segala bentuk godaan setan."
Wulan masih memeluk Ibu mertuanya, ia bahkan tidak berniat untuk melepasnya. Sungguh menakutkan apa yang dilihatnya barusan.
Bu Suci mengusap belakang kepala Wulan, "Istighfar anakku, perbanyak istighfar. Jangan sampai halusinasi menguasai ketakutan mu, kamu harus lebih tangguh."
Perlahan Wulan mengurai pelukannya, ia menggemakan istighfar dalam hati. Badannya masih gemetaran. Ia mengumpulkan keberanian untuk melihat foto pernikahannya. Pada saat membuka mata, ia tak menemukan darah bercucuran yang keluar dari foto pernikahannya.
Tatapannya beralih menatap Bu Suci. Wulan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, kini ia lebih sedikit tenang. "Apa yang Wulan lihat hanya berhalusinasi, Bu? Kenapa sangat jelas, tadi Wulan melihat banyak sekali darah yang keluar dari foto itu."
Bu Suci nanar menatap Wulan, bahkan keringat terlihat jelas di kening menantunya. "Ibu akan tunggu di luar, kamu ganti pakaian, jangan memikirkan hal apapun yang membuatmu takut. Percayalah Allah akan selalu bersama kita."
Wulan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengusap dahinya yang berkeringat. Ia berdiri dengan dibantu Bu Suci dan duduk di sofa.
Bu Suci menunggu di luar pintu kamar Wulan, tangannya mengusap dada. "Saya harus segera mengatasi prasangka buruk ini, agar segera menemukan solusinya."
Bu Suci berjalan menuju kamarnya, lalu diambilnya ponsel yang hanya bisa Bu Suci gunakan untuk menelepon dan mengirim pesan.
"Danum, nanti kamu ke sini. Antarkan Ibu ke suatu tempat." kata Bu Suci setelah sambungan telepon tersambung.
***
__ADS_1
Bersambung