Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 19_


__ADS_3

"Bokir!" Wulan memanggil rekan kerjanya dulu. Semenjak hamil, Wulan memutuskan untuk resign, karena ingin lebih fokus mengurus keluarga kecilnya, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini. Maka hanya sesekali saja ia datang pabrik dan ke cabang pabrik lainnya yang belum lama berdiri.


Bokir celingusan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mencegah agar Wulan jangan dulu ke atas. Atau kalau tidak bisa perang dunia ke tiga.


"Hey Bu Bos. Tumben amat ke sini. Ada apa Bu Bos?" kata Bokir basa-basi. Ia menghampiri Wulan yang masih berdiri di tengah-tengah lobby kantor.


"Damar mana?" Wulan langsung to the point kepada intinya ia datang ke pabrik.


Ayo mikir Bokir, mikir! Bokir terdiam ia mengedarkan pandangannya dan mengalihkan perhatian Wulan. "Saya sudah lama tidak bertemu denganmu, kamu semakin gemuk saja Lan." Dilihatnya wajah Wulan yang chubby.


"Ya wajar saja aku gemuk," Celetuk Wulan seraya tangannya mengusap perutnya yang buncit. "Sekarang dimana Damar? Aku ingin makan siang dengan suamiku." Wulan celingak-celingukan namun tidak mendapati suaminya sejak tadi. Bahkan tidak bersama dengan Bokir.


Bokir menggaruk kepalanya yang pelontos. Ia ingin bilang kepada Wulan ada yang tidak beres dengan sikap Damar. Namun, ia takut akan membuat Wulan berpikir yang tidak-tidak, apalagi melihat perut Wulan yang buncit. Bokir tidak habis pikir, mengapa sikap Damar kepada sekretaris barunya itu sangat baik dan penuh dengan kejanggalan.


Melihat Bokir hanya diam membuat Wulan semakin penasaran. "Hey Bokir di tanya ko malah diam, dimana Damar?"


Bokir tersentak, ditatapnya wajah Wulan. Ia semakin tidak tega untuk menyampaikan perubahan sikap Damar. "Anu, Lan anu... Ehmm gimana kalau kita makan dulu, saya pengen ngobrol-ngobrol sama kamu. Kan sudah lama kita nggak bertemu, saya juga ingin menyampaikan tips agar lahiran mu normal."


Wulan terkekeh mendengar jawaban Bokir. "Kamu pikir kamu bidan, atau dokter kandungan?"


Bokir tersenyum kecut. "Kan gini-gini aku udah jadi Bapak."


Wulan semakin tidak karuan perasaannya, ia menangkap sesuatu yang sedang coba di tutupi oleh Bokir. "Minggir!" Ia menyingkirkan tubuh Bokir yang menghalangi jalannya.


Melihat Wulan yang berjalan menuju lift, Bokir merem melek. Entah apa yang akan dilakukan Wulan jika melihat Damar sedang bermesraan dengan wanita lain. Ia segera mengejar Wulan.


"Woy Lan, Wulan. Kamu jangan naik ke atas dulu!" Bokir berdiri di depan pintu lift yang terbuka.


"Jangan halangi aku Bokir. Kalau kamu seperti ini, menandakan ada sesuatu yang tidak beres!" sergah Wulan lalu menutup pintu lift.

__ADS_1


Bokir lupa, bahwasanya otak Wulan terlalu cerdas untuk dibodohi. Alhasil pintu lift pun tertutup dengan membawa Wulan ke lantai empat. Karena kedua lift sedang di gunakan. Bokir berlarian sekencang-kencangnya menuju tangga. Ia menyingkirkan beberapa karyawan yang sedang naik dan turun tangga.


"Minggir!"


"Minggir!!!"


Tidak membutuhkan waktu lama, untuk Wulan sampai di lantai empat. Ia memang tidak selincah saat ia belum hamil, kini gerakannya seolah terbatas. Karena memang usia kehamilannya yang memang sudah sembilan bulan.


Wulan melihat beberapa karyawan yang menatapnya seperti menatap kasihan. Namun, Wulan tidak ambil pusing, ia terus berjalan sampai di depan pintu cokelat tua bertuliskan Presdir Damar.


Dipegangnya gagang pintu stainless, Wulan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, membersamai dengan pintu yang ia buka. Matanya membelalak melebar sempurna kala melihat Damar sedang duduk berdekatan dengan seorang wanita yang tadi pagi dilihatnya, bahkan tidak ada jarak diantara Damar dan sekretaris Anggi.


"Damar!" Teriak Wulan di ambang pintu ruangan kerja suaminya


Damar dan Anggi terpanjat.


Anggi yang semula sedang bersandar di pundak Damar langsung berdiri. Melihat seorang wanita dalam kondisi hamil besar sedang berdiri di ambang pintu. Ia menyingkir dan menjauhi Damar sembari menundukkan pandangan.


"Untuk apa kamu ke sini?" Damar bertanya kepada Wulan bernada suara santai. Dilihatnya Anggi yang akan keluar, Damar memanggil sekretarisnya. "Anggi, kamu tetap di sini."


Wulan terkejut mendengar suara Damar yang menghentikan langkah wanita bernama Anggi. Ia berjalan menghampiri Damar yang masih duduk santai. Bahkan suaminya ini tidak berniat menjelaskan tentang apa yang terjadi mengapa sampai Sekretaris Anggi ini bersandar di pundak suaminya.


Wanita mana yang tidak terbakar hatinya, melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Tatapan Wulan menatap tajam kepada Anggi. Dan kembali menatap Damar.


"Pertanyaan macam apa ini? Aku datang ke sini berniat ingin makan siang bersama mu. Tapi apa yang ku lihat barusan? Bahkan kamu tidak menjelaskan padaku, agar aku tidak salah paham!" Wulan berkata menggebu-gebu, ditatapnya wajah Damar yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.


Damar berdiri menghadapi istrinya. Ia mendekapkan kedua tangannya di depan dada. "Apa yang mesti aku jelaskan, Wulan? Jika kamu saja sudah berpikir negatif duluan."


"Jadi ayo jelaskan padaku, apa yang terjadi, kenapa wanita itu bersandar di bahumu, sedangkan kamu malah membelai rambutnya? Siapa dia Damar?" Sungut Wulan seraya menunjuk wanita yang berdiri berjarak dua meter.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah mengenalnya tadi pagi, dia sekretaris baruku." Damar masih bersikap selayaknya tidak terjadi apa-apa, bahkan kemarahan istrinya tidak berarti apapun.


Wulan menahan kesal yang teramat sangat kesal.


"Lalu apa yang kalian lakukan barusan? Kalau aku tidak datang, kamu pasti akan melakukan sesuatu yang melebihi ini." Wulan bertanya kepada Damar yang sedang membuang tatapannya.


Sesaat kemudian Wulan menghampiri sekretaris baru Damar, ia menunjuk-nunjuk dada Anggi. "Dengarkan aku, kamu jangan coba-coba menggoda suamiku. Jangan pernah kamu goda dia, kamu lihat perutku, aku sedang hamil dan akan melahirkan. Seharusnya kamu sebagai sesama wanita bisa memahami ini!"


Wulan terperangah tatkala tangannya yang digunakan untuk menunjuk Anggi di remass Damar. Netranya beralih menatap suaminya yang kini sudah berdiri disebelahnya.


"Anggi sedang sakit, Wulan. Dia sakit kepala saat memberikan ku laporan dan hampir pingsan, aku memapahnya untuk duduk." Jelas Damar melihat sekretaris Anggi yang hanya menundukkan kepala.


"Apa dengan cara menyandarkan kepalanya di dadamu, Damar?" Wulan heran atas sikap Damar yang terus menatap sekretaris barunya. "Kamu kan bisa memanggil karyawan lain untuk membantunya kembali ke ruangannya sendiri. Kenapa harus dengan cara kamu membiarkannya bersandar di pundak mu? Jika wanita ini mengeluh dadanya sakit, apa kamu membiarkannya bersandar di pangkuan mu?" Rentetan pertanyaan Wulan lontarkan, hatinya sangat sesak melihat sikap Damar yang seperti orang dungu.


Damar menghela nafasnya. Ia menatap sang istri dengan tatapan malas.


"Sudah marah-marahnya?" Damar berkacak pinggang. "Aku kan sudah bilang percuma jelasin sama kamu tentang apa yang terjadi, karena cara bicaramu pasti ngawur dan menuduhku yang bukan-bukan. Kalau pun memang aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dari tadi kenapa di kantor, kenapa di sini dan banyak orang? Mikir Wulan, mikir! Jangan hanya karena kamu hamil, lalu aku bisa menerima begitu saja tuduhan mu."


"Apa kamu bilang aku ngawur?" Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menatap wajah Damar nanar, hatinya bagaikan tertusuk duri.


Bokir sudah berdiri di ambang pintu masuk ruangan presdir. Ia mengamati sikap Damar yang sudah berubah, seolah bukan Damar yang dikenalnya selama setahun ini. Damar tidak akan mungkin membentak dan memarahi istrinya.


"Damar!" Bokir melangkahkan kakinya mendekati Damar dan Wulan.


Damar mengalihkan atensinya menatap pria berkepala plontos yang menjadi stafnya. "Jangan ikut campur Kang Bokir! Ini masalah ku."


"Iya saya tahu, ini bukan masalah saya. Tapi kalau sudah menyangkut Wulan maka sudah menjadi masalah saya, karena Wulan sudah saya anggap seperti adik saya sendiri," Sungut Bokir menjawab pertanyaan Damar. "dan kenapa kamu malah membela wanita ini, dia wanita yang baru kamu kenal sebagai sekretaris mu beberapa hari. Tapi kamu memperlakukannya istimewa, ini sesuatu hal yang ganjal Damar!" Bokir melihat Sekretaris Anggi, ia geleng-geleng kepala heran atas perubahan sikap Damar. "kamu bukan Damar yang saya kenal?"


...***...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2