Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 11_Punya siapa ini?


__ADS_3

"Duhai Rabb-ku jaukanlah aku dari hal-hal yang merisaukan diriku dan jadikan hatiku tenang. Aku serahkan urusanku kepada-Mu, maka cukupkanlah aku dari meminta kepada selain-Mu duhai Rabb alam semesta." gumam Wulan lirih menatap foto pernikahannya, sedangkan tangannya memegang dadanya yang sedang berdegup kencang.


Ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi selalu ada cara untuk mengubahnya. Cari tahu bagaimana dan ubah hal-hal yang dapat kita kendalikan.


Wulan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Mulai sedikit lega dari rasa terguncang.


Meskipun masih merasa takut, tapi Wulan tidak ingin ketakutan menguasai akal sehatnya. Akan lebih baik jika ia memikirkan hal-hal positif tentang kehidupan setelah menjadi seorang Ibu.


"Kenapa aku harus takut? Ini rumahku, ini istanaku. Kemana Wulan yang dulu, Wulan yang pemberani, seorang Intel kepercayaan atasan. Seharusnya aku tidak perlu takut."


Wulan segera menyadarkan dirinya sendiri, ia kini masih berbalut handuk. Dan segera bergegas berganti pakaian yang sekiranya pas ditubuhnya yang semakin melar hingga naik berat badannya yang semula hanya 54 kg menjadi 78 kg.


Lonjakan berat badan yang terjadi secara signifikan sejak hamil. Tapi tak mengapa, bagi seorang wanita kehamilan adalah anugerah terindah yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Maka sudah sepatutnya ia mensyukuri nikmat ini.


Ketika banyak dari wanita yang sudah berusaha untuk hamil hingga menjalani serangkaian tes kehamilan dan memeriksakan diri. Ia tidak perlu melakukan itu semua, karena tiga bulan hanya tiga bulan pernikahan dengan Damar. Puji syukur alhamdulilah, Allah memberikan penghidupan di dalam rahimnya kini dan tinggal menghitung hari lagi.


Setelah siap dengan pakaiannya dan sedikit merias wajah agar lebih terlihat segar. Wulan mendengar Bu Suci mengetuk pintu membersamai dengan suara beliau.


"Wulan, apa kamu baik-baik saja nak?"


Wulan menoleh menatap pintu kamar lantas menjawab. "Iya Ibu, Wulan baik-baik saja. Ini Wulan sudah selesai."


Wulan beranjak dari duduknya di kursi depan meja rias, dan segera keluar dari kamarnya. Di luar kamar, Wulan melihat Bu Suci.


Netra Bu Suci berbinar-binar melihat menantunya, namun juga terselip rasa kasihan. Jikalau mengingat perkataan kasar Damar kepada Wulan.


"Ibu berharap kamu bahagia menjalani pernikahan dengan anak Ibu, Wulan." Bu Suci mengulurkan tangannya, mengusap pipi Wulan.


"Amin." Wulan tersenyum membersamai dengan anggukan kecil. Dilihat olehnya Bu Suci memegangi ponsel. "Ibu menghubungi siapa?"


Bu Suci menyadari bahwa dirinya sedang memegang ponsel setelah menghubungi Danum.


"Danum." sahut Bu Suci.

__ADS_1


Wulan mengernyitkan dahinya, "Ada apa sama Danum?"


"Ndak ada, hanya ingin mengetahui kabarnya baik-baik saja. Kan kamu sendiri, sudah seminggu si bontot belum ke sini." jawab Bu Suci menutupi kegugupan dari prasangka nya, agar Wulan tidak mencurigainya.


"Mungkin si bontot lagi sibuk juga kali Bu." jawab Wulan, "kalau begitu Wulan ke dapur dulu Bu." ujarnya sambil menunjuk arah dapur.


Bu Suci mengangguk kecil, ia melihat Wulan berlalu ke dapur. Bu Suci sedikit bernafas lega, saat melihat Wulan sudah terlihat baik-baik saja. Tidak lagi ketakutan seperti sebelumnya.


Setelah selesai dengan urusannya di dapur, Wulan kembali ke ruang tengah. Dilihatnya jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 10:11 wib. Ia kemudian mencari keberadaan Ibu mertuanya. Dan mendapati Bu Suci sedang duduk di kursi samping teras rumah, nampaknya beliau sedang merajut kaus kaki kecil.


"Bu, kaus kaki yang Ibu rajut bagus banget? Tapi kenapa warnanya putih?" Wulan duduk di ayunan yang seperti cangkang telur yang mempunyai lubang untuk duduk.


Bu Suci menghentikan aktivitas tangannya yang sedang merajut kaus kaki hampir jadi. Bu Suci mengalihkan atensinya menatap menantunya yang telah rapih dan cantik, dengan make up natural. "Kan kamu sama Damar ndak mau bilang jenis kelamin cucu Ibu apa. Jadi, mana Ibu tahu cucu Ibu laki-laki atau perempuan? Jadilah warna putih ini, warna putih bisa dipakai oleh siapa saja. Dan satu lagi, warna putih menggambarkan kesucian dan ketulusan. Sebab itulah Ibu memilih warna putih."


Wulan menyetujui ucapan Ibu mertuanya. Ia bersyukur mempunyai Ibu mertua yang sangat menyayanginya. Ketika banyak wanita yang mengeluhkan tentang sikap Ibu mertua yang dirasa lebih cenderung negatif.


"Terimakasih Bu. Semoga Wulan pun bisa menjadi seorang Ibu yang penyabar dan penyayang seperti Ibu Suciati." Bangga Wulan terhadap Ibu mertuanya. Maka tak jarang ia melontarkan pujian untuk Bu Suci.


Bu Suci melebarkan senyumnya. "Amin, setiap Ibu pasti selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Bukan hanya Ibu saja, cah ayu. Pola asuh kita kepada anak, akan membentuk karakter pada anak itu sendiri. Maka dari itu, anak adalah peniru yang dilakukan oleh orang tuanya."


"Kamu sudah siap ke pabrik, nduk?" Bu Suci bertanya karena melihat Wulan juga membawa tas yang di selempangkan di samping pinggul.


Wulan mengangguk kecil. "Sudah, ini Wulan mau pamit. Sebentar lagi jamnya Damar makan siang."


"Apa perlu Ibu ikut kamu, Lan? Kamu ndak mungkin menyetir mobil sendirian." Tawar Bu Suci, tatapannya melihat perut Wulan yang membuncit tertutupi dress longgar.


Wulan menggelengkan kepalanya membersamai dengan senyuman kecil. "Tidak usah Bu. Tadi Wulan sudah menghubungi Mbak Leni."


Bu Suci sudah tahu siapa Mbak Leni, seorang wanita penjual susu kambing etawa yang merupakan supir panggilan Wulan. "Kalau begitu hati-hati."


"Iya." Jawab Wulan.


Terdengar suara klakson motor dari luar.

__ADS_1


"Itu pasti Mbak Leni." Wulan beranjak dari ayunan. Ia lantas berjalan masuk ke dalam rumah, melewati ruang olahraga dan ruang tengah lalu menuju ke ruang tamu. Sesampainya di luar rumah, ia melihat sang driver sedang memarkirkan motor.


"Mau kemana Bumil, apa mau melahirkan?" Mbak Leni berjalan kearah teras rumah, dan melihat bumil telah bersiap.


Wulan tertawa kecil. "Haha.. enggak Mbak Len, belum waktunya, kata bidan bisa dua mingguan lagi"


"Kan mulesnya bisa maju bisa juga mundur Lan, itukan hanya perkiraan bidan."


"Iya Mbak, tapi aku belum merasakan apa-apa, si dede bayi juga sepertinya masih betah dalam perutku."


"Terus, kamu sudah cantik begini mau kemana?" Mbak Leni bertanya seraya memperhatikan penampilan Wulan yang cantik alami dengan menggerai setengah dari rambut yang dijepit ke atas dan memakai pakaian pas untuk Ibu hamil.


"Aku mau ke pabrik, Mbak."


"Oh gitu." Mbak Leni duduk di kursi kayu teras rumah.


"Tunggu sebentar ya Mbak Len, aku mau ambil kuncinya dulu." Wulan melihat Leni mengangguk, ia bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil kunci mobil serta tas kotak makan siang Damar. Saat kembali ke teras, sudah ada Bu Suci sedang berbincang ringan dengan Mbak Leni.


"Bu, Wulan pamit yah." Wulan menyalami tangan Ibu mertuanya.


"Iya, hati-hati nduk." Jawab Bu Suci, lalu beralih menatap Mbak Leni. Sang driver panggilan berusia 34 tahun. "Nak Leni, nyetir mobilnya jangan ngebut." Ucapnya penuh peringatan.


"Siap Bu Suci." Mbak Leni sudah berdiri dan mengangguki peringatan Bu Suci.


"Ini Mbak kuncinya." Wulan memberikan kunci dan diterima oleh Leni.


Sebelum pergi, Wulan tersenyum kearah Ibu mertuanya, lantas menyusul Mbak Leni yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobilnya yang terparkir dihalaman rumah, ia membuka pintu samping jok kemudi lalu duduk seraya memeluk tas kotak makan siang milik suaminya.


Perlahan mobil yang dikemudikan Mbak Leni meninggalkan halaman rumah Wulan. Setelah mobil yang membawa Wulan tidak terlihat, sambil menunggu Danum datang. Bu Suci berjalan menuju halaman depan dan ke samping rumah. Menyusuri setiap apa yang dilaluinya.


Bu Suci melihat keadaan sekitar, siapa tahu ada benda mencurigakan seperti benda-benda yang ditemukan oleh Wulan. Bu Suci membulatkan matanya kala melihat tusuk konde perak yang jatuh di samping pendopo kecil. Atau lebih tepatnya saung.


Bu Suci membungkuk lalu mengambil tusuk konde perak. "Punya siapa ini?"

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2