Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 30_


__ADS_3

Tidak adanya kendaraan roda empat, tidak pernah menjadi masalah buat Damar. Karena transportasi apapun asalkan bisa digunakan selagi masih bisa membawa Wulan ke petugas medis terdekat, apapun itu, mau bidan atau dokter kandungan yang paling penting adalah yang terdekat jaraknya dari rumah.


Dengan membawa satu tas berukuran cukup besar berisikan pakaian persalinan, yang sudah jauh-jauh hari sudah di persiapkan, di rumah lama ataupun di rumah yang berada di desa Pandansari.


Wulan ataupun Damar berpikir masak-masak, jika sewaktu-waktu terjadi hal kontraksi rahim seperti ini, maka tinggal membawa segelas perlengkapannya saja. Itu semua tak lepas dari saran Bu Suci.


Damar sangat bersyukur motor Vespa ini selalu standby di rumah lama. Motor yang selalu bisa di andalkan, dari zaman dia masih merintis karir sebagai penjual cilok keliling sampai dia bisa mengembangkan bisnisnya menjadi olahan cilok kemasan.


Remasan tangan Wulan sangat kuat di jaketnya. Bahkan sampai pada kulit perutnya, kian menjadi remasann yang menyakitkan, tapi tak mengapa, rasa sakit akibat di cengkram tangan Wulan tak seberapa dibandingkan istrinya yang sedang menghadapi rasa sakit yang teramat sangat bertubi-tubi.


Damar maupun Wulan sudah membaca riset seperti apa rasanya ketika akan melahirkan. Meskipun Damar tidak tahu seperti apa rasanya dan tidak bisa membayangkan, tapi setidaknya mereka tahu untuk berjaga-jaga agar tidak dalam kepanikan yang sangat luar biasa.


Mereka sudah mempersiapkan semuanya.


Akhirnya perjalan di jam dua dini hari terlewati, angin malam tak bisa mendinginkan suasana perasaan yang sudah menjadi antah berantah ini.


"Pelan-pelan saja." Damar membantu menurunkan istrinya dari boncengan motor Vespa.


Wulan terus mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Dia membaca tulisan bidan Diana, bidan yang sering dia datangi untuk memeriksa setiap bulan kehamilannya.


Dengan di bantu Damar, Wulan berjalan menahan susah sekaligus menahan rasa sakit di bagian pinggul, paha bawah dan kram perut. Rasanya seperti nyeri haid, tapi ini berkali-kali lipat dari nyeri haid, bahkan dia merasa ingin buang air besar.


Bidan ini buka 24 jam..


"Assalamualaikum..." Damar membuka pintu kaca klinik, dia masih menuntun Wulan untuk masuk kedalam ruangan yang di dominasi warna pink dan putih.


"Wa'alaikumussalam, eh Mbak Wulan, Mas Damar. Wah sepertinya kontraksi rahimnya lebih cepat dibanding tanggal yang sudah ditentukan yah?" seorang perawat jaga yang sudah mengenali Wulan langsung tahu. Karena setiap bulan dan masa mendekati hpl maka akan bertemu dengan Wulan.


"Iya Sus, kontraksinya sangat mendadak." jawab Damar ramah.


Wulan tak menjawab, dia hanya tersenyum ramah. Rasanya sangat menggigil dan membuatnya tidak ingin banyak bicara. Meskipun sudah membaca riset tentang kehamilan, tapi bukan berarti dia tidak merasakan ketakutan.


Perawat membantu Wulan untuk berbaring di atas brankar. Seorang lagi perawat jaga keluar dari ruangan lain.


"Vel, telpon Bu Diana." kata Rania pada rekan sejawatnya. Karena Bidan Diana tinggal di rumah yang bersebelahan dengan klinik.


"Iya Mbak." jawab perawat yang di panggil Vel, Velli.


Damar terus mengusap perut Wulan, tidak tega kala melihat wajah istrinya yang pucat dan keningnya berkerut, peluh juga menghiasai sebagian wajah Wulan.


"Sabar yah.." ucap Damar, rasanya ia ingin menangis, rasanya biar dia saja yang merasakan kenikmatan sakit yang dirasakan Wulan. Sungguh, cengkraman tangan Wulan sangat kuat, seperti menyelaraskan rasa sakitnya.


"Kamu belum mengabari Ibu dan yang lainnya." ucap Wulan berusaha tenang, meskipun dalam hati sangat takut.


Tak lama Bidan Diana datang, setelah berbasa-basi sesaat, Bidan Diana memeriksa jalan lahir bayi.


Sedangkan Damar di luar ruangan yang digunakan untuk proses persalinan. Dia menghubungi semua orang, termasuk Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia. Begitu pula dengan Bokir. Setelah di rasa semua orang sudah dia hubungi. Damar kembali ke ruangan persalinan, netranya melihat Bidan Diana sedang memeriksa tensi darah.


"Mas Damar bisa menunggu di depan." Bidan Diana berkata pada Damar.


"Tolong Bu Bidan, saya ingin menemani istri saya, saya ingin ada saat dia membutuhkan sesuatu untuk berpegangan maupun mencengkram saat proses yang menyakitkan ini, biarkan saya di sini menemaninya." ucap Damar seperti memohon

__ADS_1


Damar menatap sang istri penuh dengan cinta dan rasa bangga.


Apa boleh buat, Bidan Diana dan dua perawat akhirnya memperbolehkan Damar berada di ruang bersalin bersama dengan Wulan yang telah siap akan melahirkan.


Wulan merasa lebih tenang, sedikit bisa menepiskan rasa takutnya akan sesuatu yang buruk terjadi. Dia merasa sangat senang, Damar sudah lebih baik dari kemarin. "Mungkinkah guna-guna itu tidak akan merasuki suamiku?"


Entah mengapa, meskipun proses melahirkan ini sudah ada di depan mata, bahkan bisa saja merenggut nyawanya. Tapi yang ada di pikiran Wulan hanya tentang Damar, mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu.


Bagi siapapun yang belum pernah merasakan proses ini, pasti tidak bisa membayangkan, tapi bagi siapapun wanitanya yang telah rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkan sang buah hati, pasti tahu rasanya seperti apa.


Sangat menyakitkan seperti rahim yang menegang, tulang belakang seperti terlepas rasanya tidak karu-karuan, berkali lipat dari sakitnya kram perut saat mentruasi, benar-benar perjuangan seorang Ibu sangat luar biasa.


Bidan Diana memberikan arahan pada Wulan, kapan harus mengejan, kapan harus mengatur nafas.


"Tarik nafas Mbak Wulan.. lalu hembuskan perlahan saja." kata Bidan Diana.


Berulang kali Wulan menarik nafas dan kemudian mengejan sekuat tenaga. Rasanya tulang-tulangnya gemeretak, dia mencengkram kuat lengan Damar.


"Ya Allah, Damaaaar sakit sekali... huh...huh..huh." suara Wulan terbata-bata mangatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Istighfar, sayang, istighfar." ucap Damar tak kalah paniknya menemani sang istrinya bersalin. Betapa mulianya menjadi seorang wanita, Damar berzikir dalam hati, dia terus menyebul ubun-ubun Wulan. Tak mengapa jika tangannya dicengkeram sangat kuat oleh Wulan, bahkan tak mengapa jika tangannya sampai berdarah, karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Wulan saat ini.


"Ayo Mbak Wulan, dorong lagi, terus Mbak, tarik nafas, keluarkan, huh...huh...," ucap Bidan Diana memberi pengarahan kepada Wulan.


"Huh...eeeeee...huh....huh...Allahhu Akbar." ucap Wulan mengatur ritme nafasnya yang tak beraturan.


"Ayo Mbak, sekali lagi, tarik nafas keluarkan. Kepalanya sudah hampir keluar." Bu Bidan melihat kepala bayi yang keluar.


Damar yang menemani istrinya pun tak kuasa menahan tangis, perjuangan antara hidup dan mati sedang dipertaruhkan, inilah jihad. Semoga saja bayi serta istrinya selamat. Sangat amat begitu besarnya perjuangan sang istri, mau mengandung anaknya, juga melahirkan yang taruhannya nyawa terlebih lagi nanti mendidiknya.


Bayi berjenis kelamin laki-laki keluar membersamai dengan darah dan ketuban yang mengalir begitu derasnya setelah bayi keluar. Tak lama ari-arinya pun menyusul keluar dari dalam perut Wulan.


"Alhamdulillah..." ucap Bidan Diana, "selamat Mbak Wulan, Mas Damar, bayinya laki-laki." lanjutnya lagi, melihat bayi yang masih berlumuran darah berjenis kelamin laki-laki.


"Alhamdulillah ya Allah." Damar menangis terharu, dia berulang kali mengucap syukur dan secara refleks bersujud. Atas kelahiran buah hatinya. Damar kembali berdiri dan menghujani wajah Wulan dengan ciumannya. Tak perduli dengan Bidan dan perawat yang masih berada di ruang bersalin ini.


"Terimakasih sayang." ucap Damar sepenuh hati, lalu kembali mencium kening sang istri dan memegangi tangannya.


Rasa syukur juga di rasakan Wulan, dia teramat-amat sangat bersyukur dan bernafas lega, meskipun dalam keadaan lemah dan tak berdaya tapi Wulan masih bisa tersenyum tipis. Tapi ada yang mengganggu pikirannya, kenapa anaknya tidak menangis. Seketika itu rasa takut menyeruak menusuki relung hatinya.


"Bu Bidan, kenapa anak saya tidak menangis?" ucap Wulan bersuara sangat lirih nyaris seperti bisikan.


Begitu juga yang di rasakan Damar, yang tidak mendengar bayinya menangis, dia melihat bayinya di taruh di atas dada Wulan.


"Tenang saja Mbak Wulan, Salah satu penyebab bayi tidak menangis saat dilahirkan adalah asfiksia. Kondisi ini terjadi ketika bayi tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses kelahiran. Beberapa penyebab asfiksia pada bayi baru lahir adalah: Sumbatan dan halangan di jalan napas bayi, misalnya oleh lendir, cairan ketuban, atau mekonium, dan ini normal." jawab Bidan Diana menjelaskan.


Tak berselang lama seolah merasakan kontak batin dengan Ibunya yang sedang dalam ketakutan, bayi mungil yang masih berlumuran darah ini menangis.


"Oeeek... Oeeek... Oeeek..."


Bayi baru lahir yang diletakkan pada dada atau perut sang ibu, secara alami dapat mencari sendiri sumber air susu ibu (ASI) dan menyusu. Proses penting inilah yang disebut inisiasi menyusui dini (IMD).

__ADS_1


Wulan merasakan pergolakan batin yang sangat luar biasa saat bayinya seperti mencari putiing. Dalam hatinya berkata. "Aku sudah menjadi seorang Ibu."


Tak dapat di ucapkan lewat kata-kata betapa bahagianya kala mendengar tangisan bayi, rasa syukur kembali dirasakan oleh pasangan suami-isteri ini. Damar tersenyum, tapi air matanya menetes. Inilah air mata bahagia. Begitu juga dengan Wulan, berulang kali dia menghela nafas panjang setelah sesaat dia merasa nafasnya seakan tercekat di tenggorokan.


"Alhamdulillah Ya Allah." lirih Wulan berkata, dan di raih oleh suara Damar.


"Alhamdulillah.." ucap Damar penuh rasa syukur.


Setelah dua menitan bayi mungil ini di atas dada sang Ibu barulah perawat kembali mengambil bayi yang masih berlumuran darah untuk dibersihkan. Ditimbang berat bayi 3 kg.


Setelah bayi di bersihkan dan di pakaikan bedong, barulah diberikan pada sang Ayah untuk selanjutnya di adzan'i.


Perawat juga nampak sibuk membersihkan segala perlengkapan bersalin.


Di luar ruangan bersalin, segerombolan orang-orang mulai berdatangan, siapa lagi jika bukan Bu Suci, Danum, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia.


Keempat orang ini langsung heboh, saat Damar yang sudah diizinkan oleh Bidan Diana untuk membawa bayinya ke luar ruangan bersalin.


"Alhamdulillah cucuku.." ucap Bu Suci, setelah sesaat menggendong bayi yang berjenis kelamin laki-laki karena pada berebutan antara Danum, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia Bu Suci lebih baik mengalah dan lebih baik melihat keadaan Wulan.


"Bu sini gantian sama Danum." ucap Danum ingin menggendong keponakannya.


"Danum, Memangnya hanya kamu yang ingin menggendongnya, sini berikan pada Kakek." ucap Kakek Bagaskara.


"Walah Kakek, Nenek juga mau menggendong cicit Nenek." kata Nenek Ayudia tidak mau kalah.


Bu Suci melihat keadaan Wulan yang tidak berdaya di atas brankar, mengingatkannya pada saat melahirkan Damar dan Danum. "Alhamdulillah nduk, selamat kamu sudah menjadi Ibu."


"Terimakasih Bu, dan Wulan minta maaf. Jika selama ini Wulan sudah menjadi anak durhaka." Jawa Wulan lirih.


Begitu juga yang dilakukan oleh Damar, pria ini sujud. Bersimpuh di kaki sang Ibu. "Maafkan Damar Bu, maafkan Damar."


Bu Suci merengkuh tubuh putra sulungnya untuk kembali berdiri. Serta mengusap wajah Damar. "Alhamdulillah kamu sudah lebih baik Nang." Bu Suci juga mengusap pucuk kepala menantunya.


"Alhamdulillah Bu, ini semua berkat doa Ibu, dan doa istri yang selalu sabar. Terimakasih wanita-wanita hebat." ucap Damar penuh rasa syukur, Damar memeluk Ibunya dan sesaat kemudian memeluk sang istri. "Terimakasih sayang, kamu adalah wanita hebat, dan akan tetap menjadi wanita hebat untukku. Aku mencintaimu.."


Wulan membalas pelukan Damar. "Aku juga mencintaimu, Damar."


Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti tidak akan terlepas dari permasalahan yang hadir silih berganti. Tidak jarang banyaknya permasalahan tersebut membuat seseorang merasa terpuruk dan putus asa. Namun, tidak sedikit seseorang yang belajar dari masalah untuk menjadikan pribadi yang lebih baik.


...*****...


...SEKIAN...


...DAN...


...TERIMAKASIH...


Saya ucapkan banyak-banyak Terimakasih sudah sangat menyemangati saya sampai sejauh ini.


Terimakasih sedulur semuanya atas jejak dan partisipasinya.. Saya tahu dan sadar diri, jika karya saya masih banyak kekurangan. Maka sebab itulah, saya mohon maaf, apabila ada ucapan atau penyampaian yang tidak berkesan dan bertele-tele.

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


[Catatan, siapa yang ingin bonus chapter? Komen yah 😊]


__ADS_2