Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 24_


__ADS_3

Wulan mengernyitkan dahinya. Bingung dengan ucapan yang dilontarkan Farhan. Entah apa yang membuat pria ini seolah bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya. Seolah dengan ungkapan makna Istimewa dan diabaikan adalah dua kata yang mewakili perasaannya.


Namun bagi Wulan, hal apapun yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Seharusnya ia tak terbawa perasaan. Karena orang lain hanya melihat tanpa merasakan, dan itulah logikanya.


Wulan berprinsip jika ia tidak keras terhadap dirinya, maka ia akan dengan mudahnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain. Dan ia tidak mau orang lain akan menganggapnya sebagai wanita yang tidak punya pendirian jika mudah percaya dan baperan.


"Tak ada yang perlu dikeluh-kesahkan, sebab masih ada Tuhan yang takkan meninggalkan. Istimewa dan diabaikan tidak ada kaitannya denganku, jadi apa maksud anda mengatakan hal itu?" Wulan beranjak dari duduknya, ia tahu jikalau Farhan pernah sangat berarti dalam hidupnya. Karena pria ini pernah menyelamatkan nyawanya, namun bukan berarti pria ini juga bebas menilai berdasarkan asumsi saja.


"Maafkan aku, kalau seandainya ucapanku menyinggung ataupun tidak berkenan di hatimu. Tapi akau hanya berniat menghibur mu, Wulan. Aku tidak bisa melihat kesedihan di raut wajahmu." kata Farhan merasa tidak enak hati, melihat respon Wulan.


Wulan menadahkan wajahnya, menahan air mata yang sejak tadi masih membendung di kelopak matanya. Tangannya terkepal kuat-kuat, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Please Farhan, kamu tidak tahu dan tidak mengerti. Apa yang kamu katakan hanyalah bualan. Aku akan menganggap tidak mendengarnya." kata Wulan dengan gigi dikeratkan.


Farhan melihat Wulan sudah berdiri, dan itu cukup membuatnya merasa bersalah telah mengucapkan kalimat yang di sangka Wulan hanya berdasarkan asumsinya saja. Mungkin wanita lain bisa saja tersentuh dan langsung mengungkapkan isi hati dan permasalahannya, namun itulah yang menarik dari seorang Nawang Wulan, wanita yang tegar.


"Bagaimana jika aku pernah melihat Damar berjalan dengan seorang wanita?"


Namun hal itu, Farhan katakan hanya di dalam hatinya saja. Ia tak berani lebih jauh lagi menyakiti hati Wulan. Dengan mengadukan apa yang dilihatnya kemarin. Melihat keadaan Wulan yang nampak tertekan saja sudah membuat Farhan menerka-nerka mungkin saja Wulan sudah tahu persoalan Damar bersama dengan wanita yang dilihatnya dua hari lalu. Secara Wulan adalah mantan Intel, dan sangat tidak mungkin untuk bisa membohongi Wulan.


"Maafkan aku Wulan, aku hanya berasumsi saja. Aku memang sok tahu, aku hanya kangen teman masa kecilku yang ceria dan penuh dengan ceritanya." kata Farhan, dilihatnya wajah Wulan dari samping.


Wulan sedang mengedarkan pandangannya, rasa di hatinya semakin berkecamuk. Ia mencoba untuk bertahan dan terus bertahan. Agar hatinya tidak mudah goyah dan tidak membuatnya menceritakan tentang rumah tangganya dengan orang lain.


"Aku tidak melupakan hutang nyawaku padamu, namun hanya menjaga jarak dengan kenangan. Aku tidak mengabaikan, namun hanya hati-hati dengan perasaan. Karena, aku adalah Wulan yang berbeda dari masa saat kamu mengenal Wulan sewaktu kecil."


Terhenyak mendengar jawaban Wulan. Farhan kian tersenyum getir. "Kenapa kamu mengungkit kembali hal itu? Aku hanya ingin dekat denganmu, hanya itu saja Wulan."


"Dekat?" Wulan tidak mengerti maksud dari Farhan. Ia memutar badannya, kini menghadap Farhan yang masih duduk di bangku kayu.


"Kembalilah menjadi teman dekatku, lupakan jika kamu pernah tahu bahwa aku pernah menyukaimu." Farhan bersitatap penuh harap, Wulan adalah satu-satunya wanita yang membuatnya terlena dan merasa apa itu denyut nadi cinta. Dan ia juga sadar, memiliki Wulan adalah sebuah kemustahilan, sebab itulah. Ia ingin menjadi teman, dan hanya teman saja.


"Maaf Farhan, kita bisa saja menjadi teman, tapi untuk menjadi dekat, aku tidak bisa," Wulan membuang tatapannya ke penjuru jalanan yang terlihat cukup lengang.


Farhan tersenyum kecut, ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Wulan. Justru membuatnya merasa malu dan sadar diri. "Siapalah Farhan sekarang ini bagimu, Wulan. Aku hanyalah pengagum rahasia mu, yang selamanya hanya akan mengagumimu."


"Maafkan aku Wulan." kata Farhan serak basah menahan gejolak rasa hampa.


Wulan menggelengkan kepalanya. "Jangan minta maaf padaku Farhan, seharusnya aku yang meminta maaf padamu." Wulan kembali menatap Farhan yang menunduk. "Maaf aku tidak bermaksud mengabaikan kebaikan yang sudah kamu tawarkan, akan tetapi seharusnya memang ada jarak di antara kita. Agar kedepannya tidak ada kesalahpahaman."


Farhan mengangkat wajahnya bersitatap dengan manik mata Wulan, tiga detik kemudian Wulan yang lebih dulu mengalihkan pandangannya.


"Maaf Farhan, aku permisi. Jaga dirimu baik-baik." kata Wulan tanpa menunggu jawaban. Ia lantas berjalan meninggalkan Farhan, Wulan tidak mau mempunyai teman dekat di saat hatinya hancur seperti ini.

__ADS_1


Wulan tidak ingin merasa nyaman. Karena perasaan nyaman bisa menjebak ke hal yang cenderung negatif. Jikalau sudah nyaman, maka selebihnya akan merambah kearah hal-hal semacam curhat dan meluapkan segala isi hati serta persoalan yang dihadapi. Apalagi Farhan pernah sangat berarti di kehidupannya di masa kecil, ia tahu Farhan adalah pria yang sangat hangat dan penuh perhatian.


Dan Wulan cukup tahu untuk tidak berteman dekat dengan pria manapun selain suaminya sendiri. Karena seringkali keretakan dalam rumah tangga tak pelak dari adanya sering curhat dengan orang lain, yang bisa jadi seseorang yang diajak curhat bukannya memberikan arahan baik, akan tetapi tak sedikit pula yang memisahkan.


Wulan hanya ingin mencegah, daripada mengobati. Ia tidak ingin keretakan rumah tangganya, sampai di dengar dan di ratapi oleh orang lain. Cukup dia dan Sang Maha Kuasa yang tahu.


Leni menyusul Wulan, ia semakin bingung saja melihat gelagat Wulan yang sulit di tebak. Wanita tegar, tapi terlihat lemah, tapi wanita yang lemah tapi terlihat tegar. Ahh pusing sendiri jadinya. Cukup tugasnya adalah menjadi driver sekaligus menjaga bumil itu.


Farhan menatap kepergian Wulan nanar, entah mengapa ada yang mencubit hatinya kala melihat Wulan seperti itu. Ia hanya ingin menghibur, bukan untuk menjadi orang ketiga.


Tapi mengapa orang ketiga selalu dikaitkan dengan perpisahan dan sesuatu hal yang negatif dalam sebuah hubungan. Bukankah hubungan harus berlandaskan saling percaya?


"Wulan, benar atau tidaknya Damar menduakan mu, tapi aku tidak terima jika kamu tersakiti. Bagaimana pun juga kamu adalah cinta pertamaku, meskipun tidak berakhir manis." gumam Farhan seorang diri, sebelum kembali ke kantor. Farhan ingin sejenak menikmati waktu istirahatnya di taman.


Merasakan angin yang berhembus mesra di siang menjelang sore ini. Ia ingin menemukan wanita seperti Wulan, meskipun sangat jarang. Wanita itu mempunyai daya tarik yang luar biasa, seperti magnet.


"Damar sungguh beruntung memilikimu, Wulan." gumam Farhan lalu meminum jus jeruk dalam kemasan.


**


Di dalam mobil, Mbak Leni merasa sedang mengheningkan cipta. Tiada sepatah katapun Wulan membuka suara semenjak duduk di kursi samping kemudi.


Mbak Leni cukup tahu seperti apa tabiat Wulan, meskipun belumlah lama sangat ia mengenal bumil ini. Wulan tidak akan dengan mudahnya menceritakan masalah ataupun persoalan, Wulan adalah wanita pendiam yang pertama kali Mbak Leni temui. Selebihnya, Leni mengenal banyak teman wanita, pasti akan langsung mencarinya dan curhat.


Wulan bergeming


"Haisshh..." Mbak Leni mulai jenuh tingkat delapan. "Ehemm..." sekali lagi Mbak Leni berdehem, namun tetap saja Wulan masih diam dan tingkat kejenuhan Mbak Leni telah mencapai level sembilan. "Ehemm..." lagi dan sekali lagi Mbak Leni berehm-ehm, dan memang tidak ada respon. Padahal Wulan tidak tidur tidak pula menangis.


"Ketika kita menyadari bahwa sesuatu di dunia ini hanyalah sementara, maka kamu akan mengerti bahwa. Keluhmu perlu sujud, lelahmu perlu ibadah dan usahamu perlu pasrah..."


Mbak Leni membuka percakapan, ia tidak ingin lebih lama lagi untuk diam. Rasanya sangat pengab dan perjalanan menuju rumah terasa jauh jika tidak diselingi dengan obrolan.


Wulan tersentuh dengan ucapan Mbak Leni, namun tidak menjawab dan pandangannya masih mengedar menatap keluar jendela kaca mobil memandangi sejauh mana mata memandang.


"Terkadang yang membuat manusia lelah itu karena ketidayakinannya perihal persoalan-persoalan yang sebenarnya sudah ada di genggaman Allah. Ada saatnya kita harus menerima yang sudah Allah takdirkan untuk kita, karena setiap permasalahan pasti ada hikmah dan pelajaran yang tersirat untuk menjadikan kita seorang hamba yang tawadhu dan bersyukur."


Mbak Leni bicara lagi, secara tidak langsung ia merasa sudah memancing Wulan untuk bercerita, Mbak Leni melirik Wulan sekilas.


Wulan menghela nafas, ia lalu menoleh kearah wanita yang sedang fokus mengemudikan laju mobilnya. "Ada apa Mbak Leni, Mbak Len ada masalah?"


Mbak Leni terhenyak ia kembali melirik Wulan. "Lho, piye to Lan, bukankah kamu yang sedang ada masalah. Hayolah ceritakan biar hatimu lega, ndak jadi pendiam seperti ini. Aku tahu kamu orangnya nggak mudah curhat, tapi setidaknya akan melegakan hati. Ada apa denganmu sama Damar, tadi lihat kamu nangis di taman sesenggukan membuatku ndak tega, janji aku ndak cerita sama siapapun."


Mbak Leni menunjukkan dua jarinya.

__ADS_1


Wulan tersenyum simpul mendengar semua rentetan pertanyaan Mbak Leni, "Mbak, aku baik-baik saja. Bukankah seperti yang Mbak Leni bilang, kalau kita pasrahkan semuanya kepada-Nya, hati kita lebih ringan."


Entah kenapa Ucapan Mbak Leni bagaimana hujan yang mengguyur gersangnya gurun pasir. Wulan merasa sekarang lebih tenang dalam menyikapi persoalan menyangkut tentang Damar. Seperti yang pernah dikatakan Bu Suci dalam surah (QS. Ali Imran: 139) "Janganlah kamu kehilangan harapan dan jangan pula bersedih hati."


"Iya aku tahu, tapi apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku nggak tega lihat bumil ku sedih, apa Damar menyakitimu?" lagi Mbak Leni melirik Wulan yang sudah kembali menatap jalanan depan.


Wulan mencoba menetralkan perasaan gamangnya. Ia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.


"Suamiku mungkin tidak sempurna, tapi dia sangat sempurna di mataku, Mbak. Jadi sebelum aku merasa tersakiti olehnya, aku juga menyiapkan obatnya." Wulan menyandarkan kepalanya di kursi, ia memejamkan matanya dalam-dalam. Menikmati setiap sensasi anaknya menyapa. Secara refleks Wulan mengusap perutnya yang untuk kesekian kalinya anaknya menendang-nendang. "Mama di sini sayang."


"Aku berharap, sebagaimana kita sesama wanita. Kamu bisa bahagia Lan, apalagi sekarang ini akan ada seorang bayi yang hadir di tengah-tengah antara kamu dan Damar." kata Mbak Leni tersenyum simpul.


"Amin." jawab Wulan, menatap Mbak Leni.


"Mbak Leni, aku mau ke rumah lama." ujar Wulan saat akan mendekati persimpangan.


"Siap Nona, gitu dong, aku kan jadi semangat buat jadi driver kamu." Mbak Leni memasang lampu sen ke kiri dan membelok kemudi mobil, lalu mengikuti arah satu jalan menuju rumah lama Bu Suci.


**


Sementara itu di sisi lain Damar dan Danum sedang berkeliling kota guna mencari keberadaan Wulan. Setiap mobil yang sama persis dengan mobil Wulan akan diamatinya, dan setiap tempat yang pernah di kunjungi bersama dengan Wulan pun sudah Damar datangi, akan tetapi Damar belum menemukan keberadaan istrinya.


"Num, Mas khawatir sama Wulan, dimana dia ya kira-kira?" Damar celingukan mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan mata menjangkau penglihatan.


"Biasanya perempuan kalau lagi bad mood, mengunjungi tempat favoritnya." ujar Danum membersamai dengan menghentikan laju motornya di bahu kanan jalan.


"Taman ini salah satu tempat favorit Wulan, Num." ucap Damar, pandangannya meremang seolah ada kabut yang menyelimuti matanya.


Dari kejauhan Farhan melihat seseorang yang mirip seperti Damar. Guna memastikan ia mendekati dan memanggil suami Wulan. "Damar..."


Danum mengalihkan atensinya menatap seorang polisi.


Begitu pula dengan Damar, maniknya melihat seorang pria berseragam polisi memanggil dan mendekatinya. Damar masih ingat polisi yang memanggilnya adalah Farhan.


"Apa kabar?" Farhan mengulurkan tangannya kehadapan Damar.


"Baik." jawab Damar menjabat tangan Farhan.


"Apa kamu sedang mencari Wulan?" Farhan bertanya to the point, sebagai polisi ia memang tidak suka basa-basi.


"Dari mana anda tahu?" Damar menatap Farhan.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2