
Kadangkala perubahan akan membawa dampak pada orang-orang di sekitarnya. Entah itu perubahan baik, atau perubahan buruk.
Karena setiap insan pasti saling membutuhkan satu sama lain. Ketika kita tidak dibutuhkan lagi, maka kita hanya akan di anggap penghambat dan lama-lama kita juga akan ditinggalkan.
Wulan menatapi pintu rumahnya yang berwarna cokelat. Membayangkan jika ia tidak dibutuhkan lagi, membayangkan ia akan ditinggalkan, dan di kecewakan oleh suami yang sangat dicintainya.
Benar nasehat sahabat Rasulullah. Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Cintailah seseorang sekedarnya saja, bisa jadi apa yang kau cintai akan menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, bisa jadi apa yang kau benci akan kau cintai.
Seringkali, perubahan tidak menunggu kita siap atau tidak siap. Karena itu pasti akan terjadi. Yang membuat hati sangat kecewa adalah, kita seringkali dikecewakan oleh orang yang kita cintai.
Yah, Wulan menyadari bahwa ia belum siap atas perubahan sikap Damar yang kasar.
"Benarkah aku akan menjadi wanita yang tidak dianggap?"
Kehamilan dan perasaannya yang sensitif memang sangat membuat moodnya buruk dan mudah merengek, lebih cenderung cengeng, di tambah lagi jika memikirkan proses persalinan tinggal menghitung hari lagi.
Dua minggu, Wulan akan merasakan seperti apa sejarahnya seorang wanita melahirkan seorang bayi yang dikandung selama sembilan bulan yang akan disebut 'anak.
"Jikalau ayahmu tidak lagi mencintai Mamah, jangan pernah membencinya, anakku."
Tidak ingin menangis lagi, tidak ingin ada air matanya terus menerus menetes di pipi. Wulan mengusap air matanya kasar.
Bu Suci berjalan ke ruang tengah. Melihat Wulan sedang beringsut terduduk di lantai depan sofa. Beliau lantas menghampiri menantunya yang sedang merana karena sikap putranya.
"Wulan." Bu Suci berlutut di depan menantunya.
Wulan mengalihkan atensinya, ia menatap wajah Bu Suci.
"Jangan pikirkan ucapan Damar, ada Ibu anakku. Ibu akan terus menyayangimu, bahkan ketika anak Ibu itu menyakiti mu, Ibu tidak akan tinggal diam." Bu Suci paham betul, seperti apa rasanya dicampakkan oleh orang yang disayangi. Meskipun nasehatnya tidak cukup menghibur hati yang sedang di landa kesedihan. Namun beliau tidak ingin Wulan sedih berlarut-larut dalam menghadapi sikap Damar yang memang berbeda. Apalagi sekarang ini Wulan dalam keadaan hamil besar.
__ADS_1
"Wulan hanya merasa dia bukanlah Damar, Ibu. Damar tidak akan pernah menolak apa yang Wulan masak, masih ingatkah Ibu saat Wulan masaknya keasinan. Bahkan Damar tidak pernah berkata bahwa masakan Wulan asin, meskipun Ibu dan yang lainnya bilang asin." Jawab Wulan bersuara parau. Entah mengapa hatinya sangat sedih kala melihat penolakan dari sang suami yang selama ini berlaku sangat manis dan harmonis.
"Terkadang dalam hubungan pernikahan, tidak selamanya akan baik-baik saja Wulan. Kadang, tidak dari sikap suami yang berubah, ya bisa jadi sikap istri. Karena itulah, mengapa kita harus lebih banyak istighfar dan bersabar, dan hanya orang-orang terpilihlah yang dapat melewatinya."
"Wulan tahu, Bu. Dalam menjalani kehidupan sebagai suami istri tidak serta merta selalu harmonis dan manis. Wulan tahu itu, tapi kenapa hati Wulan sangat sedih. Apakah keikhlasan hati Wulan benar-benar sedang dipertaruhkan di sini?"
Wulan merunduk menatapi perutnya, sang jabang bayi menendang-nendang. Wulan spontan mengusap anaknya yang seolah memberi respon bahwa, "Mamah harus kuat."
Wulan menatap wajah Ibu mertuanya. Setidaknya, ia masih beruntung ada seorang wanita yang disebut mertua. Wanita paruh baya ini sangat menyayanginya, selayaknya anak perempuannya sendiri. Namun, meskipun begitu, tetap saja hatinya belum bisa benar-benar terhibur.
Sebagai seorang wanita, Bu Suci sedih melihat keadaan Wulan saat ini. Dalam kondisi hamil besar dan tinggal menunggu kapan pecah ketuban serta melahirkan. Seharusnya Damar lebih bersabar dan menjadi suami siaga.
"Jangan bersedih anakku, kamu bahkan belum makan. Kasihan cucu Ibu. Kalau kamu terus-terusan sedih, kan bayimu juga merasakan apa yang dirasakan oleh Ibunya." Bu Suci membantu Wulan untuk beranjak dan tidak lupa untuk memberikan nasehat yang sekiranya bisa membuat hati Wulan lapang atas sikap Damar.
Meskipun perasaannya gonjang ganjing, namun Wulan membenarkan apa yang Ibu mertuanya katakan. Seharusnya ia bersyukur dan merasa beruntung, ketika banyak orang yang mengeluhkan tinggal dengan mertua. Ia justru disayang, tak jarang pula sangat di perhatikan oleh Ibu mertuanya. Seolah, ia sedang mematahkan anggapan 'mertua' yang menjengkelkan.
"Terimakasih Bu." kata Wulan bersungguh-sungguh.
"Wulan, akan ada banyak cobaan dan ujian yang membentang di depan sana, untuk menguji iman. Untuk menghadapinya, kamu harus menjadi wanita yang tabah, tegar dan sabar. Percayalah sabar itu tidak terbatas, dan yakinlah kesabaran akan berbuah manis. Teruslah berdoa dan mintalah petunjuk pada Sang Khalik."
Bu Suci menunjuk pintu rumah yang terbuka lebar memperlihatkan halaman rumah, seolah sedang menunjukkan pada menantunya bahwa cobaan dan ujian membentang di depan sana. Lalu tangannya beralih menunjuk kaligrafi lafadz Allah.
Wulan melihat apa yang Bu Suci tunjukkan, ia mengangguki nasehat Ibu mertuanya. "Ibu Benar."
Wulan dan Bu Suci berjalan ke dapur dan duduk di kursi meja makan. Meskipun tidak lahap menyantap masakan yang ia masak sendiri, namun Wulan harus memenuhi nutrisi untuk calon anaknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Selepas makan, Wulan meminum vitamin yang diberikan oleh bidan ketika memeriksakan kehamilannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Bu, nanti tolong bantu Wulan masak yah. Wulan khawatir Damar belum sarapan. Wulan akan masak dan membawakannya ke pabrik." Pintanya.
__ADS_1
Bu Suci tersenyum simpul.
"Dengan senang hati cah ayu." Bu Suci melihat menantunya sangat baik hati, kelopak matanya berkaca-kaca. Beliau tak menyangka, meskipun Damar telah menolak sarapan yang ditawarkan Wulan pagi ini. Namun, Wulan nampak tidak menyimpan kekecewaan.
"Damar anakku, istri mu ini sungguh-sungguh mencintaimu dengan kemurniannya, jangan menyakiti hatinya, Damar. Atau kalau sampai kamu menyakitinya, maka Ibu lah yang harus kamu hadapi. Ibu tidak akan membiarkan kamu menyakiti hati Wulan yang tulus mencintaimu, anakku. Terlepas dari apa yang terjadi padamu saat ini, jangan pernah menyakiti hatinya."
Wulan kembali mengeluarkan sayur-sayuran dari dalam kulkas. Dengan dibantu Ibu mertuanya selama kurang lebih satu jam kemudian masakan capcay ayam dan perkedel jagung serta cumi goreng pun telah tersaji. Wulan menyiapkannya dan memasukkan kedalam kotak makan.
"Selesai." Wulan tersenyum penuh arti, "semoga dengan kedatangan ku ke pabrik Damar akan lebih baik."
Karena terbilang sudah sebulan terakhir Wulan tidak berkunjung ke pabrik.
"Bu, Wulan bersiap dulu." ucapnya melihat Bu Suci sedang menaruh sayuran kembali ke dalam kulkas.
"Iyah." Bu Suci tersenyum simpul membersamai dengan anggukan kecil.
Akan tetapi saat hendak meninggalkan dapur. Wulan teringat, lalu mengeluarkan sesuatu yang ia temukan saat menyirami tanaman dan menunjukkan pada Bu Suci.
"Bu, tadi Wulan menemukan ini."
Bu Suci tergelak saat melihat barang yang ditunjukkan oleh Wulan di atas meja. "Dimana kamu menemukan ini?"
"Di depan rumah, saat Wulan sedang menyirami tanaman." jawab Wulan.
Bu Suci terdiam, perasaannya tidak enak. Seolah memang sikap perubahan sikap Damar diperkuat dengan adanya guna-guna semacam pelet.
"Bungkusan ini ndak asing, seminggu lalu saya juga menemukan di depan rumah. Apakah ini sebuah pertanda kiriman dari seseorang?" Benak Bu Suci melihat kain putih dililit benang merah yang ditunjukkan Wulan.
...*****...
__ADS_1
Bersambung...