Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 06_Apakah ini pertanda


__ADS_3

Selesai dengan pekerjaannya di rumah. Kini Wulan sedang berada di halaman. Ia menyirami tanaman hias yang ditanam dua bulan yang lalu. Bukan hanya tanaman hias, ia juga menanam beberapa jenis sayuran seperti sawi hijau dan beberapa bibit tanaman cabai di rumah kaca.


Wulan menanam tanaman guna mengusir rasa bosan. Dikarenakan setelah tidak menjadi sekretaris Damar, tidak banyak yang ia lakukan selain pekerjaan rumah tangga yang sekarang ini dibantu oleh Ibu mertuanya.


Tak sengaja saat sedang menyirami tanaman di pekarangan rumah. Wulan melihat gundukan tanah, dahinya mengernyit heran. Rasa penasarannya tergugah.


Dengan bersusah payah berjongkok, Wulan mengorek gundukan tanah yang basah. Kelopak matanya terbelalak kala melihat kain putih dililit benang warna merah. Karena penasaran, Wulan membuka lilitan benang merah. Alirannya darahnya berdesir kala melihat isinya.


"Ya Allah apa ini? Tidak mungkin anak kecil memainkan benda-benda seperti ini. Apakah ini pertanda bahwa ada seseorang telah menggunakan ilmu guna-guna kepada Damar," menyeruak ruak di hati Wulan, kala mengingat perubahan sikap Damar. "Ya Allah jangan sampai mengganggu keluarga maupun rumah tangga hamba."


Wulan kembali berdiri, masih memegangi benda temuannya dan selang yang masih menyala.


Saat pandangannya mengedar, tatapan Wulan membulat kala melihat suaminya memapah seorang wanita muda yang masih terlihat cantik dan gemoy. Istri mana yang tidak panas hati melihat tiada jarak diantara suaminya dan wanita itu.


Tanpa sadar Wulan mengantungi barang temuannya di saku daster. Dan menjatuhkan selang air yang masih menyala di tanah, kemudian menghampiri suaminya yang baru memasuki halaman rumah.


"Kang Cimar?" Wulan memanggil suaminya sedikit meninggikan suara.


Damar tidak terkejut mendengar suara sang istri, karena dari kejauhan ia sudah melihat istrinya itu sedang menyirami tanaman.


Sedangkan Anggi dengan sengaja bergelayut manja di lengan Damar. Tatapannya menatap Wulan penuh arti, hanya Anggi yang tahu apa yang ada di lubuk hatinya.


"Jangan marah dan salah paham, aku hanya membantunya, karena kakinya terkilir." Damar melihat sorot mata Wulan yang seakan ingin menerkamnya.


Wulan menatap wajah dari seorang wanita yang sedang bergelayut manja di lengan Damar. Sama sekali tidak memperlihatkan kesakitan. Ia kembali menatap suaminya. Dilihatnya Damar terus berjalan lalu menyandarkan sepeda di bawah pohon mangga dan membantu wanita muda itu duduk di kursi teras rumah.


"Kamu duduk di sini dulu Ngi." Damar meminta Anggi untuk duduk di kursi kayu.


"Terimakasih dan saya minta maaf, saya sudah merepotkan Pak Damar." Anggi berkata demikian bernada suara sangat lembut.

__ADS_1


Damar menggeleng.


"Minta maaf untuk apa? Saya senang bisa membantu mu." Damar tersenyum simpul ia masih berdiri, sesaat kemudian menatap istrinya yang masih berdiri dihalaman rumah.


Ada rasa terbakar dalam hatinya, Wulan merasa tidak nyaman melihat suaminya akrab dengan wanita lain. Meskipun itu hanya sekedar membantu. Wulan menghampiri Damar dan wanita muda yang telah duduk di kursi kayu.


"Wulan, tolong buatkan Sekretaris Anggi minum. Mungkin dia masih syok karena terjatuh tadi." Damar menatap istrinya.


"Dia nampaknya baik-baik saja sayang, jadi kenapa kamu repot-repot menuntunnya segala." Wulan menatap kesal kepada wanita bernama Anggi.


"Tidak usah Pak, saya juga tidak haus. Lagipula benar apa kata istri Bapak, saya seharusnya sadar diri dan pulang." Kata Anggi memelas. Ia menarik sudut bibirnya pada saat bersitatap dengan Wulan.


"Tidak Sekretaris Anggi, sebentar kamu tunggu di sini." Damar menatap Wulan tajam, ada rasa tidak terima Wulan berkata kasar pada sekretaris barunya.


Dengan kasar Damar menarik tangan istrinya untuk masuk kedalam rumah, sampai pada ruang tamu ia baru melepaskan cekalan tangannya.


Wulan meringis menahan sakit, akibat tangannya yang dicengkeram kuat oleh Damar. "Kamu menyakiti ku Damar."


Wulan memejamkan matanya dalam-dalam hatinya seperti tersayat pisau mendengar jawaban dari Damar.


"Wulan, kamu tidak biasanya bersikap kasar terhadap tamu yang datang, apa yang terjadi padamu?" Damar berkata menahan amarah.


"Tadi aku melihat senyuman dia seperti mengejek pada ku, Damar." Wulan menjelaskan kepada Damar ketika wanita bernama Anggi itu menatapnya dengan seringai senyuman devil.


"Dan seharusnya aku yang bertanya Damar, apa yang terjadi padamu. Perkara begitu saja kamu harus menarik ku kedalam dari hadapan sekreta-?" Wulan menjeda ucapannya di ujung lidah, "apa tadi kamu bilang, dia sekretaris baru mu? Orang yang menggantikan Bu Pertiwi?" Wulan merasa tidak suka dengan sekretaris baru suaminya, bukan masalah wanita itu muda dan cantik, namun Wulan menangkap sikap yang kurang aja pada sekretaris baru suaminya.


Damar mengibaskan tangannya. "Tidak terjadi apa-apa padaku, kamu yang terlalu berlebihan, Wulan. Dan iya, dia memang sekretaris ku, dan seharusnya kamu memperlakukannya dengan baik, karena aku sudah-" ucapan Damar mengambang.


"Sudah apa Damar? Ayo lanjutkan, aku ingin dengar. Sikapmu seminggu ini sudah berubah, siapa wanita yang kamu sebutkan semalam telah menawan mu, apakah wanita itu, hah?" Kata Wulan, tak tertahankan lagi perasaan kesalnya yang terpendam atas sikap perilaku Damar yang berubah menjadi kasar.

__ADS_1


"Wulan!" Damar mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan ke wajah Wulan. Namun, ia urungkan, saat sekilas menatap sorot mata lembut istrinya. Ia meremass rambutnya kuat-kuat kala mendengar seperti mantra di telinganya.


Wulan terperanjat melihat tangan Damar yang terangkat, dan detik berikutnya suaminya itu memegang kepala serta meremass rambut. Ia berjalan selangkah mendekati Damar, lalu memegang lengan suaminya.


"Kamu kenapa Damar?" Wulan bertanya sangat khawatir.


Damar mengibaskan tangan Wulan sampai Wulan terhempas dan hampir jatuh ke lantai, untung saja Wulan langsung tanggap untuk menahan agar tidak terjatuh dan bisa membahayakan kehamilannya.


"Damar!" Keluh Wulan atas perlakuan kasar Damar, bahkan suaminya tidak langsung sigap menolongnya saat akan terjatuh.


"Sudahlah! Tadinya aku ingin meminta maaf padamu, tapi melihat sikap posesif nya kamu sekarang. Aku sadar, kamu memang wanita yang pencemburu dan mudah marah, bukan hanya itu. Kamu berpikir negatif kerap kali aku dekat dengan wanita meskipun itu pegawai ku sendiri. Kamu tahu, Anggi adalah pegawai ku, jadi sudah seharusnya aku menolongnya." Damar berkata dengan runtutan perkataan yang cepat.


Wulan tidak habis pikir mengapa suaminya ini harus memarahinya hanya karena masalah sepele, tidak peka kah suaminya itu. "Aku tidak bermaksud cemburu Damar. Aku hanya ingin kamu lebih menjaga perasaan ku."


"Menjaga perasaan yang bagaimana menurutmu? Aku selalu menjaga perasaan mu, tapi kamu yang terlalu cemburu dan negatif, bahkan overprotektif!" Damar masih tidak melunakkan suaranya.


"Ada apa ini? Kenapa ribut Damar Wulan. Kalian sadar, jika suara kalian sampai terdengar ke kebun belakang, malu kalau sampai pertengkaran kalian sampai didengar tetangga!" Kata Bu Suci menengahi pertengkaran diantara anak dan menantunya.


Bu Suci yang sedang berada di kebun belakang mendengar perdebatan yang terjadi diruang tamu, beliau melihat Wulan dan beralih melihat Damar yang memang nampak sedang marah.


Damar melihat Ibunya sekilas. "Tuh menantu kesayangan Ibu, bilang ke dia jadi istri itu jangan mudah marah dan cemburu buta! Tidak jelas, sangat menyebalkan!"


Wulan menggelengkan kepala menyanggah tuduhan yang dialamatkan Damar padanya. "Bukan seperti itu Bu, aku hanya tidak suka melihat wanita itu. Dia sudah tersenyum seperti mengejekku, ditambah lagi wanita itu sekretaris baru Damar."


"Wanita? Wanita siapa?" Bu Suci bingung dengan adanya seorang wanita yang diperdebatkan Wulan dan Damar.


"Alah sudahlah Wulan kamu tidak usah mengelak, jelas-jelas kamu itu wanita yang sangat cemburuan. Iya kalau cemburu mu itu jelas. Kalau tidak jelas, hanya akan membuatku ilfil saja!" Damar berkata dengan nada marah seraya menunjuk-nunjuk istrinya.


"Tega kamu Damar, tega kamu telah mengatakan itu padaku." keluh Wulan bersuara dengan gigit dikeratkan.

__ADS_1


*****


Bersambung


__ADS_2