Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 08_Menjadi wanita tegar dan sabar.


__ADS_3

Membina bahtera rumah tangga bukanlah seperti saat menjalin hubungan pacaran. Ketika janji suci pernikahan telah diucapkan, maka ada tanggung jawab dalam menjaga janji suci itu hingga akhir hayat.


Terwujudnya suatu keberhasilan terletak pada suasana rumah tangga dan keluarga yang bahagia. Aku tidak boleh murung seperti ini, aku harus kuat, jika aku lemah dan lengah. Maka hanya kesedihan ini yang kurasakan.


Wulan melihat Damar keluar dari dalam kamar.


"Kang Cimar ayo sarapan?" Tawarnya halus.


"Nggak perlu, aku sarapan di pabrik." Damar berjalan ke ruang tengah dan meletakkan tas hitam biasa ia bawa untuk membawa dokumen.


Mendengar jawaban Damar yang menohok. Membuat Wulan sedih, apa artinya makanan yang sudah ia sajikan di atas meja, bahkan ia rela sampai tangannya terciprat minyak panas ketika memasak.


Bu Suci menghela nafas, dilihat olehnya Wulan nampak sedih seraya menatap hidangan yang tersaji di atas meja. Beliau lantas menghampiri menantunya yang sedang berdiri di dekat meja makan. Beliau mengusap bahu Wulan. "Sabar nak, coba kamu dekati dia."


Wulan melihat wajah Ibu mertuanya yang menampilkan mimik wajah teduh. Sangat tenang, sama seperti Damar, namun Wulan memperhatikan beberapa hari belakangan ini Damar telah bersikap dingin, tak acuh. Wulan tetap menuruti perkataan Ibu mertuanya. Berjalan ke ruang tengah dan menghampiri Damar yang duduk di sofa nampak sedang mengancingkan kemeja berlengan panjang.


"Biar aku bantu." Wulan duduk di sebelah Damar, lalu memegang lengan suaminya.


Damar enggan Wulan menyentuhnya, ia menarik tangannya secara paksa dari genggaman tangan Wulan. "Aku bukan anak kecil, aku bisa melakukannya sendiri."


Wulan menatap Damar nanar, hatinya semakin tersayat sembilu, hampir setiap hari Damar memintanya untuk mengancingkan kemeja, tapi kali ini?


Wulan menghela nafas panjang, mencoba untuk membebaskan hatinya dari rasa beban yang menganak kearah kekecewaan.


Pernah bekerja sebagai mantan Intel. Membuat perasaan Wulan sangat peka ketika terjadi sesuatu yang diamatinya telah berubah sikap. Jangankan sikap suami, sikap temannya saja mudah untuk ia baca.


Meskipun terbilang pasangan harmonis, memang tidak dipungkiri bahwa pertikaian kecil kerap kali terjadi dan bisa dimaklumi sebagai bumbu penyedap dalam menjalani biduk rumah tangga yang baru seumur jagung ini.

__ADS_1


Namun berbeda dengan sikap dan perubahan yang terjadi pada Damar beberapa hari belakangan ini, sikap sang suami mulai berubah semenjak pulang dari Jakarta minggu lalu.


Seminggu setelah pulang dari Jakarta untuk menemani sang suami berbisnis, Wulan dan Damar menyempatkan diri untuk menjenguk keluarga besar Wulan yang sebagian besar memang ada di Ibu kota metropolitan.


Damar beranjak dari duduknya setelah memakai jas berkancing satu di depan. Bisa dikatakan jas yang bisa di pakai secara formal maupun kasual.


Wulan merunut pandangannya menatap suaminya yang sudah beranjak dan juga mengambil tas. "Kamu nggak sarapan dulu, aku udah masak nasi goreng kesukaan mu, Kang Cimar?"


Kang Cimar, adalah sebutan sayangnya Wulan kepada Damar yang notabene adalah usahawan cilok.


"Aku sudah bilang, aku mau sarapan di pabrik. Lagian aku tuh bosen makan masakan mu." Damar berkata sambil berlalu ke dapur, namun bukan meja makan tujuannya. Ia mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser lantas meminumnya sampai tandas. Dilihatnya juga Ibunya yang sedang duduk di kursi meja makan. "Damar berangkat dulu Bu." Sekilas Damar melirik makanan yang tersaji di meja makan, namun ia tak berselera.


"Sarapan dulu nak, kamu harus menghargai jerih payah istrimu. Kamu ndak melihat, Wulan tetap memasak makanan untukmu meskipun dalam keadaan hamil besar. Karena dia ndak pengen kamu makan di luar." Kata Bu Suci memberikan nasehat kepada putra sulungnya.


Sebelumnya Bu Suci merasa tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga ataupun perdebatan kecil yang terjadi antara Wulan dan Damar. Namun, jika perhatikan sikap Damar beberapa hari belakangan ini berbeda dari biasanya.


"Damar bosen Bu, Damar mau sarapan di luar." Damar berlalu dari hadapan Ibunya.


Bu Suci beranjak dari duduknya, beliau melihat punggung putranya. "Tidak biasanya kamu makan makanan di luar nak. Kalau pun kamu bosen sama hidangan yang sama, kan kamu bisa bilang sama istrimu supaya menyiapkan hidangan yang lain, kamu kan tau sendiri kalau Wulan pintar memasak."


Damar menghentikan langkahnya, ia menolehkan kepalanya mensejajarkan dagu dengan pundaknya. Melihat sang Ibu dari ekor matanya. "Memang salah Bu, kalau sekali-kali Damar pengen makan di luar? Lagian Damar kan nggak pernah meminta Wulan untuk terus menerus memasak, dianya aja yang mau."


Dari ruang tengah Wulan mendengar jawaban yang dilontarkan Damar. Hatinya pilu. Ia mengusap perutnya. "Sabarkan Mamah sayang."


Di dapur Bu Suci masih sangat heran ditatapnya punggung putra sulungnya, tidak biasanya Damar akan bersikap seperti ini. Beliau masih ingat, kala Wulan sedang memasak ketika akan menambahkan MSG namun yang ditambahkan malah garam, hingga menjadikan masakan yang dimasak keasinan. Tetapi, Damar tidak pernah mengeluh masakan yang dimasak Wulan asin, justru waktu itu Damar menghabiskan semua masakan yang sudah kadung asin.


"Jangan dibiasakan makan makanan di luar Nang. Kalau caramu seperti itu, sama saja kamu tidak menghargai usaha istri mu."

__ADS_1


Damar mengibaskan tangannya.


"Sudahlah Buk, Damar pusing. Kerjaan di pabrik banyak, jangan menambah beban dengan terus menceramahi Damar." Damar berkata sangat kesal, lalu berjalan kearah ruang tengah, ia melihat Wulan yang sedang berdiri di depan sofa. "Aku berangkat kerja." Ucapnya dingin.


Wulan berjalan ke hadapan Damar.


"Kamu kenapa Kang Cimar? Nggak biasanya kamu seperti ini? Kamu bahkan nggak pernah mengeluh ketika masakan ku keasinan?" Wulan menatap mata sang suami, namun seperti beberapa hari belakangan ini, Damar seperti enggan menatap matanya.


Damar hanya sekilas melihat Wulan, lalu kembali mengedarkan pandangannya menatap ruang tengah. "Kamu yang kenapa Wulan, perihal sarapan saja. Harus banget diperdebatkan, kalau kamu keberatan menyajikan hidangan untukku ya jangan masak. Kan kamu nggak perlu kecipratan minyak panas atau mengiris bawang!"


Terhenyak mendengar jawaban kontras Damar yang terdengar kasar dan ngegas.


"Aku nggak bermaksud begitu, tapi-?" Belum selesai Wulan berbicara, Damar lebih dulu memotong ucapannya.


"Sudahlah, berdebat denganmu nggak pernah ada habisnya!" Bentak Damar kasar.


Wulan terperanjat mendengar bentakan kasar dari Damar. Tidak biasanya suaminya ini akan berbicara dengan nada tinggi.


Damar berlalu dari hadapan Wulan, ia menyambar kunci mobil dan berjalan keluar rumah. Lantas segera masuk kedalam mobil yang terparkir dihalaman depan rumah. Setelah menyalakan mesin, perlahan mobil pun meninggalkan halaman rumah.


Wulan meremass daster yang dipakainya, ia beringsut terduduk di ujung sofa dan semakin menyerosot ke lantai. Damar bahkan tidak mengusap perutnya, seperti kebiasaan suaminya itu sebelum berangkat bekerja.


Pernah merasakan sakit saat tertembak di lengan kiri saat latihan menjadi seorang Intel. Tapi tidak sesakit hatinya kini, seolah berdarah tapi tak terlihat.


Aku akan menjadi wanita paling tegar, paling sabar. Sampai kesabaran itu lelah dengan kesabaran ku.


*****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2