Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 25_


__ADS_3

Sejatinya dalam hidup, problematika pasti ada. Mereka datang untuk menguji seberapa kuatnya hati untuk bertahan, atau seberapa lemahnya hati untuk menyerah.


Semua tergantung dari segumpal darah yang disebut hati. Lalu di sinkronkan dengan pikiran negatif atau positif.


Ketika dalam keadaan karut marut, pikiran negatif menguasai kepala, kekacauan dan gelisah mulai menghinggapi hati.


Wulan selalu mengingat kata-kata bijak yang memberikan motivasi.


"Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Namun, kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu." - Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.


Wulan menyadarkan lamunannya. Kala mobil yang dikemudikan Mbak Leni mulai memasuki kawasan rumah lama.


"Mbak Leni pulang saja, aku mau di sini." ujar Wulan sesampainya di halaman rumah lama, rumah yang disebutnya rumah legendaris.


Mbak Leni terkejut mendengar perkataan Wulan. "Lho kalau aku pulang, terus kamu bagaimana? Aku ndak pa-pa, tadi Reyhan sama simbahnya, jadi aku bisa menemanimu lebih lama Lan."


"Jika mendengar nama anakmu, aku jadi ingin nyanyi Mbak." cetus Wulan.


Mbak Leni menyambungkan, "Begitu syulit lupakan Reyhan...."


Wulan tersenyum simpul, setidaknya ada yang cukup menghibur, dikala hatinya hancur.


"Kenapa aku malah nyanyi?" Mbak Leni latah, ia menggaruk kepalanya. Namun, ia merasa senang kala melihat Wulan tersenyum bahkan terkekeh kecil. Itu tandanya ia sudah cukup menghibur. "aku bakalan tetep di sini, menemani mu, aku takut terjadi sesuatu sama kamu." keukeuh Mbak Leni.


Wulan menghela nafas panjang, pandangannya mengedar menatap halaman rumah. "Aku akan di rumah ini untuk sementara waktu, sampai aku merasa tenang."


"Yo ndak bisa gitu dong Lan, kalau nanti kamu kontraksi mendadak bagaimana?"


"Aku akan baik-baik saja Mbak, percayalah. Aku hanya ingin merasa lebih tenang. Aku butuh waktu untuk sendiri." ujar Wulan lalu mengeluarkan uang untuk upah Mbak Leni yang telah bersedia menjadi drivernya hari ini.


Mbak Leni tertegun menatap wajah Wulan yang pucat lantas beralih menatap uang yang disodorkan Wulan. "Tapi Lan, aku tidak bisa membiarkan mu seorang diri. Aku bukanlah orang yang tidak mempunyai perasaan jika aku meninggalkan mu sendirian."


Wulan tersenyum simpul. "Pulanglah dan katakan sama Ibu, aku di rumah lama. Dan bisa jadi aku akan menginap di sini, jika aku pulang ke rumah, aku belum sanggup bertemu dengan Damar, sudah cukup yang dia katakan hari ini."


"Apapun masalahmu sama Damar, kamu tidak berniat untuk berpisah bukan? Kamu masih berpikir untuk melahirkan seorang anak bersama dengan suami mu kan?" Mbak Leni merasa perasaannya tidak baik menyangkut Wulan dan Damar, meskipun ia belum tahu apa masalahnya.


Wulan membuang tatapannya, detik berikutnya kembali melihat Mbak Leni. "Mbak Leni, Mbak ini berpikir terlalu jauh. Aku akan tetap bersama Damar, sekalipun nantinya Damar lebih memilih untuk hidup bersama dengan yang lain, aku Nawang Wulan sudah memutuskan untuk tetap setia, semenjak Damar menikahi ku."


Mendengar perkataan Wulan, Mbak Leni menerka-nerka, pastilah Damar memiliki wanita lain. Ia menatap Wulan yang menatapnya dengan tatapan sendu. "Aku salut padamu, tetaplah menjadi wanita yang tangguh, apapun keadaan mu. Tak apa untuk berhenti sejenak dan istirahat, akan tetapi bangkitlah kembali karena sejatinya Allah tidak menyukai hamba yang mudah menyerah."


Wulan tersenyum lalu mengangguk pelan, ia lantas membuka pintu mobil dan berdiri di depan mobil. Lalu melambaikan tangan kepada Mbak Leni.


Entah kata apa lagi yang bisa diucapkan Mbak Leni, kala melihat Wulan sudah turun dari mobil. Maka yang bisa dilakukannya hanyalah pulang dan memberitahu pada Bu Suci bahwa Wulan ada di rumah lama. Rasa sesal dibenak Mbak Leni, saat seperti ini. Ia tidak mempunyai nomor Damar.


Sebelum menghidupkan mesin mobil, Mbak Leni melihat Wulan yang sudah berdiri di teras rumahnya sedang membuka pintu. Sebelum bumil itu masuk kedalam rumah, dilihatnya Wulan kembali mengibaskan tangan, seolah menyuruhnya pulang.


Terpaksa dengan berat hati, Mbak Leni menghidupkan mesin mobil. Leni segera membanting setir untuk menuju ke rumah Wulan yang ada di desa Pandansari, ia harus segera memberitahukan Bu Suci, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Wulan.


"Semoga Damar segera sadar, bahwa ada seorang wanita yang begitu sabar dan setia. Sepertinya Wulan sudah tahu dengan segala sesuatu kemungkinan buruk yang akan terjadi, sebab itulah dia menyetel hatinya dengan setelan hati yang tangguh." gumam Mbak Leni, mengemudikan mobil Wulan membaur dengan pengendara lainnya.


Selepas kepergian Mbak Leni, Wulan masuk kedalam rumah dan kembali menutup pintu, pandangannya mengamati seisi ruang tamu. Seolah kesunyian mengungkung dirinya saat ini. Wulan mulai berjalan menuju kamar, dibukanya pintu kamar lebar-lebar.


Lalu berjalan mendekati ranjang, dan duduk di tepiannya. Mengamati seisi ruangan kamar, dengan gerakan tangan perlahan Wulan mengusap bantal yang digunakan Damar untuk bersandar.


Wulan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ponsel yang sejak tadi ia matikan. Lantas dihidupkannya kembali, menunggu untuk beberapa saat ponselnya normal. Saat ponselnya menyala, ada beberapa panggilan dari Damar, namun untuk saat ini, Wulan ingin mengabaikannya.

__ADS_1


Wulan mencari nomor ponsel seseorang yang bisa membantunya. Karena dalam keadaan hamil tua, ia tidak bisa melakukannya seorang sendiri. Bukan karena menganggap kehamilannya adalah penghambat segala aktivitasnya, hanya saja ia memang harus hati-hati, agar ketika persalinan tiba, tidak membawa dampak buruk padanya juga pada anaknya.


"Bantu aku untuk mencari informasi indentitas seseorang bernama Anggi Kumalasari." ucapnya setelah panggilan tersambung.


Sesaat Wulan terdiam untuk mendengar seseorang yang di hubungi menjawab.


"Baik, aku akan menunggu informasi darimu." lugas Wulan, lalu mematikan sambungan telepon.


Wulan menerawangkan pandangannya menatap bingkai foto bersama dengan Damar di Tugu Pal Putih.


Waktu telah membenamkan kenangan lama, kenangan saat-saat indah bersama dengan Damar, saat memadu kasih dan cinta.


Saat ciuman pertamanya, saat saat semua yang dilakukannya bersama dengan Damar di kamar ini. Saat-saat, Damar membisikkan bahwa pria itu ingin memiliki anak darinya.


Semua kenangan indah itu terpatri dalam pikiran Wulan. Maka seandainya saja, ada pikiran untuk berpisah. Ada sebab ia tidak rela, sangat-sangat tidak rela, karena nantinya akan banyak kenangan yang akan terbuang percuma.


Wulan meremass tangannya yang terkepal, lalu beralih meremass seprei yang berwarna cokelat. Hatinya kembali ngilu, bohong apabila ia tidak sakit hati atas perubahan kasar dan kejamnya Damar beberapa hari belakangan ini.


Pandangannya mulai mengabur, air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Kian luruh menjadi hujan di pipi, secepat apapun Wulan menghapus jejak air matanya, namun kembali menetes.


Terlintas dalam ingatan Wulan saat Bu Suci memintanya untuk menemani hidup Damar.


...flashback on...


Bu Suci menatap Wulan, lalu mengedarkan pandangannya menatap pintu ruangan. “Sewaktu kecil, Damar itu lucu. Jika di tanya cita-citanya mau jadi apa, dia pasti menjawab ingin menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua,”


Wulan mengerutkan keningnya, entah alasan apa Bu Suci tiba-tiba memulai obrolan dengan masa kecil putra sulungnya, “Saya bisa melihatnya Bu Suci, rasa hormatnya kepada Ibu, tidak lepasnya dari peran Bu Suci sebagai seorang Ibu yang mendidiknya, maka dari itu ada pepatah yang mengatakan, (Kasih Ibu sepanjang masa) dan saya bangga terhadap Anda,”


Wulan merasa canggung mendapat tatapan mata teduh dari Bu Suci, ia pun menunduk, “Maafkan saya, karena saya sudah terlalu banyak bicara,”


Wulan mengangkat wajahnya, meskipun aneh mendengar permintaan Bu Suci, namun Wulan mengulurkan tangannya tanpa bertanya. Bu Suci menggenggam tangannya dengan penuh perasaan, membuat hatinya merasa di selimuti oleh kasih sayang seorang Bu Suciati, tak mengherankan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah gambaran untuk hati lembut yang Damar miliki.


“Mau kah kamu berjanji satu hal Nak,” ujar Bu Suci, menatap Wulan dengan tatapan sendu.


Wulan lagi-lagi merasakan sesuatu hal yang aneh dari pertanyaan Bu Suci, “Janji?”


“Maukah kamu temani hidup putra sulung Ibu, jika suatu saat Ibu tiada?” ungkap Bu Suci, beliau tahu bahwa Wulan masih sendiri.


Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, mendengar pertanyaan ataukah sebuah maksud pernyataan? Ia tidak menjawabnya. Terkadang ada dimana suatu pertanyaan yang seperti sebuah peluru senapan.


...flashback off...


"Bu Suci, seharusnya Wulan selalu mengingat itu, seharusnya jika Wulan ikhlas untuk menjadi teman hidup Damar, seharusnya Wulan bisa menerima segala kekurangan Dam--" Wulan menghentikan ucapannya, tangisan kian terisak. "seharusnya Wulan.. mencintainya dalam suka maupun duka.."


Kembali, Wulan merasakan anaknya menendang-nendang dalam perutnya.


"Nak jadilah anak Sholeh, Mama sama Ayah sangat menyayangi mu." ucapnya parau.


Kantuk mendera mata sembabnya, Wulan berbaring di bantal Damar. Ia rindu tidur di lengan suaminya, ia sangat rindu. Perlahan matanya mulai terpejam dan tenggelam dalam buaian mimpi di siang hari.


**


Selepas pembicaraannya dengan Farhan, Damar dan Danum kembali melanjutkan perjalannya.


Sepanjang jalan Damar mengedarkan pandangannya, ia teringat dengan ucapan Farhan yang terlontar, seolah membuatnya seperti pria brengsek. Entah mengapa ia tidak ingat apa-apa tentang apa yang diungkapkan Farhan.

__ADS_1


"Siapa wanita yang jalan bersamaku, kenapa aku seolah sudah dihipnotis? Aku juga merasa sekujur tubuhku panas, hatiku kosong dari iman. Kenapa aku seperti orang linglung?"


Namun jika terbukti benar, ia telah nyeleweng dan jalan bersama dengan seorang wanita. Pastilah akan menjadi sebuah penyesalan telah mengkhianati dan menyakiti hati Wulan.


"Rasa bersalah adalah hadiah dari Allah yang memperingatkanmu bahwa apa yang kamu lakukan melanggar jiwamu." kata Farhan saat pertemuannya tadi.


Damar terus mengingat-ingat, tempat favorit Wulan. Ia terus mengingat dalam kebingungannya dan pikirannya yang telah kacau balau.


"Apa mungkin?" Damar teringat satu hal. Ia lantas menepuk pundak Danum. "kita ke rumah lama, Num."


"Baik Mas." jawab Danum, meskipun harus membelikan setir motornya, karena jalanan untuk menuju rumah lama sudah terlewati dan memang memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana. Tapi bagi Danum tak jadi masalah, yang terpenting sekarang Kakaknya ini bisa menyelesaikan masalah yang sudah seperti mencari jarum di sumur.


Danum juga berpikir, bisa jadi dengan membantu masalah Kakaknya, bisa menjadi pelajaran berharga saat ia menikah dan berumah tangga kelak. Karena pengalaman adalah guru terbaik dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Agar ia belajar dari permasalahan yang dihadapi Mbak Wulan sama Mas Damar.


Selama perjalan yang hampir memakan waktu hampir dua jam. Kini Damar sudah berada di halaman rumah, Damar turun dari boncengan. Ia mengamati rumah lama, rumah yang disebutnya bersama dengan Wulan, rumah legendaris. Entah mengapa, seolah ada yang menariknya ke rumah ini.


Waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 14:35 wib.


"Mas yakin Mbak Wulan di sini?" Danum mematikan mesin motornya, melihat Damar dari samping belakang kanan.


"Entahlah, ponselnya tidak bisa dihubungi." jawab Damar tanpa mengalihkan atensinya. Matanya terus melihat pintu rumah utama yang tertutup.


"Kalau ternyata Mbak Wulan sudah pulang bagaimana?" tanya Danum.


Damar mengamati keadaan sekitar, ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis kala beberapa tetangganya menyapa.


"Pulanglah Num," kali ini Damar melihat adiknya yang terlihat jelas nampak mengkhawatirkannya. "kalau seandainya apa yang kamu ceritakan sepanjang jalan tadi aku terkena pelet. Maka seharusnya aku yang menyembuhkan jiwa ku sendiri."


"Tapi Mas, aku mana bisa meninggalkan Mas Damar sendirian, bagaimana kalau sampai pengaruh pelet itu mempengaruhi Mas Damar lagi setelah aku pulang ke rumah yang ada di Pandansari?" kata Danum khawatir.


Damar kembali melihat keadaan rumah lama yang sepi. "Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang bersabar, setan akan mengganggu anak cucu Adam sampai hari kiamat."


"Tapi Mas -" ucapan Danum mengambang kala Kakaknya itu sudah lebih dulu berkata.


"Pulanglah temani Ibu dan kabari aku jika Wulan sudah kembali ke rumah. Bilang sama Ibu juga, kita harus segera berkemas dan pindah dari rumah itu, mungkin dengan begitu kita bisa menghindari orang yang sedang berbuat buruk terhadapku."


Tanpa ingin dibahas ataupun di debat, Damar berjalan menuju teras rumah. Mungkin dengan adanya pindah dari rumah yang ia bangun agar efisien dalam menghemat waktu untuk menuju pabrik akan menghindarinya dari godaan pelet yang entah di kirim siapa.


Danum melihat Kakaknya, "selalu saja Mas Damar bisa membuatku skakmat." Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.


Damar mencari kunci rumah yang kerap kali ia taruh di bawah pot bunga anggrek. Namun ia tercengang kala tidak menemukan kunci rumah, Damar membulatkan matanya menatap pintu. Seolah nafasnya tercekat di tenggorokan.


"Jangan-jangan..." bukanlah sesuatu yang buruk, seperti maling. Akan tetapi Damar berprasangka bahwa Wulan berada di dalam rumah.


Damar segera bergegas membuka pintu dan mencari keberadaan istrinya di ruang tamu dan sampai pada ruangan tengah, maniknya melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar.


Damar bergegas menuju kamarnya, dan seketika itu ia merasa lunglai, kakinya lemas nafasnya perlahan terlepas ringan.


"Wulan..." suaranya yang semula terasa berat, kini perlahan terangkat naik dan semakin ringan.


Sangat perlahan Damar mendekati ranjang dan berlutut di sisi kanan memandangi wajah Wulan yang nampak sembab, desah nafas Wulan terdengar teratur seolah menandakan bahwa istrinya tidak tidur lelap dalam beberapa hari belakangan ini.


Maka di sinilah, Wulan dapat tidur lelap. Tak sedetik pun Damar mengalihkan atensinya, ia terus menatap wajah sebab istrinya. Dengan gerakan tangan perlahan, ia mengusap perut besar Wulan.


*****

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2