Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 28_


__ADS_3

Anggi sedang duduk di ruang tengah, ia memang tinggal sendirian di rumah kontrakan. Karena dia tidak merasa cocok jika tinggal dengan keluarganya. Dia merasakan lebih nyaman hidup sendiri.


Orangtuanya selalu membanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain. Dan itu cukup membuat hatinya terluka, Anggi merasa tidak di sayangi dan tidak di perhatikan. Anggi juga merasa menjadi seseorang yang tidak berguna.


Atas rasa sakit hati itulah, Anggi menjadi wanita yang keras hati. Dan ia bertekad untuk membalas semua orang-orang yang mengabaikan serta meremehkannya.


Dan untuk pertama kalinya ada seorang pria yang membelanya, Anggi merasa sangat mengidam-idamkan Damar, seolah pria itu ibaratkan pahlawan. Anggi dengan tekadnya akan menghalalkan segala cara untuk menjadikan Damar hanya miliknya seorang.


Kendati harus bersekutu dengan iblis, karena dalam pikiran Anggi, selama ia menjadi manusia baik saja, tidak pernah ada yang menghargainya.


Sudah hampir seminggu lamanya Anggi dapat menahan Damar untuk menemaninya jalan-jalan dan membelikannya beberapa barang bermerek. Dan semua itu mudah saja dilakukannya agar Damar mau mengabulkan semua permintaannya.


Bila dijabarkan, Damar sudah seperti mainan dan atm berjalan dalam waktu singkat ini. Anggi merasa senang.


Tapi sayangnya...


Acap kali ingin menyalurkan hasratnya, Damar selalu saja menolak dengan alasan belum siap. Anggi merasa hati Damar sulit untuk disentuh, sebab itulah kemarin malam ia dengan sengaja datang memakai tudung hitam. Karena dia sudah tidak bisa lagi menahannya, tapi sialnya Wulan mengacaukan rencananya untuk secara diam-diam membawa Damar yang sedang terpengaruh mantra Manyamati miliknya.


"Wulan, kenapa kamu mengacaukan rencanaku!" Anggi menggeram, tangannya meremas kelopak bunga mawar hitam. Netranya terlihat seperti kilatan petir.


Anggi semakin tak karuan rasanya, tangan kanan memegangi ponsel sedang tangan kirinya menggenggam kelopak bunga mawar hitam. Dia menunggu targetnya untuk datang ke rumah, namun sejauh ini dia menunggu tidak ada tanda-tandanya kemunculan Damar.


Ponsel Damar sejak tadi tidak aktif membuat Anggi merasa frustasi seorang diri.


Anggi sangat geram. Ia lantas beranjak dari duduknya. Mempersiapkan segala keperluan untuk ritual tanpa harus mengunjungi Mbak Kuwat. Seperti yang sudah diajarkan oleh dukun saktinya itu.


Pertama-tama, Anggi mempersiapkan wadah tempat ia membakar dupa lalu mengambil boneka dan foto Damar. Kembang tujuh rupa yang selalu ia sediakan di rumah. Tak ketinggalan kembang kantil dan mawar hitam, sebagai pelengkap.


Anggi memperhatikan semua keperluan ritualnya di atas tampah, ia merasa ada yang kurang.


"Tusuk konde?" pekiknya.


Anggi membulatkan mata menatap dupa yang siap untuk dia nyalakan.


"Jangan-jangan tak sengaja aku menjatuhkan di sekitar rumah Damar pada kemarin malam?"


Sekelebat bayangan hitam muncul dihadapan Anggi, lamat-lamat bayangan tersebut berubah menjadi genderuwo hitam bermata merah. Itulah jelmaan iblis yang mendiami tusuk konde perak. Genderuwo menatap sang empunya, ia seolah mengadu lewat matanya.


Anggi dapat melihat jika Bu Suci menemukan tusuk konde perak, lalu membawanya pada seorang Ustadz. "Dasar wanita tua sialan! Berani sekali dia mengganggu rencanaku. Awas saja, akan aku buat wanita tua itu sekarat!"


Anggi menggeram dia lantas melepas semua pakaiannya dan bertelanjang bulat. Lantas memakai kain jarik lusuh yang diberikan oleh sang dukun sakti sebagai syarat pelaksanaan ritual secara mandiri. Anggi juga menggerai rambutnya.


"Pantas saja pengaruh pelet Damar melemah, ternyata wanita tua itu memberikan kepada seorang Ustadz menahan tusuk konde perak ku. Aku harus melakukan sesuatu agar pelet Manyamati kembali merasuki pikiran Damar. Aku akan membuat Damar menjadi milikku!" sungut Anggi.

__ADS_1


"Lihat saja, takkan ku biarkan kebahagiaan mereka bertahan lama."


"Hidup ku tak bahagia, maka orang lain pun tidak bisa bahagia!"


Anggi duduk bersila, lantas membaca mantra-mantra yang pernah dipelajarinya dari Mbah Kuwat.


"Manyamati pergilah ke rumah Damar, pengaruhi dia! Bawa dia kehadapan ku!" titahnya pada sang genderuwo.


Seperti budak yang mengikuti perintah sang Ratu. Iblis yang berwujud hitam besar bermata merah berubah menjadi sekelebat bayangan hitam lalu terbang melayang di udara sesaat kemudian menuju rumah Damar.


"Damar datanglah, Damar datanglah. Aku menunggumu, aku memanggilmu, sayang..."


"Damar sudah saatnya kita memadu kasih, aku menginginkanmu. Aku selalu merindukanmu..."


Anggi memejamkan matanya, sedangkan mulutnya terus berkomat-kamit merapalkan mantra. Terus menerus ia lakukan secara berulang-ulang.


**


Di lain rumah yang ada di desa Pandansari.


Bu Suci dan Danum sedang membaca sholawat dan zikir. Entah sudah berapa lama mereka duduk di atas sajadah, tangan mereka merunut tasbih yang terbuat dari kayu.


Sebelumnya selepas bada isya, Danum dikabarkan oleh Ustadz Umar. Akan ada balasan dari pelet Manyamati, Ustadz Umar juga mengatakan akan membantu mencegah agar Manyamati tidak sampai kembali mengganggu Damar.


Yang ditakutkan, meskipun tidak menyerang Damar, setidaknya jangan menyerang anggota keluarga yang lain sebagai pengalihan.


*


Sementara itu, si sekitar perkampungan rumah Damar yang berada di desa Pandansari.


Malam menunjukkan pukul sebelas malam. Entah kenapa hawa dingin membaur dengan kesenyapan malam ini. Tiga orang yang sedang berjaga di pos ronda juga merasakan kejanggalan.


"Kok malam ini berasa mencekam yah, ndak seperti biasanya." kata Yanto.


"Ah biasa saja sih menurutku, perasaan kamu saja kali Yan. Kamu kan penakut." ucap Komar membantah ucapan Yanto.


"Iya e, aku juga merasakan sama seperti Yanto, berasa merinding disko." Edy sependapat dengan ucapan Yanto. Jikalau malam ini desa nampak sepi, tidak ada aktivitas orang-orang, padahal malam belumlah larut.


"Sudah jangan pada penakut, Yan buat kopi saja. Biar mata tambah melek. Terus kita keliling kampung, biar kampung kita ini aman." ucap Komar menyelempangkan sarungnya di pundak.


Setelah menikmati secangkir kopi, Yanto, Komar dan Edy berkeliling kampung. Angin menghembuskan hawa dingin yang membaur dengan suara jangkrik, tak jarang pula terdengar burung gagak berseliweran terbang ke sana kemari.


krik krik krik

__ADS_1


Kroarrrhh Kroaaarrhh Kroaaarrhh


"Mar, kenapa aku berasa seperti ronda di kuburan yah?" ucap Yanto, merasa bulu kuduknya merinding.


Edy mengusap tengkuknya, ia juga merasakan hal yang sama. "Iya, berasa malam ini sangat mencekam. Ndak biasanya burung gagak berseliweran."


Komar meraup wajah Edy. "Halah, badan ae yang besar seperti kingkong, tapi nyalimu tempe."


"Asem banget kamu Mar, kalau sampai kamu melihat genderuwo jangan lari kamu yah." balas Edy.


"Tidak! Aku tidak akan lagi, akan aku hadapi!" Komar membusungkan dadanya. "sini genderuwo sini, aku bakal hadapin, aku tidak takut. Aku tidak penakut seperti kalian." Komar menepuk-nepuk dadanya, seolah ia siap jika berhadapan dengan makhluk gaib yang disebut genderuwo.


"Awas kamu, bakal tak pegang omongan mu. Kalau sampai kamu kebetulan melihat genderuwo, kamu jangan takut, jangan lari yo?" balas Yanto.


"Iyo, kalau sampai Komar lari. Komar harus mentraktir kita makan selama satu bulan di warung Mbok Sarinten." timpal Edy.


"Walah urusan makan saja kamu besar-besaran, lihat tuh perut mu sudah seperti kentung!" Komar menepuk perut Edy yang gempal.


"Hilih bilang saja kamu takut toh, kamu takut kalah, kalau sampai kalah taruhan Mar." balas Edy.


Saat ketiganya berjalan di depan rumah Damar. Yanto membelalakkan matanya, kala melihat bayangan hitam sedang terbang melayang-layang di atas rumah Damar.


"Se-setan!!!" gagap Yanto berkata seolah lidahnya kaku. "Lari!!!" Yanto lari sampai terkecing -kencing di celana.


Begitu pula dengan Edy, melihat Yanto lari. Ia ikut-ikutan lari, kendati dia tidak melihat wujud dari si setan itu.


"Woy woy, mana ada setan, kalian ini penakut! Aku ditinggal dewekan iki lho, piye iki?" Komar melihat kedua temannya itu lari terbirit-birit.


"Bilang saja kalau kalian ndak mau ronda! Makanya kalian gunakan setan sebagai alasan!" saat Komar berbalik badan, matanya membelalak kala melihat penampakan menyeramkan di depannya, ia seakan terhipnotis hingga membuatnya jatuh pingsan.


**


Di kontrakan Anggi terus merapalkan mantra. Sampai pada akhirnya. Seseorang yang di tunggu-tunggu pun tiba.


"Damar...?" gumam Anggi, masih dengan mata terpejam. Ia mendengar pintu terbuka dan mendengar derap langkah kaki mendekatinya. Tanpa membuka mata pun ia tahu bahwa itu adalah Damar.


Anggi langsung berbaring di tikar yang sudah dipersiapkannya, lalu membuka kain jarik lusuh yang melilit tubuhnya. Kini tiada sehelai benangpun menutupi kepolosannya. Anggi tersenyum penuh rasa puas, kala merasakan sentuhan tangan seseorang yang sudah dinantinya mulai menggerayangi dan menjamahnya.


"Aahh..." desah Anggi kala kejantanan lelaki ini menyusup ke liang kenikmatan miliknya. "terus Damar, terus, rasanya sangat nikmat... aahh.."


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2