Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 26_


__ADS_3

Rintik hujan menyapa bumi, Wulan selalu merasa bahagia kala hujan turun, karena ia dapat mengenang kembali kenangan manisnya bersama dengan Damar.


Hujan dan Damar bagaikan kenangan manis yang tak terlupakan. Meskipun sebagian besar menganggap hujan adalah sebuah bencana alam.


Kenangan itu membayangi mimpinya... lagi.


“Nawang Wulan, kemarilah. Kita nikmati hujan sore ini?!” seru Damar dengan melambaikan tangannya kearah wanita yang saat ini memakai baju kasual dipadupadankan blazer putih dengan celana jeans panjang warna navy.


Wulan hanya mengibaskan-ngibaskan tangannya, pertanda ia adalah orang yang tidak suka bermain hujan. “Nggak mau!”


Namun, peringatan Wulan tak di hiraukan oleh Damar. Damar menghampiri Wulan, “Ayolah, ini sangat menyenangkan!” lalu tangannya meraih payung hitam yang di pegang Wulan, dan menghempaskan nya begitu saja ke sembarang arah.


“Aaaaaa... yah yah basah kan?!” gerutunya, seketika Wulan pun terkena guyuran dari rintik air hujan, ia sangat kesal akan hal ini. Beberapa kali ia menghentakkan kakinya ke tanah yang di tumbuhi rumput Jepang sebagai penghias taman.


“Hey, ayolah hujan adalah Rahmat Tuhan, biarkan sejenak hujan ini membasuh jiwa kita yang panas akan kehidupan nyata ini.” bujuk Damar, ia memejamkan matanya dan meresapi setiap tetes hujan.


Wulan menatap Damar dari samping, ia berpikir untuk mencobanya, barangkali hujan ini bisa memuaskan dahaganya yang lelah akan kehidupan ini. Padahal Wulan sangat menyadari betul, bahwa kini ia dan Damar tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berteduh di bawah warung pinggir taman.


Ia membiarkan orang-orang stigma apapun tentangnya dan juga Damar. Karena, Wulan sadar, seperfect apa pun manusia tidak ada yang sempurna, secacat apa pun manusia pasti memiliki kelebihan yang diberikan Tuhan.


“Apa yang Ibuku katakan padamu?” tanya Damar tanpa menoleh kearah Wulan. Damar merasa selama setelah ia mengajak Danum untuk keluar, ada sesuatu hal serius yang dibicarakan Wulan dan Ibunya.


Wulan diam


Kali ini Damar menatap Wulan, “Jujur, akhiri-akhir ini selama aku mengenalmu, aku merasa nyaman. Tapi aku belum pernah bercerita tentangmu pada Ibuku, karena perasaanku masih dibatas kenyamanan berada di sisi mu.”


Sungguh kenangan manis itu takkan pernah terlupakan, sampai kapanpun. Sampai datang ke mimpi pun. Wulan akan terus mengenangnya.


Lamat-lamat, dalam tidurnya Wulan merasakan sentuhan tangan yang sangat lembut menerpa wajahnya, bukan hanya sentuhan tangan di pipi. Wulan juga merasakan bibirnya seperti sedang mengigit marshmellow sangat kenyal dan lembut, ia seolah merasakan bahwa usapan tangan dan kecupan yang mendarat seperti marshmellow di bibirnya adalah dari Damar.

__ADS_1


Entah mengapa semakin terasa, seolah bukan mimpi. Dalamnya mata yang masih terpejam Wulan menyadari dirinya kini sedang tertidur, dan pada saat membuka mata. Betapa waktu seakan berhenti berputar, netranya langsung bertemu pandang dengan netra Damar.


Ya Allah, kenapa seperti mimpi tadi? Benarkah suamiku kini ada di depan ku? Ya Allah, jika ini hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku. Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin lebih lama memandangi wajah teduh, dan tatapan hangat suamiku.


Wulan melihat Damar tersenyum, senyuman yang sudah dalam waktu beberapa hari ini tidak dilihatnya.


"Sudah bangun?" ucap Damar, dipandangnya wajah sang istri yang terlihat berisi.


Ya Allah, dia bicara begitu lembut, aku sangat ingin memeluknya. Tapi bagaimana jika ternyata apa yang ku dengar dan apa yang ku lihat hanyalah mimpi?


Wulan kembali memejamkan matanya dalam-dalam, seperdetik kemudian ia membuka kelopak matanya, berulang kali ia menjerjap guna memastikan bahwa apa yang dilihatnya kini bukan hanya sekedar mimpi ataupun halusinasi hanya untuk menipu gejolak rasa sedih dan kecewanya atas sikap Damar.


Ya Allah, ada apa denganku. Kenapa dia tidak menghilang?


Namun sepertinya memang nyata, Wulan mengulurkan tangannya, lantas memegang pipi Damar yang dikiranya hanyalah mimpi atau halusinasi semata. Ditatapnya senyuman Damar semakin melebar, bahkan Damar juga mengecup kening juga bibirnya.


Astaghfirullah, aku tidak gila kan? Suamiku mencium ku?


"Damar...?" desah Wulan. Maniknya mengerjap berulang kali.


Dalam lirihnya Wulan bersuara, masih dapat menyambar telinga Damar. Pria yang sudah berstatuskan suami ini, lantas mengambil tangan sang istri lalu didekatkannya ke wajah, tepatnya ke bagian rahang.


"Ini aku Nawulku." ucapnya sangat lembut, Damar kembali mengecup bibir Wulan. "seperti marshmellow."


Wulan membulatkan matanya sempurna, seperti bulan purnama. Di tatapnya lekat-lekat wajah dan mata suaminya. Yah, Wulan menyadari bahwa pria yang sedang berlutut di depannya adalah pria yang menikahinya hampir setahun lalu. Pria yang mempunyai sejuta kelembutan dan kasih sayang tiada tara. Pria yang selalu mencoba melukiskan kebahagiaan setiap harinya meskipun letih kadang masih terjaga. Bagaikan senja melukis di batas ambang cakrawala, tidak di nanti namun senja selalu hadir sebagai pelipur malam yang sunyi.


"Damar..?" lagi hanya itulah yang dapat diucapkan Wulan. Lidah memang tidak bertulang, akan tetapi saat ini Wulan merasakan kelu dan sulit untuk berkata-kata.


Wulan beranjak duduk, ia tak pernah melepaskan tatapannya. Seandainya saja ini hanyalah mimpi, ia tidak ingin terjaga yang bisa membuat mimpi indah ini sirna.

__ADS_1


Damar tersenyum simpul, lantas duduk di sebelah istrinya yang sepertinya masih menganggap kehadirannya mimpi. Damar memeluk istrinya sangat erat. Seolah sudah berabad-abad lamanya tak berjumpa. Membelai punggung serta rambut Wulan dengan gerakan berulang.


"Aku minta maaf.." parau Damar berkata, ia tidak ingat persis apa kesalahannya pada sang istri. Namun, hati kecilnya berkata ia telah melakukan kesalahan. Karena hanya sedikit saja ia dapat mengingat pada saat Wulan datang ke kantor hari ini.


Damar mengurangi pelukannya, kala Wulan tidak membalasnya. "Hey ada apa? Kenapa kamu tidak membalas pelukan ku, biasanya kamu akan senang saat aku peluk?"


Maniknya menatap kedua mata Damar, Wulan merasakan ketenangan. "Aku hanya ingin memastikan bahwa sekarang ini bukanlah mimpi?"


Damar mengulum senyumnya, ia kembali menghujani wajah Wulan dengan ciumannya.


Wulan merasakan sensasi geli, matanya membelalak.


"Bagaimana, masih menyangkal ini nyata?" ucap Damar, ia kembali memeluk istrinya. "balas lah pelukan ku, kamu akan tahu. Bahwa ini bukanlah mimpi." lanjutnya berbisik di telinga Wulan.


Wulan mulai mengangkat tangannya, ia membalas pelukan Damar, Wulan membelai rambut belakang suaminya. Mencium aroma tubuh yang khas, dan inilah memang candunya, Wulan merasakan ketenangan secara batiniah dalam dekapan Damar.


Perlahan Damar mengurai pelukannya, lantas mengusap perut istrinya, sebagai sapaan pada anaknya yang beberapa hari lagi akan lahir ke dunia. "Maafkan Ayah yang telah menyakiti Mama mu. Sungguh Ayah tidak tahu kenapa Ayah seperti ini, Ayah akan mencari tahu siapa orang yang telah memperdaya Ayah."


Degh


Wulan membulatkan matanya menatap Damar, apa maksud yang diucapkan suaminya. Memperdaya, apakah? Wulan mulai menerka-nerka.


Damar merasakan tangannya mendapatkan respons dari anaknya yang menendang-nendang dalam perut Wulan. Netranya menatap Wulan yang sedang menatapnya. "Aku tahu anak kita adalah anak genius. Dan dia tahu, bahwa ayahnya sedang menyapa."


Dalam dilema dan kebingungan, Wulan bertanya pada Damar. "Apa maksudmu dengan orang yang memperdaya?"


Damar kembali memegangi rahang Wulan, lantas mencium kening istrinya sangat lembut. Netranya bersitatap dengan sorot mata istrinya.


"Kamu mungkin memegang tanganku untuk sementara waktu, tetapi kamu memegang hatiku selamanya. Jangan khawatir, karena hatiku akan selalu bersamamu, mungkin hari-hari yang kita lalui kedepannya akan banyak cobaan dan ujian, dan bisa jadi sikapku-"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2