
Jika kesabaran seseorang itu terbatas, mungkin kesabarannya tidak membersamai dengan iman. Karena kesabaran dari seseorang yang mempunyai iman, pasti akan terus meneguhkan hatinya dikala rapuh.
Wulan sedang melaksanakan sholat dhuhur di musholla yang sering ia singgahi bersama dengan Damar dahulu.
Selepas sholat, ia hanya duduk diam membisu. Netranya sayu, wajahnya pucat. Wulan merasa separuh cintanya telah retak, telah hilang saat mendengar Damar mengakui mencintai wanita lain.
Namun dalam kecewa dan dilema nya, Wulan justru mengingat kembali kenangan-kenangan indah yang ia lewati bersama dengan Damar.
"Damar di sinilah aku mengaminkan doa'mu saat kamu akan memasukan sebagian rezeki mu ke kotak amal."
Wulan mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan ruangan mushola yang nampak sepi.
"Mengenalmu mengajarkan ku banyak hal. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat bersyukur menikah denganmu. Kamu mengajariku bagaimana mencintai, tapi tidak mengajariku bagaimana caranya berhenti mencintai." gumamnya seorang diri.
Entah mengapa rasa sakit hati dan kecewa atas ucapan Damar seolah membuat hatinya membeku. Berulang kali Wulan menghela nafas panjang yang rasanya semakin berat.
Berulang kali juga Wulan memukuli dadanya. Karena rasanya sangat menyesakkan relung hati.
"Akan lebih baik jika aku menangis dan mengaduh sakit. Dari pada seperti ini, Damar kamu sangat membuatku seperti dibuang begitu saja."
Semua yang dilakukan Wulan tak luput dari pengawasan Mbak Leni. Ia mendekati Wulan selepas mengembalikan mukena.
"Wulan ada apa?" Mbak Leni menatap mata Wulan yang nampak kosong dengan kelopak mata yang sayu.
Wulan bersitatap dengan sorot mata Mbak Leni. "Aku harus apa Mbak? Rasanya sangat sakit, sampai aku tidak bisa menangis."
Mbak Leni tertegun mendengar perkataan Wulan, ia mendekat dan memeluk Wulan yang sudah dianggapnya seperti adik sekaligus teman. "Kamu akan baik-baik saja Wulan, semuanya akan baik-baik saja."
Mbak Leni mengurai pelukannya, mengusap kedua pipi Wulan. Meskipun tidak adanya air mata yang mengalir, namun melihat wajah Wulan yang pucat membuat Mbak Leni semakin tidak tega. Maniknya melihat Wulan melepas mukena serta melipat dan mengembalikan mukena ke tempatnya.
Tanpa berkata apa-apa, Wulan berjalan keluar mushola. Lantas masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Leni menyusul Wulan, lantas duduk di kemudi. Ia mulai menyalakan mesin dan mobil pun membaur dengan pengendara lain.
"Mbak Leni, aku mau ke taman kota." Wulan berkata sangat lirih nyaris seperti bisikan, sejak duduk di kursi mobil. Ia hanya menyadarkan kepalanya di kursi dan menerawangkan pandangannya sejauh mata memandang perjalanan.
"Iya." sekilas Mbak Leni melihat wajah Wulan sangat sedih. Ia bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi selama Wulan berada di kantor dan bertemu dengan Damar.
Semenjak keluar dari dalam gedung yang dijadikan kantor pabrik Amanah food, Wulan lebih banyak diam. Dan hanya sesekali menjawab jika ia bertanya. Leni merasa ada yang tidak beres. Seolah benar-benar membuat bumil ini tertekan.
Leni menghentikan laju mobil di parkiran taman kota, dan melihat Wulan sudah membuka pintu mobil. Leni terus memperhatikan Wulan sampai di bangku kayu, maniknya melihat Wulan mengusap sandaran bangku lalu duduk.
Tidak ingin meninggalkan Wulan dalam dilema seperti itu. Leni turun dari mobil. Namun ia tidak menghampiri Wulan, hanya duduk berjarak dua bangku dan itu jaraknya sekitar 5 meter.
Lamat-lamat Leni memperhatikan Wulan, bumil itu menangis sesenggukan. Leni sempat terkejut dan ingin mendekati Wulan, namun ia merasa Wulan juga butuh waktu untuk sendiri dan meluapkan segala emosi.
"Apa yang sebenarnya terjadi Wulan, aku nggak tega melihat mu seperti ini." gumam Leni seorang diri. Saat pandangannya mengedar, ia melihat air mineral kemasan yang berada jauh di warung. Leni berinisiatif membelikan Wulan air mineral. Lalu berjalan kearah warung.
Wulan duduk di bangku kayu taman, air matanya tak berhenti untuk mengalir membasahi pipi. Padahal sebisa mungkin ia sudah menahannya. Namun tetap saja, seolah memang air mata ini seperti bendungan yang pecah setelah tadi ia tidak bisa menangis.
"Menangis tidak menyelesaikan masalah, tapi bisa meringankan hati yang lara." seorang pria berseragam polisi menyodorkan beberapa lembar tissue kehadapan seorang wanita yang sedang menangis dalam diam.
Wulan menadahkan wajahnya, netranya langsung menatap seorang pria berseragam polisi. "Farhan?" gumamnya sangat lirih, secepatnya Wulan mengusap air matanya, ia tak ingin kesedihannya diketahui orang lain.
Farhan melihat bangku kosong disebelah Wulan. "Boleh aku duduk di sebelah mu?"
Wulan tidak merespon maupun tidak memberikan tanggapan, ia membuang tatapannya. Karena merasa wajahnya pasti terlihat sangat menyedihkan dan pasti orang lain menganggapnya sedang ada masalah. Ia tak mau orang lain menganggapnya lemah, cukup dengan Damar saja ia menunjukkan kelemahannya.
Melihat Wulan hanya diam saja, Farhan atau biasa di sektor kepolisian lebih mengenal nama Farhana, lantas duduk di sebelah Wulan yang sedang membuang tatapan.
"Sebenarnya aku sempat terkejut melihat mu di sini, dan aku ingin tahu bagaimana kabar mu, mengingat kita sudah beberapa bulan tidak bertemu.." Farhan mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan taman. Lalu kembali menatap Wulan dari samping, dapat di lihat olehnya, Wulan nampak sangat sedih dan tertekan. "tapi melihat mu seperti ini, aku jadi berpikir kamu tidak baik-baik saja." sambungnya lagi, merasa kasihan melihat Wulan seperti ini.
"Jangan menerka-nerka," tukas Wulan langsung menelaah ucapan Farhan. "aku lebih baik dari apa yang kamu lihat, air mata bukan hanya tanda kesedihan, tapi juga tanda kebahagiaan." sambungnya lagi tanpa melihat Farhan.
__ADS_1
Farhan tersenyum simpul, meskipun wajah Wulan sedikit lebih berisi karena hamil, namun cantiknya masih sama. Masih Wulan yang dulu saat kecil ia kenal. Masih tetap cantik dan natural.
"Roda kehidupan selalu berputar. Ada kalanya orang berada di atas, kadang juga ada di bawah. Peristiwa hidup silih berganti, ada rasa bahagia, kecewa, senang, sedih, marah. Semua itu pernah dirasakan setiap orang. Dalam menjalani kehidupan, terkadang mengalami kesedihan yang mendalam." kata Farhan, masih menyodorkan tissue yang belum di sentuh oleh Wulan. "ambillah tissue ini, setidaknya tissue ini bisa menyerap air matamu meskipun bukan kesedihan mu."
Wulan melihat tissue yang dipegang Farhan, lantas mengambil dan mengusapkan tissue ke wajahnya. Perasaannya menyaring semua perkataan Farhan, ia membenarkan hanya dalam hati saja. Tanpa berniat menjawabnya. Wulan memejamkan mata dalam-dalam membersamai dengan menghembuskan nafas panjang.
"Kamu masih sama Wulan, kamu masih sama seperti Wulan kecil yang tidak ingin air matanya dilihat orang lain." Farhan terus memperhatikan Wulan, dan tersenyum simpul.
Wulan dapat melihat dari ekor matanya, bahwa Farhan sedang menatapnya. "Jangan menatap ku seperti itu, orang lain akan salah mengira."
Farhan masih tersenyum lalu mengalihkan atensinya. "Kamu takut kalau orang lain akan salah mengira bahwa aku suamimu?"
Wulan refleks mengusap perutnya, ia yang giliran menatap polisi berpangkat perwira ini. "Sedang apa anda di taman ini?"
Farhan kembali melihat Wulan, dan langsung bertemu pandang. Namun Wulan segera mengalihkan atensinya. "Aku tidak sengaja melewati taman ini, dan aku melihatmu duduk di taman sendirian. Dimana Damar?"
Leni sudah kembali dari membeli air mineral, namun ia terkejut kala Wulan sedang duduk dengan seorang pria berseragam polisi. Ia berpikir, mungkin saja Wulan mengenal polisi itu, lantas kembali duduk di semula ia duduk hanya berjarak dua bangku dari Wulan berada.
Wulan tertegun mendengar Farhan bertanya soal Damar. Ia menengadahkan kepalanya menatap hamparan langit biru dengan jumpatan awan yang seperti kapas. "Damar sedang sibuk." tukasnya ringan.
"Sebab itukah kamu ingin datang ke taman ini sendirian," Farhan melihat wajah cantik alami Wulan meskipun saat ini agak kemerahan di sebabkan tangisan, ia masih saja terpana. "bukankah Ibu hamil tidak baik bepergian seorang diri?"
Wulan mengalihkan atensinya menatap Leni yang sedang duduk di bangku lainnya. "Siapa bilang aku datang sendirian, aku datang bersama dengan wanita itu."
Leni merasa ia sedang jadi perbincangan, karena melihat Wulan menunjuknya. Leni hanya mengangguk sekilas dan tersenyum kecil.
Farhan mengikuti kemana pandangan Wulan menatap, maniknya melihat seorang wanita yang sedang duduk tidak jauh dari keberadaannya. Ia manggut-manggut, lalu kembali menatap Wulan.
"Hal yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang membuatmu merasa istimewa kemarin, dan membuatmu merasa sangat tidak diinginkan hari ini." kata Farhan mengingat kembali pada saat ia memergoki Damar sedang berjalan di mall dengan seorang wanita cantik nan seksi dua hari lalu.
...*****...
__ADS_1
Bersambung...