Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 20_


__ADS_3

"Kalian ini sangat kompak, kenapa menuduhku seolah aku ini sudah berselingkuh dengan sekretaris Anggi? Aku hanya kasihan karena dia sudah bekerja keras dan sangat baik. Makanya dia pusing dan aku hanya membantunya, hanya itu." Damar membela diri.


"Kalau benar seperti itu, jika aku meminta wanita itu dipecat apa kamu akan memecatnya, Damar?" Kata Wulan, matanya serasa panas. Hatinya terkokang oleh perasaan terluka.


"Mana mungkin Wulan, sedangkan dia baru bekerja satu minggu. Mana bisa aku semena-mena terhadap pegawai ku yang tidak salah apa-apa?" Kata Damar menatap Wulan nyalang, sembari menunjuk sekretaris Anggi yang sejak tadi hanya menunduk.


Wulan memperhatikan urat syaraf Damar menegang, bahkan urat di kening sang suami pun tergurat jelas, bahwa suaminya itu sangat marah seperti memang tidak terima dengan usulannya agar memecat si sekretaris baru.


"Maafkan saya Pak Damar, Bu Wulan saya yang salah." Sekretaris Anggi berkata, pandangannya masih menunduk. Meskipun dalam hati sangat senang, namun ia pandai memerankan wanita yang lemah.


Damar mendekati sekretaris Anggi, bahkan ia memegang kedua bahu sekretaris Anggi dihadapan istrinya.


"Kamu tidak salah Anggi, istriku saja yang bersikap terlalu berlebih-lebihan." Damar merasa iba, karena Anggi telah menjadi amukan Wulan.


"Kamu! Apa kamu merasa sudah menang dari ku? Apa karena suamiku membela mu, kamu jadi merasa senang hah?" Wulan sangat geram, ia mencengkram kuat tangan sekretaris baru suaminya.


Damar melihat wajah Anggi yang terlihat menahan sakit, ia lalu beralih menatap Wulan yang sedang marah. Dengan sekali tarikan tangan, Damar beralih memegangi tangan Wulan sampai tangan Wulan terlepas dari tangan sekretaris Anggi.


"Jangan pernah berlaku kasar terhadap pegawai ku Wulan. Meskipun kamu adalah istri ku, dan bahkan kamu sedang hamil pun. Aku tidak akan segan-segan untuk melukai mu! Kamu tidak lebih baik darinya." Damar berkata dengan gigi dikeratkan, lalu menghempaskan tangan istrinya begitu saja. "jika aku mengakui aku jatuh cinta pada sekretaris Anggi. Apakah itu membuatmu puas, Wulan?"


Dahi Wulan mengernyit menatap Damar dan beralih menatap Anggi.


"Mengapa baru sekarang aku kamu banding bandingkan dengan wanita yang baru kamu cinta. Tidakkah kamu merasa telah menyakiti hatiku, kamu kejam, Damar!" Kata Wulan meluapkan perasaan kecewanya.


"Terserah, tapi aku tidak lagi mencintaimu, Wulan." jawab Damar tegas. Damar hendak mengantarkan sekretaris Anggi untuk kembali ke ruangan sekretaris yang berada di sebelah ruang Presdir.


Wulan menatap kepergian Damar nanar, hatinya terkokang oleh kekecewaan. Pandangan matanya meremang, kumpulan air telah terbentuk di kelopak matanya yang sudah memanas. Namun, dengan sigap Wulan menyeka air matanya yang menetes di pipi.

__ADS_1


"Cukup!" Seru Wulan "Aku sudah tahu sekarang apa penyebab mu berubah!" Wulan menjatuhkan tas biru. Kotak makan siang yang bertumpuk tiga seketika jatuh dan berserakan, hingga masakan yang dibuatnya dengan segenap hati dan cintanya berceceran di lantai.


Baru beberapa langkah Damar menuntut sekretaris Anggi, ia dikejutkan dengan seruan Wulan membersamai dengan suara barang yang terjatuh di lantai.


Wulan berbalik badan meninggalkan ruangan Damar. Perasaannya sangatlah remuk, batinnya tersiksa. Ia tak menyangka sang suami malah lebih membela dan mempertahankan wanita yang baru seminggu menjadi sekretaris.


Bokir melihat Sekretaris Anggi dan kemudian menatap Damar dengan tatapan nyalang. Siapa yang akan menyangka, bahwa Damar bisa berubah sikap dalam beberapa hari saja mengenal sekretaris baru yang nampa berpakaian kurang bahan. Hanya rok di atas lutut dan memakai kemeja yang sangat ketat.


"Saya tidak menyangka, kamu lebih membela sekretaris baru mu, bahkan kamu mengakui rasa cinta buta mu, padahal kamu tahu sendiri Damar! Wulan sedang mengandung anakmu!" ucap Bokir berang.


"Oh ayolah Kang Bokir, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa kalian ini sangat berlebihan. Sekretaris Anggi sedang tidak enak badan, sebagai atasannya apa aku salah jika memperlakukan pegawai ku dengan baik?" Damar berkata masih tidak melunakkan suaranya.


"Kamu lihat Damar!" Bokir menunjuk kotak yang berceceran dimana-mana, nasi serta lauk-pauknya. "Wulan jauh-jauh datang ke sini dengan niatan ingin makan siang bersama mu Damar, tapi apa yang kamu lakukan dengan sekretaris barumu itu sudah membuat hatinya terluka. Lebih-lebih dengan perkataan kasar dan cinta mu barusan Damar!"


"Apa salahnya jika aku mengakui kalau aku memang mencintai sekretaris Anggi, dialah wanita yang membuatku bahagia setelah lelahku bekerja. Aku juga tidak meminta Wulan membawakan ku bekal, Wulan saja yang terlalu overprotektif." kilah Damar.


Dalamnya Anggi menunduk, ia sangat senang.


"Percuma saja berdebat dengan mu! Jika perasaan mu sudah mati untuk Wulan. Tapi paling tidak jangan menyakiti perasaannya sampai dia melahirkan." Kata Bokir geram, ia lalu pergi dari ruangan Damar membawa perasaan kesal.


Damar melihat kepergian pria berkepala plontos itu, tatapannya beralih melihat kotak makan yang berceceran nasi dan lauk-pauknya. Ia merasakan suatu bayangan keluar dari tubuhnya dan menjadikannya sedikit lunglai.


Melihat Damar lunglai, sekretaris Anggi mendekat dan memegang lengan sang atasan. "Pak Damar, anda tidak apa-apa? Saya rasa istri anda sudah gila pak, mungkin juga karena kehamilannya.."


Damar meremang melihat sekretaris Anggi yang sedang memegangi lengannya. Ia sadar telah begitu dekat dengan Sekretaris barunya, netranya beralih melihat kotak makan yang berceceran, seketika itu juga ia teringat dengan Wulan.


"Wulan!" Teriak Damar, lalu menyingkirkan tangan sekretaris Anggi. Damar segera berlari keluar dari ruangannya, mencari keberadaan sang istri. Meskipun kepalanya terasa sangat pusing, namun, ia merasa telah melakukan perbuatan yang menyakiti Wulan.

__ADS_1


"Dimana istriku?" Damar bertanya setelah keluar dari lift, ia bertanya kepada seorang staf yang lewat.


"Tadi saya melihat Bu Wulan berjalan ke parkiran, Pak." Jawab staf kantor.


Damar langsung berlari ke parkiran. Ia mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan parkiran, dan tidak mendapati istrinya.


"Wulan..." Damar meremass rambutnya kuat-kuat. Sekilas ucapan kasar telah ia lontarkan begitu saja. Ia langsung saja mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor sang istri, namun tiada jawaban.


Damar kembali ke dalam kantor, ia melihat Bokir. "Kang Bokir, Wulan ke sini bersama dengan siapa Kang?"


"Masih ingat kamu dengan istrimu?" Bokir menjawab sinis.


"Kang tolong Kang, tadi Wulan ke sini bersama dengan siapa?" Damar berkata seperti memohonkan kepada Bokir.


Meskipun malas untuk menjawab pertanyaan Damar yang nampak sangat panik. Namun, Bokir akhirnya menjawab. "Dia datang bersama Leni."


Damar melihat kunci mobil yang ada di kantung kemeja Bokir, ia segera mengambil dan keluar dari dalam gedung kantor.


Sementara itu, sekretaris Anggi masih berada di dalam ruangan Damar, merasa sangat geram. Melihat Damar mengacuhkan dan mengingat kembali pada Wulan, Anggi merasa ada yang mempengaruhi mantra guna-guna.


"Sepertinya aku harus menemui Mbah Kuwat. Aku harus meminta ajian pelet yang melebihi ajian pelet Manyamati yang lebih dahsyat agar Damar benar-benar meninggalkan istrinya, dan menjadi milikku."


Sekretaris Anggi melihat kelopak mawar hitam di tangannya, yang semula akan ia letakkan di kantung jas Damar, sama seperti kemarin yang sudah dilakukannya untuk membuat Damar terus menerus terngiang-ngiang tentangnya, dan hanya dia yang diingat oleh Damar.


Namun, agaknya Anggi mempunyai cara lain. Selain menyelipkan di kantung jas Damar. Ia melihat gelas air minum Damar yang masih terisi penuh.


Anggi berjalan mendekati meja kerja Damar, lalu membuka tutup gelas, dan mencelupkan kelopak mawar hitam ke dalam gelas selama tiga kali, seraya membaca ajian mantra-mantra yang sudah dihafal nya dari sang dukun yang ia sebut Mbah Kuwat.

__ADS_1


...*****...


Bersambung


__ADS_2