Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 07_Bersama selamanya


__ADS_3

Sekretaris Anggi masih duduk di kursi teras rumah dan mendengar perdebatan di dalam. Sepertinya memang kehadirannya sudah dianggap hama. Namun ia sangat senang akan hal ini. Bahkan ia bertekad akan menjadi hama yang benar-benar merusak rumah tangga Wulan dan Damar.


"Aku akan jadi hama yang perlahan menggerogoti hati Damar, agar berpaling darimu Wulan. Lambat laun, kamu akan ditinggalkan oleh suami yang sangat kamu cintai. Aku akan membuat Damar sangat membencimu sampai kamu mati."


Sekretaris Anggi tersenyum tipis, hatinya penuh kemenangan. Bahkan lebih dari sekedar senang telah mendengar Damar dan Wulan bertengkar seperti ini. Sekretaris Anggi tersenyum lebar, namun sesaat kemudian ia mendengar derap langkah kaki keluar dari dalam rumah. Anggia kembali ke wajah sedih, dan kembali memijit kakinya yang sebenarnya memang tidak sakit.


"Aku akan terus membuat Damar bersimpati padaku."


Sekretaris Anggi menunduk, ia pura-pura mendesahh seolah benar-benar kakinya sangat sakit.


"Sebaiknya aku antar kamu pulang. Supaya kakimu bisa segera diurut." Damar menghampiri pegawainya yang sedang memijit pergelangan kaki.


Anggi menadahkan wajahnya menatap wajah tampan sang atasan. Ia menggeleng kecil.


"Tidak perlu Pak Damar, saya bisa pulang sendiri. Saya minta maaf Pak, jika kehadiran saya sudah membuat istri Pak Damar jadi salah paham dan marah-marah." Anggi berkata dengan suara sendu.


"Sudah jangan kamu pikirkan, mungkin karena kehamilannya dia berubah menjadi wanita yang manja dan pencemburu tidak jelas." Sungut Damar, ia merasa dikekang.


Di ruang tamu, Wulan termangu meratapi kepergian Damar yang lebih memilih memperhatikan sekretaris barunya.


Apa dia wanita yang menawan suamiku, atau ada wanita lainnya? Aku harus bersiap untuk mencari tahu!


Bu Suci melihat guratan kesedihan di wajah Wulan. Beliau mengusap bahu menantunya. "Istighfar nak, kamu harus kuat. Jangan sampai kemarahan dan emosimu menguasai akal sehatmu."


Wulan merasakan pelupuk matanya memanas, tapi ia tidak ingin menangis dihadapan Ibu mertuanya. Wulan mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh beliau, bahwa kemarahan jangan sampai membuatnya menyesal. "Astaghfirullah hal'azdim."


Bu Suci tersenyum simpul.


"Ibu akan melihat siapa wanita yang menjadi sekretaris baru Damar." Bu Suci penasaran siapa wanita yang diperdebatkan Wulan dan Damar.


Wulan mengangguk kecil, dan melihat Bu Suci berlalu dari hadapannya.


Bu Suci lantas berjalan ke teras rumah. Dan melihat wanita cantik nan muda yang duduk bersebelahan dengan putra sulungnya. Bu Suci tidak menyapa, justru malah mengamati wanita yang menjadi sekretaris baru putranya.


Damar menyadari keberadaan Ibunya, ia lantas berdiri menghampiri Ibunya. "Sekretaris Anggi, perkenalkan ini Ibu saya."

__ADS_1


"Bu..." Anggi langsung berdiri begitu melihat seorang wanita setengah baya berhijab panjang yang berdiri di depan pintu. Ia hendak menyapa Ibu Damar. Namun karena tidak seimbang, ia akhirnya oleng dan hampir saja terjatuh, jika saja Damar tidak menangkapnya.


Matanya dan mata Damar bersitatap. Anggi sangat terpesona melihat ketampanan bos-nya. Ia terus menatap dan bergumam lirih, sesaat kemudian ia tersenyum manis.


Begitu pula dengan Damar, ia seolah terhipnotis oleh mata sekretaris Anggi. Tak sadar senyumnya merekah di kedua sudut bibirnya.


"Wanita inilah yang selalu hadir dalam pikiran ku, hatiku dan juga selalu membayangi ku. Sekretaris Anggi, aku terpesona padamu"


Bu Suci tercengang melihat Damar nampak akrab dan perhatian terhadap wanita muda itu.


"Ehem.." Bu Suci berdehem sangat keras. Hingga membuat Damar maupun sekretaris Anggi terperanjat dan melepaskan diri mereka masing-masing.


Anggi maupun Damar nampak celingukan. Seraya masing-masing menahan senyuman.


"Damar, aku jatuh cinta padamu. Dan aku ingin kamu tegaskan pada istri mu, bahwa kamu sudah jatuh cinta padaku."


Bu Suci menangkap gelagat yang mencurigakan dari sekretaris baru Damar. Seolah, bisa merasakan keburukan akan terjadi, tapi Bu Suci secepatnya berdoa, agar firasat buruknya tidak akan mengusik rumah tangga putranya.


"Sekretaris Anggi, kamu terlihat tidak baik-baik saja, sebaiknya saya antar kamu pulang." Kata Damar menawarkan diri untuk mengantarkan sekretaris barunya pulang ke rumah, karena dirasa sekretarisnya itu akan sulit untuk berjalan.


Anggi menggelengkan kepalanya. Berbeda dari hatinya yang sangat berat untuk menolak tawaran Damar, akan tetapi karena ada Ibu dari Damar, ia menahannya agar tidak nampak terobsesi dengan Bos. Biarlah, alon-alon asal lelakon, memiliki bos kaya raya seperti Damar.


"Tapi sekretaris Anggi, kamu terkilir cukup parah." Damar khawatir.


"Damar, biarkan saja dia pulang sendiri. Ibu lihat juga keseleo nya tidak terlalu parah. Kenapa kamu sangat khawatir, sebaiknya kamu perhatikan istri mu daripada kamu memperhatikan wanita lain. Minta maaf padanya, dia pasti sangat sedih dengan ucapan mu tadi." Bu Suci menengahi diantara Damar yang terlihat bersikeras untuk mengantarkan sekretaris Anggi pulang.


Kecewa terbesit di hati Anggi. Ia menatap Ibu dari Damar dengan tatapan tidak suka. "Aku bertekad, aku akan meluluhkan hati wanita tua itu."


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Apa saya telah salah bicara?" Kata Bu Suci melihat tatapan tidak suka dari Sekretaris Anggi.


"Ibu!" Seru Damar menegur Ibunya yang dirasa tidak berlaku baik kepada sekretarisnya.


"Tidak apa-apa Pak Damar wajar jika Ibu Anda berkata demikian. Beliau pasti mengira saya akan menggoda anda," Kata Anggi tersenyum tipis. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali memaki wanita tua itu. "Dan itu memang kenyataannya, sebentar lagi juga putramu akan jatuh dalam pelukanku." sambungnya dalam hati.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Sambung Anggi lagi, dan berlanjut dalam hatinya. Melihat Ibu dari atasannya. "Calon mertuaku, aku pulang dulu, saat aku kembali ke rumah ini, Ibu dan juga menantumu yang manja itu harus menerima ku sebagai istri Damar."

__ADS_1


Anggi berjalan terpincang-pincang, tentu saja ia berpura-pura. Karena memang kakinya baik-baik saja.


Damar tidak tega melihat sekretarisnya itu berjalan terpincang-pincang dan harus pula menuntun sepeda yang telah rusak.


"Kasihan dia, Ibu sama Wulan ini sangat keterlaluan."


Apalah daya, saat melihat raut wajah sang Ibu yang nampak tidak senang. Damar berlalu dan melihat Wulan sedang berdiri di ambang pintu masuk rumah. Entah mengapa ia merasa sangat kesal atas sikap Wulan yang tidak memperlakukan sekretaris Anggi dengan baik. Ia melirik sang istri dengan sorot mata tajam lalu masuk kedalam rumah.


Wulan termenung di tempatnya berdiri. Melihat sikap kasar dan kejamnya seorang Damar Mangkulangit. Tak pernah ia sangka, bahwa suaminya itu akan mempermalukannya seperti ini. Bahkan penolakan karena tidak mau membuatkan sekretaris Anggi minuman, begitu membuat Damar murka.


"Apakah aku berlebihan jika menyikapi perubahan suamiku ini, suami yang dulu lembut dan sangat dewasa. Kini seolah menjadi seorang suami yang tidak aku kenali. Kang Cimar, sampai batas kesabaran mana kamu akan mengujiku."


Bu Suci hendak masuk kedalam rumah, namun beliau melihat menantunya sedang berwajah murung. Bu Suci berfirasat bahwa Wulan melihat perlakuan Damar kepada wanita muda tadi.


"Wulan, ayo kita masuk. Kamu kan belum minum susu. Kasihan cucu Ibu, dia pasti kehausan." Kata Bu Suci mencoba menghibur menantunya yang nampak sangat sedih.


Wulan mengangguki ucapan Ibu mertuanya. Ia lantas masuk membersamai dengan Bu Suci. Berjalan menuju dapur.


Bu Suci menarik kursi. "Duduklah anakku, jangan sedih dan jangan bimbang. Ibu yakin, hati dan cinta Damar hanya untukmu."


"Tapi Bu, bagaimana jika ternyata Damar memang sudah tidak cinta lagi sama Wulan?"


Bu Suci melihat pancaran kekhawatiran di wajah Wulan. Beliau memegang tangan menantunya. "Berlindung lah hanya kepada Allah, Wulan. Jangan berkata seperti itu. Damar Wulan bersama selamanya."


Wulan menatap Ibu mertuanya nanar. Bahkan air matanya siap meluncur. Semoga saja apa yang Bu Suci katakan bukan hanya sekedar menghibur tapi sebuah kebenaran. Bahwa cinta Damar hanya untuknya seorang.


"Ibu akan buatkan kamu susu, kamu duduk saja. Kamu mau susu rasa apa, Vanila, strawberry, apa cokelat?" Tawar Bu Suci, sembari mengusap pundak Wulan.


Wulan menggeleng pelan. Lalu menuntun Ibu mertuanya untuk duduk. "Tidak usah Bu, biar Wulan yang membuat susu sendiri. Ibu duduk saja."


Wulan berbalik badan, lalu membuka lemari dapur. Melihat beragam susu berbagai rasa yang dibeli Damar saat sedang berada di Jakarta minggu lalu. Tanpa rasa, tiada daya untuk menahan air matanya.


Setetes air bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, kini meleleh membasahi pipi dan semakin turun hingga jatuh di punggung tangannya.


Damar, kamu tahu. Kamu adalah cinta pertama dan semoga cinta terakhir ku.

__ADS_1


*****


Bersambung


__ADS_2