
Bokir hendak menuju ruangan Damar, ia akan menaruh beberapa berkas. Dipegangnya gagang pintu lantas membukanya, maniknya langsung melihat sekretaris Anggi berdiri di dekat meja kerja Damar, tatapannya beralih menatap tangan sekretaris Anggi baru saja menutup gelas.
"Apa yang baru saja kamu lakukan sekretaris Anggi?" Bokir berseru lalu berjalan menghampiri sekretaris baru Damar.
Anggi terperanjat maniknya melihat pria berkepala plontos itu berjalan dengan langkah jenjang menghampirinya. Sampai tidak sadar tutup gelas terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu membuka penutup gelas Presdir?" Bokir bertanya sekali lagi, setelah lebih mendekati sekretaris berdada bahenol itu. "jawab, kenapa diam saja?!" Bokir menuntut jawaban.
Sekretaris Anggi menahan rasa gugupnya. Ia menyembunyikan kelopak mawar di belakang pinggang. "Tidak ada."
Bokir tidak lantas percaya begitu saja. Ia lalu berjalan ke samping, lebih mendekati meja kerja Damar. Tatapannya mengintimidasi wanita muda yang nampak mencurigakan.
Mendapat tatapan intimidasi dari pria plontos itu, membuat Anggi tersenyum lebar menahan gejolak hatinya yang hampir saja ketahuan. Lalu melihat objek semua yang berada di meja kerja Damar. Seketika itu, ia menemukan alasan.
"Tadi sewaktu saya memeriksa meja kerja Pak Damar, saya tidak sengaja melihat ada semut yang hampir saja masuk kedalam gelas Pa Damar, jadi saya berinisiatif untuk mengusir gelas, eh gelas. Maksudnya semut." Kilah Anggi berkata sembari menunjuk semut yang kebetulan ada di meja kerja Damar.
Sebagai seorang yang pernah bekerja sebagai intelijen. Tentu saja Bokir menyangsikan ucapan sekretaris Anggi.
"Hhh jelas saja cara bicaramu tergagap, dan postur tubuhmu gemetar, saya bisa menebak. Bahwa kamu akan melakukan tindakan buruk."
Melihat Bokir yang nampak tidak percaya. Sekali lagi, Anggi berkata untuk meyakinkan pria plontos yang tidak jauh berdiri dari jaraknya berdiri. "Sumpah Pak Bokir, ada semut tadi. Lagi pula untuk apa saya bohong."
Bokir mengangkat satu alisnya. "Benarkah?"
"Sungguh." Jawab Anggi sambil tersenyum lebar. "Kalau begitu saya keluar Pak Bokir, banyak hal yang harus saya kerjakan." Ucapnya sebagai pengalihan.
Bokir tidak menjawab, ia terus melihat sekretaris Anggi yang telah berlalu dari hadapannya. Maniknya kembali fokus memperhatikan meja, dan lebih tepatnya melihat gelas air minum Damar.
Selepas kepergian Anggi, Bokir mengambil gelas minum Damar. Lantas membuang air di dalam kamar mandi.
"Aku curiga dia meletakkan sesuatu di dalam gelas ini." Bokir menatap gelas yang telah kosong.
Bokir melihat seisi ruangannya. Ia baru menyadari bahwa ada lukisan bunga mawar hitam di dinding. "Kenapa aku baru menyadari kalau Damar menyukai lukisan mawar hitam?"
Bokir mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan ruangan kantor Damar. "Ada yang tidak beres, aku harus melakukan sesuatu."
Di luar ruangan presdir, Anggi bernafas lega, seraya mengelus dada. "Hampir saja." Lalu berjalan kearah tong sampah stainless dan membuang kelopak mawar.
Anggi kembali menatap pintu ruangan Damar, ia sangat geram akan apa yang dilakukan Bokir. "Dasar botak, karyawan saja blagu! Awas saja kalau aku menjadi Nyonya Damar, aku akan segera memecatnya!"
__ADS_1
Anggi kembali ke ruangannya sendiri. Setelah duduk di kursi kerjanya. Anggi berhasil mendapatkan foto Damar yang merangkul pinggang Wulan sangat mesra, senyuman Damar juga terlihat sangat menawan.
Saat menatap foto Damar, Anggi ikut tersenyum lebar, namun pada saat menatap senyuman Wulan yang terlihat di dalam foto. Ia jadi panas hati.
Anggi merobek tepat di tengah-tengah foto, dan memisahkan menjadi dua bagian. Bukan hanya memisahkan menjadi dua bagian. Anggi juga menyobek-nyobek foto Wulan sampai menjadi bagian kecil-kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Anggi kembali menatap foto Damar, ia tersenyum lebar. "Suatu saat, kamu akan memasang foto kita berdua. Hanya kita, Anggi dan Damar."
Anggi mendekatkan foto Damar yang telah sobek ke bibirnya yang berwarna lipstik pink fanta. Ia berulang kali menciumi foto Damar.
Pikirannya melayang, saat pertama bertemu dengan Damar, yang membuat hatinya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, lebih-lebih Damar bukanlah orang sembarangan.
...Flashback on ...
Sebulan yang lalu.
Sebelum menjadi sekretaris, Anggi Kumalasari 23 tahun bekerja sebagai seorang pelayan di restoran.
Hari itu, merupakan hari sial sekaligus hari bahagianya dapat bertemu dengan seorang usahawan muda nan tampan bernama Damar Mangkulangit.
Mengapa Anggi menyebutnya hari sial, karena ia bekerja saat badannya tidak sehat. Hingga membuat tangannya gemetar dan tidak sengaja menumpahkan minuman kepada pakaian seorang pria yang berperangai kasar.
Padahal Anggi sudah meminta maaf jika ia tidak sengaja menumpahkan jus jeruk kepada pria berperangai kasar. Hingga membuat Anggi merasakan malu yang teramat sangat malu, ia di caci maki dan dihina-hina oleh pria tersebut.
"Jangan pernah menampar seorang wanita." Kata Damar saat itu.
"Heh jangan ikut campur, pelayan ini sudah kurang ajar. Dia sudah menumpahkan minuman ke pakaian ku." Kata si pria kasar.
"Apakah Anda Pak Herman?" Kata Damar menyebut nama pria berperangai kasar bernama Herman.
"Siapa kamu, dan darimana kamu tahu namaku?" Kata Herman.
Damar melihat seorang pelayan yang sedang berlutut kemudian menatap Herman.
"Tidakkah anda mendengar bahwa dia sudah meminta maaf? Lalu apa yang anda ributkan?" Kata Damar kepada Herman yang tidak lain merupakan seorang klien yang akan bekerjasama dengan perusahaannya.
"Damar sudahlah." Kata pria berkepala plontos yang kemudian Anggi kenal sebagai Bokir.
Mata Herman terbelalak kala mendengar pria berkepala plontos menyebut pria yang menghalau tangannya bernama Damar.
__ADS_1
"A-apakah Anda Damar Presdir dari perusahaan Amanah food?" Kata Herman tergagap.
"Saya paling tidak suka bekerjasama dengan seseorang yang mempunyai perangai buruk." Kata Damar melihat Herman tajam.
"Maafkan saya Pak Damar, saya tidak bermaksud seperti itu." Kata Herman memelas. Ia tidak masu kerjasama yang menguntungkan ini harus berakhir begitu saja.
"Kenapa anda meminta maaf kepada saya Pak Herman." Damar melihat seorang pelayan wanita yang masih berlutut dengan menangkupkan kedua tangan. "Minta maaf lah padanya."
Herman menegaskan rahangnya. Meskipun kesal akibat ulah pelayan yang ceroboh. Akan tetapi demi melancarkan bisnisnya, Herman akhirnya mau menuruti permintaan Damar yang terdengar seperti perintah baginya.
"Saya minta maaf." Kata Herman pada pelayan yang masih bertekuk lutut.
"Berdirilah Mbak, dia sudah meminta maaf. Lain kali Mbaknya harus lebih hati-hati." Kata Damar.
Anggi kembali berdiri ia menatap wajah tampan nan menawan Damar. Cinta pada pandangan pertama membuatnya mabuk kepayang sampai berhari-hari lamanya.
Setelah pertemuannya dengan Damar hari itu, hari dimana Damar seolah menjadi pahlawannya. Hidup dalam kemiskinan dan dihina-hina orang. Membuat Anggi bertekad untuk menaklukkan hati seorang usahawan Damar Mangkulangit.
Anggi berpikir dengan menaklukkan hati Damar, dan menjadi istri dari pengusaha muda itu. Tidak akan lagi hidup dalam kemiskinan dan tidak ada lagi orang yang menghina serta meremehkannya.
Anggi mendatangi pabrik amanah food. Ia melihat Damar dari kejauhan, secara kebetulan sekali saudaranya bekerja di pabrik milik Damar. Anggi mencari informasi tentang Damar dan segalanya tentang Damar. Hingga mendapatkan foto serta tanggal lahir Damar.
Anggi tentu tahu, dengan adanya informasi mengenai Damar yang sudah menikah dan istrinya bernama Wulan sedang mengandung. Anggi juga tahu, bahwa Damar adalah seorang suami yang sangat mencintai serta setia terhadap istrinya.
Namun Anggi tidak perduli. Tekadnya sudah bulat, ia akan mendapatkan serta menaklukkan hati Damar.
Anggi dikenalkan seorang teman pada seorang dukun sakti, yang terkenal dengan ajian dan mantra-mantra gaib, dari mulai santet dan pelet. Untuk melancarkan rencananya, Anggi mengambil satu langkah yaitu Pelet Manyamati, tanpa harus menunggu lama, pelet itu akan segera bekerja tentunya dengan bantuan rapalan mantra guna-guna.
Tepat hari Jumat Kliwon, Anggi menemui seorang dukun sakti yang tinggal di lereng gunung, bernama Mbak Kuwat. Ritualnya tidak mudah, Anggi harus bersemedi di samping sumur angker selama tiga hari tiga malam. Kemudian dari sumur tersebut ia akan dimandikan menggunakan air sumur tersebut oleh Mbak Kuwat.
Bukan hanya itu, perjuangan dalam merapalkan mantra juga kerap kali di ganggu oleh makhluk gaib yang berwujud menyeramkan.
Sejak memperoleh ilmu gaib ini, Anggi melamar pekerjaan di pabrik milik Damar. Dan tentu saja, dengan sekejap mata, Anggi dapat langsung diterima kerja.
...Flashback off ...
"Semua perjuangan yang sudah ku lakukan sampai sejauh ini, tidak boleh berakhir dengan sia-sia." Gumam Anggi menatapi wajah Damar di dalam foto yang sudah sobek.
"Damar aku menunggumu malam ini, datanglah ke rumahku. Aku ingin memadu kasih denganmu, hanya denganmu." Anggi merapalkan mantra dan meniupkan hembusan nafasnya ke foto Damar.
__ADS_1
...******...
Bersambung...