
Bu Suci mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan bangunan rumah. Perasaannya semakin tidak karu-karuan, beliau merasakan aura energi negatif di sekitar rumah ini.
Dan kembali mengamati tusuk konde perak yang ditemukannya. Perasaannya sama, kala melihat tusuk konde perak seolah membawa pesan bahwa tusuk konde perak ini bukan sembarang tusuk konde, aura magis dan mistis sangat kuat terasa.
Prasangkanya berkata, akan ada perasaan ganjil dalam merangkai peristiwa ini.
"Tusuk konde dan benda mistis yang ditemukan Wulan semakin mencuat dugaan bahwa perubahan Damar karena pelet." Bu Suci mengedarkan pandangannya menatap bangunan rumah, lima detik kemudian kembali mengamati konde perak yang ada di tangannya.
Suara klakson motor dari depan rumah membuyarkan apa yang ada di pikiran Bu Suci, hingga membuatnya terperanjat. "Astaghfirullah."
Beliau berjalan menuju halaman rumah, dan melihat putra bungsunya sedang memarkirkan motor.
"Assalamualaikum." Sapa Danum pada Ibunya ia melihat ada guratan ketegangan yang jelas terlihat di wajah keriput wanita yang telah melahirkannya.
"Wa'alaikumussalam." Bu Suci menyalami tangan Danum, lalu berjalan beriringan menuju teras rumah.
"Ada apa Ibu menelepon Danum? Kirain aku, Ibu sudah lupa sama anak bontot Ibu?" Danum menaruh helm di meja teras, lalu duduk sembari menyugar rambutnya yang berkeringat.
"Jangan berkata seperti itu Le, Ibu mana yang akan melupakan anaknya, apa kamu sudah makan?" jawab Bu Suci, beliau merasa kasihan melihat putra bungsunya yang terlihat lebih kurusan.
"Sudah sewaktu berangkat sekolah pagi tadi, hari ini untung saja Danum pulang cepat karena memang habis ujian jadi nggak ada pelajaran, sewaktu Ibu menelepon Danum padahal sedang bersiap untuk berjualan cilor."
"Kenapa kamu ndak membantu Mas mu saja di pabrik, atau membantu mengurus cabang pabrik yang baru berdiri," kata Bu Suci sudah sering beliau mengingatkan untuk putra bungsunya dalam membantu bisnis yang dikelola putra sulungnya.
Lagi... Danum menggeleng membersamai dengan jari telunjuknya yang mengibas. "Nggak mau, Danum mau merintis usaha cilor krispi buatan sendiri. Sayang Bu, cilor Danum sudah banyak pelanggannya."
Yah, seperti biasa. Danum akan menjawabnya santai.
Jika sudah mendapatkan jawaban seperti itu dari Danum, maka Bu Suci hanya bisa mendoakan. "Semoga usaha yang kedua putra Ibu jalankan laris manis. Tapi jangan lupa, sebagian dari rezeki yang kamu dapat harus bisa di tabung dan di sedekahkan."
Danum seketika saja memberi hormat dengan melekatkan tangan di alis, sudah seperti hormat kepada sang Merah Putih. "Siap laksanakan."
"Bagaimana kabar Kakek dan nenekmu?" tanya Bu Suci mengenai kabar mertuanya.
__ADS_1
"Kakek Bagaskara sama Nenek Ayudia baik. Tapi mereka bilang, mereka kangen sama kalian, yah walaupun Ibu, Mas Damar, sama Mbak Wulan sering berkunjung," jawab Danum, mengingat kerinduan sang Kakek dan Nenek kepada menantu dan juga cucunya. "Di rumah Kakek sangat sepi, aku sampai bosan di sana. Kenapa sih Mas Damar sama Mbak Wulan lebih memilih tinggal di sini?"
"Karena rumah ini lebih dekat ke pabrik Le, dan lebih menghemat waktu Mas mu," jawab Bu Suci.
"Tapikan aku jadi merasa kesepian, Bu?" Danum menghela nafas panjang, kala mengingat tiada lagi yang bisa di ajak bercengkrama seperti Mas Damar.
Bu Suci tersenyum simpul lalu mengusap kepala putranya, "Maafkan Ibu cah bagus, nanti Ibu akan membujuk Mas mu supaya mau pindah ke rumah lama atau ke rumah Kakek Bagaskara," Bu Suci lantas duduk dibangku sebelah Danum. "Ada hal penting menyangkut Mas mu."
Danum terkesiap. "Hal penting apa Bu?"
Bu Suci menggeleng, karena belum yakin atas jawabannya. "Ibu juga belum tahu."
Danum bingung dengan jawaban Ibunya. "Lha Ibu belum tahu, tapi bilang ada hal penting menyangkut Mas Damar?"
Danum melihat benda perak yang dipegang oleh Ibunya. "Itu apa Bu?"
Bu Suci menyadari tangannya yang masih memegangi tusuk konde perak, lalu menunjukkannya pada Danum. "Ibu menemukan ini di samping rumah, di bawah saung."
Bu Suci menggeleng. "Sepertinya bukan, Wulan ndak suka memakai tusuk konde."
Danum mengamati bentuk dan ukiran di tusuk konde perak. Memang terlihat barang antik, seperti yang digunakan orang jaman dahulu. Ia kembali menatap wajah Ibunya yang menampilkan guratan garis-garis kecemasan.
Danum celingukan karena rumah nampak sepi. "Dimana Mbak Wulan?"
"Mbak mu pergi ke pabrik."
"Oh iya, memangnya Ibu mau di antar ke suatu tempat? Memangnya Ibu mau kemana?"
"Ke rumah Bu Halimah." Jawab Bu Suci, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk kedalam rumah untuk bersiap-siap. "Selagi menunggu Ibu bersiap, kamu makan dulu Le. Ada sayuran urab di meja."
"Iya Bu." Danum semakin heran, dan bertanya-tanya, mengapa Ibunya meminta diantarkan ke rumah Bu Halimah, istri dari seorang Ustadz yang terkenal merukiyah orang-orang yang terkena ilmu gaib.
Danum beranjak dari duduknya, lantas menyusul Ibunya masuk kedalam rumah. Dapur adalah tujuannya. Setelah menghabiskan makanannya. Lalu kembali berjalan ke ruang tengah. Di sana, ia melihat Bu Suci sudah duduk di sofa dengan memasukkan kantung plastik berwarna hitam ke dalam tas.
__ADS_1
"Bu memangnya kenapa Ibu mau ke rumah Bu Halimah? Kayak ada orang kesambet aja." Danum duduk dan bersandar pada sandaran sofa.
"Ibu ndak tahu prasangka Ibu sama Mas mu benar apa ndak, Ibu hanya ingin memastikan." Jawab Bu Suci sekilas melihat Danum.
Danum tercenung mendengar perkataan Ibunya. "Maksud Ibu apa?"
Bu Suci sudah membawa semua benda yang ditemukan Wulan, juga tusuk konde. Lantas beranjak dari duduknya. "Ayo antarkan Ibu ke rumah Bu Halimah. Nanti kalau sudah sampai di sana, kita akan tahu apa yang terjadi sama Mas mu."
Danum semakin tidak mengerti tentang kondisi Damar, dua hari terakhir kali ia bertemu. Kakaknya itu terlihat baik-baik saja. Tapi kenapa kali ini Ibu nampak panik dan gelisah, seolah memang Kakaknya harus mendapat rukiyah.
Danum mengikuti langkah kemana Ibu menarik tangannya. "Helm Bu helm." Danum melihat helmnya yang masih di atas meja teras rumah.
Setelah sama-sama memakai pelindung kepala. Danum memutar balikkan motor bebeknya yang tentunya ia beli atas usahanya sendiri dalam menjalani bisnis cilor krispy di sekolah maupun sepulang sekolah. Dan tinggal menghitung bulan lagi, pemuda berusia 17 tahun ini lulus sekolah. Ia tidak membiasakan dirinya meminta ini dan itu kepada Kakaknya, ia ingin seperti Damar Mangkulangit yang gigih tekun dalam bekerja.
Setelah Ibu memposisikan diri dalam membonceng yang sekiranya nyaman. Danum menyalakan mesin motor dan melaju dengan kecepatan sedang, atau kalau sampai ngebut sedikit saja, wanita yang melahirkannya di belakang ini, akan menepuk pundak serta mengomelinya sepanjang jalan.
Namun kali ini, meskipun Danum tidak melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sang Ibu juga menepuk-nepuk pundaknya.
"Cepat Danum, kamu naik motornya lambat sekali. Ibu takut setelah kita sampai di sana Bu Halimah ndak ada di rumah." Seru Bu Suci menepuk-nepuk pundak putra bungsunya. Beliau tahu, jadwal Bu Halimah jika jam-jam ini istri ustadz Umar itu akan mengajar di ponpes.
"Lha serba salah aku ini Bu. Pas Danum ngebut Ibu selalu ngomelin Danum, sekarang Ibu malah suruh Danum ngebut?" Danum heran sekaligus bingung dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.
"Untuk kali ini saja ngebut Danum!" Lagi Bu Suci menepuk pundak Danum dan bersuara sedikit meninggi.
"Okelah kalau begitu, jangan salahkan Danum." Danum mulai menambahkan gigi dan menarik gas motornya lebih kencang. "Pegangan Bu!" serunya.
BREM BREM BREM
Bersambung...
__ADS_1