Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 14_Hanya tiga hari?


__ADS_3

Bu Suci menjelaskan sikap dan perubahan yang terjadi pada Damar. Karena memang perubahan yang terjadi pada Damar terbilang sangat singkat.


"Saya tidak tahu apa prasangka saya ini benar atau salah, tapi saya berharap prasangka saya ini salah Pak Ustadz Umar, saya kasihan melihat anak menantu saya murung dan sedih, padahal dia istri yang sangat baik untuk anak saya." Jelas Bu Suci menahan gejolak rasa sedihnya, kala mengingat perubahan kasar Damar.


"Selain sikap Damar yang berubah secara tidak wajar, dan benda berupa kembang serta tusuk konde ini, apa Bu Suci merasakan hawa panas yang sekiranya menyelimuti rumah, atau bisa jadi ada yang lain dalam diri Damar, contoh kecilnya Damar tidak mau bersitatap dengan Bu Suci?" Kata Ustadz Umar bertanya lebih dalam lagi, agar semakin jelas dan terang.


Bu Suci terdiam dan mengingat-ingat kembali dengan sikap dan perilaku putranya. "Iya Ustadz Umar, ada. Selama beberapa hari ini, Damar seperti menolak jika saya ingin menatap matanya dan juga Damar menghindar saat saya baru menyentuh punggungnya. Bukan hanya pada saya, tetapi juga pada istrinya."


Ustadz Umar manggut-manggut mendengar penjelasan Bu Suci. "Lalu?" Tanyanya sembari terus menatap tusuk konde perak dan kembang yang ada di atas meja.


"Lalu, saya juga merasakan hawa panas saat memasuki kamar anak saya. Seperti pagi ini, saya melihat bayangan hitam keluar dari kamarnya dan Wulan juga berteriak sangat keras. Dia mengaku melihat foto pernikahannya mengeluarkan banyak darah sampai membasahi sprei." Kata Bu Suci lagi, dalam menerangkan peristiwa ganjil baru-baru ini.


Ustadz Umar mengalihkan atensinya menatap wajah istrinya.


"Bu tolong ambilah air di baskom dan tujuh daun Bidara." Kata ustadz Umar kepada istrinya.


"Iya Pak." Bu Halimah segera menjalankan tugasnya, inilah yang dilakukannya saat melakukan pendampingan terhadap kegiatan sehari-hari suaminya kala menyembuhkan pasien yang berkaitan dengan ilmu gaib.


Danum semakin dilanda kengerian, bulu kuduknya berdiri. Ia masih tidak menyangka dan percaya. Bahwa Mas Damar bisa terkena ilmu guna-guna.


Tatapannya menatap Bu Suci yang nampak sangat tegang serta menampilkan garis-garis kecemasan. Lalu Danum mengalihkan atensinya menatap wajah guru ngajinya. Sedangkan jamuan yang sebelumnya disajikan oleh Fatimah, baik dirinya maupun sang Ibu tidak disentuh bahkan tidak berselera bukan karena tidak enak, hanya saja perasaannya tercengang mengetahui bahwa Mas Damar terkena guna-guna. Mungkin hati Ibunya jauh lebih cemas dan khawatir daripadanya.


"Bu Suci, Danum. Selagi menunggu istri saya mengambil air, silahkan diminum." Kata Ustadz Umar mencairkan suasana tegang yang membaur dengan kecemasan. Beliau menatap wajah Bu Suci lalu menatap wajah muridnya. "Danum?"


Mendengar namanya di sebut, Danum seketika itu juga melihat wajah guru ngajinya. "Saya Pak Ustadz?"


"Ingatkah artinya dari surah (QS. Yusuf: 64)" kata Ustadz Umar.

__ADS_1


Danum tercenung mendengar pertanyaan dari Ustadz Umar, ia menghela nafas panjang. "Mmaka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang."


Ustadz Umar melihat Bu Suci. "Bagaimana Bu Suci, apakah penjelasan dari Danum masih membuat Bu Suci takut?"


"Saya hanyalah manusia biasa Ustadz, apakah ndak wajar jika saya mengakui jika saya takut dan cemas jika memang benar anak saya terkena ilmu hitam?" Kata Bu Suci gemetar.


Ucapan Bu Suci bersamaan dengan Bu Halimah datang membawa baskom lalu menaruhnya di meja.


Ustadz Umar menaruh semua benda yang di bawa oleh Bu Suci ke dalam baskom yang berisikan setengah air dan daun Bidara, sebelum memulai membaca doa. Beliau berkata. "Tidak ada akhir yang menyedihkan bagi mereka yang sabar dan percaya kepada Allah."


Bu Suci menggemakan istighfar dalam hati. Mengharap apa yang di cemaskan tidak terjadi.


Tatapan Danum terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ustadz Umar, sampai pada melihat guru ngajinya menaruh semua benda yang dibawa oleh Ibunya kedalam baskom dan berikutnya melihat Ustadz Umar membaca doa dan zikir. Hatinya menyeruak rasa takut, sampai-sampai sekujur tubuhnya menggigil dan berkeringat, karena takut jika benar Mas Damar terkena guna-guna.


"Kita lihat, apakah airnya berubah warna atau tidak, jika airnya berubah warna kehitaman. Berarti anak Bu Suci benar terkena guna-guna, dan saya berharap tidak berubah warnanya." Kata Bu Halimah menerangkan.


Sedangkan Ustadz Umar sedang fokus membaca doa serta berzikir.


Danum melihat wajah Ibunya, ia merasa tegang. Dan terus memantau air yang ada di dalam baskom. Hatinya berkata, "Jangan sampai airnya berubah warna."


Danum mengalihkan atensinya sekilas menatap wajah sang Ibu yang nampak sangat khawatir dan gelisah. "Ya Allah selamatlah Mas Damar."


Tiga pasang mata terbelalak melihat air di dalam baskom yang berubah warna, bukan hanya samar hitam. Namun sangat hitam pekat. Danum dan Bu Suci saling bersitatap dua detik berikutnya kembali melihat baskom dan beralih menatap Ustadz Umar dan Bu Halimah.


Ustadz Umar memang sudah tahu, jika ada aura negatif yang datang bersama dengan Bu Suci. Kini wujud hitam ada di sebelah wanita paruh baya itu. Namun, Ustadz Umar yang terbiasa dengan hal semacam ini, beliau lebih memilih bersikap tenang agar tidak membuat Bu Suci dan Danum semakin takut.


"A-airnya berubah warna?" Kata Danum tergagap.

__ADS_1


"Jadi apa benar anak saya terkena guna-guna Ustadz Umar, Bu Halimah?" Kata Bu Suci semakin dilanda kengerian kala terbukti bahwa air yang ada di dalam baskom berubah warna hitam.


"Ndak bisa di percaya, di zaman sekarang masih ada yang pergi ke dukun?" Ucap Danum geleng-geleng kepala.


"Pelet atau guna-guna adalah ilmu ghaib yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar seseorang agar mencintai orang yang memeluknya dengan mantra-mantra dan ritual tertentu. Akibatnya bagi orang yang sudah berkeluarga tentu akan sangat fatal, karena rumah tangganya bisa berantakan. Tapi, dengan pertolongan Allah Wajalla insyaallah Damar bisa terbebas dari guna-guna itu." Kata Bu Halimah, beliau berjalan menghampiri Bu Suci lantas duduk di sebelahnya. Bu Halimah mengusap punggung Bu Suci yang sedang dilanda kecemasan.


"Lalu apa yang akan terjadi dengan anak saya, saya sangat takut sekaligus kasihan dengan anak menantu saya, dia sangat baik." Kata Bu Suci bersuara parau, menahan tangis yang kian membendung.


"Ada pengobatan," kata Ustadz Umar. "Maksud saya, mengusir jin itu dengan segera. Cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surat penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: *"Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya." Sambung Ustadz Umar dalam menjelaskan hadis.


*(HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)


*"Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu." Kata Ustadz Umar lagi.


*(HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).


Bu Suci dan Danum memasang pendengaran baik-baik dalam mencerna semua yang dikatakan oleh Ustadz Umar.


"Hanya 3 hari?" Kata Ustadz Umar lagi. "Terdapat keterangan bahwa setan meninggalkan rumah itu selama 3 hari. Ini berdasarkan hadis dari Sahl bin Sa'd radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang membaca surat Al-Baqarah di malam hari maka setan tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari.."


*(HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 780).


"Hanya tiga hari?" Kata Bu Suci tergegap.


"Bagaimana caranya bisa mengusir setan pengganggu untuk selamanya Ustadz?" Danum ikut menimpali ucapan Ibunya.


Netra Ustadz Umar melihat Danum dan kemudian melihat Bu Suci. "Ada banyak hadits mengenai cara mencegah masuknya atau gangguan setan dalam metode penyembuhan Al-Qur'an. Tapi saya akan jelaskan secara ringkasnya saja, agar lebih mudah dipahami."

__ADS_1


******


Bersambung


__ADS_2