
Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi tak memerlukan waktu lama bagi Damar untuk sampai di halaman rumahnya. Ia bergegas turun dari mobil tanpa memperdulikan lagi untuk menutup pintu.
Berlarian seperti orang yang sedang dikejar setan, sampai kakinya tersandung dan hampir saja terjatuh. Damar kembali menyeimbangkan tubuhnya, mengatur nafas yang tersengal-sengal Damar kembali berjalan masuk kedalam rumah. Membersamai dengan suaranya yang memanggil sang istri.
"Wulan..."
"Nawang Wulan...?"
Danum yang sedang duduk di taman belakang memberikan makan burung dara terperanjat kala mendengar suara nyaring Mas Damar.
"Mas Damar?" gumamnya.
Remaja ini segera berhamburan untuk masuk kedalam rumah, dan melihat sekilas Mas Damar masuk kedalam kamar dengan terus memanggil-manggil Wulan.
"Mas ada apa toh?" Danum berdiri di ambang pintu masuk kamar Kakaknya. Dilihatnya Mas Damar seperti sedang mencari-cari seperti orang kesurupan.
"Wulan mana Num, Wulan mana?" Damar panik, ia kalang kabut. Seakan-akan dunianya menjadi antah berantah.
"Lho kata Ibu, Mbak Wulan pergi ke pabrik?" jawab Danum, tiba-tiba saja melihat Damar memegangi dada dan beralih memegangi kepala.
Damar merasakan tubuhnya sangat panas dan kepalanya berdenyut hebat, ia menggemakan istighfar dalam hati seraya memegangi kepalanya yang serasa dihantam bongkahan batu besar. "Sakit sekali..."
"Lho lho Mas, ono opo to Mas?" Danum segera tanggap, kala melihat Mas Damar seperti menahan sakit dengan memegangi kepala. "Eling Mas, Eling. Istighfar Mas!" ucap Danum panik.
"Astaghfirullah!" erangan Damar mengucapkan istighfar meskipun bibirnya sangat berat untuk mengatakan hal itu.
Bu Suci di dalam kamar telah selesai sholat dhuhur, setelah membaca doa dan zikir beliau keluar kamar, guna melihat keadaan apa yang sedang terjadi. Di depan kamar Damar, maniknya melihat putra sulungnya tengah memegangi kepala membersamai dengan suara menggeram.
"Aaarhhh... sakit, sakit sekali kepalaku!" Damar menggeram seperti orang kesurupan. Sambil memegangi kepalanya.
"Mas, Mas Damar kenapa? Sakit kenapa to Mas?" Danum kalang kabut dalam kepanikan.
__ADS_1
"Danum bantu Mas mu duduk jangan tinggalkan Mas mu sendirian, jaga dia jangan sampai dia pergi, Ibu akan mengambil air." Bu Suci masih memakai mukena, melihat putranya seperti itu, Ibu mana yang tidak ikut panik.
Bu Suci bergegas mengambil tas yang beliau taruh di dalam kamar. Lalu berjalan ke dapur dan menuangkan air yang diperolehnya dari Ustadz Umar.
Danum segera membantu Damar untuk duduk di sofa ruang tengah. Ia terus memegangi kedua bahu Kakaknya agar tidak pergi, karena Damar terus saja memberontak.
"Tenang Mas Damar, istighfar. Mas Damar harus ingat sama Allah Mas, Mas Damar harus melawan mantra guna-guna. Ingat Allah Mas, ingat!" racau Danum mengingatkan.
Tak karuan rasanya dalam diri Damar, ia merasakan pergolakan batin yang sangat luar biasa. Ia memejamkan matanya dalam-dalam, dan seolah merasakan ada dua bayangan yang sedang menariknya. Satu bayangan hitam dengan mata merah, satu bayangan putih bersorban.
Mantra dan zikir menggema di kedua telinganya. Damar memukul-mukul telinganya. Ia merasakan sesuatu yang sangat mengganggu.
Danum segera menahan tangan Damar agar tidak memukul kepala dan telinga. "Ya Allah Mas Damar, eling Mas, Mas eling. Istighfar Mas, eling."
Bu Suci kembali dari dapur dengan membawa gelas air putih, lalu mendekati putra sulungnya dan menyodorkan gelas, namun Damar menghalangi serta menepis tangan Bu Suci.
Hampir gelas ini lepas, Bu Suci menghela nafas panjang. Lalu membaca doa surah-surah pendek. Seperti Al-fatihah, An-Nas, Al-falaq, dan ayat kursi.
Dengan sekuat tenaga, Danum menahan tangan Damar agar tidak menepis air yang dipegang oleh Ibunya.
"Minum nak, minum." Bu Suci menuntun Damar untuk meminum air putih. Dengan menuntun anaknya membaca basmallah. "Bismillahirrahmanirrahim."
Damar meminum air yang diberikan oleh Ibunya. Seteguk dua teguk air melewati kerongkongannya. Damar merasakan kelegaan yang luar biasa, seperti halnya pohon gersang di gurun Sahara yang mendapat guyuran hujan.
Damar mengambil alih gelas, lantas meminumnya sampai tandas. Benar saja, ia merasa lebih tenang saat ini, nafas yang tadi menggebu-gebu kini lebih teratur, entah apa yang terjadi padanya. Namun yang pasti, Damar sudah lebih baik. Meskipun kepalanya masih terasa berat. Netranya melihat sorot mata Bu Suci. Selayaknya baru saja menyibakkan tirai hitam yang menutupi pandangan. "Ibu..." gumamnya, lalu mengalihkan atensinya menatap Danum yang berdiri disampingnya. "Danum..?"
Bu Suci dan Danum bernafas lega. Danum segera duduk di samping Damar, lalu menghamburkan diri untuk memeluk Kakaknya. Ialah seorang adik yang selayaknya merindukan sosok Kakak, karena sedari kecil Damar memang sudah seperti Ayah sekaligus Kakak baginya. Jadi, pada saat mendengar Damar terkena guna-guna, ia sangat memikirkannya.
"Mas Damar, Alhamdulillah." Danum mengurai pelukannya dan menatap Damar memang lain dari hari sebelumnya ia bertemu. Meskipun yang dirasakannya, aura negatif masih ada.
Bu Suci tersenyum lega, kini Damar tak lagi berpaling muka saat beliau memandangi wajah serta netra putranya. "Alhamdulillah.."
__ADS_1
Damar bingung ia merasa seperti orang linglung, mengapa dengan Ibu dan juga adiknya terlihat sangat lega seolah ia baru tersadar dari pingsan. Damar celingukan mencari keberadaan istri tersayangnya.
"Wulan dimana Bu?" tanyanya karena tidak mendapati Wulan.
Bu Suci tertegun mendengar Damar bertanya soal Wulan. "Bukankah Wulan ke pabrik, apa tadi kamu tidak bertemu dengannya?"
Damar mengernyitkan dahinya. "Wulan ke pabrik? Untuk apa? Bukankah bidan menyarankan untuk tidak berpergian, dia sedang hamil besar Bu?"
"Jangan-jangan karena pengaruh guna-guna?" celetuk Danum.
"Apa guna-guna?" Damar merasa heran atas perkataan Danum. Kepalanya masih terasa pening, pandangannya belumlah sepenuhnya pulih.
"Ibu akan jelaskan nanti, tentang apa yang terjadi padamu. Agar kamu lebih mawas diri dan meneguhkan hati serta bertawakal hanya kepada Allah." Bu Suci mengusap punggung Damar, bukan hanya mengusap, Bu Suci juga mengucap zikir penolak bala, agar setan tidak menggangu kesehatan mental putranya.
Damar segera beranjak dari duduknya. Ia memejamkan matanya, dan sekilas ingatan tentang Wulan yang datang ke pabrik hari ini. "astaghfirullah. Apa yang terjadi padaku? Aku harus mencari Wulan, aku takut terjadi apa-apa sama dia."
Menahan rasa berat di kepalanya, Damar beranjak namun karena belum sepenuhnya normal. Ia akhirnya kembali terduduk, tidak menyerah begitu saja. Dengan tekad segenap hati dan jiwanya, Damar kembali berdiri dengan dibantu Danum.
"Aku harus mencari Wulan, lelaki macam apa aku ini." Damar mulai melangkahkan kakinya, meskipun sempoyongan dan tidak seimbang. Damar ingin sekali memeluk istrinya. Ia meraba dinding untuk menyempurnakan jalannya.
"Damar, tapi kamu tidak baik-baik saja nak, biar Danum saja yang mencari Wulan, Ibu khawatir melihat keadaan mu." Bu Suci berdiri melihat punggung Damar yang sudah berjalan menuju ruang tamu.
Damar menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia menjawab Ibunya.
"Jangan hentikan Damar Bu, Damar sudah menjadi suami yang sangat kejam, Damar harus meminta maaf padanya." entah mengapa ucapan itu meluncur mulus dari mulutnya. Akan tetapi Damar memang merasa dirinya telah berdosa kepada Wulan.
"Num, ikut Mas mu." bukan tanpa alasan, Bu Suci khawatir dengan adanya Damar yang jelas terpengaruhi oleh guna-guna yang belum diketahui siapa pengirimnya. Dan juga melihat keadaan Damar yang berjalan saja masih sempoyongan.
"Siap Bu'e." jawab Danum siap kilat. "Aku juga ingin melihat keharmonisan Mbak Wulan sama Mas Damar lagi." Danum membatin lalu berjalan menghampiri Damar.
"Pakai motormu saja Num." pinta Damar, ia merasa tidak dalam keadaan yang baik untuk mengemudikan mobil.
__ADS_1
******
Bersambung.