Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 17_


__ADS_3

Di pabrik...


Damar tengah duduk di dalam ruangan kantornya, pria yang kini sudah genap berusia 25 tahun ini sedang melihat dokumen tentang kerjasama antar pemasok bahan logistik untuk pabriknya. Namun pikirannya malah terganggu dengan adanya memikirkan sekretaris Anggi.


Damar memegangi dadanya, ia tidak merasakan dekatkan jantung yang mengutamakan bahwa ia kini menyukai Anggi. Tapi kenapa, isi kepalanya terus menerus ingin memikirkan Anggi?


"Ada apa aku ini, kenapa selalu terbayang oleh Anggi? Nggak Damar kamu sudah menikah, dan kamu akan memiliki seorang anak."


Damar mengangkat wajahnya, menerawangkan pandangannya menatap lukisan bunga mawar hitam, yang tiga hari lalu di pasang oleh sekretaris Anggi. Entah mengapa saat Anggi merengek ingin memasang lukisan itu, ia tidak menolaknya.


"Ada apa dengan hatiku ini, aku tidak merasa jatuh cinta pada Anggi, tapi pikiranku selalu fokus membayangkan nya? Tidak mungkin aku berpaling dari istri ku kan?" Damar menggelengkan kepalanya. Memikirkan sekretaris Anggi yang tadi pagi terluka.


"Bagaimana kakinya? Apa dia sudah merasa lebih baik? Apa Anggi sudah mengurutnya?" Ucapnya mengkhawatirkan Anggi.


Tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Damar meletakkan berkas di atas meja, ia berjalan mendekati lukisan bunga mawar hitam. "Sekretaris Anggi, benarkah kini aku mencintaimu?"


Saat ini Damar tak bisa menepiskan Anggi Kumalasari dari pikirannya. Ia terus terbayang, bahkan ingin terus dekat dan akrab dengan sekretaris barunya.


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya tentang Anggi dan Anggi. Bahkan ketika Damar mengingat kembali bahwa ia telah menikahi Nawang Wulan dan bertanya kepada hatinya, seolah pikirannya tidak untuk istrinya itu.


"Masuk." Kata Damar tanpa menoleh kearah pintu.


Perlahan pintu terbuka dengan adanya sekretaris Anggi yang sudah berdiri cantik. Melihat atasannya sedang berdiri dengan memandangi lukisan bunga mawar hitam.


"Bagus Damar, lihat terus sampai kamu benar-benar melupakan Wulan. Dengan begitu, akan sangat mudah bagiku menyingkirkan Wulan." Anggi membatin senang.


"Ehem permisi Pak Damar, apa saya boleh masuk?" Kata Anggi tersenyum ramah.


Damar membulatkan matanya, mendengar suara dari seseorang yang sedang ia rindukan. Damar langsung menoleh dan melihat seorang wanita yang kini merajai hatinya.


"Sekretaris Anggi?" Damar melihat Anggi yang sedang berdiri di pintu masuk ruang kerjanya yang terbuka. "Masuk saja sekretaris Anggi, kebetulan sekali aku sedang memikirkan mu." Kata Damar tersenyum sumringah.


"Aahh.." pekik Anggi bersandiwara saat akan melangkahkan kakinya, seolah ia benar-benar terkilir.


Damar terkesiap mendengar suara Anggi yang seperti menahan sakit. Ia langsung mendekati sang sekretaris, lalu memegangi kedua lengan Anggi.


"Kalau kakimu masih sakit, kenapa kamu berangkat kerja. Kamu kan bisa istirahat dulu di rumah." Kata Damar khawatir.

__ADS_1


Anggi mendesahh seolah ia sedang menahan sakit. "Kalau saya tidak berangkat kerja, lalu bagaimana dengan pekerjaan Bapak. Saya malah tidak bisa istirahat jika terus memikirkan Pak Damar."


Damar tersenyum lebar kala mendengar Anggi juga memikirkannya. Ia ibarat seseorang yang baru jatuh cinta, terus terbayang olehnya. "Mari saya bantu kamu duduk."


Anggi berjalan dengan dibantu Damar yang setia memegangi kedua lengannya. Sekilas Anggi melihat kebelakang, di sana ia melihat Bokir kebetulan sedang lewat. Dengan sengaja, Anggi memplesetkan kakinya, seperti dugaannya, Damar dengan sigap mendekapnya.


Di depan ruangan presdir Amanah food. Bokir geram melihat Damar sangat mengistimewakan seorang sekretaris baru. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dasar Damar! Apa istimewanya wanita itu, sampai kamu sangat memperhatikannya?"


Karena merasa sangat geram melihat kemesraan Damar dengan sekretaris Anggi, Bokir segera pergi dari depan ruangan presdir yang pintunya terbuka lebar.


Dalam dekapan Damar, Anggi sekilas melihat kebelakang, dan sudah tidak melihat Bokir. Ia menarik sudut bibirnya miring.


Damar mengurai pelukannya, jantungnya semakin bertalu-talu semakin kencang. Jika sudah seperti ini, perasaannya tidak karu-karuan lagi. "Sekretaris Anggi, apa kamu baik-baik saja?"


"Emm maaf Pak Damar atas kelancangan saya." Kata Anggi sangat lembut.


Damar menggeleng sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian pipi Anggi. "Kau sangat cantik Anggi, aku akui aku jatuh cinta padamu."


Anggi tersenyum malu-malu, dalam hatinya ia berseloroh girang. "Bagus, akuilah kecantikan ku, dan katakan pada istrimu bahwa kamu jatuh cinta dan akan menikahi ku Damar."


Anggi melihat kedua manik mata pria dihadapannya. Ia memegangi tangan Damar. "Sebenarnya saya juga cinta sama Bapak. Tapi bagaimana dengan istri Pak Damar?"


Sebenarnya Anggi ingin loncat-loncat dan teriak kegirangan. Mendapati Damar mengakui cinta dan ingin menikahinya. Namun, ini bukanlah saat yang tepat untuknya mengekspresikan perasaan senangnya.


"Aku belum makan, jadi ayo temani aku." Ajak Damar menggandeng tangan Anggi.


"Memangnya istri Pak Damar tidak menyiapkan sarapan?" Kata Anggi membersamai dengan langkah atasannya.


Damar terus menggandeng tangan Anggi, sampai di luar dari ruangannya. Bahkan cintanya pada Anggi kini seakan telah membutakan akal sehatnya. Ia tidak memperdulikan tatapan para karyawan yang sedang melihatnya.


"Jangan lagi kamu sebut istriku, hanya kamu lah yang sekarang ada di pikiran ku." Kata Damar hendak memasuki lift.


"Pak lepaskan saya, saya malu dilihat sama karyawan lain." Kata Anggi berbisik. Padahal dalam hatinya memang sengaja agar dilihat semua orang.


"Biarkan saja mereka, toh sebentar lagi kamu akan menjadi istriku." Balas Damar tidak risih mencolek dagu Anggi, lalu masuk kedalam lift hanya berdua.


Bokir geleng-geleng kepala, ia tidak habis pikir dengan sikap dan perubahan Damar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya menegas. "Jika Wulan sampai tahu, kamu sekarang bermain gila dengan wanita lain, Wulan pasti akan membunuhmu seperti dia membunuh Opik!"

__ADS_1


Di dalam lift, Anggi tak kuasa menahan hasratnya untuk memadu kasih dengan sang atasan. Ia ingin sekali membawa Damar ke rumahnya, dan melampiaskan nafsuunya, lalu hamil anak Damar dan seusai dengan rencananya.


Namun, untuk saat ini, Anggi harus menahannya. Karena Damar belum mau merespon ciumannya, bahkan Damar memalingkan wajah.


"Maaf, Anggi. Meskipun aku saat ini sangat mencintaimu dan selalu terbayang olehmu, tapi aku belum bisa melakukan ini." Kata Damar menatap dalamnya manik mata Anggi. Entah mengapa seperti ada yang menahan hatinya untuk tidak melakukannya.


Anggi kesal, ia melepas tangannya dari ceruk leher Damar. "Berarti, rasa cintamu tidak sebesar yang aku harapkan."


Damar melihat Anggi marah dan kesal. "Aku minta maaf Anggi, mungkin karena ini sedang ada di kantor."


"Hemm.. kalau begitu, malam ini datanglah ke rumah ku. Aku akan menunggu mu." Kata Anggi, membersamai dengan pintu lift yang terbuka. Ia segera keluar dari dalam lift, dan diikuti oleh Damar.


Sarapan pagi di kantin pabrik telah usai, kini Damar telah kembali lagi ke dalam ruangannya. Pikirannya seakan kalut, tidak konsentrasi dalam pekerjaannya, akibat dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang Anggi.


Dan ajakan Anggi pagi tadi, senyuman Anggi, lesung pipi gadis itu sangat mempesona. Damar merasa sangat terperdaya olehnya, seakan ingin dekat, ingin sekali rasanya memeluknya erat.


"Hhh Anggi..." Desah Damar, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya. Pandangannya terus melihat lukisan bunga mawar hitam.


Saat sedang memikirkan gadis itu, pintu terketuk. Bersamaan dengan Anggi yang membuka pintu, dengan mendekap dokumen di dadanya.


"Boleh saya masuk Pak?" Kata Anggi, kembali berkata dengan nada formal.


Damar tersenyum sumringah melihat kedatangan Anggi yang seolah bisa mendengar betapa ia merindukannya, meskipun baru saja sejam yang lalu berjumpa dan menikmati sarapan pagi yang bila di katakan sudah terlewati jamnya sarapan.


"Silahkan Anggi." Damar berdiri dan melihat Anggi berjalan dengan memegangi kepalanya. Damar segera menghampiri sekretarisnya itu, "kamu kenapa Anggi?"


Anggi menggeleng, dalam dekapan Damar. Ia sangat bahagia.


"Tidak tahu Pak, kepala saya tiba-tiba pusing, apa karena semalam saya tidak bisa tidur karena memikirkan Bapak?" Kata Anggi tersenyum dengan bujuk rayu mautnya untuk bisa lagi menjerat Damar lebih dan lebih lagi. Ia tidak ingin mengulur waktu lagi.


"Mari duduk dulu." Damar membantu Anggi untuk duduk di sofa. Saat ia akan pergi untuk mengambilkan air minum, Anggi sudah lebih dulu menahannya.


"Pak Damar, jangan kemana-mana, saya mau Bapak selalu di sisi saya. Karena hanya Pak Damar lah obat sakit kepala saya." Kata Anggi mendesahh menggigit bibir bawahnya.


Melihat Anggi seperti itu, gejolak di pikiran Damar tidak bisa menolaknya. Ia lantas duduk di sebelah Anggi. "Saya akan menemani sampai kamu sembuh."


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2