
Sepanjang perjalanan Wulan mengedarkan pandangannya menatap keluar jendela. Tatapannya sedang bergulat mengenai sikap dan perubahan secara signifikan dalam diri Damar.
Mbak Leni penasaran dengan tas biru membentuk kotak-kotak seperti wadah makanan yang sedang dipangku Wulan. "Itu apa Wulan?"
Wulan mengalihkan atensinya. Ia melihat netra Mbak Leni yang melirik tas biru. "Ini makan siang untuk Damar."
Mbak Leni berehm-ehm riang. "Ehem.. wah Bumil perhatian banget sama Mas Damar?"
Wulan tersipu malu, tangannya refleks terangkat guna menyelipkan rambutnya di sela-sela telinga. "Kasihan Mbak Len. Tadi pagi Damar belum sarapan."
"Lho kok bisa belum sarapan?" Mbak Leni bertanya bernada seperti terkejut.
Wulan mengalihkan atensinya menatap lurus ke depan jalanan, dilihatnya lalu lalang kendaraan bermotor dan mobil. Ia menghelas nafas panjang, dan kemudian menunduk. Kini matanya melihat tas biru tempat ia membawa bekal makan siang untuk Damar. Teringat dengan pertikaian pagi ini, membuat hatinya kecewa.
Melihat respon Wulan yang diam dan seperti sedang menahan tekanan. Mbak Leni merasa pertanyaannya telah salah. Ia lalu memilih diam, dan menunggu agar Wulan yang akan menceritakannya sendiri.
Wulan mengenal Mbak Leni sudah hampir dua bulanan ia tinggal di pedesaan. Mbak Leni merupakan anak dari pemilik kambing etawa, awal mula mengenal Mbak Leni karena sebulan lalu wanita beranak satu itu keliling menjajakan susu murni kambing etawa. Dan Wulan merupakan pelanggannya, sejak saat itu, ia sering bertukar cerita dan mengetahui jika Mbak Leni bisa menyetir mobil.
"Mbak Leni...?" Wulan memanggil wanita yang sudah delapan tahun menikah. Mungkin dengan sedikit bercerita akan menemukan pembelajaran dari permasalahan yang sedang dihadapinya saat ini dan harus bersikap bagaimana dengan Damar yang mendadak berubah.
"Hem apa?" Mbak Leni sekilas melirik Wulan dan fokus mengemudikan setirnya.
Wulan memilin jari jeraminya. Ia sekilas menatap Mbak Leni dan kemudian menerawangkan pandangannya menatap jalanan. "Apa suami Mbak Leni pernah tidak perhatian atau berkata kasar saat Mbak Leni bertanya, atau seperti saat hamil?"
Mbak Leni mengerutkan keningnya, namun ia paham mungkin saja Wulan sedang ada masalah dengan Damar. "Sering, aku sama suami ku sering cek-cok dari awal-awal kita menikah malah," Mbak Leni melihat sekilas wajah Wulan yang nampak sedih. "Kenapa, apa Mas Damar sedang bersikap tidak perhatian padamu?" Kata Mbak Leni asal tebak.
"Tebakan Mbak Leni tidak meleset." Wulan membenarkan ucapan wanita yang lebih tua lima tahun darinya. Ia menghela nafas panjang. "Aku nggak tahu Mbak harus seperti apa cara menyikapi perubahan yang terjadi sama Damar beberapa hari belakangan ini. Dia beda banget, seolah bukan Damar suamiku." Sambungnya lagi bersuara parau.
__ADS_1
"Mungkin saja dia banyak kerjaan, atau ada masalah di pabrik?"
Wulan menggeleng. "Tidak tahu Mbak, tapi kenyataannya sekarang ini lain. Dulu kami selalu membicarakannya bersama-sama, dan sekarang dia bahkan tidak mau mendengarkan ucapanku."
"Wulan dalam hubungan rumah tangga itu, ibarat kata kita melihat buah jeruk yang berwarna oranye, sangat menggiurkan mata sampai kita mengira bahwa jeruk itu manis. Tapi siapa yang bisa menyangka nya, setelah di kupas dan rasanya sangat asam. Nah kita tinggal pilih, mau terus memakannya atau membuangnya?"
Wulan terdiam mendengar penjelasan Mbak Lena. Ia pikir apa yang dikatakan Mbak Leni benar.
"Tapi yang jelas, kamu harus lebih sabar Wulan. Aku rasa, jika suamimu sedang bersikap selayaknya api, maka kamu harus bisa menjadi air yang mendinginkan. Tapi ingat, kamu jangan terpancing sama kobaran apinya, karena bisa saja airnya mendidih dan melukai kalian berdua. Yang bila dijabarkan akan menjadi pertikaian yang lebih besar."
Mbak Leni memberikan penjabaran mengenai sikap selayaknya yang dilakukan jika salah satu dari pasangan ada yang memancing emosi. Itulah yang dilakukannya pada suaminya.
Wulan mendengar secara seksama ucapan Mbak Leni. "Mbak Leni memang benar. Aku harus lebih bersabar dalam menyikapi perubahan sikap Damar, mungkin saja dengan begitu aku lebih tahu apa permasalahannya."
Mbak Leni mengangguk kecil. "Benar itu. Kesabaran hati Wulan, semoga berbuah manis. Jadilah wanita kuat, jangan cengeng dan jangan merengek, selama nasi belum menjadi bubur, kita harus mencegah sesuatu yang membawa kita ke suatu hal yang lebih buruk."
"Makasih Mbak Leni, sekarang perasaan ku lega." Wulan tersenyum simpul menatap wanita yang menjepit rambutnya ke atas.
Meremass tas biru kuat-kuat, Wulan merasa semakin takut saja saat penampakan hantu itu seakan mendekatinya. Ia memejamkan matanya, dan berteriak. "Aaaahhh...."
Mbak Leni terkejut mendengar teriakan Wulan. "Ada apa Wulan?"
Nafas Wulan tersengal-sengal, seolah-olah ia baru saja lari maraton. Ia memberanikan diri untuk membuka mata dan penampakan hantu yang sangat menyeramkan tadi sudah tidak ada.
Mbak Leni mengulurkan tangan kirinya memegang tangan Wulan yang berkeringat. "Wulan kamu kenapa? Ada apa, kenapa kamu berteriak?"
Wulan tersentak dengan sentuhan tangan Mbak Leni.
__ADS_1
"Nggak pa-pa Mbak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan." Kilah Wulan, ia tidak ingin orang lain menganggap ceritanya tabu bahwa telah melihat penampakan seram di siang bolong.
"Tidur saja Lan, perjalanan masih setengah jam lagi. Nanti kalau sudah sampai, aku bangunin." Kata Mbak Leni memberikan saran, bukan tanpa alasan. Karena Wulan gemetar dan saat tadi sempat memegang tangan bumil ini berkeringat.
Wulan mengangguki ucapan Mbak Leni. Ia mulai memejamkan matanya, meskipun tidak tidur. "Apa mungkin aku melihat penampakan seram tadi hanya halusinasi ku saja? Tapi kenapa seperti sangat nyata? Dan mana ada hantu munculnya di siang hari?"
**
Mobil yang dikendarai oleh Mbak Leni memasuki halaman luas pabrik.
Mbak Leni melihat Wulan yang nampaknya tertidur pulas. Ia jadi tidak tega untuk membangunkan. Pada saat tangannya terulur untuk membangunkan Wulan, bumil ini sudah menggeliat dan seperdetik kemudian membuka mata.
"Apa sudah sampai Mbak?" Wulan mengedarkan pandangannya melihat luar dari kaca mobil.
"Sudah, baru saja sampai." Jawab Mbak Leni.
Wulan mengalihkan atensinya kini menatap Mbak Leni. "Mbak Leni mau ikut aku masuk apa nunggu di sini?"
"Aku tunggu di sini saja." Mbak Leni mengibaskan tangannya agar Wulan tidak perlu memikirkannya. Dilihat olehnya para karyawan juga nampak berkumpul sedang menikmati makan siang di beberapa titik lokasi area kantin dan lokasi di tempat teduh seperti di bawah pohon. "Dah sana masuk, ini udah jamnya makan siang. Ingat yah, harus sabar. Menghadapi suami tuh susah-susah gampang, kalau kita sebagai istri sedikit posesif ntar dikiranya mengekang, kalau cemburuan ntar dikiranya nggak percayaan. Kudu sabar dan tawakal."
"Iya Mbak Leni. Aku akan ingat semua nasehat Mbak Leni. Kalau begitu aku turun dulu." Wulan menatap Mbak Leni dan mendapati wanita beranak satu itu mengangguk.
Wulan keluar dari dalam mobil dan perjalanan melewati beberapa karyawan dan karyawati yang menyapanya dengan ramah. Secara sebagai istri dari Presdir Amanah food, maka ketika jalan di area pabrik pun banyak karyawan yang menyapanya.
Di depan gedung yang dijadikan sebagai kantor, Wulan melihat seorang satpam bernama Sanip. Ia menjawab sapaan satpam yang membukakan pintu kaca lebar untuknya. Lalu masuk kedalam lobby kantor di sana, Wulan bertemu dengan Bokir yang masih bekerja mendampingi Damar.
Bokir kaget melihat kedatangan Wulan di kantor. Dalam hatinya ia bermonolog. "Wah bahaya, kalau sampai Wulan melihat Damar."
__ADS_1
...***...
Bersambung ...