Kesabaran Hati Wulan

Kesabaran Hati Wulan
Bab 29_


__ADS_3

Saat Anggi membuka matanya, betapa terkejutnya ia. Kala melihat pria yang sedang menyalurkan hasratnya bukanlah Damar, melainkan Mbah Kuwat, pria paruh baya yang telah membantunya memperoleh ajian pelet Manyamati.


"Aaaarrrhhh..." teriak Anggi, ia segera memberontak, meskipun kejantanan dukun cabul itu masih menancap di goa miliknya.


"Sshhhtt... tenanglah Anggi!" Mbah Kuwat bersuara berat, ia juga menutup mulut gadis yang sedang berada di bawahnya. "ini rasanya sangat enak Anggi, bukankah kamu menginginkannya... maka nikmatilah.." lagi Mbah Kuwat menerjang terus menerus tubuh Anggi tanpa henti.


"Mmmm.... mmmm..." Anggi hanya bisa menggeram, kala Mbah Kuwat membungkam mulutnya. Bahkan pria paruh baya itu terus menerus menyerangnya tanpa henti, Anggi tidak kuasa menahannya. Ia berulang kali merasakan sensasi panas membaur dengan kenikmatan surga duniawi.


"Meskipun kamu teriak, tidak akan ada seorang pun yang mendengar teriakanmu. Nikmati saja sayang..." ucap Mbah Kuwat serak basah.


"Emmhh... emmhh..." meskipun dalam hati menolak, namun tubuh Anggi tak bisa berbuat apa-apa.


"Aaarhhh..." erang Mbah Kuwat. Dikala dirinya telah sampai di puncak kenikmatan dalam menyalurkan hasratnya yang beberapa waktu lalu ditahannya.


Teringat saat Anggi mendatangi dan mulai merapalkan mantra ajian pelet Manyamati. Mbah Kuwat memang menyuruh calon muridnya ini untuk bersemedi di sumur tua. Setelah beberapa hari bersemedi, Mbah Kuwat memandikan Anggi dengan posisi telanjang bulat, dia menahan air liurnya kala melihat body Anggi yang sangat montok dimatanya.


Tak bisa menahannya lagi, kala terpanggil dengan Anggi yang sedang merapalkan mantra Manyamati. Mbah Kuwat datang ke kontrakan Anggi yang kebetulan lumayan jauh dari pemukiman warga, dan melihat Anggi sedang duduk bersila sedang menjalani ritual, beruntungnya Mbah Kuwat mengatakan jangan membuka mata saat merapalkan mantra sampai sang target datang dan menyalurkan hasrat. Barulah boleh membuka mantra. Dan Anggi melakukan semua yang Mbah Kuwat katakan.


Meskipun Anggi bukanlah perawan karena sebelumnya telah berbuat seperti itu dengan seorang pria hidung belang, akan tetapi kejadian ini membuatnya syok. Karena, Mbah Kuwat ternyata telah memperkos*nya.


Anggi menangis di pojokan kamar, ia meringkuk terduduk memeluk dirinya. Sedangkan dukun cabull itu sedang memakai pakaian kembali, tatapan pria menjijikkan itu terus mengarah padanya. Anggi merasa sangat takut sekaligus sangatlah membencinya.


"Dasar dukun cabull!" maki Anggi tiada henti, setelah dukun cabul itu memperdayainya.


"Hhhh..." Mbah Kuwat menghempaskan nafasnya, melihat Anggi yang masih bertelanjang bulat. "kata siapa aku memperdaya mu, kamu sendiri yang datang padaku, aku tidak menuntut bayaran padamu, jadi ya anggap ini adalah bayarannya..." jawab Mbah Kuwat enteng.


"Dasar pria menjijikkan." lagi Anggi memaki pria paruh baya yang terlihat tanpa jejak dosa telah melakukan hal biadab ini.

__ADS_1


Mbah Kuwat mendekati Anggi, lalu berlutut di depannya. "Kenapa kamu sangat marah, bukankah kamu yang memintaku hah?"


Lagi Mbah Kuwat menarik Anggi untuk melayani nafs*nya. Tak tahan kala melihat Anggi dalam keadaan telanjang seperti itu.


Jelas saja Anggi memberontak. Tapi tidak berarti apa-apa bagi Mbah Kuwat. Pria ini cukup kuat dan perkasa. Sudah banyak wanita-wanita yang menjadi korbannya. Bahkan tak jarang, wanita yang telah di perdaya olehnya akan menjadi hamil dan gila.


Bagi Mbah Kuwat, siapapun sang calon korban yang datang ke tempatnya secara sukarela maka inilah balasannya. Karena dia sendiri tidak mempunyai istri.


Anggi merasa sangat frustasi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bagaimana dengan pekerjaannya di sisi Damar. Akankah pria itu masih mau menerimanya, meski tanpa ajian pelet lagi.


Atau mungkin dia harus mencari dukun sakti, yang dapat di percayai bukan dukun cabull seperti pria menjijikkan ini.


Setelah membuatnya lemah tak berdaya, dan tergeletak di alas tikar. Anggi menatap Mbah Kuwat yang melenggang pergi dari rumah kontrakannya.


**


Setelah makan malam yang dilewati dengan tidak nafsuu makan.


Tidak ada yang Wulan dan Damar lakukan, sepanjang waktu mengungkung mereka berdua dengan hanya duduk di atas sajadah. Selepas sholat magrib dan isya, berzikir dan berdoa itulah yang sedang keduanya lakukan.


Wulan duduk berhadapan dengan Damar yang saat ini memakai baju koko warna putih dipadukan sarung warna cokelat bercorak lurik. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi. Seolah sudah sangat lama ia tidak sholat berjamaah bersama dengan Damar. Inilah yang ia rindukan.


Wulan menahan tangisnya agar tidak menimbulkan isakan. Ia menahan sekuat perasaannya yang sedang bahagia. "Ya Allah semoga bisa selamanya seperti ini."


Wulan bisa bernafas lega manakala melihat suaminya lebih tenang tidak seperti sebelumnya. Mungkin juga karena sejak tadi berzikir dan bersholawat sampai pada akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 00:34 wib.


"Ya Allah lepaskan aku dari pengaruh mantra sihir, aku berlindung pada-Mu." Damar mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Membersamai dengan zikir dalam hati dan berucap di lisannya.

__ADS_1


Netra Wulan sedetik pun tidak beralih, dia terus menatap suaminya.


Cinta yang terjadi karena Allah tidak akan pernah berakhir. Seorang istri adalah mereka yang tidak hanya sekedar menjadi istri, tapi juga mampu menjadi kekasih sekaligus sahabat suaminya. Keinginan Wulan setelah menikahi Damar, bukan hanya sekedar berstatuskan istri, bukan pula cuma untuk menyalurkan sebagian sepasang suami-istri, akan tetapi ia juga ingin menjadi kekuatan dikala suaminya sedang rapuh seperti ini.


Setiap manusia memiliki keinginan dan rasa cinta, tetapi hanya pada Allah lah segalanya patut untuk diminta. Sebab tidak ada kekuatan cinta yang melebihi kuasa Allah Ta'ala.


Damar membuka netranya yang sejak tadi terpejam untuk merasakan betapa dahsyatnya gejolak yang ada di hatinya. Panas, bimbang, gundah dan resah. Entah apa maksudnya, akan tetapi Damar merasakan ada sesuatu aura negatif yang sedang mencoba mengusik ketenangan pikirannya. Tapi beruntungnya sekarang, sudah lebih baik dari pada sebelumnya.


"Kamu kenapa? Jangan menangis, nawulku." Damar mengusap air mata yang membasahi pipi Wulan.


"Jika suatu hari nanti aku tiada, aku harap kamu akan mencari pengganti ku yang menyayangi mu lebih dariku menyayangimu, Damar." Wulan mengambil tangan Damar yang sedang berada di pipinya, ia mencium telapak tangan serta punggung tangan Damar berulang kali.


"Ssshhtt.. kamu bicara apa, jangan berkata seperti itu lagi. Kita akan hidup bersama selamanya. Kita dan anak kita." Damar membelai perut Wulan, lalu beralih membelai pipinya. Netra Wulan sangat sendu, seperti ada tekanan dan gejolak khawatir yang terlalu berlebihan.


"Aku mencintaimu karena jiwaku, aku mencintaimu karena Allah, Damar. Aku harap bisa selamanya bersamamu. Kamu yang selalu ku rindukan, kamu yang selalu ku dambakan, kamu yang selalu ku impikan, dan kamu yang selalu ku harapkan." ucap Wulan dengan bibir bergetar, suara tangisnya kian mendayu-dayu. Wulan tak kuasa menahan gejolak rasa yang sudah menjadi antah berantah.


Jarang sekali air mata keluar dari mata Damar, mungkin saja terakhir kalinya pada saat sang ayah tiada. Tapi kali ini, sebening air mata jatuh menetes membasahi pipi. Direngkuhnya tubuh sang Istri.


"Ya Allah Sang Maha Cinta. Terlepas dari apa yang hamba rasa dan apa yang hamba alami saat ini, tolong lindungi istri hamba. Dialah wanita yang selalu sabar, selalu memberikan hamba kekuatan."


Mendadak Wulan merasakan perutnya melilit dan sakit.


"Aaahh.. Damar! Perut ku rasanya sakit sekali.." pekik Wulan tangannya mencengkram kuat lengan suaminya.


*****


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2