
Berkecepatan 60km Danum bisa menghemat waktu, yang biasanya lebih lambat lima belas menit. Kini motornya sudah sampai di halaman rumah seorang ustadz yang juga adalah guru ngajinya.
Bu Suci turun dari boncengan dan melepas helmnya lalu memberikan kepada Danum. Lantas bergegas menuju teras rumah sang ustadz yang mempunyai ilmu rukiyah.
Melihat sang Ibu nampak sekali terburu-buru, memunculkan stigma dan tanda besar dalam benak Danum, seolah memang terjadi sesuatu hal yang ganjal terhadap Mas Damar.
"Ibu buru-buru banget?"
Danum memarkirkan motornya, lalu menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu berjalan menuju teras rumah sang guru ngaji.
"Assalamualaikum.." ucap salam Bu Suci berdiri di teras rumah.
Tak kunjung ada yang membuka pintu membuat Bu Suci cemas, takut-takut jikalau sang empu yang mempunyai rumah telah pergi. Bu Suci kembali mengucap salam untuk yang kedua kalinya, bersuara lebih nyaring. "Assalamualaikum.."
Danum sudah berdiri di sebelah Ibunya. Ia menatap pintu berwarna cokelat yang masih tertutup. "Apa mungkin Pak ustadz sama Bu Halimah sudah pergi ke ponpes Bu, atau bisa jadi di panggil orang yang sedang bermasalah pada mental dan imannya?"
"Ibu rasa belum, Num." Jawab Bu Suci cemas.
Selama lima menit menunggu, akhirnya pintu rumah terbuka dengan adanya seorang gadis berhijab yang keluar dari dalam rumah. "Wa'alaikumussalam." Jawabnya lembut.
Hati Danum tercenung, perasaan kawula mudanya cenat-cenut mendengar betapa merdunya suara gadis yang sudah lama ia sukai dalam diam. "Fatimah." Monolognya dalam hati.
Fatimah juga sama, gadis berusia 16 tahun ini tergagap kala melihat sekilas seorang pemuda yang sudah lama dikenalnya sebagai murid Ayahnya dan juga adalah Kakak kelasnya di sekolah.
Namun, Fatimah tidak ingin terlena kala mata menatap lama ketampanan yang dimiliki Danum Mahesa, seorang Kakak kelas yang cukup populer dan tidak sedikit pula digandrungi gadis-gadis di sekolah. Bukan hanya tampan, Danum merupakan siswa pintar yang berprestasi.
Hanya beberapa detik saja Fatimah melihat Danum, ia langsung mengalihkan atensinya melihat seorang Ibu yang berdiri di sebelah Danum.
Melihat manis wajah Fatimah, dan melihat juga Fatimah langsung mengalihkan atensinya. Danum juga menyadari dirinya.
"Astaghfirullah, sadar Danum." Selorohnya dalam hati, dan segera mengedarkan pandangannya menatap halaman rumah yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman bunga..Ajaran dan anjuran ketika mendapat pelajaran keagamaan, memanglah tidak pantas dalam memandangi lawan jenis lebih lama, karena setan akan meniupkan kecemasan untuk terus memikirkan lawan jenis, dan itu suatu tindakan yang Danum hindari. Ia tidak ingin terpesona dengan apa yang bukan seharusnya di bayang-bayangkan.
Terlebih dengan sikap tak acuh Fatimah. Danum menyadari, bahwa Fatimah mungkin juga berbeda perasaan dengannya, karena di sekolah maupun di tempat ngaji, sikap Fatimah cenderung tidak perduli akan keberadaannya, itulah mengapa Danum lebih memilih menyukai dalam diam ketimbang sesumbar. Seperti teman-temannya di sekolah. Dan membiarkan perasaannya pudar dengan seiring berjalannya waktu. "Lha kenapa aku ruwet dengan perasaanku, kan tujuan ku datang ke sini nganterin Ibu buat tanya soal Mas Damar?"
"Bu Suci?" Ucap Fatimah, ia mengenal cukup baik Bu Suci. Karena beliau merupakan anggota majelis ta'lim bersama dengan Ibunya.
Bu Suci berjalan mendekati Fatimah dan bertanya dengan nada suara panik. "Nduk, Bu Halimah sama Pak Ustadz Umar ada?"
__ADS_1
Fatimah tersenyum kecil dan mengangguk. "Umi ada, tapi Abi sedang pergi ke ponpes yang ada di Sleman."
"Syukur alhamdulilah," Bu Suci merasa lega karena Bu Halimah masih ada di rumah. "Saya ingin bertemu dengan Ibumu, nak Fatimah?"
"Mari silahkan masuk Bu." Kata Fatimah, namun ketika hendak mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah. Dari dalam rumah terdengar suara sang Ibu.
"Siapa Fatimah?" Bu Halimah berdiri di belakang putrinya.
Fatimah menggeser ke samping, guna memberi ruang untuk Ibunya melihat tamu yang datang.
"Bu Suci?" Ucap Bu Halimah melihat tamu yang berkunjung ke kediamannya.
Bu Suci mengulurkan tangannya kehadapan Bu Halimah. "Apa kabar Bu Halimah?"
Dengan keramahtamahan Bu Halimah menjabat tangan Bu Suci dan menjawabnya. "Alhamdulillah baik Bu, mari silahkan masuk Bu Suci," Bu Halimah juga melihat kearah Danum. "Danum, mari silahkan masuk."
Danum tersenyum kaku, ia menjawabnya hanya dengan anggukan kecil.
"Terimakasih Bu Halimah, maaf kalau saya mengganggu waktunya Ibu." Kata Bu Suci merasa tidak enak hati.
Bu Suci mengangguk kecil, lantas duduk di sofa memanjang ruang tamu, begitu juga dengan Danum yang ikut duduk tidak jauh dari keberadaan Ibunya.
Fatimah langsung masuk kedalam rumah, dan tujuannya adalah dapur. Karena Ibunya selalu mengajarkan jika ada tamu tidak perlu di suruh untuk membuatkan minum, dan jangan ikut nimbrung jika ada tamu yang datang berkunjung. Itu berkesan tidak baik bagi anak gadis.
Bu Halimah memperhatikan guratan wajah tegang dan cemas di wajah Bu Suci. Tidak sulit bagi beliau untuk dapat membaca, karena setiap tamu yang datang, kebanyakan adalah pasien suaminya yang terkena dampak gangguan mental dan iman serta berkaitan erat dengan hal-hal gaib.
"Ada apa Bu Suci, wajah Ibu terlihat jelas sangat cemas dan gelisah, berbeda dengan seminggu yang lalu, pada saat Bu Suci menghadiri majelis ta'lim?" Bu Halimah bertanya untuk memastikan agar tidak menerka-nerka.
Bu Suci tercengang mendengar pertanyaan dari Bu Halimah. "Iya Bu, ada yang ndak beres dari sikap anak sulung saya Bu Halimah."
"Maksud Ibu, Damar?" Jawab Bu Halimah.
Bu Suci mengangguk kecil, dadanya semakin di landa kecemasan. Hingga membuat degup jantungnya berdegup kencang. "Saya menduga anak saya terkena pelet, Bu."
Danum terkejut mendengar pengakuan Ibunya. Kelopak matanya membulat melihat Bu Suci. "Mas Damar kena pelet?" Gumamnya lirih.
Dahi Bu Halimah mengerut mendengar jawaban Bu Suci. "Bagaimana Bu Suci tahu, jika anak Ibu terkena pelet?"
__ADS_1
Tanpa basa-basi Bu Suci langsung mengeluarkan plastik hitam beserta tusuk konde perak dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja.
Bu Halimah melihat tusuk konde perak dan kantung plastik. Detik berikutnya kembali menatap Bu Suci. "Apa ini Bu?"
Bu Suci membuka ikatan plastik hitam dan menunjukkan benda berupa kembang kantil, mawar hitam, secuil tanah merah, boneka sangat kecil bersama dengan kain putih lusuh dan benang merah.
"Istri Damar menemukan benda-benda ini di halaman depan rumah, dan setelah saya menyusuri sekitaran rumah, saya juga menemukan tusuk konde ini." Ujar Bu Suci menunjukkan benda yang dibawanya.
Danum tergelak melihat benda yang di tunjukan oleh ibunya. Namun, ia tidak berani menyela ataupun bertanya kepada Ibunya. Dan lebih memilih untuk diam serta memasang mata dan telinga untuk mengamati agar lebih tahu apa yang terjadi pada Mas Damar.
"Jika benar seperti itu, kasihan Mbak Wulan, dan kenapa Mas Damar yang rajin beribadah bisa terkena ilmu sihir. Apalagi orang yang jarang sekali beribadah? Akan tetapi bukan berarti orang yang rajin beribadah tidak bisa terkena imbas ilmu hitam." Danum membatin, mengingat kembali. Bahwa Mas Damar memang rajin beribadah.
Bu Halimah melihat wajah Bu Suci yang nampak cemas, lalu melihat wajah Danum. Beliau bisa mendengar apa yang di katakan Danum dalam hati. "Kamu benar Danum."
Danum dan Bu Suci terpekur mendengar perkataan Bu Halimah, sedang yang Bu Suci tahu Danum sejak tadi tidak berbicara.
Danum membulatkan matanya mendengar perkataan istri dari guru ngajinya, ia semakin takut saja. "Bu Halimah mendengar apa yang saya katakan?" Gagapnya bertanya.
Bu Suci menatap Danum detik berikutnya menatap Bu Halimah.
Bu Halimah tersenyum simpul, beliau menghela nafas pelan. Lantas menatap Bu Suci. "Orang yang rajin dalam beribadah bukan berarti tidak bisa terkena imbas dari ilmu sihir. Karena kita hidup berdampingan dengan hal-hal yang gaib. Baginda Rasulullah juga pernah mendapatkan hal semacam ilmu sihir?"
"Benarkah?" kata Danum spontan.
"Kebencian dan sakit hati biasanya menjadi alasan mengapa seseorang mengirim sihir. Metode yang dipakai tukang sihir untuk mencelakai korbannya begitu bervariasi; ada yang menggunakan rambut calon korban, baju, gambar, dan lainnya. Sihir bisa menyasar siapa saja. Bahkan, junjungan kita Nabi Besar Nabi Muhammad SAW pun tak luput dari sihir. Diriwayatkan Asy-Syaikhan dalam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad pernah disihir oleh seorang dukun bernama Labid Al-Asham," kata Bu Halimah menerangkan. "bukan hanya sihir seperti santet, tapi juga sihir untuk pemikat, semacam pelet."
Secara kebetulan Ustadz Umar baru saja pulang. "Assalamualaikum."
Bu Halimah, Bu Suci dan Danum melihat seorang pria paruh baya yang berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab ketiganya.
Bersambung...
__ADS_1