
Bu Halimah datang dari belakang dengan membawa segelas air putih lalu memberikannya pada Ustadz Umar.
Bu Suci dan Danum terus memfokuskan tatapannya pada Ustadz Umar yang menanggapi segelas air putih. Dilihatnya Ustadz umat bergumam seperti membaca doa.
Setelah air yang dibacakan dengan doa dan zikir. Ustadz Umar menuangkan air dari gelas ke plastik bening berukuran kecil. "Berikan air ini untuk Damar minum."
"Baik Ustadz." Kata Bu Suci melihat air putih yang sudah di bacakan doa.
"Apakah Mas Damar akan segera terbebas dari guna-guna, Ustadz?" Danum bertanya penuh dengan harapan.
Ustadz Umar tersenyum tipis menatap muridnya yang nampak cemas. "Insyaallah, semua atas izin Allah, Danum. Dan semoga Allah meridhoi."
Ustadz Umar mengambil pulpen dan buku. Lalu menuliskan surah-surah pendek yang bisa digunakan oleh Bu Suci dalam keadaan tertentu.
Apa yang dilakukan oleh Ustadz Umar tak luput dari sorot mata Bu Suci dan Danum, selembar kertas di sobek oleh Ustadz Umar lalu memberikannya pada Bu Suci.
"Lakukan terapi ini secara berulang selama tiga hari berturut-turut, pagi dan siang dan bacakan surah-surah yang saya tuliskan dengan segelas air putih, lalu berikan kepada Damar."
Bu Suci menerima selembar kertas yang diberikan oleh Ustadz Umar. Dilihatnya sekilas bacaan doa-doa dan surah pendek.
"Saya harap, terapi ini bisa membebaskan anak Bu Suci tanpa perlu merukiyah nya. Jika dalam waktu tiga hari anak Bu Suci tidak kunjung ada perubahan, maka saya akan mendatangi rumah dan saya akan membantu merukiyah nya." Ustadz Umar menerangkan bahwa ada saran yang lebih baik dengan menyembuhkan diri tanpa perlu merukiyah dengan cara.
"Terimakasih Ustadz Umar, Bu Halimah." Kata Bu Suci sungguh-sungguh. "Saya sangat berharap anak saya segera pulih." Sambungnya mengharap sebagai seorang Ibu, Bu Suci sangat berharap kehidupan anaknya bisa normal kembali.
"Amin." Ucap Ustadz Umar membersamai dengan Bu Halimah dan Danum.
"Sementara, benda-benda ini biarkan di sini. Saya akan mencari tahu, siapa orang yang mengirimkan dan membantu dalam merapalkan mantra ajian pelet tersebut. Apakah seseorang yang sudah saya kenal, atau orang baru." Kata Ustadz Umar melihat tusuk konde perak, berserta kembang mawar hitam, kembang kantil, secuil tanah, secarik kain putih lusuh dan boneka kecil.
__ADS_1
"Sekali lagi saya sangat berterimakasih Ustadz Umar, Bu Halimah. Saya permisi Ustadz Umar, Bu Halimah." Bu Suci menyalami seraya hendak memberikan amplop putih, namun Bu Halimah tersenyum dan menggeleng.
"Niat kami ikhlas karena Allah, Bu Suci. Semoga Damar segera terbebas dari guna-guna, dan kembali lagi seperti Damar yang dulu saya kenal.." Kata Bu Halimah tersenyum simpul.
Bu Suci melihat wajah Ustadz Umar pun sama, guru ngaji Danum itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Bu Halimah dan Ustadz Umar mengantarkan kedua tamunya itu sampai ke teras rumah. Sampai Bu Suci dan Danum meninggalkan halaman rumah.
"Abi, seperti yang sudah-sudah, apa anak Bu Suci bisa segera pulih, ndak?" Bu Halimah menyusul suaminya masuk kedalam rumah dan dilihatnya suaminya itu duduk kembali di sofa serta mengamati benda-benda yang ada di dalam baskom. Bu Halimah lantas menyusul untuk duduk tidak jauh dari keberadaan suaminya.
"Saya rasa mantra dan ritualnya sangat kuat, sampai dampyangnya masih ada di sini sedang memperhatikan saya, Bu." Kata ustadz Umar mengangkat wajahnya menatap wujud dari jelmaan iblis yang ditugaskan untuk memata-matai Damar.
Bu Halimah bergidik ngeri, ia celingukan mencari keberadaan makhluk gaib yang dikatakan oleh suaminya. "Maksud Abi, apa anak Bu Suci sulit untuk disembuhkan?"
Netra Ustadz Umar masih bersitatap dengan sosok gaib besar hitam dan sangat menyeramkan bermata merah.
"Tadi Abi bilang dampyang? Maksud Abi, apa makhluk gaib itu masih ada di dalam rumah kita, lalu apa bahayanya bagi anak Bu Suci?" Bu Halimah bertanya, namun ia tidak melihat dampyang atau bayangan makhluk gaib yang di katakan suaminya.
"Makhluk gaib ini berwujud seperti genderuwo, hitam dan bermata merah menyala. Bisa jadi, makhluk gaib inilah yang di perintahkan oleh sang dukun untuk menutupi pikiran Damar. Agar pikiran Damar kacau dan membenci istri bahkan keluarganya, dan juga tidak melihat kebenaran." Kata Ustadz Umar menjelaskan. Sesaat kemudian Ustadz Umar berkomat-kamit dalam membaca ayat kursi sebanyak tujuh kali, lalu meniup benda yang ada di dalam baskom, seketika itu juga makhluk gaib itu tidak lagi terlihat.
"Dimana Bi?" Bu Halimah celingukan namun, tidak melihat mahluk gaib yang dikatakan oleh suaminya.
"Sudah pergi." Jawab Ustadz Umar. "Pelet ini sangat berbahaya, jika seseorang yang belum menikah akan membuat orang yang terkena pelet Manyamati bisa jadi gila, dan jika seseorang yang sudah menikah maka rumah tangganya akan rusak dan berakhir perceraian." Sambungnya lalu menerawangkan pandangannya menatap kaligrafi Asmaul Husna.
"Ya Allah.." Bu Halimah mengelus dadanya. "Masih ada ya orang jahat seperti itu?"
"Ada beberapa efek yang sangat terlihat jelas jika terkena dampak dari pelet Manyamati." Kata Ustadz Umar, mengalihkan atensinya melihat istrinya.
__ADS_1
"Apakah sama seperti yang sudah-sudah?" Tanya Bu Halimah.
"Bisa jadi lebih dari guna-guna yang pernah saya tangani."
"Maksud Abi?"
"Pertama, mencintai seseorang dengan membabi buta dan tidak lagi memikirkan norma-norma yang berlaku di masyarakat maupun norma-norma agama. Kedua, Memiliki keinginan yang sangat kuat untuk selalu berhubungan badan dengan orang yang memeluknya. Ketiga, Selalu merindukan dan ingin selalu bertemu. Keempat, sering merasa sakit pusing yang berkepanjangan, sakit di bagian tengkuk dan pundak, sakit lambung tanpa ada sebab secara medis dan tanda-tanda lainnya yang tidak jelas penyebabnya. Dan masih ada lagi hal-hal negatif yang akan terus mengiringi sampai seseorang yang terkena imbas dari pelet ini bisa terbebas." Jelas Ustadz Umar.
"Astaghfirullah." Bu Halimah dilanda kekhawatiran yang sama, sebagai seorang Ibu. Ia merasakan situasi yang dialami oleh Bu Suci. Mengingat cerita Bu Suci, menantunya sedang hamil tua dan dalam waktu dekat akan melahirkan.
"Kasihan istri Damar, padahal dalam waktu dekat ini. Akan melahirkan." Ucap Bu Halimah membayangkan istri Damar.
"Semoga semuanya baik-baik saja Bu, Abi akan bantu doa dari sini."
"Kenapa Abi tidak langsung merukiyah Damar?"
"Karena Abah kenal seperti apa Damar, pikirannya bisa saja terpengaruh tapi tidak dengan hatinya."
"Abi yakin?"
"Insyaallah, sekali lagi atas izin Allah."
Di dalam kamar, Fatimah tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mengenai Mas Damar, Kakak dari Danum. Ia merasa kasihan, jika sampai terjadi perpisahan.
"Ya Allah, semoga Mas Damar aman-aman saja, dan selalu dilindungi oleh Engkau ya Allah." Fatimah menadahkan wajahnya, menatap kaligrafi lafadz Allah, lalu mengusap wajahnya.
...*****...
__ADS_1
Bersambung...