
Ada jeda dalam ucapannya. Damar menatap Wulan dengan tatapan sendu, "meskipun aku sudah berusaha mencegah agar tidak menyakiti mu, tapi bukan berarti sikap ku akan selalu hangat, tapi percayalah hanya kamu dan kamu yang akan menjadi ratu dalam hati ku." Damar menghela nafas panjang dan serasa berat, kala rasa sakit di kepala dan di tengkuk lehernya kembali di rasa. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap Wulan yang sedang menunjukkan ekspresi wajah sedih, mungkin saja bingung.
"Lalu apa yang membuatmu jadi seperti ini? Aku tidak bermaksud membenci ataupun kecewa atas sikap mu, tapi bohong jika aku bilang aku tidak kecewa padamu, karena aku melakukannya. Dan kamu tidak bermaksud menyakitiku, tetapi kamu melakukannya," Wulan menahan air matanya yang sudah membendung di pelupuk mata. Rasanya sangat terbakar, kala mengingat Damar mengakui cinta pada wanita itu. "terlepas dari setan apa yang merasuki mu, tapi aku sungguh kecewa dan terluka." lanjutnya dengan ucapan terbata.
"Maafkan aku." Damar menunduk di hadapan Wulan, lalu mengulurkan kedua tangannya, menarik Wulan masuk dalam pelukannya.
"Sepanjang jalan aku mencari mu, Danum bercerita. Kalau aku terkena guna-guna pelet, entah siapa pengirimnya, tapi yang pasti. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah melupakan mu."
Siapa yang akan mengira bahwa Damar bisa terimbas dari hal-hal mistis seperti itu. Wulan kembali teringat akan temuannya pagi ini. "Jadi apa yang kutemukan pagi ini adalah benar, bahwa kamu terpengaruh guna-guna?"
Damar mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"
Wulan menceritakan apa yang ditemukannya pagi ini, dan semua sikap Damar yang berubah haluan menjadi sangat kasar. Bukan hanya itu, ia juga menceritakan tentang kejadian hari ini di kantor.
"Jadi siapa Anggi Kumalasari, kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?" kata Damar menatap Wulan, sangat mustahil ia memecat seseorang dan menerima orang baru jika ia sendiri tidak mengingatnya semua kejadian itu.
Wulan menatap Damar seperti orang linglung. "Bagaimana bisa kamu tidak mengingat sama sekali kalau kamu lah yang menerima dan menggantikan Bu Pertiwi, itu semua kamu lakukan dengan mata terbuka, Kang Cimar?"
Damar menghela nafas panjang, entah kenapa rasanya tengkuk lehernya sangat berat. "Sungguh aku tidak ingat, aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini?"
Wulan menatap Damar intens, ia merasakan aura negatif yang menguasai tubuh suaminya. Dipegangnya tangan Damar yang dingin. "Istighfar, Kang Cimar, istighfar."
Damar bukan hanya merasakan tengkuk lehernya berat, ia juga merasakan kepalanya berdenyut hebat. Damar secara refleks mencengkram kuat lengan Wulan. "Jangan tinggalkan aku walaupun sedetik." ucapnya berat, nafasnya tak beraturan, telinganya kembali berdengung mendengar bisikan mantra-mantra.
__ADS_1
"Tidak, aku takkan pernah meninggalkan mu." Wulan mencoha untuk bersikap tenang, kendati saat ini dalam kepanikan. Ia harus bisa mengontrol emosinya agar tidak terbawa arus ketegangan.
Wulan mengusap kepala dan punggung Damar, ia membaca doa sebisanya. Barangkali rasa sakit yang diderita Damar dipicu oleh mantra pelet yang sedang di mantra kan oleh seseorang.
Meskipun belum adanya bukti yang mengarah bahwa Anggi adalah pelakunya, akan tetapi aku harus mencari tahu tentangnya. Dan sepertinya Anggi bukanlah wanita sembarangan. Aku harus jeli dan waspada.
Wulan masih memegangi Damar, ia memeluk suaminya erat. Meskipun dalam keadaan hamil tua, bukan berarti ia akan pasrah. Ia akan berjuang untuk menyelamatkan suaminya.
"Pundak ku rasanya sakit dan berat." keluh Damar dalam dekapan Wulan, ia memegangi tengkuk lehernya yang terasa berat.
Tiba-tiba muncullah dalam pikiran Wulan ketika keadaan yang genting seperti ini. "Wudhu!" mungkin dengan cara berwudhu Damar bisa merasakan ketenangan.
"Aku bantu kamu berwudhu, siapa tahu dengan wudhu bisa meredakan rasa sakit mu." Wulan membantu Damar berjalan ke kamar mandi, meskipun tertatih-tatih.
Bukan hanya wudhu, waktu juga sudah menunjukkan ashar, jadi Damar di bantu Wulan berganti pakaian.
Semua gerakan terampil yang dilakukan Wulan tak luput dari perhatian Damar. Ia sudah merasakan lebih tenang setelah berwudhu.
Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna. Namun, keduanya tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan.
"Terimakasih." ucap Damar setelah Wulan membantunya mengganti untuk beribadah.
Wulan tersenyum simpul, "Sama-sama." ia menggelar dua sajadah, dan sudah siap dengan memakai mukenah.
__ADS_1
Sholat empat rakaat pun dilaksanakan dengan sangat khusyuk, tak pelak menimbulkan isakan di tengah-tengah sujud.
Selepas sholat, Damar memimpin doa. Seperti biasanya, sebagai makmum, maka Wulan akan mengaminkannya.
Damar berbalik badan, ditatapnya wajah sendu dan istri. Lalu diambilnya kedua tangan Wulan, Damar menciumnya penuh dengan kelembutan. "Jika surga itu setangkai bunga, aku akan memetiknya untukmu. Jika surga itu seekor burung, aku akan menangkapnya untukmu. Jika surga itu sebuah rumah, aku akan membangunnya untukmu. Tapi, karena surga adalah tempat yang belum pernah dilihat oleh siapa pun, maka aku akan berdoa kepada Allah supaya menyiapkan surga itu untukmu. Dan kita akan bersama di surga, sampai tiada seorang pun yang dapat mengganggu kita."
"Lalu bagaimana jika iblis mengganggu kita seperti mengganggu Adam dan Hawa, dan mengakibatkan kita terusir dari surga, dan membuat kita terpisah jarak yang sangat jauh?" spontanitas, Wulan tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Jika setingkat nabi saja sampai tergoda oleh rayuan syetan, lalu bagaimana dengan manusia biasa seperti kami ini? Ya Allah hamba berlindung kepada-Mu.
Damar memegang kedua pipi Wulan, ia tersenyum simpul. "Nabi Adam a.s. diturunkan di salah satu gunung yang ada di Srilanka, sementara Hawa diturunkan di Jeddah, Saudi Arabia. Pasangan manusia pertama di bumi ini berpisah selama 300 tahun. Tapi mereka bertemu kembali, jadi seberapapun jauhnya jarak dan waktu memisahkan keduanya, akan tetapi jika sudah berjodoh, pasti akan di pertemukan kembali."
Mendengar jawaban singkat Damar, Wulan tersenyum lebar sampai-sampai tidak sadar air matanya sudah kembali menetes di pipi. Ia menghamburkan diri memeluk Damar sangat erat.
Damar membalas pelukan Wulan, ia menciumi ceruk leher istrinya. "Sejauh apapun kita berpisah, jika kita sudah di takdirkan bersama, pasti akan bersama selamanya.
**
Sementara itu, di tempat lain. Anggi merasa sangat kesal... Ia bersumpah. Akan tetap pada pendiriannya. Akan mencari dukun yang lebih sakti daripada Mbah Kuwat.
Anggi tahu, bahwa Damar telah menemui Wulan. Berdasarkan dari laporan seseorang yang ia suruh untuk memata-matai Damar.
"Malam ini aku harus menjalani ritual dan persembahan. Agar dapat memuluskan tekadku. Aku akan mendapatkan mu Damar. Kamu hanya menjadi milikku."
__ADS_1
*****
Bersambung...