Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 35. Kencan Malam Di Danau Hijau


__ADS_3

Ruang kerja Sekretaris Han.


Bawahannya sedang duduk menunggu, Han dibelakang mejanya mengeprint sesuatu. Dia terlihat seperti orang kurang tidur. Tapi, dia terkadang memang seperti itu. Jadi tidak ada yang merasa perlu mempertanyakannya. Setelah kertas di mesin print dia raih, Han berjalan menuju sofa. Meletakkan kertas itu di depan bawahannya.


Sapu? Mata bawahannya mengerjap. Penasaran sekaligus merasa aneh. Kenapa Sekretaris Han memberikan desain gambar sapu. Dan ada apa dengan motifnya itu, kenapa juga seperti kulit macan begitu. Tambah merasa aneh dan geli sendiri. Dari sekian banyak motif kenapa dia memilih motif harimau.


"Carikan aku sapu dengan berbagai merk, model dan harga." Han bicara tanpa ekspresi seperti biasa. Lalu tangannya mengetuk kertas di depannya. "Buatkan khusus yang ini dari brand ini." Dia menyebutkan sebuah merk produk fashion ternama.


Kenapa? Kenapa harus sapu? Bawahannya mau bertanya tapi takut, tapi tidak bertanya rasanya perintah ini terlalu aneh untuk diikuti.


"Tuan, semua sapu ini untuk apa?"


Han menatap bawahannya.


"Maaf, saya tidak akan bertanya." Laki-laki itu menunduk. Jangan banyak mencari tahu, Anda mau mengatakan itu kan. Sudah ngeri sendiri. Dia meraih kertas, menatap gambar, terlihat serius melihat gambar, bentuk dan desainnya sangat tidak biasa. "Apa Anda yang membuat ini sendiri?"


"Hemm." Han merasa puas seperti habis mendengar pujian kalau gambarnya bagus. Semalaman dia mendesain itu. "Aku mau melamar pacarku," ujarnya. Kali ini benar-benar menjadi bom yang seperti meledakkan ruang kantor ini.


"Iya, apa!" Bawahannya menutup mulut, tidak bisa mencegah reaksi tubuhnya yang seperti dihantam serpihan ledakan. "Maaf Tuan, saya hanya terkejut. Anda mau melamar kekasih Anda rupanya." Apa yang aku temui saat dibandara waktu itu ya gumam bawahan Han. Mantan sopir nona muda. "Apa sapu-sapu ini untuk hadiah kekasih Anda Tuan?"


Ada apa dengan seleranya. Kenapa setelah akhirnya Anda memiliki kekasih, dia orang aneh yang mengkoleksi sepatu bermotif harimau. Bawahan Han merasa tidak terima. Apa tidak ada wanita normal saja Tuan. Wanita manis dan lembut seperti nona muda misalnya.


"Itu semua untuk ibu mertuaku."


Syukurlah ternyata bukan untuk pacar tuan, apa! Malah untuk mertuanya! Kepala bawahan itu langsung berkedut-kedut. Malah merasa semakin aneh saja.


"Tuan, kalau perempuan biasanya suka benda-benda seperti tas mewah, perhiasan mewah, gelang, cincin berlian. Apa tidak kita siapkan saja benda benda seperti itu." Istri atau mertuanya senangnya bukan main, saat dia membelikan tas mahal, karena mendapat bonus waktu itu.


Han bergumam, kalau perempuan biasa mungkin ia, tapi dia kan ibunya Aran. Tentu harus spesial donk. Han berfikir keanehan itu adalah sesuatu yang spesial.


"Dia sangat menyukai sapu, aku ingin membawakan hadiah yang dia sukai." Han melihat jam tangannya, sudah waktunya Tuan Saga pergi ke ruang rapat untuk bertemu para CEO anak perusaaan dari luar kota. Bawahan Han bangun dari duduk, saat Han bangun. "Aku sendiri yang akan menyiapkan tas atau perhiasan itu, kau fokus saja pada semua sapu-sapu itu."


"Baik Tuan."


"Yang utama sapu yang aku desain sendiri itu."


"Baik Tuan."


"Bawa semua sebelum akhir pekan ini."


"Baik Tuan." Dalam hati bawahan Han sedang menangis dan menusuk jantungnya dengan pisau tak kasat mata. Perintah ini seperti membunuhnya secara tidak langsung.


Akhir pekan kan hanya hitungan hari lagi!

__ADS_1


Masalah sapu beres, menurut Han. Setelah keluar dari gedung Antarna Group, Robi langsung membawa anak buahnya untuk pergi ke pelosok tempat, mengumpulkan berbagai macam jenis sapu.


Han sendiri yang sudah berpengalaman menyiapkan hadiah pernikahan Tuan Saga, dengan santai menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa nanti ke rumah Aran.


...***...


Mobil melaju di jalanan. Aran melihat ke luar jendela. Memperhatikan pepohonan dan jalanan yang agak terasa asing. Ini bukan jalan menuju rumahnya.


"Kak, kita mau ke mana? Ini bukan jalan menuju rumahku?"


Gedung besar yang ada di kanan jalan, dulu dia sering melewati tempat ini saat mengantar Nona Daniah bekerja ke ruko. Mau ke mana ini gumam Aran, sementara yang ditanya, masih diam dan mengemudikan kendaraan dengan cepat. Dia menyalip sebuah mobil berwarna hitam di depannya yang berjalan sangat lambat.


"Kak."


"Diamlah, kau tidak mau jalan-jalan denganku?"


Aaaa, bukan tidak mau, aku malah sangat senang. Aku hanya ingin tahu kita mau ke mana.


"Eh, Danau hijau!"


Mata Aran langsung berbinar, saat pintu gerbang penyambutan Danau Hijau ada di depan matanya. Lampu-lampu yang berkelip. Layar LCD besar papan iklan milik Antarna Group. Sedang mempromosikan produk makanan instan milik Antarna Group.


"Kenapa Kakak nggak bilang kalau mau kesini, seharusnya kita kan membeli makanan dan camilan dulu tadi." Mobil sudah berhenti di area parkir. Aran sudah membuka pintu mobil.


Brian sudah seperti membekali anaknya yang mau pergi darma wisata bersama teman sekolah, saat mendengar Han mau pergi jalan-jalan malam bersama Aran. Ada keranjang piknik dan tas kertas sepertinya selimut dan alas duduk.


"Kak, kau mengajakku piknik?"


Ekspresi Aran yang seperti menang lotre milyaran rupiah. Berbanding terbalik dengan wajah kaku milik Han. Laki-laki itu benar-benar pandai menyembunyikan debaran hatinya.


"Aku hanya ingin mengajakmu mencari udara segar, Kak Brian berfikir aku mau mengajakmu kencan. Sudahlah, ambil tas kertas itu, aku yang bawa keranjang piknik."


Apa-apaan ini, bisa-bisanya aku menuruti fantasi Kak Brian. Han mendesah malu pada dirinya sendiri. Kalau untuk Tuan Saga, menyiapkan hal-hal di luar nalar rasanya menjadi sesuatu yang penuh kebanggaan. Walaupun aneh dan memalukan, tapi tidak ada yang menggelitik di hatinya. Karena semua itu dia lakukan untuk Tuan Saga. Tapi sekarang, ah, rasanya ada jarum kecil yang menusuk hatinya. Membuatnya geli.


Wajah Sekretaris Han sedikit merah karena malu, menjinjing keranjang piknik. Walaupun suasana Danau Hijau malam ini cukup ramai, namun tidak ada yang terlihat terlalu tertarik dengan apa yang dilakukannya. Karena para pasangan itu melakukan hal yang jauh lebih memalukan dengan pasangan mereka masing-masing.


"Kak, kita duduk disini."


Aran sudah membuka alas duduk. Tidak jauh dari tempat mereka ada pasangan juga yang duduk beralaskan koran. Ala kadarnya, disamping mereka ada tas plastik, sepertinya baru mereka beli dari minimarket terdekat. Aran yang melihat keranjang piknik yang dibawa Han sumrigah bahagia.


Mereka meneguk kopi yang masih terasa hangat, disimpan dalam termos kecil stainless. Membenturkan gelas mereka lalu tertawa melihat langit malam.


Aku tidak membayangkan bisa melihat bintang bersama laki-laki yang aku sukai ini. Aran menjerit-jerit dalam hati. Gadis itu wajahnya memerah, teringat ciuman pertama yang mereka lakukan di mobil saat di depan rumahnya kala itu.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, kenapa kau cekikikan sendiri."


"Eh, apa, aku tidak cekikikan kok. Hihi, aku hanya sedang bahagia. Bisa duduk melihat bintang di Danau Hijau ini. Bersama Kakak, laki-laki yang aku sukai." Aran meneguk kopinya, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu kekar dan kokoh milik Han. Laki-laki itu melihat kepala Aran, lalu membenturkan kepalanya pelan.


Sebentar lagi Aran, aku akan memintamu pada orang tuamu.


Walaupun Han tahu, kedatangannya tidak diinginkan orangtua Aran. Dia pasti akan benar-benar disambut dengan kemarahan dan sapu. Dia tidak menyalahkan sikap orangtua Aran, sebagai orangtua pasti akan seperti itu, apalagi laki-laki yang akan datang meminta anak gadisnya, adalah seseorang yang beberapa tahun lalu menghancurkan hidup dan mimpi anak kesayangan mereka.


"Akhir pekan kau kemana?" Suara Han memecah kebisuan yang sesaat hadir. Aran menikmati hembusan angin sambil bersandar dan mengelus lengan kokoh Han. Langsung mengangkat kepala. Berfikir pertanyaan itu pasti ajakan kencan untuknya


"Aku tidak kemana-mana, akhir pekan kosong. Apa kau mau mengajakku kencan siang hari."


Han mendengus, menunjuk kening Aran.


"Kalau begitu jangan kemana-mana dan tidur saja di rumah. Aku banyak pekerjaan."


Han menutup mulut Aran yang sudah mau terbuka protes dengan camilan yang dibawakan Brian. Nyam, nyam. Sambil monyong-monyong kesal. Gadis itu langsung bergumam ceria saat makanan yang masuk ke mulutnya enak.


Aku yang akan datang ke rumahmu untuk memohon restu dari orangtuamu. Jadi tunggulah Aran.


Aku akan berlutut dan memohon pada orangtuamu, asalkan itu bisa meluluhkan hati ayah dan ibumu untuk menerimaku ada disisimu.


"Kakak, mau jalan berkeliling Danau Hijau." Aran bangun. Tersenyum mengulurkan tangan. "Aku ajari Kakak cara kencan rakyat biasa."


"Cih, seperti kau punya pengalaman saya." Tapi Han bangun dari duduk, terlihat antusias.


"Haha, aku kan sudah punya banyak pengalaman di dunia halu, sekarang kan tinggal aku merealisasikan khayalanku." Tawa ceria Aran menghangatkan hati Sekretaris Han. Dibiarkan saja tangan gadis itu menariknya, celoteh dari bibir mungilnya menjelaskan ini dan itu tentang Danau Hijau.


Ya, ya, aku lebih tahu tentang danau ini daripada kau, tapi karena kau menggemaskan saat bicara jadi baiklah, aku akan mendengarkan.


"Teruskan, kenapa dengan matahari terbit danau hijau."


Mereka bergandengan tangan sampai malam merayap naik. Saat kembali ke area parkir terlihat para pengunjung lain pun mulai bersiap pulang. Jam 12 tengah malam, Danau Hijau ditutup untuk umum. Peraturan ini dibuat baru-baru ini, karena ada beberapa muda mudi yang menyalahgunakan Danau Hijau untuk hal-hal yang melanggar aturan dan norma. Demi lingkungan yang aman, akhirnya peraturan itu pun dibuat.


Aran menutup malam itu dengan memberi kecupan secepat kilat di pipi Han, lalu membanting pintu dan lari ke rumahnya.


Dasar gila! Kenapa kau menggemaskan begitu!


Han baru melajukan mobil setelah melihat Aran masuk ke dalam rumahnya.


Bersambung


HanAra masuk 😘

__ADS_1


__ADS_2