
Hari pernikahan Sekretaris Han yang meriah. Penuh keharuan dan sakral.
Ada cinta yang terpancarkan ke seluruh ruangan ballroom, berasal dari janji pernikahan kedua mempelai.
Dan ada fakta baru yang mengejutkan, baru diketahui Han hari ini, saat Tuan Saga tanpa sadar teringat dengan kejadian pada waktu berpulangnya tuan besar.
Kejadian di RS.
Pertemuan Tuan Saga dengan seorang bocah kecil berambut acak-acakan yang ibunya juga sakit. Memberinya coklat agar Tuan Saga tidak menangis dan menjadi kuat. Entah kenapa pikiran Han tertuju pada sosok nona mudanya. Hanya sebuah firasat kecil berdasarkan kecurigaannya saja.
Hari kematian ibu nona muda sama dengan tuan besar, apa memang dari kecil mereka sudah pernah dipertemukan. Ada rasa menggelitik di hati Han, kalau itu memang benar. Namun, dia masih menyimpan spekulasi itu untuk dirinya, karena tidak ada bukti kecuali ingatan samar yang tidak mau diingat Saga.
Paman, Han teringat sesuatu. Ada seseorang yang berdiri di samping Tuan Saga kala itu saat dia datang dengan berlari ke RS. Paman, ayah Revan. Apa dia masih mengingat kejadian itu ya. Baiklah, Han akan menanyakannya. Kalau memang benar, ini pasti akan menjadi kejutan yang luar biasa untuk Tuan Saga.
Begitulah, disela hari bahagianya, Han masih memikirkan kebahagiaan tuannya.
Janji pernikahan Han ucapkan dengan lancar, sambil memegang tangan Aran, wanita yang dia cintai. Maka selesailah prosesi pernikahannya Han dan Aran.
Para tamu mulai melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Han melihat Tuan Saga dan nona Daniah pun beranjak dari tempat duduknya. Pergi menuju ruang tunggu. Tidak perlu melihatnya, Han juga tahu apa yang akan dilakukan mereka berdua di ruang tunggu.
Dan memang yang terjadi di ruang tunggu Saga, tidak jauh dari apa yang dipikirkan Han.
Erina masih terlelap tidur, suster menundukkan kepala dan keluar dari ruangan. Menunggu di luar bersama seorang pemgawal yang berjaga di depan pintu. Menikmati camilan.
"Sayang, hari ini aku ikut bahagia melihat mereka." Daniah sudah duduk dipangkuan Saga. "Hihi, kau ingat tidak waktu aku masih hamil Erina, aku semangat sekali menjodohkan mereka." Kalau diingat-ingat sekarang, momen-momen ngidam itu terasa lucu.
"Kau sangat menyukai gadis itu rupanya?" Saga menyandarkan kepala sambil memainkan rambut. Istrinya Han maksud Saga, Aran, yang namanya sama sekali belum tersimpan di kepala Saga.
"Hehe, tidak lebih dari aku menyukaimu sayang." Daniah mencium kening Saga. Kalau dia tidak menjawab seperti itu pasti akan panjang urusannya. "Tentu saja aku lebih menyukaimu berkali lipat adanya."
Tuan Saga yang nomor satu.
Saga terlihat puas, walaupun tahu pengakuan Daniah untuk menyelamatkan keadaan. Saat bibir Daniah menyentuh keningnya lagi, hatinya sudah kehilangan rasa kesal.
Mereka berciuman, bibir menyatu diantara keduanya, tangan Saga sudah menyentuh bagian belakang kepala Daniah. Lidah saling mendorong merasai hasrat masing-masing.
"Sayang! Sayang!"
Saga mulai menciumi leher Daniah.
"Hari ini sudah boleh kan?" Senyum merekah dibibir Saga, akhirnya penantian dan kesabarannya akan berbuah manis. "Aku sudah boleh memakanmu kan, tidak ada ampun lagi Niah." Bibir menciumi telinga Daniah. Lalu mulai bergerak memainkan lidah ditelinga yang langsung memerah.
Ia, memang sudah boleh, tapi tidak boleh disini! Hentikan Tuan Saga!
__ADS_1
"Sayang! Hentikan! Kau bilang mau bertemu orangtua Dokter Harun kan." Saga mengangkat kepalanya. Merengut. "Nanti malam kita lanjutkan ya sayang, malam pertama kita setelah Erina lahir." Demi mengusir kecewa suaminya, Daniah memberi ciuman dibibir Saga.
Saat mereka sedang berciuman, ketukan di pintu. Daniah yang mau loncat turun dari pangkuan Saga malah dia didekap dengan kuat. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Sampai ciuman itu selesai Saga tidak melepaskan istrinya.
"Tuan Muda, apa kami boleh masuk?" Suara Pak Mun terdengar setelah jeda beberapa waktu.
"Aku kan menyuruhnya datang setelah setengah jam." Bergumam kesal karena diganggu. Melihat Han menatap istrinya dengan penuh cinta membuat hati Saga berdesir tadi, jadi dia ingin mencari ketenangan dengan memeluk Daniah sepuasnya. Saga seperti ibu yang cemburu melihat anak lelakinya menikah. Baru juga berciuman gangguan sudah bermunculan. "Masuk Pak." Walaupun begitu dia mengizinkan Pak Mun masuk juga.
Pintu terbuka orangtua Harun masuk disusul Pak Mun, dengan wajah sumringah. Akhirnya, pikir mereka, anak yang selama ini hanya memikirkan bekerja dan selalu mangkir datang ke perjodohan antusias dan semangat sekali bicara ingin menikah.
Mereka menyapa Daniah dengan sopan, sambil menanyakan bagaimana pertumbuhan Erina. Bibi melongok melihat Erina yang sedang tertidur. Memuji bayi kecil menggemaskan itu.
"Paman, Bibi duduklah, aku dengar Harun juga mau menikah." Tangan Saga menjentikkan jari agar istrinya mendekat, meraih jemari Daniah, mencium punggung tangan istrinya yang tersenyum menanggapi.
Paman dan bibi sedikit terkejut menyaksikan apa yang dia lihat.
"Haha, benar, akhirnya." Bibi menyeka pelupuk matanya. "Apa dia terprovokasi dengan Han yang menikah duluan." Bibi meminta persetujuan suaminya, yang mangut-mangut mengiyakan. "Dia jadi datang perjodohan tanpa perlu dipaksa-paksa. Hubungan mereka yang berjalan lancar, kami para orangtua jadi semangat dan ingin segera menikahkan mereka."
Baik orangtua Harun maupun Sandrina, bergerak cepat dibelakang anak-anak mereka.
"Kalau tahun ini dia menikah tidak akan menggangu pekerjaannya di RS kan?" ayah Harun bertanya.
Daniah menggeser tubuhnya saat Saga menepuk ruang kosong di sampingnya. Tangan Saga berpindah menyentuh pinggang Daniah.
Ya Tuhan, dia mau menunjukkan apa si pada paman dan bibi. Padahal Saga sama sekali tidak ada maksud apa-apa, dia hanya ingin Daniah duduk dekat di sampingnya saja. Namun, baik Pak Mun, paman dan bibi yang melihat keharmonisan suami istri di depannya, hati mereka diliputi kebahagiaan dan rasa syukur.
Ah, anakku ternyata kau tidak hanya banyak bicara ya, Saga sampai memujimu berarti kau memang benar-benar bekerja dengan baik. Ayah dan ibu Harun menepuk dada bangga. Sudah mendidik anak mereka dengan baik.
"Katakan saja pada Han, kalau Paman dan Bibi butuh sesuatu untuk persiapan pernikahan."
Paman dan bibi berterimakasih, keduanya tersenyum saat Saga menempelkan pipinya ke pipi Daniah. Apalagi saat melihat Daniah yang terperanjat kaget dengan imutnya.
Ya Tuhan, aku tidak pernah berfikir Saga akan bersikap seperti ini pada istrinya. Bibi bergumam, laki-laki dingin yang ditinggal kekasihnya pergi dulu sepertinya benar-benar sudah berganti rupa.
"Baiklah, kami tidak akan menggangu kalian." Bibi tahu situasi rupanya.
"Paman, Bibi, nggak kok." Daniah yang wajahnya merah karena malu.
Bibi tertawa, lalu bibi dan paman bangun dari duduk.
"Terimakasih Saga, sudah menjaga Harun selama ini, bibi dan paman sangat berterimakasih." Melihat Daniah hangat. "Semoga kalian selalu bahagia ya, bersama Erina."
Saga menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Terimakasih Bibi atas doanya, semoga pernikahan Dokter Harun lancar nanti ya. Kalau boleh tahu, dokter menikah dengan siapa ya Bi?" Berbeda dengan Saga yang tidak tertarik menanyakan calon mempelai wanita, Daniah antusias sekali.
Bibi menyebutkan nama dan pekerjaan calon istri dokter Harun. Lalu setelah melihat Saga meraih rambut Daniah, mereka menganggukkan kepala pamit. Diantar Pak Mun keluar kamar. Bibi bicara banyak sekali pada Pak Mun, bertanya tentang kemesraan Saga dan Daniah yang dilihatnya tadi.
Dia sudah mendengar dari cerita, melihat dari kejauhan saat di pesta Erina. Tapi saat dilihat dari dekat, ternyata hubungan Saga dan Daniah semenggemaskan itu ya.
...🍓🍓🍓...
Setelah pesta selesai, orang tua Revan masuk ke dalam ruang tunggu. Dan mereka pun terlibat pembicaraan yang tidak jauh berbeda dengan orangtua Harun.
Ayah Revan bahkan juga mulai berfikir untuk mencarikan Revan pasangan. Supaya laki-laki itu juga segera menikah.
Saga tergelak kecil, sepertinya perjuangan Revan tidak akan semudah jenjang karir dan gelar pendidikan yang dia miliki. Ada banyak tiang tinggi yang harus di taklukan kalau dia benar-benar ingin Jen ada disisinya.
Ibuku dan ayahnya.
Selama setengah jam orangtua Revan di ruang tunggu bicara dengan Saga tentang perkembangan bisnis supermarket. Ibu Revan mengobrol dengan Daniah di samping Erina yang sedang tertidur. Saat mereka keluar, Han, sudah berdiri di depan pintu.
"Paman, ikut aku, ada yang mau aku bicarakan."
Ayah Revan mengangguk, lalu meminta istrinya untuk kembali ke ballroom. Pak Mun masih berdiri di depan pintu bersama suster dan seorang pengawal, menatap kepergian Han dan ayah Revan dengan sejuta penasaran.
Paman pun terlihat tegang, sudah lama dia tidak bertemu dengan Han. Tubuhnya makin berotot dan kuat, sepertinya dia rajin sekali olahraga. Tubuh paman dulu saat masih bertugas sebagai kepala pengawal Antarna Group juga tidak jauh berbeda dengan Han.
"Paman."
"Ada apa Han? Kau membuatku takut karena bicara sembunyi-sembunyi begini. Apa ini tentang tuan muda?"
Daya awas paman masih ada rupanya. Han bergumam.
"Apa paman masih ingat dengan hari meninggalnya tuan besar?"
Dari semua waktu yang dia habiskan di Antarna Group, hari itu adalah hari yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Kecelakaan tuan besar, RS dan airmata. Dia ingat bagaimana tuan muda menangis sampai tertidur karena kelelahan menangis.
"Tentu saja aku ingat, Han, kenapa kau menanyakan hari itu. Apa terjadi sesuatu pada tuan muda?" Lagi-lagi rasa cemas Ayah Revan muncul.
"Apa kau ingat gadis kecil yang memberi tuan muda coklat sebelum aku datang."
Kejadian di RS langsung berparade di kepala Ayah Revan, tentu saja, dia ingat semua itu. Gadis kecil yang memeluk boneka tanpa sandal, rambutnya acak-acakan, dia masih ingat dengan jelas saat gadis itu melambaikan tangan sambil digendong suster menjauh.
Karena hari itu adalah hari paling berat bagi tuan muda yang sudah ia sayangi dan ia hormati maka Ayah Revan ingat dengan jelas wajah gadis kecil yang memiliki rambut bergelombang itu.
Eh, sepertinya, kalau dilihat-lihat rambut nona muda mirip sekali dengan gadis kecil itu ya. Gumam Ayah Revan.
__ADS_1
"Paman, jelaskan padaku semua kejadian hari itu." Suara Han memecah lamunan Ayah Revan.
Bersambung