
Untuk pertama kalinya setelah banyak waktu yang dihabiskan Sekretaris Han bersama Saga, walaupun dia tahu Saga tidak mau membahasnya. Han dengan keras kepala tidak mau membaca situasi itu. Mungkin ini bisa menjadi rekor pertama ketidakpatuhan Han. Karena bagi Han pembangkangannya ini dia lakukan demi tuan yang ia layani.
Ini demi Antarna Group, semua ini dia lakukan demi Nona Erina. Nona menggemaskan yang semakin hari semakin menggemaskan. Begitulah arti kepalan tangan Sekretaris Han.
"Apa Anda tega meletakkan beban seberat ini dipundak Nona yang semungil Nona Erina, Tuan Muda. Tolong pertimbangkan apa yang sudah saya sampaikan. Saya mohon, lahirkan penerus laki-laki untuk Antarna Group."
Anak kedua laki-laki yang akan menggantikan Anda. Begitulah harapan Han.
"Han, kau sudah gila ya, memang kau pikir Erina selamanya akan sekecil itu, dia akan tumbuh dengan cantik, imut dan menggemaskan seperti ibunya." Saga terdiam sendiri setelah mengucapkannya, seperti tersentak dengan kesadaran. Bahwa semua yang Han katakan benar adanya. "Dia akan tetap imut seperti sekarang, dia akan lebih menggemaskan ketika dewasa nanti seperti Niah."
Kalau Erina semakin tumbuh besar, dia akan tumbuh dengan cantik seperti ibunya. Dan apakah dia akan bisa, menyerahkan tugas seberat itu di pundak putrinya yang mirip dengan ibunya. Kesadaran ini menampar wajah Saga.
Padahal aku sendiri tahu, bagaimana beratnya hidup yang aku jalani. Aku bahkan tidak mau Jen ataupun Sofi merasakan apa yang aku rasakan. Lantas kenapa aku sampai berfikir akan menyerahkan posisi penerus pada Erina.
Saga mulai merasa berdosa dan berfikir semua kata-kata Han benar adanya.
"Bangun Han!"
"Tuan Muda, saya mohon."
"Aku tahu!"
Han beranjak dari berlutut, laki-laki itu memang sudah menduga kalau tuannya mendapat pencerahan. Karena ekspresinya berubah sesaat tadi. Seperti orang yang tersentak kaget.
Han duduk di sofa, memperhatikan gurat gelisah di wajah Saga.
"Apa Anda khawatir Nona Daniah tidak mau hamil lagi?"
"Bukan itu."
Aku takut Niah merasakan rasa sakit yang mengerikan itu untuk kedua kalinya. Aku takut merasa tidak berdaya karena tidak bisa membantunya. Aku takut seperti orang bodoh yang hanya bisa memegang tangannya. Kalau saja sebagian rasa sakit itu bisa aku gantikan. Saga bergumam, pasti dia tidak akan sebimbang dan setakut ini sekarang.
Trauma saat mengingat kejadian di hari kelahiran Erina, selalu membuat keringat dingin menembus pori-pori kulit Saga. Dia tidak mau Daniah merasakan hal yang sama seperti itu untuk kedua kalinya. Tidak, dia tidak rela.
Kejadian saat kelahiran Erina terbayang lagi dengan jelas di pelupuk mata Saga. Apa dia mampu berada disituasi seperti itu lagi.
Tapi, semua fakta yang disampaikan Han juga benar adanya, kalau di memutus garis keturunan dirinya hanya pada Erina, maka pundak kecilnya itu akan menanggung tanggung jawab yang luar biasa.
"Bagaimana denganmu?"
Kau bisa sesumbar seperti ini, aku ingin tahu bagaimana rencana masa depanmu. Begitulah yang dipikirkan Saga. Kalau dia tidak salah ingat, Niah pernah mengatakan kalau istrinya Han ingin punya anak empat.
__ADS_1
Cih kalau kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana istrimu melahirkan, aku yakin kau akan berubah pikiran. Saga tidak mau menjadi orang aneh sendirian karena sikapnya yang masih memendam trauma dengan situasi kelahiran anak pertamanya.
"Kami sudah mulai mempersiapkannya Tuan Muda, Aran sudah siap untuk menjadi ibu. Jadi kami akan bekerja keras untuk itu." Mereka sudah mengunjungi dokter kandungan dan melakukan pemeriksaan kesehatan, semuanya baik. Ya tinggal tugas mereka berdua saja sekarang. "Saya akan mencari informasi tentang metode melahirkan yang paling aman Tuan Muda."
Perasaan takut ini malah hanya aku yang merasakan. Saga mengakui itu karena Daniah memang beberapa kali mengatakan, kalau dia ingin mengandung anak lagi. Dialah yang belum siap.
Tapi permohonan Han juga seperti peringatan padanya, kalau dia tidak bisa berdiam diri.
"Aku akan bicara dengan Niah. Kalau dia setuju, buat janji dengan dokter." Akhirnya kata-kata yang ingin di dengar Han diucapkan Saga.
"Baik Tuan Muda."
Han diliputi kelegaan. Padahal dia berfikir apakah senjata terakhirnya dengan berlutut akan berhasil, dia tidak yakin tadinya. Sekarang kebahagiaan bukan hanya untuk dirinya sendiri yang sedang program kehamilan, namun juga untuk tuan yang dia layani. Bahwa akan lahirnya penerus laki-laki di Antarna Group adalah sebuah keharusan.
...πππ...
Hari ini semua agenda berjalan dengan lancar. Jadi mereka kembali ke rumah utama saat senja masih menyapa. Daniah sedang menyuapi Erina di kamarnya. Saat Saga masuk, laki-laki itu sudah mandi dan berganti pakaian.
"Sayang, kau sudah pulang." Daniah mengulurkan tangan pada Saga yang mendekat ke arahnya. "Erina sayang, ayah datang."
Ibu dan anak itu menyambut kedatangan Saga.
Saga melakukan ritual melepaskan rasa lelah dengan memeluk Daniah. Meletakkan kepalanya di punggung istrinya, sambil menghirup aroma sampo yang masih menyisa di rambut bergelombang yang tergerai itu.
"Hemm."
Dari balik punggung Daniah, kepala Saga menyembul. Erina yang sedang makan bersitatap dengan ayahnya, dia tertawa saat Saga mengajaknya bicara dengan menggerakkan tangannya. Lucunya gumam Saga, masih melingkarkan tangan mendekap pinggang Daniah lebih erat. Dia bahkan meledek Erin seperti merebut Daniah untuknya sendiri. Sementara Erin malah tertawa karena merasa diajak main ayahnya.
Suapan demi suapan dengan lahap masuk ke mulut mungil Erina. Suster masuk setelah Daniah menyelesaikan suapan terakhirnya. Bayi mungil itu ditepuk-tepuk punggungnya. Melihat ke arah ayahnya sambil tertawa lagi. Sepertinya dia minta untuk digendong oleh ayahnya.
Saga sudah mahir menggendong sekarang, karena semakin besar bayi malah semakin mudah untuk digendong. Erin menggantung di bahu kanan Saga. Sambil mulutnya tidak berhenti berceloteh bahasa yang tidak dimengerti Saga.
"Erin senang ya digendong ayah? Haha lucunya. Sayang, sepertinya kau harus sering-sering menggendong Erina, dia terlihat senang sekali." Daniah menepuk punggung Saga saat kesenangan melihat reaksi Erina.
"Hemm."
"Sayang, bicara yang benar, nanti Erin meniru mu."
Perkembangan bicara Erina cukup cepat, kata dokter bayi perempuan memang jauh lebih banyak bicara, apalagi suster memang termasuk sering mengajak Erina berbicara, terkadang Daniah juga merasa takjub karena ada saja yang dibicarakan suster saat mengobrol dengan Erina.
Mereka masih bermain sampai Erina tertidur kelelahan setelah bergulingan di karpet. Kedua orang tua itu memberi kecupan dikedua pipi Erina. Makan malam bersama dengan yang lain di bawah. Setelahnya naik ke kamar.
__ADS_1
Ganti baju dengan baju tidur, mereka berciuman di depan lemari pakaian. Sampai Daniah terdorong, Saga tersenyum, dia teringat dulu sering memojokkan istrinya dan tiba-tiba mencium yang membuat Daniah gelagapan.
Saga menggendong Daniah keluar ruang ganti. Langsung menuju tempat tidur.
"Sayang kenapa?" Daniah duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sementara Saga meletakkan kepalanya dipangkuan Daniah. Gantian minta dimanja-manja. Kenapa tiba-tiba minta dielus begini si. Daniah cuma bergumam sambil mengelus kepala Saga perlahan.
Padahal aku ingin membicarakan tentang rencana memiliki anak, tapi setiap melihat Niah rasanya kata-kata itu tidak akan pernah terucap.
Bayangan rasa sakit yang dialami Daniah menjalar di punggung Saga, seperti dia ikut merasakan sakitnya ibu yang melahirkan.
"Kau lelah? Mau aku pijat sayang?"
"Pijat plus-plus maunya."
Daniah menepuk pantat Saga menimbulkan suara cukup keras.
"Kau ini, aku serius, apa ada sesuatu yang terjadi, kenapa sepertinya kau terlihat cemas."
Saga yang biasanya tidak pernah ragu ketika melakukan sesuatu, yang selalu percaya diri dalam berbagi situasi, seperti kehilangan powernya. Dia menjadi ragu lagi, padahal di kantor dia sudah berapi-api meyakinkan Han dan dirinya sendiri.
"Niah..."
"Ia sayang, kenapa?"
"Aku mau bercinta denganmu, cium, disini, dan disini."
Hah, itu nanti dulu. Aku ingin memeluk Niah dan mengusir kegalauan ini.
"Apa sih, biasanya juga langsung terkam tanpa bicara dulu. Haha, ia sayang maaf!" Saga sudah mode Saga yang biasanya. Kegalauannya langsung lenyap saat dia sudah menarik tali baju tidur Daniah, dan membenamkan wajahnya di area kesukaannya.
Dan malam itu pun, Saga belum berhasil mengatakannya perihal hamil anak kedua.
Mereka menikmati cinta yang menyatu, dan larut dalam keremangan lampu tidur. Suara nafas berkejaran diantara peluh yang menetes.
Bersambung
Curhat dikit ah π€
Aku mau dikit-dikit lanjutin KTS biar cepat tamat, aku nulis ini benar-benar hanya untuk kalian pembaca setia TMTM, KTS, Daniah dan Saga ya. Kalo urusan level novel, pendapatan view dahlah nangis kalo diomongin π
Jadi aku harap, selalu berkomentar positif ya, jangan komen up, up atau cuma lanjut, atau bahkan cuma komen lama amat updatenya π₯Ίπ π
__ADS_1
Karena kalianlah pembaca setia, KTS masih berlanjut. Terimakasih salam sayang untuk semua pembaca ππ