Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 51. Bo.. Bo.. Bu.. Bu


__ADS_3

Taman di depan rumah utama.


Matahari masih hangat. Saga membawa Erina dalam dekapannya, bocah kecil itu bergoyang senang saat ayahnya menepuk pantatnya. Mereka akan olahraga ringan sambil jalan-jalan di taman. Pak Mun, pelayan dan suster Erina sengaja menjaga jarak. Dari tatapan mereka, terlihat sekali, mereka bukan hanya senang menikmati udara segar yang ada di taman, bukan juga karena bunga yang bermekaran. Namun keharmonisan tiga orang di depan merekalah, yang sesungguhnya menjadi pemandangan paling indah pagi ini.


Erina sudah mulai bisa berjalan dengan cepat, malah lebih senang berlari. Tapi larinya juga masih sembarang, membuat susternya kadang was-was sendiri. Masih sering jatuh bangun, tapi dasar si bocah, karena baru bisa berjalan cepat, dia jadi tidak mau berhenti berlari.


Masih berjalan, di jalan setapak, ditemani bunga yang bermekaran.


"Udaranya segar, sepertinya bukan hal buruk keluar ke taman." Ya, ya, tahu sendiri kan, sebenarnya tempat paling favorit di akhir pekan Saga itu di mana? ya di kamar dan tempat tidur, tapi ini lumayan juga gumam Saga.


Demi Erina okelah, Niah juga sepertinya menyukainya. Kalau dua orang wanita yang ia cintai ini senang, Saga juga sudah merasa terhibur.


Mereka sudah dekat di kursi taman, Saga menurunkan Erina, supaya bisa berjalan dengan bebas. Gadis kecil itu mulai berlarian, tahu dia sedang ada di udara terbuka. Langkah kecilnya imut sekali. Saga berjongkok, merentangkan tangan.


"Erin, kemarilah, peluk ayah." Sambil tersenyum dengan lebar. Senyumnya sedang bersaing dengan matahari. Karena sama-sama cerah dan sumringah. Membuat yang menonton rasanya ikut bahagia melihat keceriaan Tuan Saga.


Erina yang sedang mengejar susternya langsung menoleh, tawanya ikut bersinar, mau mengalahkan matahari juga. Wajahnya yang putih seperti merona. Dia senang karena dipanggil ayahnya.


"Aya...Aya..." Celotehnya imut sekali, Daniah biasanya saking gemasnya pasti diciumi anaknya kalau dia mulai berceloteh. Dan walaupun dia jarang bertemu ayahnya, tapi dia malah lebih pintar menyebut ayah ketimbang ibu, kenapa? Karena biasanya yang dibicarakan Daniah pada anaknya yang cuma tentang ayahnya.


"Ia, kemarilah Erin sayang, peluk ayah."


Kaki kecil itu berlari meninggalkan suster, dia bergoyang hampir terjatuh, membuat Saga langsung panik berdiri, eh, Erin dengan pintarnya menjejakkan kaki, mempertahankan keseimbangan. Sambil merentangkan tangan.


"Erin pintarnya." Daniah bertepuk tangan, semua orang ikut bertepuk tangan. Menjerit gemas tanpa suara saat putri kecilnya loncat-loncat kecil berlari ke arah ayahnya.


"Ayah... ayah..." Erina berlari menabrak pelukan Saga. Laki-laki itu tercengang kaget, ketika Erina memanggilnya dengan jelas.


"Niah! Dia memanggilku ayah!" Tetap yang dicium saat senang pipi istrinya. "Ya Tuhan, kamu anaknya siapa? Kenapa lucu sekali." Saga lalu menghujani pipi Erina sambil tertawa.


"Ayah... Ayah." Bibir mungil Erina kembali berceloteh.


Pak Mun, pelayan dan suster pun terkejut, mereka langsung bertepuk tangan. Panggilan jelas pertama Erina untuk Tuan Saga. Suster sampai loncat-loncat kegirangan sendiri, karena Erina pintar sekali.


"Sayang, curang! Kenapa dia memanggilmu duluan dengan jelas, seharunya dia memanggilku dulu." Daniah cemburu, menusuk pipi Erina. Menyenggol lengan Saga. Bibirnya yang merengut membuat Saga tidak kalah gemas. "Erin sayang, Ibu, panggil Ibu."


Sambil Daniah berputar-putar menggoyangkan tangannya, menggelengkan kepala, bahkan sampai ci Luk ba segala. Supaya Erina terpancing. Gadis kecil itu memang tertawa, tapi yang keluar dari mulutnya.


"Bu... Bu..Bo..Bo..."


"Haha, lucunya." Tentu saja yang jauh lebih lucu dari celotehan Erina adalah wajah cemberut Daniah.


"Sayang!" Daniah mencubit pinggang Saga karena dia malah ditertawakan, yang ada Saga menyerang balik pipi Daniah karena cemburunya istrinya membuatnya semakin imut dan cantik.


"Bo.. bo... boooo." Dengan polosnya Erina tetap memanggil Daniah dengan panggilan itu.


"Hahaha."


Semua orang ikut tertawa. Karena ekspresi Nona Daniah memang lucu sekali.


Mereka sudah duduk di kursi taman, para pelayan sudah membawakan minuman dan camilan. Erina makan buah duduk di kursinya. Sementara Saga dan Daniah duduk berdekatan, lengan lebar milik Saga merengkuh bahu Daniah.

__ADS_1


"Terimakasih Niah."


"Kenapa? Tiba-tiba berterimakasih."


"Karena sudah melahirkan Erina, putri kecilku yang cantik sepertimu. Terimakasih juga, karena kau sudah mau hamil lagi anak kedua kita."


"Sayang, Erina dan kamu adalah hadiah indah Tuhan untukku. Terimakasih karena mencintai kami." Pelukan hangat Daniah dia berikan pada suaminya, dia mendongak saat kecupan mampir di bibirnya. "Bagaimana kalau kita sesekali piknik bersama yang lain juga, mengajak ibu, Jen dan Sofia. Kita pergi ke mana gitu bersama."


Suasana seperti ini memang sangat menyenangkan. Jadi Daniah ingin mengajak yang lain juga.


"Hemm..."


"Benar? Nanti aku bicarakan dengan ibu ya?"


"Sepertinya seru juga kalau kita bulan madu lagi."


"Haaaa?"


Kata bulan madu langsung menerbangkan Daniah pada ingatannya tentang bulan madunya dengan Tuan Saga dulu, dia tiba-tiba tertawa karena merasa itu lucu sekali. Apalagi saat drama datang bulan.


"Kenapa kau tertawa?"


"Aku ingat kejadian waktu datang bulan saat kita bukan madu sayang."


"Kenapa kau mengingat hal yang aneh."Saga tidak suka sepertinya membahas itu, karena dia benar-benar terlihat bodoh saat itu. "Aku akan menyuruh Han menyiapkannya." Mendekatkan bibir ke telinga. "Ayo buat adik untuk Erina saat bulan madu nanti."


Ini bukan yang diinginkan Daniah, Tidak! Dia kan maunya pergi piknik bersama keluarga, malah menjalar pada kegiatan membuat anak kedua. Apalagi kalau melibatkan sekretaris Han, Daniah sudah bisa menebak, akan seserius apa laki-laki itu menangani bulan madu jilid kedua ini. Sudah bisa terbayangkan dari caranya membuat bioskop mini dan replika jalan raya.


"Sayang, tidak, bukan bulan madu, tapi piknik bersama keluarga. Mengajak semua keluarga dan juga Erina, tidak perlu jauh-jauh ke luar kota, cukup di dalam kota saja." Daniah berhenti sebentar memperhatikan perubahan wajah Saga, dia tidak terlihat kesal, malah mengangguk, artinya dia setuju dengan idenya. "Nanti aku tanya ibu, dan Jen jadi kau tidak perlu menyuruh Han."


"Ah, sungguh. Terimakasih sayang." Sekarang gantian, Daniah yang memberi kecupan manis di bibir Saga.


Terserahlah, asalkan kau senang, aku akan menurutinya. Itu yang ada dipikiran Saga.


"Kalau adikku Raksa aku ajak juga boleh kan?" Ragu dan pelan-pelan Daniah bertanya. Gadis itu tidak berharap banyak, kalau boleh dia senang, kalau tidak, Ehmm, ya dia ingin mengajak Raksa si.


"Wahhh, kau mulai banyak maunya ya." Saga mulai meraih rambut Daniah, memainkan di jarinya.


Benar kan, dia belum bisa akrab dengan keluargaku. Sebenarnya hati kecil Daniah berharap, sama seperti dia dan ibu yang sudah mencair, dia ingin juga, suaminya bersikap hangat pada keluarganya. Ya dimulai dari Raksa dulu.


"Kalau nggak boleh..."


"Lakukan sesukamu, selama ini, kau sudah sangat patuh dan mematuhi aturan ku, jadi aku akan sedikit menyesuaikan diri dengan keluargamu."


Deg... sungguh! Datang juga waktunya dia bicara begini. Daniah tidak bisa menutupi perasaan bahagianya, dia memeluk erat pinggang Saga, dan menghujani laki-laki itu dengan ucapan terimakasih yang berlimpah. Serta beberapa kali kecupan.


Terimakasih sayang..."


Selama mereka asik mesra-mesraan, ternyata Erina sudah selesai makan buah. Daniah menarik lengan Saga untuk mendekati putrinya.


"Ibu, Ibu Erin, Ibu. Ayo panggil Ibu." Daniah masih gigih mengajari Erina.

__ADS_1


"Bo, bo...bobu.. Bu..Bu.."


"Haha... lucunya. Erin jangan membuat ibu mu marah donk, panggil dengan benar ibumu." Tangan Saga menoel pipi Erina, yang cuma ditoel begitu saja sudah kegirangan. Dia tertawa-tawa memegang telunjuk Saga.


"Ayah.. He.. Ayah..."


"Sayang, benar-benar curang." Tapi kemudian Daniah sudah tertawa, pura-pura menggigit jari Erina yang satunya. Dia melihat Saga yang berlutut mensejajari Erina. "Sayang, katanya cinta pertama anak perempuan itu sama ayahnya lho, liat saja, padahal aku yang selalu bersamanya, tapi kalau kamu ada, dia pasti maunya menempel padamu."


Bahkan Tuan Saga juga yang mendapat kehormatan panggilan pertamanya.


"Tapi, cinta pertamaku tetap kamu Niah." Menjentikkan jari, supaya Daniah mendekatinya.


"Ih, sayang, apa hubungannya?"


"Entahlah, yang penting aku mencintaimu." Saga mencium kepala Daniah. "Sangat mencintaimu dan Erina."


Erina menyentuh tangan ibu dan ayahnya lalu tertawa.


Saat mereka sudah berjalan keliling taman lagi, suara klakson mobil Jen terdengar. Dari dalam mobil kepala Sofia menyembul.


"Erina! Aku datang! Uuuuu, lucunya keponakanku." Memaksa Jen berhenti supaya dia bisa duluan menghampiri Erina. "Kak Jen, turunkan aku di sini."


"Nah Tantenya yang paling rusuh datang." Saga memeluk Daniah dari belakang, saat berdiri melihat Erina yang berlarian. Dia menunduk dan mencium pipi. "Aku masuk duluan ya, bermainlah bersama mereka."


"Ia Sayang."


Dan sekarang Erina sedang bermain dengan tante-tantenya yang tidak bisa diam. Yang tidak kalah bertingkah lucu seperti anak umur belasan.


Saga meninggalkan mereka, dia masuk ke ruang kerja, Pak Mun mengikuti dari belakang. Setelah duduk di kursi kerjanya, dia menutup wajahnya yang memerah. Pak Mun terkejut, ada apa pikirnya.


Tiba-tiba.


"Pak kau dengar kan tadi?" Tangan laki-laki itu masih menutupi gelak kecil dari mulutnya. "Erin sudah jelas memanggilku ayah, haha, bahkan dia belum bisa memanggil Niah dengan benar. Lucunya Pak, dia lucu sekali. Ibu pasti kaget nanti."


Pak Mun ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan Saga.


"Ia Tuan Muda, Nona Erina pintar sekali."


Saga kembali tertawa dipenuhi kebahagiaan.


"Apa donasi untuk panti asuhan bulan ini sudah dikirim?" Dia membuka beberapa map di depannya, mencari laporan yang ia bicarakan. Tidak ada.


"Dua hari lagi Tuan Muda, Sekretaris Han sudah memberi instruksi. Laporannya sedang disiapkan."


Saga bergumam, baguslah kalau belum.


"Tambahkan perlengkapan sekolah, mainan anak-anak dan makanan sehat untuk mereka, katakan pada Han untuk menjadikan double donasi bulan ini. Katakan padanya, ini perayaan karena Erin sudah memanggilku ayah."


"Baik Tuan Muda, saya akan segera melaksanakan perintah Anda."


Pak Mun pun tidak bisa berhenti tersenyum, saat melihat pancaran kebahagiaan dari tuan yang dia layani. Dalam hati kecil Pak Mun, selalu merasa bersyukur, kemunculan Nona Daniah, telah merubah segalanya, bukan hanya bagi Tuan Saga, namun semua orang yang ada di dalam Antarna Group.

__ADS_1


Tuan besar, menantu dan cucu Anda telah menjadi malaikat di rumah ini. Pak Mun bergumam dengan kebahagiaannya.


Bersambung


__ADS_2