Kesayangan Tuan Saga

Kesayangan Tuan Saga
KTS 38. Gara-Gara Memajukan Hari Pernikahan


__ADS_3

Di satu waktu, Han berdiri di depan Tuan Saga yang sedang melihat sesuatu di hpnya. Dia sedang duduk di kursi kerjanya setelah menyelesaikan pekerjaan. Apa pun yang akan dikatakan Tuan Saga, akan merubah jalan hidup Han ke depan. Han tidak bisa menutupi mimik wajah harap-harap cemasnya.


"Tuan Muda, ada yang mau saya sampaikan." Han mulai bicara.


"Hemm." Tangan Saga sedikit terangkat.


Mata Tuan Saga tidak beralih dari hp. Dia sedang melihat foto-foto Erin yang dikirim Curly kesayangan. Tuan Saga mengetikkan sesuatu. Kirimi aku foto ibunya Erin juga. Jangan anaknya saja, aku juga mau ibunya, begitu arti sorot mata menunggu foto apa yang akan dikirimkan Daniah. Dia terlihat tersenyum senang saat deretan foto Daniah masuk ke hpnya. Ada foto gadis itu mengedipkan mata dengan menggemaskan.


"Han."


Han sudah diizinkan bicara.


"Apa saya boleh memajukan hari pernikahan." Tuan Saga mendongak, melihat Han. "Awalnya saya ingin mengirim hadiah pernikahan dan melamar Aran secara resmi terlebih dahulu, seperti yang saya sampaikan pada Anda." Saat Han masih melihat Saga menunggu penjelasan, artinya Tuan Saga ingin tahu alasan kenapa sampai Han ingin memajukan hari pernikahan. "Saya gelisah, dan ingin segera mengikat Aran menjadi milik saya."


Alasan apa ini batin Han. Namun terlalu banyak hal yang dia khawatirkan, gadis yang akan dia nikahi, memiliki banyak pesona yang bisa membuat banyak laki-laki melirik dan jatuh cinta padanya. Provokasi dari Brian dan ocehan Dokter Harun pun masuk dalam list kekhawatirannya.


Saga tergelak kecil mendengar alasan Han, lalu dia melihat lagi foto-foto di hpnya. Daniah juga mengirimi fotonya saat menggendong Erina. Wajah yang dipenuhi kebahagiaan istrinya membuatnya menyunggingkan senyum.


"Lakukan saja Han, urus semuanya dengan benar."


"Baik Tuan Muda, terimakasih banyak."


"Hemm."


Sepertinya suasana hati Anda sangat baik, apa nona mengirim foto-foto Nona Erina lagi.


Han sepertinya harus berterimakasih pada Daniah nanti, karena sesuatu yang mungkin iseng dilakukan nona mudanya itu telah memudahkan banyak hal dalam hidupnya. Bukan hanya izin memajukan pernikahan, namun pekerjaan Tuan Saga selalu selesai jauh lebih cepat kalau suasana hatinya sedang bahagia.


Dan dua orang itu tidak menyadari, kata hemm yang diucapkan Saga membuat banyak orang kelimpungan. Bukan hanya WO acara pernikahan yang dipilih Han untuk menyiapkan pernikahan.


Siang hari yang sedikit mendung. Karena Han yang memajukan hari pernikahan.


"Kenapa Han memajukan hari pernikahannya ya?"


Dua orang jomblo, hari ini janjian pergi ke sebuah butik ternama untuk mempersiapkan pakaian yang akan mereka kenakan dihari bersejarah hidup mereka. Bukan mereka yang mau menikah. Kedua orang itu akan menjadi saksi, manusia sedingin salju yang awalnya diprediksi akan menikah paling lama diantara mereka, malah sekarang sedang mempersiapkan pernikahan dengan hati berbunga.


"Anda bilang dia mau lamaran dulu?" Revan menyahuti. "Tahu-tahu ganti langsung mau menikah begini. Buat orang susah saja."


Mereka yang awalnya santai-santai mempersiapkan baju, akhirnya kelabakan setelah undangan Han tiba-tiba muncul di grup chat.


"Apa tuan muda memberi izin?" Revan sedang membayangkan bagaimana caranya Han meminta izin menikah pada Tuan Saga.


Tapi masalahnya aku kan bukan hanya minta izin untuk menikah. Tapi aku minta izin untuk menikahi adiknya.


Revan menyayat hati nuraninya. Walaupun dia termasuk berani bicara di depan Tuan Saga, tapi kalau urusan Jen nyalinya langsung menciut seperti kapas dicelup air.


"Memangnya dia bakal melakukan kalau Saga nggak kasih izin, karena Saga sudah oke makanya dia memajukan hari. Entahlah, Kata Kak Brian ada yang memprovokasinya, takut Aran diambil orang katanya."

__ADS_1


Siapa yang berani bersaing dengan orang sepertimu! Harun ingin berteriak begitu di depan muka Han.


Padahal pelaku utamanya, salah satunya yang sedang mengoceh ini. Harun yang masih berani melirik Aran diartikan Han sebagai ancaman. Sehingga dia ingin segera mengikat Aran dalam pernikahan.


Bisa-bisanya Han menikah lebih dulu dari aku. Ujar Harun dan Revan dalam hati bersamaan. Merasa tidak terima dan terkhianati.


Harun dan Revan sedang berdiri di depan cermin besar, dibantu beberapa pelayan untuk mengepas jas yang mereka pakai. Terlihat puas dengan pilihan satu sama lain. Setelah setelah yang ke empat yang mereka coba. Agak ribet ya dua jomblo ini soal penampilan.


"Sepertinya ini yang paling cocok." Harun mematut diri lagi, melihat pantulan wajahnya. Berputar beberapa kali. Merasa tampan. "Oke deh kami ambil yang ini."


Hanya tinggal beberapa penyesuaian di bagian lengan yang agak sedikit kebesaran, selebihnya pas. Tinggi badan dan postur tubuh Harun dan Revan nyaris sama.


"Baik Tuan." Salah satu pelayan mencacat apa yang harus diperbaiki, yang lain ada yang mengukur juga.


Hp Revan berbunyi saat mereka sudah melepas jas masing-masing.


"Dok, saya angkat dulu ya, ayah." Menunjukkan layar hp.


Harun hanya mengangguk melihat Revan menjauh. Ke sudut ruangan.


"Hallo, ayah, nggak aku lagi diluar dengan Dokter Harun, membeli jas untuk pernikahan Han." Mendengarkan ayahnya bicara. Kalau dia juga akan datang, undagan dari Han sudah dia terima. Protes ayahnya juga mengudara, tentang pernikahan Han yang mendadak.


"Entahlah, tapi tuan muda setuju, ayah kan lihat kalau tuan muda tuan rumah pernikahan Han."


Jawaban itu menyudahi protes ayah Revan. Lalu beliau bertanya hal lain.


"Hemm, sudah. Aku juga sudah bertemu tuan putri Erina."


Walaupun aku tidak benar-benar melihat wajah Nona Daniah gumam Revan. Mungkin kalau melihat dijalan dia tidak akan terlalu mengenali nona. Karena dia hanya melihat sekilas, benar-benar hanya dua detik mungkin.


"Tuan muda pasti sangat bahagia kan?" Nada bicara ayah Revan bertanya. Namun terselip rasa khawatir.


"Ayah, jangan khawatir, tuan muda hidup dengan baik bersama nona. Nona Daniah benar-benar merubah hidup tuan muda, jadi jangan khawatir dan mencemaskan Tuan muda." Revan mendengar ayahnya menghela nafas, namun dengan nada lega. "Semua baik-baik saja Yah, nyonya, Jen dan Sofia juga."


"Revan!" Kalau ada didekat ayahnya mungkin tangan ayah sudah melayang ke kepala Revan. "Beraninya kau memanggil Nona Jenika dan Nona Sofia dengan nama."


Ah, dasar bodoh mulutku ini!


"Maaf, habis nona yang minta aku panggil nama."


Jadi panjang urusannya, ayah Revan bicara panjang lebar tentang petuah yang sudah dihafal Revan luar kepala. Untuk menjaga sikap dihadapan keluarga tuan Saga.


"Ia, ia maaf Ayah. Aku akan berhati-hati kedepannya. Kalau begitu sampai jumpa di acara pernikahan Han Yah." Akhirnya ditutup juga panggilan ayah, sebelum menutup masih mengulang nasehat untuk menjaga sikap, jangan lancang walaupun dihadapan Jen dan Sofi.


Hah! Revan menghela nafas, melihat Harun sudah berganti baju, duduk sambil menikmati kopi dingin di gelasnya yang berembun.


"Kenapa?"

__ADS_1


Harun tidak mendengar percakapan mereka, tapi saat melihat Revan menjauhkan hp dari telinganya, dia tahu laki-laki di depannya habis dimarahi ayahnya.


"Biasa ayah, aku ganti baju dulu ya."


Jangankan bicara pada tuan muda, untuk mengatakan pada ayah saja Revan belum memiliki keberanian. Dia keluar ruang ganti dengan wajah sedikit muram. Menyerahkan baju pada pelayan yang sudah menunggunya.


"Ayahmu datang kan?"


Revan duduk meraih gelas kopinya juga. Sambil mengangguk. Karena tuan muda adalah tuan rumah, walaupun ayah Revan sedang pergi ke luar negri sekalipun, dia pasti pulang hari itu.


"Aku keceplosan manggil Jen dan Sofi dengan nama, ditelepon saja aku sudah merasa seperti dihajar oleh ayah." Meringis sedih sambil menyeruput kopinya. "Apalagi kalau ayah tahu aku menyimpan perasaan pada Jen."


Harun mau ikut sedih sebenarnya, tapi membayangkannya kok jadi lucu. Tentu saja Harun tahu siapa ayah Revan. Berbeda dengan Pak Mun yang memilih masih mengabdi di rumah utama, ayah Revan memilih pensiun dan mendapat hadiah sebuah supermarket dari Saga. Namun posisinya digantikan oleh anak di depannya ini. Kesetiaan, dan kepatuhan Ayah Revan pada tuan besar berlanjut pada Saga. Kesetiaannya pada Antarna Group sudah tidak diragukan.


"Kasihan!"


"Dokter!"


"Sudahlah, ayo jalan, aku mau cerita tentang Sandrina."


Pembawa berita yang sudah pergi berkencan dengan Dokter Harun kala itu.


"Sudah kubilang, konsep cowok cool itu yang keren." Harun memulai cerita dengan bangga.


Mereka keluar dari butik menuju parkir mobil. Saat sudah ada di samping mobil, ada sebuah mobil berwarna pink metalik mendekat.


"Lho Kak Harun!" Seorang gadis berteriak saat menurunkan kaca mobil. "Sudah lama nggak ketemu Kak Harun."


Harun tertawa, dia mengenali gadis itu, tapi lupa namanya.


"Kak, sudah lama nggak main bareng sama kita, main yuk, belanja-belanja." Ujar gadis itu terkikik dengan temannya. Kalau dulu, Harun pasti akan langsung mengiyakan, sambil tertawa ceria. Untuk itulah cap playboy pernah menempel di bajunya. Padahal cewek-cewek itu juga nggak pernah ada yang menyatakan cinta padanya.


"Maaf ya, aku sibuk." Sok cool, sambil masuk ke dalam mobil. Revan sama sekali tidak tertarik, melirik pun tidak pada gadis-gadis itu. Dia masuk duluan ke dalam mobil, memberi like pada postingan sosial media Jen.


Mobil Harun keluar dari area parkir dengan penuh gaya. Laki-laki itu sepertinya bangga sudah bersikap cool.


Yang ditempat parkir bengong saling pandang, ditolak mentah-mentah oleh orang yang biasanya baik dan ramahnya nggak ketulungan.


"Kak Harun kenapa ya, kok jadi sombong dan dingin begitu." Satu perempuan bertanya heran.


"Ia, tapi jadi tambah keren. Hihi." Penyuka cowok cool.


"Yang disampingnya juga tadi tampan."


Mereka jadi berisik membahas Harun dan temannya, lalu masuk ke dalam butik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2